NovelToon NovelToon
Sebait Doa, Sekeping Asa

Sebait Doa, Sekeping Asa

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Mengubah Takdir / Anak Genius
Popularitas:848
Nilai: 5
Nama Author: Alvinoor

"Tuhan!, tidak banyak yang ku pinta, hanya kuatkan hati ku, bimbing langkahku, agar aku selalu sabar dan ikhlas dengan semua kehendak dan ketentuan mu ini".

Kisah perjuangan hidup seorang anak manusia, seorang remaja miskin, putra dari seorang penderita odgj bernama Kaenan.

Hinaan, caci maki, fitnah dan perundungan bahkan kekerasan fisik, sudah menjadi lauk makan sehari hari.

Meskipun hidup dalam kemiskinan dan tak punya siapa siapa, satu hal yang masih di yakini Kaenan, dia masih punya Allah dan doa doa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvinoor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7

"Terima kasih ya bang atas bantuan nya, saya hanya punya uang tiga puluh ribu saja, ini terimalah!" ujar Kaenan menyerahkan tiga lembar uang sepuluh ribuan kepada kang ojol tadi.

"Siapa mu kakek itu tadi?" tanya kang ojol sebelum menerima uang dari Kaenan.

"Bukan siapa siapa bang, kenal juga tidak, saya baru sadar istirahat dan makan es krim di taman, tiba-tiba kakek itu pingsan!" jawab Kaenan seadanya.

"Jadi?, kau tidak mengenal beliau?" ....

"Tidak bang, bertemu juga baru tadi" ....

Pemuda itu tersenyum, mendorong tangan Kaenan yang sedang menyerahkan uang tiga puluh ribu rupiah itu, "tidak usah deh, saya ikhlas menolong, tidak semuanya harus dihitung dengan upah, iya kan?, simpanlah uang itu, oh iya, siapa nama mu?" ....

"Kaenan bang!" ....

"Kalau saya Sudarmanto, panggil saja bang Manto!, tapi jangan Sumanto lho ya!" ....

"Kalau begitu, bisakah Abang tungguin kakek itu beberapa saat, saya mau mengambil motor yang saya parkir di parkiran taman tadi bang, setelah itu saya langsung ketempat ini" ujar Kaenan.

"Dari pada jalan kaki, mendingan saya antar deh, kita bisa minta ijin sebentar pada petugas!" jawab bang Manto.

Setelah minta ijin pada petugas jaga ditempat itu, Kaenan dan Sudarmanto segera pergi menuju parkiran taman kota untuk mengambil motor Aisyah yang dipakai oleh Kaenan.

Beberapa saat, mereka tiba di parkiran taman kota untuk mengambil motor yang tadi diparkirkan oleh Kaenan.

"Kaenan!, saya meneruskan kerja dulu ya?, insyaallah nanti saya jenguk lagi, kau dulu yang menunggui kakek itu ya, maaf ya Kaenan, ku tinggal dulu ya" ....

"Iya bang Manto, terimakasih sebelum nya, semoga banyak rejeki nya" ujar Kaenan seraya membawa motor nya kembali ke Rumah Sakit tadi.

"Di Rumah Sakit, penanganan pasien gawat darurat belum selesai, pintu ruang UGD masih tertutup rapat.

Selang beberapa lama, pintu ruang UGD pun terbuka, seorang dokter muda keluar dari ruangan.

"Keluarga pasien!" ujar dokter tadi.

Kaenan bangkit berdiri menghampiri dokter tadi, "maaf dok, saya bukan keluarga pasien, beliau saya temukan pingsan di taman, jadi buru buru saya bawa ke Rumah Sakit ini, jika perlu jaminan sementara, biar saya saja" ujar nya.

"Kau tidak mengenal nya sama sekali?" tanya dokter.

Kaenan menggelengkan kepalanya, "tidak dok, bahkan bertemu saja baru tadi" ....

"Kami menemukan KTP beliau di dompet nya, nama beliau Aji Sasongko, bukan warga kota ini, tetapi warga ibu Kota, kami masih menelusuri alamat beliau, terimakasih untuk cepat tanggap nya, beliau terkena serangan jantung, terlambat sedikit saja lewat, Alhamdulillah keadaan beliau kini mulai membaik, tetapi harus di lakukan operasi pemasangan ring, jika tidak, sewaktu waktu akan kumat lagi, sebentar lagi beliau akan di pindahkan ke ruang perawatan, untuk sementara, terpaksa kau menjadi penanggung jawab beliau atas nama keluarga, agar beliau bisa mendapatkan ruangan" ujar dokter itu.

