Di balik apron Cafe Nuansa, Alan hanyalah mahasiswa biasa berpesona luar biasa. Ia berjuang menopang keluarga, tanpa menyadari cinta tulus Rahmi, sang pewaris properti yang selalu menjadi pelindungnya. Namun, saat takdir mempertemukan Alan kembali dengan Bunga, primadona masa SMA, persahabatan dan cinta pun mulai diuji. Di antara pengorbanan tersembunyi, patah hati yang bisu, dan garis takdir yang membingungkan, kepada siapakah hati Alan akan berlabuh? Rahasia besar menanti untuk segera terungkap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Di Atas Geladak Perasaan
Waktu seakan berjalan dengan ritme yang jauh lebih lambat di hamparan kebun teh Ciwidey ini. Sisa-sisa kabut pagi perlahan mulai memudar, digantikan oleh bias sinar matahari yang menembus celah-celah rimbunnya dedaunan, menciptakan pendaran cahaya keemasan yang jatuh tepat di atas permukaan aspal yang basah oleh embun. Di tengah lanskap yang tampak seperti lukisan nirwana itu, Alan dan Bunga masih berdiri berdekatan. Hembusan angin pegunungan yang dingin sama sekali tidak mampu mendinginkan suhu tubuh Alan yang terasa mendidih akibat kedekatan mereka.
Setelah puluhan jepretan kamera yang mengabadikan tawa renyah Bunga dan senyum canggung Alan, keheningan sejenak menyelimuti keduanya. Bunga menunduk, melihat-lihat hasil jepretan di layar ponselnya dengan senyum puas yang tak pernah luntur dari bibirnya. Sementara itu, Alan hanya bisa diam menatap profil samping wajah gadis itu, masih tak percaya bahwa bidadari ini benar-benar menghabiskan waktu bersamanya.
Merasa sudah cukup mengumpulkan kenangan di titik tersebut, Bunga memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas selempangnya. Ia menoleh ke arah Alan, menatap tepat ke dalam manik mata tajam pemuda itu, dan tersenyum lembut.
"Lanjutin perjalanannya yuk," ajak Bunga, suaranya mengalun merdu memecah keheningan pegunungan.
Alan, yang masih setengah tersadar dari hipnotis pesona Bunga, mengerjap pelan. Jantungnya berdetak satu ketukan lebih cepat. "I.. iya, Nga," jawabnya dengan suara yang sedikit serak. Kepanikan kecil selalu merayap di dadanya setiap kali Bunga menatapnya secara langsung seperti itu.
Mereka pun berbalik, berjalan beriringan kembali menuju bahu jalan tempat motor sport 250cc milik Alan terparkir dengan setia. Alan segera menaiki motornya, menyeimbangkan kuda besi itu, lalu menunggu Bunga untuk naik ke boncengan. Dengan gerakan anggun, Bunga kembali duduk di belakang Alan, tangannya secara refleks memegang ujung jaket kanvas yang dikenakan pemuda itu. Sentuhan kecil itu, meski hanya pada kain jaketnya, sudah cukup untuk membuat aliran darah Alan berdesir hebat.
"Udah siap, Nga?" tanya Alan, menoleh sedikit ke belakang.
"Udah, Lan. Yuk, jalan," balas Bunga riang.
Dengan perlahan, Alan memutar tuas gas. Deru mesin memecah kesunyian aspal pegunungan. Mereka kembali melanjutkan perjalanan, membelah jalanan berliku yang diapit oleh rimbunnya perkebunan teh di sisi kiri dan kanan. Angin dingin kembali menerpa, namun kali ini terasa jauh lebih bersahabat bagi Alan karena ada kehangatan eksistensi Bunga di belakang punggungnya.
Tujuan mereka kali ini adalah sebuah kafe terkenal yang letaknya tak jauh dari area danau di kawasan Ciwidey. Setelah berkendara selama belasan menit menyusuri jalanan yang semakin menanjak, dari kejauhan mulai tampak sebuah bangunan megah yang sangat unik. Bangunan utama kafe tersebut tidak berbentuk seperti gedung konvensional, melainkan didesain menyerupai sebuah kapal pinisi raksasa yang seolah-olah sedang berlabuh di tepi hamparan danau yang tenang. Struktur kayunya yang kokoh, tiang-tiang layar yang menjulang tinggi, serta posisinya yang menjorok ke arah air, memberikan ilusi yang sangat kuat bahwa mereka benar-benar berada di atas sebuah perahu besar yang terapung di tengah lautan hijau dan biru.
