LONG WAIT
Sabiru, mahasiswi IT polos, terpaksa bertransformasi menjadi hacker jenius demi menyelamatkan Allbiru, kakak angkat yang ia cintai namun diculik oleh Rio Pratama, musuh lama yang mendendam selama 22 tahun.
Di tengah pelarian dan perang siber melawan konspirasi "Proyek Genesis", Sabiru mengguncang dunia ketika menemukan fakta mengejutkan: "Bibi Malia" yang mengasuhnya ternyata adalah ibu kandungnya sendiri! Statusnya sebagai anak angkat keluarga Sky hanyalah kebohongan suci untuk melindunginya dari masa lalu kelam.
Kini, dengan identitas asli terungkap dan waktu yang menipis, Sabiru harus memilih: tetap menjadi korban atau memimpin serangan balik untuk membebaskan ibunya, menyelamatkan Allbiru, dan mengakhiri dendam masa lalu selamanya.
Cinta terlarang yang ternyata halal. Penantian panjang yang berakhir dengan perang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Davina Auroraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24 Sinkronisasi Berbahaya
Rasa sakit itu bukan sekadar nyeri. Itu seperti ribuan jarum panas yang menusuk langsung ke inti saraf optiknya. Dunia di sekitarnya tidak lagi berputar; ia hancur berkeping-keping menjadi piksel-piksel data yang tak terbaca.
Sabiru menjerit, tapi suaranya tenggelam dalam dengungan statis yang memekakkan telinga. Di balik kelopak matanya yang tertutup rapat, banjir bandang informasi menyerbu kesadarannya. Bukan hanya angka atau kode biner, tapi memori.
Dia melihat tawa Sabiru sendiri saat masih bayi—sebuah rekaman yang seharusnya sudah hilang. Dia merasakan kehangatan pelukan Malia, ibu yang selalu mencoba melindunginya dari bayang-bayang masa lalu. Dia mendengar teriakan kemarahan Rio, penuh dengan keputusasaan dan ketakutan akan kematian. Dan di tengah-tengah kekacauan itu, dia melihat wajah Arisendra. Wajah ayahnya yang dingin, namun matanya menyimpan kesedihan yang mendalam.
"Project Rambutan..." bisik kesadaran Sabiru.
Kebenaran itu menghantamnya lebih keras daripada pukulan fisik. Project Rambutan bukan tentang menciptakan tubuh abadi. Itu jauh lebih gelap. Itu tentang mentransfer kesadaran manusia ke dalam jaringan digital murni. Menghapus daging, menghapus darah, dan menyisakan hanya pikiran yang terperangkap dalam server selamanya.
Arisendra menolak proyek ini karena baginya, menghilangkan tubuh berarti menghilangkan kemanusiaan. Tanpa detak jantung, tanpa napas, apa artinya hidup?
Sementara Rio... Rio menginginkan itu. Bagi Rio, kematian adalah musuh terbesar. Dia rela kehilangan manusianya demi bertahan sebagai data abadi.
Dan Sabiru? Sabiru adalah anomali. Jembatan. Tubuhnya biologis, bernapas, berdarah. Tapi pikirannya... pikirannya sudah setengah digital sejak lahir. Dia adalah kunci yang bisa membuka gerbang antara dua dunia itu.
Di dunia nyata, suasana di ruang server berubah menjadi neraka kecil.
Tubuh Sabiru kejang-kejang hebat di kursi khusus Neural Link. Otot-ototnya menegang hingga urat-urat di lehernya menonjol biru. Keringat dingin membanjiri dahinya, membuat rambutnya lengket.
BIP-BIP-BIP-BIP!
Monitor detak jantung bersuara panik, garis merah naik turun dengan kecepatan mengerikan.
"Detak jantung 180! Tekanan darah kritis!" teriak Allbiru, tangannya gemetar saat mencoba menahan tubuh Sabiru agar tidak jatuh dari kursi. Matanya berkaca-kaca, penuh ketakutan. "Sabiru! Bangun! Tolong, Ru!"
