Raisa adalah definisi "gadis di dalam botol". Hidupnya hanya seputar dinding rumah, perpustakaan pribadi, dan petuah-petuah manis ibundanya. Dunia luar yang kejam? Raisa tidak kenal. Dunia Dark Romance yang penuh darah dan obsesi? Raisa bahkan tidak bisa mengeja kata "toksik".
Semua berubah saat ia meminjam sebuah novel bersampul hitam pekat milik temannya. Baru membaca bab pertama, Raisa sudah pusing tujuh keliling. Namun, saat ia memejamkan mata untuk tidur, dunianya berputar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pindah sekolah
Suasana sunyi di kamar rawat inap itu seketika pecah saat kelopak mata Anna terbuka sempurna. Sang Mama yang sedang duduk di samping ranjang langsung berdiri dengan wajah yang dipenuhi rona bahagia sekaligus haru.
"Anna! Sayang, kamu sudah bangun?" seru Sang Mama dengan suara serak. Ia segera memegang tangan Anna yang masih terasa dingin, air matanya jatuh membasahi sprei rumah sakit. "Papa! Panggil dokter, Anna sudah sadar!"
Sang Papa yang baru saja kembali dari kantin luar langsung berlari masuk. "Syukurlah... Nak, kamu bikin Papa sama Mama hampir gila karena cemas. Jangan pernah lakukan hal nekat seperti itu lagi, ya?"
Namun, Anna hanya terdiam. Sorot matanya kosong, menatap lurus ke depan tanpa merespons dekapan hangat ibunya. Di dalam kepalanya, suara perempuan misterius di alam bawah sadar tadi terus terngiang-ngiang.
Jadilah Anna sampai ceritanya selesai.
"Jadi... aku benar-benar harus bertahan di sini," batin Anna atau Raisa dengan perasaan berkecamuk. "Tapi bagaimana caranya? Alur cerita ini gila. Zela selalu punya cara untuk menuduhku, dan cowok-cowok itu selalu percaya padanya."
Ia menghela napas panjang, merasakan sisa sesak di dadanya akibat air danau yang sempat masuk ke paru-parunya. "Apa aku pindah sekolah saja ya? Kalau aku menjauh dari mereka, mungkin alurnya bisa selesai lebih tenang dan aku bisa pulang ke duniaku," pikirnya sambil mulai merencanakan langkah selanjutnya agar tidak perlu lagi berurusan dengan Arland, Kiel, dan drama melelahkan di sekolah itu.
Satu hari berlalu dengan tenang di rumah sakit, namun ketenangan itu terusik saat pintu kamar rawat Anna terbuka. Geng Demons melangkah masuk dengan aura yang masih terasa berat, diikuti oleh Zela yang berjalan menunduk di belakang Arland.
Arland berdehem, memecah keheningan yang canggung. "Gue cuma mau bilang... sorry," ucapnya singkat dengan nada rendah, matanya menatap ke arah lain seolah sulit untuk mengakui kesalahannya secara langsung.
Zela kemudian maju selangkah, wajahnya tampak memelas. "Anna, aku minta maaf ya. Kemarin aku beneran mengira kamu yang menyuruh anak-anak itu menampar aku di gudang," ucap Zela dengan suara yang dibuat selembut mungkin. "Soalnya... kemarin aku kan diantar pulang sama Kiel, jadi aku pikir kamu cemburu dan marah sama aku."
Anna hanya menghela napas panjang mendengar alasan itu. Di dalam hatinya, ia merasa lelah dengan logika dunia ini. Bagaimanapun, mereka adalah karakter utama. Aku tidak akan menang kalau melawan sekarang, pikirnya pasrah.
"Iya, nggak apa-apa," jawab Anna singkat. Ia kemudian memejamkan mata, memberi isyarat bahwa ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan lagi.
Tak lama kemudian, seorang perawat masuk ke ruangan. "Mohon maaf, jam kunjung sudah habis. Pasien butuh banyak istirahat agar kondisinya segera pulih," ucap perawat itu dengan sopan namun tegas.
Satu per satu dari mereka mulai meninggalkan ruangan. Sebelum pintu tertutup, mata tajam Kiel sempat bertabrakan dengan mata Anna. Kiel menatapnya dengan tatapan dalam yang sulit diartikan, namun Anna segera menghindar dan memalingkan wajahnya karena rasa takut yang masih membekas.
Tiga hari kemudian, suasana di ruang makan kediaman Anna terasa jauh lebih hangat dibandingkan minggu-minggu sebelumnya. Aroma nasi goreng yang menggugah selera memenuhi ruangan, namun Anna tampak lebih fokus pada dokumen yang terletak di samping piringnya.
Sang Papa meletakkan cangkir kopinya dan menatap Anna dengan saksama. "Surat kepindahanmu sudah selesai diproses, Anna. Semua berkas sudah Papa urus."
Mama yang sedang mengambilkan lauk untuk Anna menghentikan gerakannya sejenak. "Kamu benar-benar yakin, Sayang? Papa dan Mama tidak keberatan kalau kamu mau istirahat dulu di rumah."
Anna memberikan senyum tipis, mencoba meyakinkan kedua orang tuanya yang tampak sangat khawatir. "Aku yakin, Ma. Aku cuma merasa... suasana di sekolah lama sudah tidak cocok lagi untukku."