Alan mengarahkan motornya memasuki area parkir yang sudah disediakan. Suasana di kawasan itu cukup ramai oleh pengunjung, namun luasnya tempat membuat semuanya tetap terasa leluasa dan nyaman. Alan mencari ruang kosong yang teduh di bawah pohon rindang, lalu memarkirkan motornya dengan presisi. Ia menurunkan standar ganda agar motor lebih stabil saat Bunga turun.
"Udah sampai, Nga," ucap Alan sambil mematikan mesin motor.
Bunga mengangguk, lalu dengan hati-hati ia turun dari jok belakang yang sedikit menungging itu. Ia berdiri di samping motor, kakinya memijak aspal parkiran yang sedikit berbatu. Angin dari arah danau berhembus cukup kencang, membawa aroma air tawar yang segar bercampur dengan wangi tanah basah.
Bunga mengangkat kedua tangannya untuk membuka pengaman helm yang terpasang di bawah dagunya. Namun, udara dingin pegunungan rupanya membuat jari-jemari lentiknya sedikit kaku. Ditambah lagi, mekanisme klip helm milik Alan itu memang sedikit seret karena jarang diminyaki. Bunga mencoba menekan tombol merah pada pengaman itu berkali-kali, namun pengaitnya tak kunjung terlepas.
"Duh..." gumam Bunga pelan, alisnya bertaut lucu karena kesal. "Ini susah dibuka, Lan."
Mendengar keluhan gadis itu, Alan segera turun dari motornya. Ia meletakkan helmnya sendiri di atas spion, lalu melangkah mendekati Bunga. Tanpa banyak berpikir, insting melindunginya mengambil alih.
"Sini, aku bantu, Nga," tawar Alan dengan suara yang usahakan terdengar setenang mungkin, meski sebenarnya degup jantungnya sudah kembali berpacu seperti genderang perang.
Alan berdiri tepat di hadapan Bunga. Jarak mereka memangkas drastis, menyisakan ruang yang sangat sempit di antara keduanya. Alan sedikit menundukkan kepalanya, sementara Bunga mendongak menatap pemuda tinggi tegap di hadapannya. Kedua tangan Alan yang besar dan kapalan perlahan terangkat, meraih tali helm di bawah dagu Bunga.
Di detik itulah, seolah ada sutradara tak kasat mata yang memperlambat laju waktu.
Saat jari-jari Alan berjuang membuka klip pengaman yang keras itu, matanya secara tak sengaja turun dan beradu pandang dengan sepasang mata bening milik Bunga. Jarak yang begitu dekat membuat Alan bisa melihat setiap detail wajah gadis itu dengan resolusi yang luar biasa tajam.
Alan terdiam, tangannya seketika membeku di tali helm. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia menatap lekat wajah Bunga yang putih bersih, memancarkan kecantikan natural yang tak tertandingi. Riasan yang Bunga gunakan hari ini sangatlah sederhana, tanpa warna-warna mencolok atau dempul yang berlebihan, namun justru kesederhanaan itulah yang membuat mata siapa pun yang memandang akan menatap takjub. Sapuan blush on tipis di pipinya menyatu sempurna dengan rona merah alami akibat udara dingin. Bulu matanya yang lentik membingkai indah sepasang mata yang memancarkan kehangatan, dan polesan lip tint berwarna peach di bibirnya terlihat begitu segar dan menggoda.
Sadar bahwa dirinya sedang diperhatikan dengan intensitas yang begitu dalam, Bunga tidak memalingkan wajahnya. Gadis itu balas menatap mata elang Alan. Bunga bisa melihat dengan jelas bagaimana rahang Alan menegang, bagaimana jakun pemuda itu bergerak naik-turun menelan ludah dengan susah payah, dan bagaimana semburat merah perlahan merayap naik dari leher hingga memenuhi kedua belah pipi dan telinga Alan. Pemuda itu terlihat seperti sedang tersengat listrik beraliran rendah; kaku, salah tingkah, dan benar-benar kehilangan kata-kata.
Melihat reaksi Alan yang begitu jujur dan tak terfilter, hati Bunga menghangat. Sebuah senyum tipis, lembut, dan penuh kasih sayang mulai terbit di sudut bibirnya.