"Boleh dokter, tetapi saya belum punya KTP hanya kartu pelajar saja"Kaenan menyerahkan kartu pelajar nya kepada dokter itu.

"Oke, sekarang ikuti saya!" dokter muda itu mengajak Kaenan ke ruang tata usaha untuk mengurus kamar inap sementara.

Setelah menandatangani beberapa surat, akhirnya pria tua itu dibawa ke ruang inap sementara di kelas ekonomi, sambil menunggu keluarga pasien datang.

Saat Kaenan masuk, dia melihat pria tua itu sudah siuman, dan sedang beristirahat dengan posisi Brankar dibuat sedikit naik seperti setengah sandaran.

Senyum ramah pria tua itu terkembang saat melihat Kaenan berjalan mendekati nya.

"Bagai mana keadaan mu kek?" tanya Kaenan sambil menyalami tangan pria tua itu.

"Alhamdulillah, sudah baikan, kau yang duduk makan eskrim di depan ku sewaktu di Taman tadi kan?, apakah kau yang membawa kakek ke Rumah Sakit ini?" tanya pria tua itu.

"Iya kek!, tapi bukan saya sendiri, saya minta tolong sama bang ojol tadi" sahut Kaenan.

"Siapa nama mu nak?" ....

"Kaenan kek, Muhammad Kaenan, panggil saja Kae!" ....

"Nama kakek Aji Sasongko, kakek dari ibu kota, ke kota ini menjenguk anak saya, kebetulan putri nya ulang tahun, terimakasih ya nak ya, berkat pertolongan mu, kakek bisa terselamatkan" ....

"Apakah kakek ingat alamat atau nomor telepon anak kakek?" tanya Kaenan.

"Rumah anak kakek tidak jauh dari Taman tadi, di jalan Kutilang nomor sebelas, namanya Hendra!" jawab kakek Aji.

"Kakek saya tinggal sebentar ya kek?, saya mau mengabari anak kakek!" ....

Kakek Aji Sasongko tersenyum ramah kearah Kaenan sambil menganggukkan kepala nya, "pergilah nak, terimakasih sebelum nya ya nak ya" ....

Kaenan segera keluar dari ruang rawat inap itu, mengambil motor nya, lalu pergi mencari anak kakek Aji Sasongko.

Setelah berputar putar beberapa kali, bertanya sana sini, akhirnya oleh salah seorang penduduk, dia di tunjukan sebuah rumah mewah dua tingkat di kawasan perumahan elite.

Didepan rumah, tepat nya di samping pintu gerbang, terdapat sebuah pos satpam, dengan seorang pria paruh baya yang bertugas di situ.

"Mau mencari siapa dik?" tanya pria itu keluar dari pos nya, namun belum membukakan pintu gerbang.

"Apa benar ini Rumah pak Hendra pak?" tanya Kaenan.

"Benar!, ada apa ya?" ....

"Ada kabar yang perlu saya sampaikan kan pada pak Hendra" ....

"Kabar apa ya?" tanya pria itu penuh selidik.

"Apa benar Hendra yang ini putra dari kakek Aji Sasongko?" tanya Kaenan lagi.

Pria paruh baya itu termenung sejenak sebelum menggelengkan kepala nya, "saya tidak tahu dik, kalau pak Hendra, memang ini Rumah nya, entah yang adik maksudkan itu beliau, saya tidak tahu, sebaik nya saya tanyakan dulu" pria paruh baya itu masuk kedalam, tanpa membukakan pintu gerbang untuk Kaenan.

Tidak seberapa lama, pria itu muncul lagi bersama seorang wanita cantik berusia paruh baya.

"Ada apa dik?" tanya wanita cantik itu.

"Apa benar disini rumah pak Hendra?" tanya Kaenan.

"Iya benar, ada apa ya dik?" ....

"Hmm, apa pak Hendra ini putra kakek Aji Sasongko?" ....

"Benar!, ada apa ya?" ....

"Kakek Aji Sasongko masuk Rumah Sakit karena serangan jantung waktu di Taman tadi bu" ujar Kaena.

