menceritakan dua orang mantan kekasih Shinta dan Andika. yang memutuskan untuk berpisah karena perbedaan pandangan tentang masa depan Shinta yang ingin hubungan yang serius ke pelaminan dan Andika yang ingin menata karir dan memastikan finansial mencukupi. namun keduanya tidak menemukan titik tengah dari masalah itu. setahun kemudian mereka di pertemukan di perusahaan sebagai karyawan devisi pemasaran. keduanya yang awalnya tidak ingin masa lalu terungkap dan saling menjauh malah tanpa sadar Melaku kebiasaan mereka saat pacaran. dari Andika yang memperlihatkan Shinta saat kesulitan dan Shinta yang memberikan tempat bersandar saat Andika kelelahan namun itu malah membuat mereka kesal dan membuat perjanjian siapa pun yang masih melakukan kebiasaan mereka saat pacaran di anggap orang yang ingin balikan. namun kenyataannya keduanya malah terus melanggar perjanjian mereka tanpa peduli apa yang salah dari kebiasaan lama mereka saat pacaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26
Pagi itu suasana kantor marketing sudah ramai seperti biasanya. Suara mesin printer, dentingan keyboard, dan obrolan para karyawan bercampur menjadi keributan khas pagi hari. Beberapa orang sibuk membawa map laporan, sementara yang lain mulai mengeluh soal target bulanan yang belum selesai. Tempat penuh manusia yang berpura-pura baik-baik saja demi gaji bulanan. Tradisi modern yang sangat menyentuh.
Di tengah suasana itu, Shinta datang dengan langkah pelan. Wajahnya tampak murung sejak turun dari bus. Tangannya menggenggam tas kertas kecil berisi hadiah ulang tahun untuk Andika.
Semalaman dia memikirkan apakah hadiah itu perlu diberikan atau tidak.
Kalau tidak diberikan, Rara dan Mita pasti akan curiga. Mereka terlalu suka mencampuri urusan orang lain dengan dalih perhatian. Kalau diberikan langsung pada Andika, suasananya pasti canggung. Setelah pertengkaran mereka beberapa hari terakhir, hubungan mereka hanya sebatas rekan kerja. Bicara seperlunya. Tatapan seperlunya. Bahkan diam mereka terasa lebih panjang daripada percakapan.
Shinta menghela napas pelan sebelum masuk ke ruangan.
“Pagi, Shinta!”
Rara langsung menyambutnya dengan semangat berlebihan seperti pembawa acara kuis pagi.
Shinta memaksakan senyum kecil.
“Pagi.”
Mita ikut mendekat sambil membawa gelas kopi.
“Kemarin serius sakit perut? Atau pura-pura supaya tidak datang ke ulang tahun Andika?”
Shinta terkekeh kecil.
“Kalau aku bilang sakit hati nanti kalian tambah ribut.”
Rara langsung menunjuknya dramatis.
“Nah! Aku bilang juga apa! Pasti ada sesuatu!”
Shinta hanya menggeleng sambil duduk di kursinya. Dia mencoba terlihat santai walaupun pikirannya sejak tadi kacau. Tas hadiah itu bahkan belum berani dia keluarkan dari dalam tas besar.
Namun Rara tampaknya terlalu bersemangat pagi itu.
“Eh, eh, aku punya cerita menarik!”
Shinta menatap malas.
“Biasanya cerita menarik dari kamu berakhir jadi gosip kantor.”
“Ini serius!” protes Rara. “Kemarin waktu di rumah Andika, aku ngobrol sama ayahnya.”
Shinta mulai membuka laptop tanpa terlalu peduli.
“Oh.”
“Nah terus ayahnya bilang kalau Andika ternyata punya pacar.”
Tangan Shinta terhenti sesaat di atas keyboard.
Mita langsung membelalakkan mata.
“Hah? Serius?”
“Iya!” jawab Rara penuh semangat. “Namanya juga Shinta!”
Kini Shinta benar-benar menoleh.
“Shinta?”
“Iya! Kata ayahnya Andika, pacarnya lagi kuliah di luar negeri. Terus nanti kalau sudah lulus mereka mau nikah.”
Beberapa karyawan yang mendengar mulai ikut penasaran. Suasana meja kerja berubah seperti forum investigasi tidak resmi. Produktivitas manusia memang gampang runtuh hanya karena kata “pacar”.
Shinta tertawa kecil untuk menutupi kebingungannya.
“Wah, kebetulan sekali namanya sama.”
Dalam hati justru pikirannya mulai kacau.
Shinta yang mana?
Apa Andika benar-benar punya pacar lain?
Atau...
Tidak mungkin.
Rara malah semakin semangat.
“Makanya aku kecewa kamu tidak datang kemarin.”
“Kenapa?”
“Biar bisa diadu.”
Shinta langsung mengernyit.
“Memangnya aku ayam?”
Mita tertawa keras sementara Rara ikut terkekeh tanpa rasa bersalah sedikit pun.
“Kan penasaran mana Shinta yang lebih cantik.”
“Kalau begitu kalian sekalian bikin lomba saja,” balas Shinta datar.
Rara masih ingin melanjutkan godaannya ketika suara kursi ditarik terdengar dari belakang.
Andika datang.
Pria itu berjalan santai menuju mejanya sambil membawa map hitam. Kemeja biru gelap yang dipakainya terlihat rapi seperti biasa. Ekspresinya tenang, terlalu tenang malah.
Namun Shinta bisa melihat wajah itu sedikit murung.
Dan itu justru membuat dadanya terasa tidak nyaman.
Andika duduk tanpa banyak bicara.
“Pagi.”
“Pagi!” jawab beberapa orang bersamaan.