'Alan, Alan...' batin Bunga berbisik lembut, seolah mengelus dada pemuda itu dari kejauhan. 'Begini aja kamu udah grogi banget. Tangan kamu sampai gemetar kecil pegang tali helmku. Ditambah salting kamu keliatan jelas banget, Lan. Wajah kamu yang biasanya sangar, yang selalu kelihatan keras dan dingin kalau lagi nongkrong sama temen-temen kamu, sekarang malah terlihat memerah kayak gini. Kok jadi bikin aku tambah gemes, sih? Kamu tuh kayak landak, dari luar durinya tajam, tapi kalau udah kenal, perutnya selembut kapas. Kepolosan dan kejujuran kamu ini yang bikin aku... makin jatuh ke kamu, Lan.'
Bunga membiarkan Alan menyelami matanya selama beberapa detik lagi, menikmati getaran listrik halus yang menyengat di antara mereka berdua. Senyum di bibir Bunga semakin mengembang, menyadarkan Alan dari lamunan panjangnya.
Tersadar dari keterpakuannya, Alan tersentak kaget. Ia buru-buru memfokuskan kembali pandangannya pada klip helm dan dengan satu tekanan kuat, ceklik, pengaman itu pun terlepas.
"U.. udah, Nga," ucap Alan terbata-bata, buru-buru menarik tangannya mundur dan membuang muka ke arah danau, tak sanggup lagi menahan serangan frontal dari senyuman bidadari di hadapannya. Ia merasa wajahnya sudah semerah tomat rebus sekarang.
Bunga melepas helmnya dan memberikannya kepada Alan, yang langsung diterima dengan canggung dan disangkutkan ke jok motor. Sambil merapikan rambutnya yang sedikit kusut akibat helm, Bunga mengajak Alan untuk segera masuk ke area kafe.
Tanpa memberikan peringatan apa pun, Bunga tiba-tiba mengulurkan tangannya dan menggenggam erat telapak tangan kanan Alan.
"Yuk ke atas sekarang, aku udah laper banget dari tadi pagi cuma sarapan roti selembar," ucap Bunga dengan nada manja yang natural, sambil menarik pelan tangan pemuda itu.
Alan tersentak, tubuhnya kaku seketika. Sentuhan tangan Bunga yang lembut dan hangat membalut kulit tangannya yang kasar. Ia menoleh ke arah gadis itu dengan mata terbelalak terkejut. Namun, sebelum Alan sempat mengeluarkan sepatah kata protes atau mempertanyakan tindakan tersebut, Bunga menoleh ke arahnya dan memberikan sebuah senyuman yang begitu tulus, begitu bercahaya, seakan senyuman itu memiliki kekuatan magis untuk menghentikan putaran rotasi bumi dan mengalihkan seluruh poros dunia Alan hanya kepadanya.
Melihat senyuman itu, segala logika pertahanan diri Alan hancur berkeping-keping. Keresahan tentang status sosial, ketakutan akan patah hati, dan rasa insecure yang selalu menggerogoti jiwanya lenyap tak berbekas, tersapu oleh gelombang kebahagiaan yang meluap-luap di dadanya.
"Eh.., i.. iya, Nga," jawab Alan pasrah, membiarkan dirinya ditarik layaknya anak kecil oleh gadis pujaan hatinya.
Mereka berdua berjalan bersisian menyusuri jalan setapak berbatu yang mengarah ke bangunan utama kafe. Tangan mereka masih saling bertaut. Alan bisa merasakan detak jantungnya sendiri berdegup tak karuan di ujung jari-jarinya. Beberapa pengunjung kafe yang berpapasan dengan mereka tampak melirik sekilas, mungkin kagum melihat keserasian pasangan muda itu; sang pria yang tampak gagah dan protektif, bersanding dengan sang wanita yang memancarkan pesona keanggunan.
Setibanya di bagian dek bawah bangunan kafe yang berbentuk kapal pinisi itu, mereka disambut oleh interior kayu yang bernuansa vintage dan sangat aesthetic. Ada tangga melingkar berukir indah yang mengarah ke lantai atas, tempat area makan utama berada. Bunga memimpin langkah, menaiki tangga tersebut dengan antusiasme yang menular.