"Apa?, papah kena serangan jantung?, bagai mana keadaan nya sekarang?" tanya wanita cantik itu kaget dan terlihat sangat panik.

"Sudah agak mendingan bu, sekarang ada di ruang anggrek nomor dua A" sahut Kaenan.

"Baiklah!, terimakasih ya, saya akan menelepon suami saya dahulu, dia masih di kantor" ujar wanita cantik itu.

Kaenan langsung berpamitan kembali ke Rumah Kiai Nuruddin sebentar untuk mengantarkan kuota internet yang dipesan oleh Aisyah tadi.

Baru saja motor memasuki pekarangan rumah, Aisyah buru buru keluar dengan berlari kecil.

"Dari mana saja dik?, kok lama sekali?, kau tidak apa apa kan?" tanya Aisyah lembut.

"Ini kuota internet nya kak, maaf ya kak, tadi saat Kae istirahat di Taman, ada seorang bapak bapak tua yang terkena serangan jantung, jadi saya bawa ke Rumah Sakit terdekat saja dahulu, maaf ya kak" ujar Kaenan.

Aisyah tersenyum menatap kearah Kaenan, hati nya bangga melihat kebaikan dihati anak muda itu.

"Tidak apa apa dik!, kakak tidak marah, kakak hanya takut kalau kalau terjadi apa apa pada adik, kakak bangga dengan perbuatan adik hari ini, jadi bagai mana keadaan bapak tua itu?" tanya Aisyah.

"Alhamdulillah kak, sudah mulai membaik, tapi menurut dokter, harus operasi pemasangan ring, jika tidak, sewaktu-waktu bisa kambuh lagi, dan bisa sangat membahayakan kan" ....

"Keluarga nya bagai mana?" ....

"Kakek itu warga ibukota kak, beliau ke kota ini karena urusan dengan putra nya saja, tapi tadi sudah saya datangi rumah nya, dan sudah saya beritahukan kak" ....

Aisyah menarik nafasnya dalam-dalam, "sekarang bagai mana dengan adik?" tanya nya.

"Kalau boleh, saya pinjam motor nya kak, saya mau menemani kakek itu sampai keluarganya datang, kasihan kakek itu" ....

"Hmm, pakailah dik, ini bawa untuk jaga jaga" Aisyah menyerahkan selembar uang berwarna pink kepada Kaenan. Namun anak muda itu menolak nya.

"Tidak usah kak, sisa uang tadi masih ada kok" ....

"Bawalah dik, sekedar untuk jaga jaga, musibah siapa tahu?, bocor ban di jalan misal nya, atau mogok, mending siap siap dik!" tegas Aisyah.

Akhirnya Kaenan mau menerima uang itu, lalu segera berlalu kembali ke Rumah Sakit.

Di rumah sakit, ternyata pak Hendra belum datang. Hanya kakek Aji Sasongko yang duduk melamun sendirian.

"Assalamualaikum kek, kakek mau minum atau makan apa? Biar saya belikan?" tanya Kaenan menyalami tangan pria tua itu.

"Kalau boleh, air mineral saja nak" sahut kakek Aji tersenyum melihat kedatangan Kaenan.

"Sebentar ya kek, saya belikan dulu" ujar Kaenan sambil melangkah keluar dari ruangan itu.

Di ruangan kelas ekonomi itu, ada lima tempat tidur yang disekat dengan tirai kain, sehingga beberapa pasien yang lain terdengar suara kerabat nya berbicara.

Tidak perlu waktu lama, Kaenan datang dengan membawa sebotol air mineral, juga satu buah lagi air mineral kemasan cup dan beberapa potong roti.

Kaenan memasangkan sedotan ke air mineral kemasan cup, dan menyerahkan nya kepada kakek Aji beserta sebungkus roti.

"Kakek Aji kembali tersenyum, menerima air mineral kemasan cup dan sebungkus roti itu.

"Terimakasih nak ya, kau sungguh baik hati, orang tua mu kerja apa nak?" tanya pria tua itu.

Kaenan menundukkan kepalanya, raut kesedihan terlihat diwajah nya.