"Tapi kenapa harus pindah sekolah mendadak begini?" tanya Sang Papa ingin memastikan.
Anna menarik napas dalam, mengingat misinya untuk bertahan hidup tanpa gangguan Zela atau Geng Demons. "Aku ingin punya teman baru, Pa. Aku ingin memulai semuanya dari awal di lingkungan yang lebih segar, di mana tidak ada yang mengenalku sebagai 'Anna yang dulu'."
Mendengar alasan itu, Sang Mama mengelus rambut Anna dengan penuh kasih sayang. "Kalau itu memang yang terbaik untuk ketenanganmu, Mama dukung. Mama hanya ingin kamu bahagia dan punya teman-teman yang tulus sayang sama kamu."
"Makasih, Ma, Pa," jawab Anna tulus.
Dalam hatinya, Anna atau Raisa merasa sedikit lega. Pindah sekolah adalah langkah pertama baginya untuk menjauh dari plot utama yang berbahaya. Ia berharap, dengan lingkungan baru, ia bisa menjalani hidup dengan lebih tenang sampai cerita ini benar-benar mencapai kata akhir.
Anna tampak asyik membolak-balik layar ponselnya, mencari tahu lebih dalam tentang sekolah barunya melalui situs web resmi dan media sosial. Matanya berbinar saat melihat foto-foto fasilitas gedung yang tak kalah mewah dan besar dari sekolah sebelumnya, lengkap dengan taman yang asri dan perpustakaan modern.
"Sekolah baru... tunggu aku!" seru Anna dengan semangat 45, namun caranya mengepalkan tangan dan nada bicaranya justru terlihat sangat lucu, mirip anak kecil yang baru akan berangkat ke taman kanak-kanak.
Keesokan Harinya
Pagi itu, Anna sudah rapi dengan seragam barunya yang tampak sangat pas di tubuhnya. Ia menuruni tangga dengan langkah ringan menuju ruang makan, di mana kedua orang tuanya sudah menunggu untuk sarapan bersama.
"Wah, anak Papa cantik sekali pakai seragam baru," puji Sang Papa sambil tersenyum bangga melihat semangat putrinya kembali pulih.
Anna duduk di kursinya dengan ceria. "Iya dong, Pa! Aku nggak sabar mau lihat kelas baruku nanti."
Sang Mama meletakkan piring berisi sarapan di depan Anna sambil mengelus bahunya lembut. "Semangatnya luar biasa ya pagi ini. Tapi ingat pesan Mama, kalau ada apa-apa atau kamu merasa tidak nyaman, langsung kabari Mama atau Papa ya, Sayang?"
Anna mengangguk mantap sambil menyuap makanannya. "Siap, Ma! Tenang saja, kali ini Anna akan cari teman yang banyak dan fokus belajar."
"Papa senang melihat kamu semangat lagi," tambah Sang Papa. "Nanti Pak Sopir yang akan antar sampai depan gerbang. Semoga hari pertamamu menyenangkan, ya."
"Makasih, Pa, Ma! Aku berangkat dulu!" ucap Anna sambil mencium tangan kedua orang tuanya,
Begitu Anna turun dari mobil dan berdiri di depan gerbang sekolah barunya, suasana mendadak riuh. Siswa-siswi yang berlalu-lalang seketika memperlambat langkah mereka, terpaku melihat sosok gadis mungil dengan seragam baru yang tampak begitu cantik dan menggemaskan. Dengan rambut yang tertata rapi—mengingatkan pada gaya manhwa style yang ia sukai—Anna terlihat seperti karakter yang baru saja keluar dari buku komik.
"Duh, di mana ya ruang kepala sekolahnya?" gumam Anna pelan sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling gedung yang luas itu.
Belum sempat ia melangkah jauh, dua orang siswi berlari kecil ke arahnya dengan wajah penuh antusias. Mereka tampak sangat heboh melihat kehadiran Anna.
"Hai! Ya ampun, lo cantik banget! Murid baru ya?" tanya salah satu dari mereka tanpa basa-basi.
Anna sedikit tersentak, lalu matanya melirik ke arah name tag yang tersemat di seragam mereka. Emma dan Jolina, batinnya setelah membaca nama tersebut.
"Hai," jawab Anna sedikit kikuk sambil memberikan senyum tipis.
"Ya Tuhan! Kamu gemas banget, sih! Rasanya pengen aku karungin terus bawa pulang!" seru Emma sambil menangkup pipinya sendiri, benar-benar terpesona dengan keimutan Anna.
Anna tertawa kecil, merasa sedikit lebih rileks karena sambutan mereka yang hangat, sangat berbeda dengan suasana di sekolah lamanya. "Emm, aku sebenarnya lagi cari ruang kepala sekolah. Kalian tahu di mana?"
"Ruang kepsek? Dekat kok dari sini!" sahut Jolina dengan semangat. "Yaudah, ayok kita anterin sekarang juga. Sekalian kita kenalin sama lingkungan sini!"
Tanpa menunggu lama, Emma dan Jolina langsung mengapit Anna dengan ramah, menuntunnya melewati koridor sekolah sambil terus melontarkan pujian, membuat Anna merasa bahwa keputusannya untuk pindah adalah hal terbaik yang pernah ia lakukan.