Begitu sampai di lantai atas geladak perahu buatan tersebut, hamparan pemandangan yang spektakuler langsung menyergap indra penglihatan mereka. Lantai ini dirancang dengan konsep semi-outdoor. Tidak ada dinding pembatas di sekujur geladak, melainkan pagar kayu berukir yang memungkinkan pengunjung melihat langsung panorama alam tanpa halangan. Udara segar pegunungan mengalir bebas. Di bawah sana, terhampar danau Situ Patenggang yang permukaannya berkilauan tertimpa sinar matahari, dikelilingi oleh barisan bukit perkebunan teh yang menghijau layaknya karpet raksasa. Kabut tipis yang bergerak pelan di atas permukaan air menambah kesan mistis dan romantis.
Mata Bunga berbinar terang melihat keindahan tersebut. Ia melepaskan genggaman tangannya dari Alan dan menunjuk ke arah deretan meja kayu yang terletak di bagian paling ujung geladak, tepat di sudut yang menjorok ke arah danau.
"Duduk di sana aja yuk, Lan!" ajak Bunga dengan semangat, setengah berlari menuju meja tersebut.
Mereka pun duduk berhadapan di meja yang letaknya sangat strategis itu. Dari posisi duduk mereka, otomatis seluruh pemandangan danau dan kebun teh yang hijau dan indah terlihat sangat jelas. Angin berhembus sejuk menerpa wajah, membawa sensasi damai yang luar biasa. Bunga menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, memejamkan mata sejenak meresapi kesejukan udara, sementara Alan duduk di seberangnya, tak henti-hentinya menatap kagum wajah gadis itu yang diterpa cahaya alami matahari.
Tak lama berselang, seorang pelayan pria berseragam rapi datang menghampiri meja mereka. Ia membawa sebuah papan kayu kecil yang di atasnya terdapat kode batang (QR code) dan beberapa lembar menu promo.
"Selamat siang, Kak. Selamat datang di Pinisi Resto," sapa pelayan tersebut dengan ramah, meletakkan papan QR code di tengah meja. "Untuk pemesanan sekarang sistemnya cashless dan praktis, tinggal scan barcode aja ya, Kak, pakai kamera handphone. Nanti menunya langsung muncul dan bisa langsung di-checkout."
"Oh, oke, baik," jawab Bunga, segera mengeluarkan ponselnya dari tas dan membuka aplikasi kamera.
Pelayan itu lalu tersenyum sopan, matanya bergantian menatap Alan dan Bunga. "Dan kebetulan sekali, khusus hari ini kami sedang mengadakan promo Sweet Couple. Untuk pengunjung yang datang berpasangan, ada diskon spesial dua puluh persen untuk semua varian dessert dan minuman tertentu. Nanti pilihan promonya bisa di-klik langsung di menu aplikasinya ya, Kak."
Mendengar kata 'berpasangan', telinga Alan rasanya seperti ditarik ke atas. Wajah pemuda yang baru saja berhasil mengontrol emosinya itu kembali sedikit memerah. Ia merasa canggung luar biasa. Sebuah gelar 'pasangan' yang dilontarkan oleh orang asing itu terdengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan, namun juga menggoreskan rasa malu karena Alan sadar betul bahwa kenyataannya mereka belum memiliki status apa-apa. Alan menunduk, pura-pura sibuk merapikan posisi tisu di atas meja, tak berani menatap mata Bunga maupun pelayan tersebut.
Berbeda dengan Alan yang terlihat seperti cacing kepanasan akibat salah tingkah, Bunga justru menanggapinya dengan sangat santai dan ceria. Tidak ada sedikit pun raut penolakan atau rasa risi di wajah cantiknya.
"Wah.., bagus dong!" seru Bunga dengan mata berbinar, terdengar sangat antusias. Ia melirik Alan sekilas dengan sudut matanya, menyadari betapa kaku dan memerahnya pemuda itu, lalu kembali menatap sang pelayan. "Cocok banget promonya buat kita. Terima kasih infonya ya, Kak."
Mendengar respons Bunga yang secara tidak langsung mengamini asumsi bahwa mereka berdua adalah sepasang kekasih, jantung Alan seolah berhenti berdetak selama satu detik penuh sebelum akhirnya berpacu dua kali lipat lebih cepat. 'Dia... dia ngakuin kita pasangan?' jerit batin Alan tak percaya.
Pelayan tersebut mengangguk hormat dan tersenyum tipis. "Sama-sama, Kak. Silakan menikmati waktunya. Jika ada kendala dengan pemesanannya, silakan panggil saya kembali." Pelayan itu pun berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Setelah pelayan itu menjauh, suasana di meja tersebut sempat hening sejenak. Alan masih berkutat dengan rasa salah tingkahnya yang parah. Ia mengusap tengkuknya yang tak gatal, matanya bergerak gelisah melihat ke arah kapal-kapalan kecil di danau, mencoba mengalihkan perhatian dari debaran dadanya sendiri.