"Tahan dia, Biru!" perintah Aldo dengan suara berat, meski wajahnya pucat pasi. Aldo berdiri di depan panel kontrol utama, jari-jarinya menari cepat di atas keyboard, mencoba menstabilkan aliran daya yang fluktuasi liar. "Jangan cabut kabelnya! Jika kita memutus koneksi sekarang, otak Sabiru akan terbakar. Dia sedang bertarung di sana. Kita harus percaya padanya."
Malia menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata mengalir deras. "Dia kesakitan, Dok... Lihat wajahnya..."
"Aku tahu," gumam Aldo, rahangnya mengeras. "Tapi jika dia kalah di sana, kita semua mati. Dan pulau ini akan menjadi kuburan massal bagi siapa pun yang terhubung dengan sistem Rio."
Di dalam lautan data yang gelap gulita, Sabiru berdiri di atas platform cahaya yang rapuh. Di hadapannya, kabut hitam pekat mulai memadat, membentuk sosok tinggi besar. Avatar Rio.
Sosok itu tidak memiliki wajah, hanya kehampaan yang menyeramkan. Namun, Sabiru bisa merasakan tatapan lapar yang menusuk tulang belakangnya.
"Berikan padaku!" jerit avatar Rio, suaranya bergema seperti guntur di langit kosong. Tangan-tangan bayangan memanjang, mencoba mencengkeram dada Sabiru, mencari akses ke Core Consciousness-nya. "Berikan akses Root! Aku butuh tubuhmu untuk menjadi sempurna!"
Sabiru mundur selangkah, kakinya gemetar. Rasa takut mencekamnya. Kekuatan Rio di sini luar biasa. Setiap serangan mental Rio terasa seperti palu godam yang menghancurkan pertahanan psikologisnya.
Tapi kemudian, Sabiru ingat kata-kata Arisendra dalam memori yang baru saja ia lihat: "Kau bukan alat, Sabiru. Kau adalah pencipta."
Perlahan, ketakutan itu berubah menjadi kemarahan. Kemarahan karena dimanipulasi. Kemarahan karena dicuri identitasnya.
Sabiru berhenti mundur. Dia mendongak, menatap langsung ke dalam kehampaan wajah Rio. Senyum tipis, hampir tidak terlihat, terukir di bibir avatar digitalnya.
"Kau salah, Rio," kata Sabiru, suaranya tenang namun tajam seperti kaca pecah. "Aku bukan kunci yang bisa kau pakai untuk membuka pintu keabadian bodohmu."
Rio mengerang frustrasi, cengkeraman bayangannya semakin kuat. "Jangan melawan! Aku akan menghancurkan mindamu!"
"Aku bukan kunci," lanjut Sabiru, matanya kini bersinar dengan cahaya biru elektrik yang intens. "Aku adalah virus. Dan aku sudah menulis kodemu sejak lama."
Sabiru mengangkat tangannya. Dari telapak tangannya, bukan perisai pertahanan yang muncul, melainkan aliran kode merah darah—virus buatan sendiri yang diam-diam ia kembangkan sejak Bab 9, saat ia pertama kali menyadari ada yang salah dengan pikirannya. Kode ini dirancang bukan untuk menyerang, tapi untuk memutus. Memutus ikatan parasitik antara kesadaran Rio dan server pusat.
Dengan sekuat tenaga, Sabiru mendorong aliran virus itu langsung ke dada avatar Rio.
"TIDAK!" Rio menjerit, suaranya berubah menjadi distorsi audio yang menyakitkan.
Virus itu menyebar cepat, merambat melalui lengan bayangan Rio, masuk ke inti sistemnya. Cahaya hitam milik Rio mulai retak, pecah menjadi serpihan-serpihan data yang hilang.
Di ruang server fisik, dampaknya instan dan brutal.
Lampu-lampu LED di rak-rak server berkedip liar, berubah dari hijau stabil menjadi merah peringatan, lalu padam total satu per satu. Suara dengungan kipas pendingin berubah menjadi raungan mesin yang kelebihan beban.