Rara yang jelas tidak punya naluri bertahan hidup langsung menghampiri Andika.
“Andikaaaa...”
Andika mengangkat sebelah alis.
“Ada apa?”
“Kemarin ayahmu cerita.”
“Cerita apa?”
“Katanya kamu punya pacar kuliah di luar negeri namanya Shinta.”
Andika tampak diam beberapa detik.
Shinta yang melihat itu langsung merasa gugup.
Namun Andika justru tersenyum santai.
“Iya.”
Jawaban singkat itu langsung membuat Rara dan Mita bersorak heboh.
“Tuh kan benar!”
“Kok tidak pernah cerita?” tanya Mita.
Andika membuka laptopnya pelan.
“Aku tidak suka pamer.”
“Cieee...” goda Rara.
Shinta diam sambil pura-pura fokus pada layar laptop. Tangannya bergerak membuka file laporan, tetapi pikirannya sama sekali tidak membaca angka-angka di depan mata.
Entah kenapa jawaban Andika membuat dadanya terasa aneh.
Kalau memang benar ada wanita lain bernama Shinta, kenapa dia merasa kesal?
Bukankah mereka memang sudah selesai?
Rara belum puas mengganggu Andika.
“Kalau begitu jawab yang jujur.”
“Apa lagi?”
“Lebih cantik mana? Shinta pacarmu atau Shinta kantor kita?”
Ruangan langsung menjadi lebih sunyi.
Beberapa orang mulai menahan tawa sambil menunggu jawaban Andika.
Shinta refleks menatap pria itu.
Andika tampak berpikir sejenak.
Padahal di dalam kepalanya sendiri situasinya jauh lebih kacau.
Bagaimana dia menjawab pertanyaan itu kalau dua-duanya adalah orang yang sama?
Dia bahkan hampir tertawa sendiri memikirkan kebohongannya pada ayahnya yang semakin melebar ke mana-mana.
Namun Andika tetap memasang wajah tenang.
“Pacarku lebih cantik.”
Rara langsung berseru protes.
“Tidak objektif!”
“Karena dia pacarku sendiri,” jawab Andika santai.
Beberapa orang langsung tertawa.
Mita menyikut lengan Shinta pelan.
“Shinta kalah.”
Shinta memutar mata malas.
“Untung ini bukan lomba.”
“Tapi aku masih penasaran,” lanjut Rara. “Mana fotonya?”
Andika nyaris tersedak air minumnya sendiri.
“Foto?”
“Iya! Masa pacar luar negeri tidak ada fotonya.”
Shinta yang sejak tadi diam langsung ikut tegang.
Andika memang punya banyak foto dirinya dulu. Foto zaman kuliah. Foto saat mereka masih dekat. Kalau Andika benar-benar menunjukkan itu...
Habis sudah semuanya.
Andika mencoba tetap santai.
“Nanti saja.”
“Kenapa nanti?” kejar Rara.
“Karena aku kerja, bukan buka album kenangan.”
Rara mendengus kesal.
“Alasan.”
Namun sebelum Rara semakin menjadi-jadi, Shinta buru-buru berdiri sambil membawa map laporan.
“Ra, ikut sebentar.”
“Hah?”
“Kita antar laporan sekarang.”
Rara masih tampak penasaran.
“Tapi aku belum selesai-”
“Ayo.”
Nada suara Shinta cukup tegas sampai akhirnya Rara menurut sambil terus mengomel kecil.
Saat melewati meja Andika, langkah Shinta sempat melambat.
Tangannya menggenggam tas hadiah itu semakin erat.
Dia ingin memberikannya sekarang.
Namun kata-kata terasa sulit keluar.
Andika juga diam menatap laporan di layar laptopnya seolah tidak menyadari keberadaan Shinta. Padahal sebenarnya pria itu sadar sejak tadi Shinta terus gelisah.
Suasana di antara mereka terasa canggung.
Terlalu banyak hal yang belum selesai.
Shinta akhirnya memilih pergi bersama Rara tanpa mengatakan apa pun.
Andika diam memandang punggung wanita itu sampai menghilang di balik pintu ruangan.
Senyum tipisnya perlahan memudar.
Deni yang sejak tadi memperhatikan hanya menggeleng pelan sambil mendekati meja Andika.
“Kebohonganmu makin jauh.”
Andika menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku juga tidak menyangka ayahku ikut menambah cerita.”
“Sekarang satu kantor percaya kamu punya pacar luar negeri.”
Andika memijat pelipisnya pelan.
Deni tertawa kecil.
“Kenapa tidak jujur saja?”
Andika terdiam.
Tatapannya kembali mengarah ke pintu ruangan tadi.
“Karena dia sudah tidak mau dekat denganku.”
Jawaban itu membuat Deni ikut diam beberapa saat.
Di sisi lain, Shinta sedang berjalan bersama Rara menuju ruangan supervisor sambil membawa laporan.
Rara masih belum berhenti membahas hal tadi.
“Menurutmu pacarnya benar-benar cantik?”
Shinta menahan napas panjang.
“Mana aku tahu.”
“Kalau aku jadi kamu, aku pasti penasaran.”
“Aku tidak tertarik.”
“Bohong.”
Shinta melirik tajam.
“Kamu terlalu suka drama.”
Rara terkekeh kecil.
“Karena hidup kantor membosankan. Kalau tidak ada gosip bisa mati aku.”
“Coba kerja yang benar supaya tidak sempat gosip.”
“Kalau semua orang kerja terus, dunia jadi terlalu serius.”
Shinta akhirnya tertawa kecil mendengar itu.
Meski begitu, pikirannya tetap kacau.
Andika benar-benar mengiyakan cerita itu.