Bunga yang sudah mengarahkan kamera ponselnya ke QR code dan berhasil membuka halaman menu, mendongak menatap Alan. Melihat ekspresi kalut pemuda itu, senyum jahil diam-diam terukir di hati Bunga.
"Kamu mau pesen apa, Lan?" tanya Bunga memecah kecanggungan, jarinya berselancar menggeser layar ponsel, melihat gambar-gambar makanan yang menggiurkan. "Di sini ada nasi goreng seafood, ada steak ayam, ada pasta juga. Atau kamu mau makan yang berkuah-kuah hangat kayak sop buntut?"
Alan yang otaknya masih terlalu sibuk memproses kejadian barusan, tidak bisa berkonsentrasi pada pilihan makanan. Baginya, makan batu kerikil pun rasanya akan menjadi seperti steak wagyu bintang lima jika dimakan berhadapan dengan Bunga.
"Samain aja, Nga," jawab Alan cepat, suaranya terdengar sedikit bergetar. "Aku ngikut kamu aja mau pesen makan apa. Tapi... minumnya matcha susu aja, Nga."
Bunga menghentikan guliran jarinya di layar ponsel, lalu menatap Alan dengan pandangan lembut. Ia tersenyum, sebuah senyuman yang memancarkan aura kedekatan yang hangat.
"Oke, kalau gitu aku pesen ayam bakar madu aja ya buat kita berdua," putus Bunga dengan nada layaknya seorang istri yang sedang menentukan menu makan siang untuk suaminya. "Aku juga samain aja minumnya kayak kamu, matcha susu hangat. Oh iya, ditambah air putih mineral juga ya, dua botol. Masa abis makan enak-enak gak minum air putih, kan gak sehat."
Sikap Bunga yang begitu dominan dan mengatur pesanan mereka dengan cara yang sangat perhatian itu entah mengapa membuat hati Alan meleleh. Ada sensasi kedamaian yang aneh saat menyadari ada seseorang yang memikirkannya, bahkan hingga ke detail sekecil air putih. Alan tersenyum, kali ini bukan senyum canggung akibat salah tingkah, melainkan senyum tulus yang memancarkan rasa syukur. Namun, kecanggungan itu tetap masih membekas di raut wajahnya.
"Iya, Nga," jawab Alan pelan, matanya tak lepas dari wajah Bunga yang sedang fokus ke layar ponsel.
Bunga meng-klik beberapa tombol pesanan di layar hapenya, memasukkan menu ke keranjang belanja digital, lalu menekan tombol konfirmasi. "Udah nih, tinggal nunggu makanannya dianter," ucapnya seraya meletakkan ponselnya di atas meja dalam posisi terbalik.
Gadis itu kemudian menopang dagunya dengan kedua tangan, menatap jauh ke hamparan danau yang tenang. Angin kembali membelai rambut panjangnya, membuat beberapa helai rambut itu menari-nari menutupi sebagian pipinya.
"Seger banget ya di sini," gumam Bunga dengan nada bermimpi, suaranya mengalun seperti melodi yang menenangkan. "Adem, udaranya bersih banget. Pemandangannya juga juara." Bunga lalu mengalihkan pandangannya dari danau, menatap lurus ke dalam mata Alan. Matanya menyiratkan kebahagiaan yang dalam. "...dan yang paling enak, bisa duduk santai, ngobrol berdua kayak gini tanpa harus mikirin tugas kuliah yang numpuk."
Mendengar perkataan Bunga, Alan kembali merasakan sengatan hangat di dadanya. Ia membalas tatapan Bunga, keberaniannya perlahan mulai terkumpul karena gadis itu menciptakan atmosfer yang begitu aman dan nyaman.
"Iya, Nga," balas Alan, suaranya kini terdengar lebih stabil dan berat, khas suara aslinya yang selalu berhasil membuat hati Bunga berdesir. Alan menoleh ke arah hamparan kebun teh, matanya menerawang membongkar laci kenangan di masa lalu. "Tempat ini emang punya magisnya sendiri. Kadang... aku suka kesini sendirian kalo lagi mumet banget. Kalo lagi banyak pikiran, masalah kerjaan di kafe, atau pusing mikirin biaya kosan dan kuliah. Duduk di sini sendirian sambil ngopi, ngeliatin danau, rasanya beban di kepala bisa ilang sejenak kebawa angin."