Asap tebal mulai keluar dari kapsul Hard Drive utama di tengah ruangan. Bau kabel terbakar memenuhi udara, bercampur dengan aroma ozon yang tajam.
"Suhu core meningkat drastis!" lapor Allbiru sambil melihat tablet pemantau. "Aldo, sistemnya mau meledak!"
Sabiru di kursi menjerit sekali lagi, kali ini lebih nyaring. Darah segar mengalir deras dari hidungnya, menetes ke baju putihnya yang kini bernoda merah. Tubuhnya melengkung ke belakang, seolah ditarik oleh kekuatan tak kasat mata.
"Ru!" Malia menjerit, hendak berlari mendekat, tapi Aldo menahannya.
"Tunggu! Ini puncaknya!"
Tiba-tiba, segalanya hening.
Suara raungan mesin berhenti. Lampu darurat menyala redup. Kabel-kabel neural yang menempel di pelipis Sabiru terlepas otomatis dengan bunyi klik mekanis.
Sabiru terkulai lemas di kursi, tubuhnya lunglai seperti boneka putus tali. Napasnya dangkal, tersengal-sengal.
Layar monitor utama yang sebelumnya penuh dengan kode kacau, kini menampilkan pesan sederhana berwarna hijau neon:
SYSTEM PURGE COMPLETE.
USER RIO_PRATAMA: ACCESS_REVOKED.
CONNECTION SEVERED.
SUBJECT SABIRU: STATUS - CRITICAL BUT STABLE.
NEURAL LINK: OFFLINE.
Allbiru segera melepaskan sabuk pengaman Sabiru, menangkap tubuh gadis itu sebelum jatuh ke lantai. Dia segera memeriksa nadi di leher Sabiru. Tangannya gemetar, tapi lega ketika merasakan denyut lemah namun teratur.
"Dia bernapas," ucap Allbiru, suaranya bergetar menahan tangis. "Lemah, tapi dia bernapas. Otaknya... suhunya mulai turun."
Aldo menghela napas panjang, bahunya yang tegang akhirnya rileks sedikit. Dia menatap layar dengan campuran rasa lega dan kewaspadaan. "Dia berhasil. Gila... dia benar-benar melakukannya. Sabiru memutus kendali Rio atas sistem pulau ini. Sekarang, pertahanan otomatis, kamera, dan kunci elektronik di seluruh fasilitas ini lumpuh. Jalur ke ruang utama Rio terbuka lebar."
Namun, kemenangan itu terasa prematur.
Di pojok kanan bawah layar utama, sebuah jendela chat kecil muncul secara tiba-tiba. Tidak ada ID pengirim, hanya alamat IP yang terenkripsi berat.
UNKNOWN_USER_A: "Kerja bagus, Putri. Tapi hati-hati. Dengan membuka Neural Link sepenuhnya dan menghancurkan firewall Rio, kau baru saja menyalakan lampu sorot di kegelapan. Kau sekarang terlihat oleh 'Mereka'. Bukan hanya Rio. Siapkah kau menghadapi sisa organisasi Ayahmu?"
Pesan itu menghilang dalam tiga detik, meninggalkan jejak dingin di punggung Aldo.
Siapa "Mereka"? Siapa "UNKNOWN_USER_A"? Apakah ini sekutu? Atau jebakan lain?
Sabiru, yang masih setengah sadar di pelukan Allbiru, perlahan membuka matanya. Kelopak matanya berat, tapi tatapannya tajam. Matanya yang biasanya berwarna cokelat hangat, kini tampak memiliki kilauan biru elektrik sesaat—sisa residu energi digital—sebelum kembali normal.
Dia menatap kosong ke arah langit-langit, seolah mendengarkan sesuatu yang tidak bisa didengar orang lain.
"Ayah..." bisiknya lemah, suaranya serak seperti kertas pasir. Air mata tunggal mengalir dari sudut matanya. "Aku mendengar suaramu... di dalam kepala... dia memanggilku."
Aldo dan Allbiru saling pandang. Ketegangan di ruangan itu belum berakhir. Justru, babak baru yang jauh lebih berbahaya baru saja dimulai.