Semua bermula saat regu berjumlah enam anggota mahasiswa hendak bertolak ke sebuah perkampungan pelosok demi tugas KKN, mereka menolak ikut rombongan bus kampus, memilih menaiki mobil pribadi.
Sampai pertengahan jalan, sang sopir berbelok arah, mencari jalur alternatif agar cepat sampai tujuan, tapi malah memasuki wilayah tidak terdaftar pada peta digital maupun konvensional.
Keanehan, kejanggalan mulai terjadi kala sang waktu merambat memasuki malam hari. Langit berangsur-angsur berubah warna layaknya api menyala.
Ada apa sebenarnya? lantas bagaimana dengan nasib para mahasiswa, termasuk Candra Kanti, gadis pendiam yang dapat merasakan aura mistis disekitarnya ...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak membuahkan hasil : 17
Lilis menunjuk nyala lampu minyak tergantung pada dinding tembok.
“Kuning keemasan, seperti nyala api?” Kanti ingin memastikan, bertanya sampai dua kali.
Gelengan Lilis membuat dia kesulitan menebak sampai wanita memiliki kekurangan itu berdiri di bawah sinar lampu, lalu mengangkat tangan agar sela-sela jemarinya terkena sinar.
Tidak cukup sampai di sana, Lilis mencolek warna hitam pada kaca lampu, dioleskan ke kulit tepi sela jemari tersorot cahaya.
“Nyala api dengan pupil hitam, iya?” ia menahan napas. ‘Aku tidak pernah melihat netra warna itu, sedangkan beberapa kali mencoba menarik perhatianku iris biru jernih.’
Anggukan Lilis dibalas tatapan nyalang ibunya sendiri. Akan tetapi, diabaikan, dan dia bergegas meninggalkan ruang makan.
“Apa sudah puas?” Kelakar bu Sasmi, dia berdiri. “Wajib diingat, begitu kalian melihat mereka, berlarilah sekuat tenaga.”
Pak Aan juga pergi dari sana, meninggalkan ketiga tamu mereka yang masih dalam keadaan linglung.
“Mengapa Sambara dan Aji belum juga kembali?” Aya mulai paranoid, takut kejadian Mayang terulang.
“Sepertinya mereka berpencar.” Abeer menghabiskan sisa bumbu kacang.
“Lu gak merasa kehilangan gitu?” Ahwaya memandang sengit pemuda yang seolah biasa saja. Abeer memang sempat menangis, tapi cuma sebatas itu.
“Gua makan selain karena lapar, ya untuk ngilangin stress. Emang cuma kalian yang takut? Gua juga sama,” kelitnya.
Kanti urung mau mengajukan pertanyaan, takut ada pendengar tidak diharapkan. “Kita tunggu di kamar saja, yuk? Badanku sakit-sakit semua.”
Aya langsung berdiri, dia seperti anak ayam ke induknya. Benar-benar enggan sendirian.
Abeer masih bertahan di sana, menikmati segelas kopi masih tersisa banyak.
***
“Aya, tolong janji dulu untuk gak bocorin apa yang mau aku omongin ini!” Jari kelingkingnya teracung.
“Ada apa sebenarnya, Kanti?” kendatipun ragu, dia menautkan jari mereka.
“Sebelumnya, tenangin dirimu dulu. Jangan sampai teriak, bisa?” Kanti menatap penuh permohonan, dia memutuskan untuk jujur, teringat pesan terakhir Mayang – tolong lindungi Ahwaya.
“Iya.” Aya duduk meringkuk bersandar pada dipan.
“Sebenarnya Mayang sudah meninggal dunia.” Kanti cepat-cepat membekap mulut gadis yang otomatis mau berteriak.
Hem! Hem!
“Tenangin dirimu! Kita cuma berdua di kamar ini!” masih enggan melepaskan dekapannya. Mereka sedang berada di kamar yang ditempati Mayang.
Aya mengangguk. Begitu terbebas dari tangan Kanti, dia menepuk-nepuk dada terasa sesak luar biasa. “Kamu ngeprank aku, kan?”
“Gak. Aku serius, tadi dia membawa sukmaku ke suatu tempat, nunjukin sesuatu mengerikan,” akunya jujur.
“Tolong katakan kalau kamu bohong?!” gadis mengenakan pakaian serba putih itu menggeleng keras, menolak percaya. Sayangnya Kanti mengangguk.
“Beneran Mayang udah gak ada? Dibunuh makhluk jahat itu?” ia terisak-isak.
“Iya. Pelakunya belum pasti siapa. Aku melihat seseorang dipenggal menggunakan kapak, tapi belum berhasil mengenali kepala siapa, jiwaku sudah kembali menghuni raga,” Kanti menjabarkan perlahan, memberi pengertian.
“Kamu bisa melihat hal-hal kayak gitu? Hantu?” pelan-pelan Ahwaya belajar percaya, daripada menghina Kanti seperti yang sering dilakukan Abeer, Sambara, Mayang, dan terkadang dirinya sendiri.