Mendengar pengakuan Alan yang menyiratkan betapa kerasnya kehidupan yang harus ditanggung pemuda itu sendirian, tatapan Bunga berubah menjadi sangat sendu. Ada rasa iba dan dorongan kuat untuk merengkuh pemuda di hadapannya itu. Namun, Bunga tidak ingin merusak suasana dengan rasa kasihan. Ia ingin menjadi alasan Alan tersenyum hari ini.
Bunga mengubah posisi duduknya, mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat melintasi meja. Senyum jahil yang menggemaskan kembali terbit di wajahnya, matanya berkedip dengan nakal.
"Wah, masa?" tanggap Bunga dengan nada menggoda. Ia menatap Alan intens. "Sering kesini sendirian kalau lagi mumet? Berarti dulu-dulu ke sininya sedih terus, dong. Tapi..." Bunga menjeda kalimatnya, sengaja membiarkan ketegangan romantis menggantung di udara. Ia memiringkan kepalanya sedikit. "...sekarang gak mumet kan?"
Alan tertegun. Ia menatap wajah bidadari di depannya itu, meresapi setiap lengkungan senyumnya.
"Ditambah lagi..." lanjut Bunga dengan suara yang sedikit berbisik, namun terdengar sangat jelas di telinga Alan, menembus langsung ke relung hatinya. "...sekarang kamu ke sininya berdua sama aku. Harusnya sih mumetnya udah hilang semua diganti seneng. Ya, kan?" Bunga mengakhiri kalimatnya dengan senyuman tersimpulkan yang sangat jahil dan percaya diri.
Menerima serangan telak bertubi-tubi seperti itu, Alan hanya bisa tersenyum tipis. Ia menundukkan kepalanya sedikit untuk menyembunyikan rona merah yang kembali mengancam akan mengambil alih wajahnya. Hatinya bersorak kegirangan. Bunga benar. Bersama gadis ini, semua beban hidupnya yang terasa seperti gunung batu, tiba-tiba menguap tak bersisa.
Setelah beberapa saat saling melemparkan pandangan hangat yang diiringi keheningan yang nyaman, Bunga kembali membuka percakapan. Kali ini, nada suaranya terdengar sedikit lebih santai, namun ada kilatan rasa ingin tahu yang kuat di matanya.
"Kamu masih sendiri, Lan?" tanya Bunga tiba-tiba. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir merah mudanya, menembus suara angin.
Mendengar pertanyaan itu, otak Alan yang masih diselimuti oleh kabut pesona Bunga, merespons dengan keluguan yang berada di luar batas nalar. Secara harfiah, Alan mencerna pertanyaan 'sendiri' sebagai kondisi fisiknya saat ini. Dan tanpa memikirkan konteks romantis yang terselip di balik pertanyaan standar seorang wanita itu, Alan menjawab dengan polosnya dan dengan raut wajah yang sangat datar.
"Enggak kok," jawab Alan cepat dan lugas. Ia menatap mata Bunga dengan keyakinan penuh. "Kan sekarang aku lagi sama kamu di sini, Nga. Gak sendiri lagi."
Keheningan seketika turun menyergap meja mereka. Angin seolah berhenti bertiup. Burung-burung di kejauhan seakan berhenti berkicau.
Selama kurang lebih lima detik penuh, Bunga hanya bisa mengerjap-ngerjapkan matanya, menatap Alan dengan raut wajah tak terbaca, mencoba memproses jawaban super polos yang baru saja menghantam gendang telinganya.
Sementara itu, Alan yang awalnya merasa jawabannya sangat logis dan faktual, mulai merasakan ada sesuatu yang salah. Ia melihat ekspresi Bunga yang membeku. Perlahan-lahan, roda gigi di dalam otak Alan mulai berputar kembali, menganalisis ulang pertanyaan Bunga dan merangkai konteks yang sebenarnya.
Deg!
Ketika realita menghantam otaknya, mata Alan seketika terbelalak lebar. Wajahnya memucat seketika.
'Eh... gue ngomong apaan barusan?!' batin Alan berteriak histeris, panik bukan main. Tangannya meremas paha di bawah meja dengan kuat. 'Gila, bego banget! Ini mulut kenapa sih?! Kenapa responnya malah ngasih jawaban literal anak TK gitu?! Jelas-jelas maksud Bunga itu nanya status hubungan gue! Sialan banget nih mulut! Jatuhnya malah kayak cowok caper yang lagi usaha ngegombal receh!'