"Ayah saya sudah tidak ada saat saya baru berusia dua tahun kek, sedangkan ibu menderita gangguan jiwa semenjak ayah meninggal karena kecelakaan, namun Alhamdulillah nya, beliau masih bisa membesarkan saya meski dalam keterbatasan nya, selama ini saya lebih banyak ikut Kiai Nuruddin di pondok pesantren Al Ilmi, beliaulah yang menyekolahkan saya hingga kelas dua SMA sekarang" ujar Kaenan menceritakan kisah nya secara singkat.

Mendengar kisah Kaenan, raut wajah kakek aji berubah sendu, ada raut kesedihan terpancar disana.

"Kau hebat nak, dalam keterbatasan, kau masih sempat berbuat kebaikan, andai saja kau tidak menolong kakek tadi, mungkin sekarang kakek sudah tiada nak" ....

"Saya hanya melakukan kewajiban saya selaku sesama manusia kek, andai saja tadi bang ojol nya tidak mau menolong, saya juga bisa apa" sangkal Kaenan.

"Disamping baik, kau juga rendah hati nak, terimakasih sekali lagi nak, berkat bantuan mu, kakek bisa selamat hingga detik ini" ujar kakek Aji Sasongko tulus.

...****************...

1
Was pray
langkahmu masih panjang kae ! tapi semua harus dirajut sejak dini, sepotong baju butuh beberapa proses untuk mewujudkannya, mulai dari seirat dipintal menjadi benang, benang ditenun menjadi kain baru kain dijahit menjadi baju, jadi semua butuh ikhtiar untuk mewujudkannya, berdoa tanpa usaha berarti pemalas, berusaha tanpa doa berarti sombong, jadi ikhtiar dan doa harus berjalan beriringan, benang tak akan jadi baju jika hanya diam tanpa mau dirajut demikian juga cinta dan cita2 kae
Hentri Gunawan
bagus dan buat pelajaran
Was pray
kapan kaenan mau hidup damai? waktu miskin diinjak injak oleh ortunya sendiri, setelah diketahui kae anak orang kaya bukan makin tenang hidup kae malah tambah runyam, diperalat oleh keluarga ortunya demi harta
Was pray
harta adalah fitnah yg mempirak porandakan segalanya, harta bisa menjadi barokah tapi juga gak laknat jika ditangan yg serakah
Was pray
memaafkan belum tentu harus menerima kehadirannya kyai! takdir anak dan orangtua kandung memang tidak bisa diubah kyai, mengakui tidak harus menerima, durhaka itu jika si anak gak mau mengakui kalau dia orangtuanya kemudian berbuat dholim kepadanya , tidak berbakti terhadap kedua orangtuanya yg Sholeh/Sholehah, juga jika kamu diposisi kaenan apakah yg kau katakan sanggup kau lakukan kyai Nurudin? ceramah itu mudah melaksanakan apa yg diceramahkan itu yg belum tentu bisa
Was pray
kelurga pak Irfan yg waras akal budinya cuma Bu shanty, pak Irfan hanya kebetulan darahnya mengalir di tubuh kaenan, syafea bukan kakak kaenan hanya takdir yg membuat keduanya terpaksa lahir dari ibu dan bapak yg sama, orang2 seperti gak pantas dapat gelar ayah dan kakak kandung, luka hati dan penderitaan yg disebabkan oleh sosok orang yg terpasang berkedudukan jadi ayah dan kakak kandung lebih dalam lukanya dan tak kan hilang selamanya , pak Irfan syafea lebih rendah dari binang babi yg najis dan haram
Was pray
nasib tragis tahfid. Al-Qur'an , hilang dari orangtuanya sampai2 ortunya gak nyadar, biasanya ortu akan ada ikatan batin dengan anak kandungnya sendiri,ini ortu apaan sih pak Irfan itu?disiksa ortu dan kakak kandung sendiri. cek cek cerita tragis bagi umat muslim yg taat beibadah
Was pray
yah MC nya lemah .. apagunya IQ tinggi tapi gak ada nyali untuk membela diri, umat Islam memang diajarkan untuk selalu welas asih terhadap sesama, mengalah demi kebaikan tapi ya jangan keterlaluan dengan pasrah menerima nasib ketika dilecehkan dan direndahkan oleh orang tanpa sedikitpun membela diri, lama2 mati konyol tuh kaenan, miskin harta gak apa2 tapi Islam tetap mengajarkan umatnya untuk membela diri jika itu sudah melati batas
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!