“Dulu bisa melihat dengan mata telanjang, sekarang susah. Cuma dapat merasakan aura mistis. Aku heran kenapa Mayang mampu menembus pelindung buatan orang tuaku?” pertanyaan sedari tadi belum juga mendapatkan jawaban.
Kanti menceritakan garis besar kalau dia memiliki indera ke-enam. Namun, menutupi jika dirinya tulang wangi darah manis.
“Terus, yang kamu lihat kepala menggelinding itu, Mayang?” tubuhnya menggigil, kedua tangan memeluk kencang lutut tertekuk.
“Belum bisa mastiin, soalnya arwah Mayang ada diluar yang sudah pasti raganya gak lagi bernyawa. Tapi, aku sempat mendengar jeritan dia minta tolong.”
Ahwaya menggigit lengan demi mencegah pekikannya. “Apa kita semua akan bernasib sama seperti Mayang, Kanti?”
Kanti meluruskan kaki, dia duduk disebelah Aya. “Jujur, aku juga takut. Rasanya setiap lorong adalah jalan buntu.”
“Kita harus gimana?” tanyanya putus asa.
Disaat bersamaan, pintu kamar Mayang dibuka oleh pemuda berwajah lesu, berkeringat.
“Aji ….” kalimat Ahwaya menggantung.
Sang pemuda berwajah tampan meskipun terdapat banyak warna asap hitam, menggeleng lemah. Dia duduk di depan kedua gadis tengah menangis.
“Kami udah nyari sampai batas jurang, dia gak ada disana, dimanapun.” Aji menutup mata menggunakan kedua tangan.
“Sambara mana?” tanya Kanti, takut terjadi sesuatu.
“Lagi didapur. Ngopi kayaknya.”
Sesudahnya mereka sama-sama diam, hal yang belakangan ini sering dilakukan.
“Kalau aja kita gak nekat lewat jalan pintas, mungkin sekarang mulai akrab dengan penduduk desa tempat KKN. Apa ini yang dinamakan karma? Sebelumnya aku sering merendahkan orang miskin, suka melawan papa, mama. Sering semena-mena,” ungkap Aya, ia mendongak melihat langit-langit kamar.
Kanti merangkul pundak gadis yang sedang berada di fase paling bawah. Tidak ada kalimat hiburan, hanya tepukan lembut sebagai penenang sekaligus dukungan.
Candra Kanti juga menceritakan yang dilihatnya kepada Aji, membuat pemuda itu shock lalu frustasi.
Sama-sama mereka mencari jalan keluar, meskipun hasil akhirnya tidak menemukan solusi apa-apa.
Abeer, Sambara, masuk ke dalam kamar gadis yang sudah diyakini oleh Kanti telah tiada.
Tinggal lima raga masih bernyawa tersesat di sebuah desa yang kalau menjelang malam langit berubah kemerahan, udara lembab, tidak ada suara binatang sebagai nyanyian alam.
***
Pagi hari, langit kembali berubah warna normal meskipun tidak ada sinar matahari.
Selama disini, Kanti dan lainnya tidak pernah berdiri dibawah teriknya matahari. Cuaca selalu mendung, terkadang berkabut, meskipun tidak turun hujan.
Seperti janji bu Sasmi, dikarenakan Mayang belum juga ditemukan – pagi ini, Kanti dan keempat temannya ikut ke rumah mbah Munah dengan naik pickup.
Sepanjang perjalanan melewati rumah penduduk, tidak ada satupun manusia yang melakukan aktivitas diluar rumah – entah itu anak kecil bermain, atau para ibu-ibu bergosip maupun menjemur pakaian, para bapak berjalan pergi ke kebun.
“Sepi banget ya?” Aya duduk di dekat Kanti, dia dipinjamkan pakaiannya, tidak lagi mengenakan jubah serba putih.
Beruntung Kanti ada membawa bubuk pencuci baju, dan juga sikat kecil, sehingga setelah mandi langsung membersihkan pakaiannya, lalu di jemur dalam kamar menggunakan tali rafia milik bu Sasmi.
“Dari pertama kali jalan-jalan, memang seperti ini suasananya.” Kanti duduk menyamping agar leluasa melihat ke belakang.
“Desa ini beneran buat aku semakin takut, Kanti. Gak penduduknya, fenomena alam, sama-sama misterius, banyak misterinya.” Aya bergidik, bulu tangannya berdiri.
‘Kamu bener Aya. Rasanya aku ingin segera pulang kalau semisal gak bisa membuka tabir ini,’ batinnya pun ikut lelah.
Laju mobil berbelok ke jalanan ditanami pohon randu (kapas) yang sedang berbuah. Semilir angin tidak terasa sejuk, menggugurkan gumpalan putih seringan bulu yang biasa dijadikan bantal, tilam.
Semua masih baik-baik saja, tidak ada yang aneh, sampai laju mobil berhenti di depan pagar bambu setinggi pundak orang dewasa.
Deg.
.
.
Bersambung.
emang bener² laki durjana, dah lah sono di makan anjjing aja🤭
tinggal di dalam kandang pemangsa membuat was was setiap detiknya
lanjut Thor