Keringat dingin kembali mengucur di dahi Alan. Ia gelagapan, berusaha mengoreksi kebodohannya sebelum Bunga menganggapnya aneh atau murah.
"Eh..., i.. itu..." Alan tergagap, memutus kontak mata karena tak sanggup melihat reaksi Bunga. Ia mengusap belakang lehernya dengan canggung. "...maksudnya gimana, Nga? P-pertanyaan kamu tadi..."
Di seberang meja, melihat kepanikan Alan yang begitu kentara akibat kebodohannya sendiri, Bunga tak kuasa lagi menahan perasaannya. Gadis itu menutupi mulutnya dengan sebelah tangan, berusaha keras menahan tawa yang meledak di dalam dadanya. Mata bening Bunga menyipit karena tersenyum terlalu lebar.
'Ya ampun, Tuhan...' seru Bunga dalam batinnya, hatinya berbunga-bunga melihat tingkah laku pemuda sangar namun berhati hello kitty di depannya ini. 'Aku jadi makin greget sama kamu kan, Lan! Kamu terlalu polos. Jawaban kamu barusan itu bener-bener gak terduga. Dan kepolosan kamu itu... terlalu natural, gak ada yang dibuat-buat. Kamu cowok paling unik yang pernah aku kenal.'
Setelah berhasil menguasai senyumnya agar tak terlihat menertawakan penderitaan batin Alan, Bunga menurunkan tangannya. Ia menatap Alan dengan pandangan yang jauh lebih hangat dan intim dari sebelumnya.
"Maksud aku..." Bunga melembutkan suaranya, memberikan penekanan pada setiap kata agar pemuda polos di depannya itu tak lagi salah tafsir. "...maksudnya, kamu udah punya pacar belum, Alan?"
Pertanyaan yang diutarakan secara eksplisit itu bagaikan peluru yang menembus tepat di tengah dada Alan. Waktu kembali berhenti baginya. Ia terdiam sejenak, membiarkan udara pegunungan masuk memenuhi paru-parunya. Matanya mengunci pandangan Bunga, mencari tahu apakah ada motif tersembunyi di balik pertanyaan itu. Namun, yang ia temukan hanyalah ketulusan dan antisipasi.
Alan menelan ludah. "Belum, Nga," jawabnya singkat, padat, dan kali ini dengan kesadaran penuh. Suaranya terdengar sedikit parau.
Mendengar jawaban itu, sebuah senyuman puas, meskipun sangat tipis hingga nyaris tak terlihat, terukir di bibir Bunga. Ia menganggukkan kepalanya pelan, seolah sedang membenarkan sebuah informasi yang telah ia kumpulkan. Bunga memajukan sedikit tubuhnya, menyilangkan kedua lengannya di atas meja, dan menatap Alan dengan tatapan menyelidik yang tajam namun penuh godaan.
"Tapi ya, Lan..." Bunga memulai invasinya, nadanya terdengar seperti seorang detektif yang sedang menginterogasi tersangka. "...aku dengar rumor yang beda loh tentang kamu."
Dahi Alan berkerut bingung. Rumor? Sejak kapan seorang kuli kafe sepertinya punya rumor di kampus yang dihuni oleh mahasiswa-mahasiswi borjuis? "Rumor apa?"
"Katanya..." Bunga menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam pupil mata Alan, membuat pemuda itu tak berkutik. "...kamu itu bukannya jomblo karena belum punya atau gak laku. Tapi, kamu sendiri yang nutup pintu rapat-rapat. Katanya, kamu itu terlalu dingin, ketus, dan cuek bebek sama cewek-cewek di kampus yang nyoba deketin dan ngejar-ngejar kamu."
Mata Alan sedikit melebar terkejut mendengar fakta yang dipaparkan Bunga. Memang benar, ada beberapa mahasiswi dari jurusan Akuntansi yang terang-terangan mencoba mendekatinya, membelikannya minuman, atau mengajaknya mengerjakan tugas bersama. Namun, Alan yang selalu diselimuti rasa insecure akan status ekonominya dan hanya fokus mencari uang, selalu menolak mentah-mentah semua pendekatan itu dengan sikap dingin dan tembok pertahanan setebal benteng kerajaan.
