Namanya Esterlita Hanggara Suparapto, putri bungsu pengusaha transportasi terkenal Anthony Hanggara Suprapto dan Hagia Selvia Suprapto.
Ester adalah gadis cantik berusia 20 tahun, karena statusnya yang merupakan putri bungsu ia mendapatkan kasih sayang berlebih dari kedua orang tuanya dan kedua kakak perempuannya.
Namun ternyata perlakuan itu menjadikan Esterlita menjadi sosok nona muda dengan segudang sifat dan sikapnya yang menyebalkan. Estelerlita menjadi sosok yang sangat arrogant dan suka merendahkan orang lain.
Pergaulannya kian liar,
Keributan demi keributan seringkali ia ciptakan, Titik kesabaran tuan Anthony mencapai batas ketika ia bertemu dengan sang putri di loby hotel bersama seorang pria yang sangat tidak ia suka.
Tuan Anthony marah bukan main,
keputusan di buat,
Jika Ester tak ingin kehilangan haknya atas semua fasilitas dari sang ayah maka ia harus mau menikah dengan Yoga Setyawan.
Supir pribadi sang ayah,
brugh....
Ester pingsan....
apa yang akan terjadi.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon khitara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30 sah
" saya terima nikah dan kawinnya Esterlita Hanggara Suprapto binti Anthony Hanggara Suprapto dengan mas kawin tertulis di bayar tunai "
" sah...
" sah...
" sah...
Suara akad yang di ucapkan oleh Yoga terdengar menggema di seantero ruangan hingga ke dalam kamar Ester di lantai dua.
Gadis itu duduk mematung di sisi ranjangnya sendirian.
Suara Yoga barusan sukses menggema dan seakan masih terus terdengar di telinganya.
Setelah perdebatan malam itu, Ester memang tak lagi bisa mengelak selain setuju menikah dengan Yoga.
Hanya saja, syaratnya yang tak ingin pernikahannya di buat pesta di turuti oleh sang papa.
Dan sekarang....
Ia telah sah menjadi seorang istri. Istri dari Yoga Setiawan.
cklek...
pintu kamarnya di buka dari luar,
Nampak dua orang wanita paruh baya yang tidak lain adalah mamanya dan ibu mertuanya.
" sayang...lihatlah mahar yang di berikan suamimu untukmu " nyonya Hagia menyerahkan selembar kertas ketika mendekat padanya.
Ester kembali tertegun ketika ia membaca mahar yang di berikan Yoga padanya.
Sebuah kebun pohon jati yang cukup luas.
" itu adalah hasil keringat Yoga sendiri nona " ucap ibu mertuanya.
Wanita berwajah lembut itu memang masih memanggil Ester dengan sebutan nona meski tuan Anthony dan nyonya Hagia sudah mengingatkannya.
" selepas kuliah, Yoga bekerja di sebuah perusahaan kayu sebagai penasehat, selain itu...ia juga menggarap lahan peninggalan kakek dan neneknya.
Dari sana ia bisa membeli lahan itu " ucap bu Maryam lagi dengan tersenyum lembut, berharap menantunya mau menghargai putranya.
Ia tahu siapa putranya jika di banding dengan gadis di hadapannya itu.
Hanya lahan seluas itu...tentu itu bukan apa apa dengan yang ia miliki.
Ia juga tahu persis apa dasar pernikahan, terpaksa bagi Ester..
Dan membalas budi bagi Yoga.
Tapi ia dan suami berjanji, selama masih menjadi istri Yoga,
Maka mereka akan menerima dan menyayangi Ester seperti mereka menyayangi Yoga.
Walau kata sang suami, watak dan sifat Ester sangatlah buruk...
tak secantik wajahnya.
Tak apa.....
Ester terdiam,
" ayo...
kita temui suamimu " ajak nyonya Hagia kemudian.
Ester terlihat menuruni anak tangga dengan di apit sang mama juga ibu mertuanya.
Di bawah sana, Yoga menatap tak berkedip sosok cantik Ester yang bak bonek barbie di matanya.
Kebaya warna lembut yang melekat di tubuhnya sungguh cocok untuknya.
Di tambah riasan natural di wajahnya, Ester benar benar sangat cantik di mata Yoga.
Sungguh Ester bagai bulan yang kini benar benar mampu ia miliki.
" pasangkan cincinnya mas..." pak penghulu mengingatkan Yoga yang masih terpaku menatap Ester hingga ia tak sadar jika Ester telah berada di dekatnya.
Yoga memakaikan cincin di jari manis tangan kiri Ester begitu juga sebaliknya.
Selanjutnya Ester mencium punggung tangan Yoga sesuai arahan penghulu.
Dan kini giliran Yoga mencium kening gadis itu, darah Yoga berdesir, jantungnya terasa berdetak lebih kencang.
Tanpa sadar, ia meneteskan air mata.
Tak pernah ia duga jika ia akan menikahi wanita bak bidadari seperti Ester.
Wanita yang sebenarnya sudah membuatnya terkagum sejak awal pertemuan mereka.