"Kata siapa?" tanya Alan cepat, nada bicaranya berubah menjadi sedikit defensif. Ia tidak ingin Bunga menganggapnya sebagai cowok sok cool atau sombong.
Bunga tersenyum miring, sebuah senyum kemenangan. "Ardi dan Randi," jawab Bunga ringan tanpa dosa, menyebutkan nama dua sahabat laknat Alan dengan fasih. Rupanya, ancaman Ardi pagi tadi di depan kamar mandi untuk meminta nomor Bunga kepada teman sekelasnya bukanlah bualan semata. Mereka telah menjadi mata-mata ganda.
Rahang Alan mengeras. Urat-urat halus muncul di pelipisnya. 'Awas aja lu berdua, curut! Balik ke kosan gue cincang lu berdua jadi perkedel!' maki Alan dalam hati dengan amarah yang memuncak. Sahabat-sahabat beban hidupnya itu benar-benar ember bocor yang tak bisa dipercaya.
Alan membuka mulutnya, bersiap untuk merangkai ribuan kalimat penyangkalan dan pembelaan diri. Ia ingin menjelaskan pada Bunga bahwa semua itu tidak sepenuhnya benar, bahwa ia hanya tidak ingin membuang waktu untuk hal yang tak pasti.
Namun, sebelum pita suara Alan sempat mengeluarkan satu patah kata pun, Bunga dengan cepat kembali memotong. Gadis itu melemparkan serangan terakhirnya. Pertanyaan pamungkas yang tidak memberikan ruang sedikit pun bagi Alan untuk menghindar.
Bunga mencondongkan wajahnya lebih dekat, matanya menatap tajam ke dalam kedalaman jiwa Alan, suaranya melembut menjadi sebuah bisikan yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, mengalahkan suara angin Ciwidey.
"Tapi... kalau kamu memang sedingin dan secuek itu sama cewek yang ngejar kamu..." Bunga menahan napasnya sejenak, membiarkan jantungnya sendiri ikut berdegup kencang menunggu reaksi Alan. "...kenapa sama aku, kamu nggak dingin kayak ke cewek-cewek di kampus itu, Lan? Kenapa... kamu malah rela nemenin aku, sampai salting dan grogi kayak gini di depan aku?"
Skakmat.
Dunia Alan seketika runtuh dan berhenti berputar. Seluruh kosa kata yang ia miliki menguap ke udara. Ia terdiam. Membatu.
Matanya melebar menatap Bunga. Udara di sekitarnya tiba-tiba terasa tipis, membuat dadanya sesak. Pertanyaan dari Bunga adalah sebuah bom waktu yang meledak tepat di wajahnya. Itu adalah pertanyaan yang menyentuh dasar terdalam dari rahasia yang ia simpan rapat-rapat. Sesuatu yang tidak ingin Alan jawab, atau lebih tepatnya, sebuah kebenaran telanjang yang tidak berani ia akui karena rasa takutnya akan penolakan.
Bagaimana ia bisa menjawabnya? Apakah ia harus mengatakan kebenarannya? Mengatakan bahwa sedingin apa pun balok es, ia pasti akan mencair jika dihadapkan pada hangatnya sinar matahari? Dan Bunga adalah matahari itu.
Kenyataan yang tak bisa disangkal, yang selama ini Alan kubur di bawah tumpukan rasa rendah diri dan gengsinya adalah: Alan Prawija, sang pemuda kelas bawah berhati baja, nyatanya telah jatuh cinta setengah mati pada sang bidadari sejak pertama kali mata mereka bertubrukan.
Namun, keberanian itu belum cukup terkumpul. Kata 'suka' atau 'cinta' terlalu berat, terlalu mahal, dan terlalu berisiko untuk meluncur dari bibir seorang Alan hari ini. Ia takut jika kejujurannya akan menghancurkan dinding ilusi kebahagiaan yang baru saja mereka bangun hari ini. Ia ragu, bimbang antara mengikuti kata hati atau tunduk pada realita.
Di bawah tatapan Bunga yang penuh tuntutan dan antisipasi, Alan tak bisa melakukan apa pun. Tenggorokannya terkunci rapat oleh rantai keraguan. Suara desiran angin dan riak air danau seakan menjadi saksi bisu atas peperangan batinnya.
Alan masih terdiam. Membiarkan keheningan yang menyesakkan itu menjadi satu-satunya jawaban yang mengambang di antara mereka, memisahkan dua hati yang diam-diam saling mencari di atas geladak perahu impian.