" aku berjanji, seumur hidupku...aku hanya akan mengusahakan kebahagiaanmu " bisik Yoga begitu pelan di telinga Ester dan hanya bisa di dengar oleh Ester setelah ia mencium kening gadis itu.
Ester tanpa sadar menatap Yoga, mata mereka bertemu.
Di mata itu, Ester melihat bulir bening dan kejujuran di sana.
Ester terhenyak.
Dalam diam, ia merasakan lain di hatinya.
Acara pernikahan itu terus berlangsung, Ester duduk sendirian sementara kedua orang tuanya menemui keluarga mereka.
" makan dulu " Yoga datang dengan membawa sepiring nasi.
" aku tidak lapar " jawab Ester singkat
" ini sudah siang, kamu belum makan...aku ambilkan rawon dan toge yang banyak,
kamu sukakan ?! " ucap Yoga lagi.
Mata Ester menyipit menatap piring yang di bawa Yoga,
Di dalam hati ia mengomel kenapa Yoga selalu tahu yang ia suka.
Ini pasti ulah papa dan mamanya.
" mau ke tempat lain atau di sini saja makannya ?! " tawar Yoga.
" di sini saja " jawab Ester dan membuat Yoga lega.
Ester hendak mengambil alih piring di tangan Yoga.
" tunggu, ini sangat panas....biar aku yang pegangi piringnya ya...." ucap Yoga menahan Ester.
Alhasil, ia memegangi piring dan meniup niupnya dan Ester mulai menyuap.
Entah kenapa ia merasa nyaman makan seperti itu.
Menyuap nasi dari piring yang di pegangi oleh Yoga.
Yoga nampak telaten menghadapi Ester, tanpa ia tahu ada seseorang yang meneteskan air mata melihat perlakuannya kepada Ester.
" abang...seharusnya aku yang kau perlakukan seperti itu " bisik Zahra di sela air matanya.
Zahra memang datang dan hadir sebagai keluarga dari pihak laki laki.
Awalnya ia tak percaya dengan apa yang ia dengar sampai akhirnya ia melihat sendiri pernikahan Yoga dan Ester.
Hatinya hancur tak terkira. Ia tak kuasa mendekat kepada Yoga apalagi mengucapkan selamat.
Akhirnya, ia hanya berani melihat Yoga dari jauh seperti saat ini.
" masih panas ?! " tanya Yoga kepada Ester
" enggak " jawab Ester dengan terus menyuap nasi di piring yang di pegang Yoga.
Entah kenapa makan dengan cara seperti itu rasanya lebih nikmat.
Nikmatnya hampir sama seperti makan mi soto buatan pemuda itu tempo hari.
" mau kerupuk ?! " Yoga menawarkan dan Ester menggeleng.
" mau lagi ?! "
" enggak "
" aku ambilkan minum ya ?! "
" nggak usah, aku ambil sendiri saja " tolak Ester sambil bangkit dari duduknya.
" jangan yang dingin ya ?! Yang hangat aja...nanti perut kamu begah " pesan Yoga.
Ia tahu dari sang mertua jika Ester memiliki riwayat magh kronis.
Ester hanya mengangguk. Di dalam diam, hatinya berdesir menerima perlakuan Yoga itu.
Ester meninggalkan Yoga dan melangkah ke arah meja minum.
" enak ya di manja ?! "
Ester baru saja akan mengambil teh hangat ketika Zahra tiba tiba telah berada di dekatnya.
Ester menoleh menatap Zahra.
" apa maksudmu ?! " tanya Ester tak paham, ia lupa perlakuan Yoga padanya barusan yang tanpa ia tahu sukses menyulut api cemburu di hati Zahra.
" jangan pura pura kamu, atau memang gadis seperti kamu itu jagonya berpura pura ya....
aku tahu....
abangku terpaksakan nikahin kamu ?! Jangan bangga kamu hanya karena kamu anak orang kaya kamu berani mempermainkan hidup orang lain.
Tuhan itu tidak tidur, bang Yoga itu orang baik....
suatu hari nanti kamu pasti akan mendapat balasan yang setimpal atas perbuatanmu padanya " ucap Zahra ketus kepada Ester.
Ester yang belum paham arah pembicaraan Zahra barusan hanya bisa diam menatap Zahra.
Hingga Zahra berlalu pergi meninggalkannya, Ester masih terdiam.
" lho...
kok diam aja di sini ?! sudah ambil minumnya ?! " tanya Yoga kepada Ester, tiba tiba saja pemuda itu sudah menyusulnya.
Ester menoleh menatap Yoga, tatapannya cukup lama dan dalam.
" ada apa ?! Kenapa menatapku begitu ?!? " tanya Yoga bingung, tiba tiba saja ia merasa tatapan Ester berbeda kepadanya.
" menurutmu ?! Perlukah kau mengatakan kepada semua orang jika kau terpaksa menikahiku ?! " jawab Ester ketus dan langsung berlalu meninggalkan Yoga begitu saja.
Yoga terhenyak mendengar ucapan Ester barusan.
makasih udah up di hari Minggu ya Kak Thara, aku beneran ga nyangka, love sekebon deh😍😍😍😍
ngakuuuuuuuuuu udah mulai tersepona dan teryoga yoga🤣🤣🤣