Elara Safira Nirmala hanyalah gadis yatim piatu biasa di dunia modern, ia ditinggal oleh orang tuanya sejak kecil dan dia tinggal di kos-kos an sederhana di salah satu kota. Pagi itu Elara hanya ingin pergi ke sekolahnya tetapi ada suatu yang terjadi padanya, ada sebuah tragedi membuatnya terbangun sebagai Elara Mirabel Astoria, lady terbuang dan tak berguna di kerajaan kuno, dengan kemampuan modern yang canggung dan komentar sarkastiknya Elara harus bertahan di tengah drama keluarga bangsawan, intrik politik, dan mungkin sedikit cinta yang tak terduga. Langsung baca aja yuk ceritanya daripada penasaran!!!!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ꧁Diajeng rini꧂, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
9
Gonggongan anjing pelacak itu makin kencang, suaranya sudah seperti toa masjid yang tepat ada di belakang kuping Elara. Dia sudah menggenggam belati pemberian si cowo misterius di tangan kiri dan linggis kesayangannya di tangan kanan.
"Oke kalau mereka muncul aku bakal pakai teknik getok lalu kabur, semoga aja asuransi jiwa Elara Mirabel masih berlaku di dunia ini" gumam Elara sambil bersiap di balik pohon besar.
Namun, tepat saat moncong anjing pertama muncul dari balik semak terjadi sesuatu yang aneh.
Syuuuut! Puk! Puk!
Tiba-tiba terdengar suara siulan kecil di udara yang disusul suara benda jatuh yang berat. Anjing-anjing yang tadi galaknya minta ampun tiba-tiba melengking ketakutan, ekornya masuk ke selangkangan dan mereka langsung putar balik lari tunggang langgang seolah melihat hantu.
"Hah? Itu anjing apa kucing rumahan? Kok cemen banget?" Elara melongo.
Tak lama kemudian terdengar suara debum keras. Satu per satu prajurit Duke yang mengejarnya tumbang ke tanah. Elara mengintip sedikit dan melihat para prajurit itu sudah tergeletak pingsan dengan jarum kecil menancap di leher mereka.
Hening dan tidak ada orang di sana. Hanya ada gesekan daun di dahan pohon yang cukup tinggi seolah baru saja dipijak sesuatu yang sangat ringan.
Elara menengadah ke atas pohon tapi yang dia lihat cuma dahan yang bergoyang pelan "Mas Es Mambo? Kamu di situ ya? Hebat banget kaya pake cheat code, tapi kalau mau bantu sekalian dong kasih peta atau power bank, HP ku... eh maksudku jalannya gelap banget nih!" teriak Elara asbun ke arah dahan pohon.
Tentu saja tidak ada jawaban.
"Dih sombong banget. Ya udah makasih ya Ninja Hatori! Aku pergi dulu jangan kangen bay!" Elara pun memanfaatkan momen itu untuk lari secepat kilat menjauhi area tersebut sebelum bala bantuan Duke yang lain datang.
Di dahan pohon yang cukup tinggi sesosok bayangan hitam sedang jongkok dengan anggun. Pria itu adalah si Es Mambo yang dimaksud Elara, baru saja menyimpan tiupan jarum biusnya kembali ke dalam sabuknya.
Tatapannya dingin tertuju pada para prajurit yang pingsan di bawah.
Namun saat mendengar teriakan Elara sudut bibirnya sedikit berkedut.
Power bank? Apa itu? batinnya heran. Dia sudah terbiasa dengan segala protokol istana yang kaku dan penuh kepalsuan. Mendengar Elara yang asbun dan santai di tengah situasi hidup dan mati seperti ini rasanya sangat... baru.
"Bidadari tersesat? Lebih mirip kucing liar yang ngga tahu diri" gumamnya pelan, suaranya sangat rendah hingga hampir tidak terdengar oleh telinga manusia biasa.
___
PRANGGGG!!!!!
Duke Alaric membanting cangkir tehnya ke lantai marmer hingga hancur berkeping-keping. Di depannya Kapten Pengawal sedang berlutut dengan keringat dingin bercucuran.
"Maksudmu apa... kehilangan jejak?!" suara Duke terdengar rendah namun sangat mengancam "Hutan itu sudah dikepung! Elara itu tidak punya mana sihir! Dia hanya gadis lemah yang seharusnya sudah pingsan karena ketakutan!"
"M-maaf Duke... tapi anjing pelacak kami tiba-tiba ketakutan. Dan sepuluh prajurit di garda depan ditemukan pingsan dengan jarum bius di leher mereka. Sepertinya... ada seseorang yang melindungi Lady Elara" lapor si Kapten dengan suara gemetar.
Duke Alaric terhuyung dia memegang pinggiran meja kerjanya. Pikirannya kacau dan surat undangan dari Pangeran Kaelen seolah-olah sedang menertawakannya dari atas meja.
"Lusa... lusa Pangeran mau dia ada di Istana" bisik Duke pucat pasi "Kalau dia tidak ada kepalaku yang bakal jadi jaminannya!"
Tiba-tiba pintu ruang kerja terbuka kasar. Lilian masuk dengan wajah merah padam dan matanya bengkak habis nangis. "Ayah! Kenapa dia belum ketemu juga?! Aku dengar dari pelayan kalau Elara bisa terbang di hutan apa gimana?! Ayah harus bunuh dia! Dia sudah merusak ulang tahunku dan merebut perhatian Pangeran!"
"DIAM LILIAN! PERGI KE KAMARMU!" bentak Duke yang sudah tidak tahan lagi dengan rengekan anak kesayangannya itu.
Lilian tersentak, dia belum pernah dibentak sekeras itu oleh ayahnya. Dengan perasaan dendam yang makin meluap Lilian lari keluar ruangan.
Duke Alaric menatap Kapten Pengawal lagi dengan mata merah "Gunakan jalur hitam. Sewa Shadow Guild, aku tidak peduli berapa biayanya. Cari Elara dan bawa dia kembali dalam keadaan hidup lusa pagi... atau kalian semua yang akan aku gantung di alun-alun!"
___
Setelah hampir pingsan karena jalan kaki keluar dari hutan, Elara akhirnya melihat peradaban. Dia sampai di pinggiran kota yang ramai. Perutnya sudah keroncongan dan bunyinya sudah kaya suara mesin disel rusak, anggap aja lah beat karbu.
"Aduh kalau aku ngga makan sekarang kayanya jiwa Elara yang asli bakal bangun lagi cuma buat protes" gumam Elara sambil mengusap perutnya.
Matanya tiba-tiba berbinar saat melihat sebuah toko kecil di sudut jalan. Warnanya pink pastel dan pintunya kayu putih dengan hiasan bunga mawar yang menjuntai. Papan namanya tertulis "Sweet Revenge Patisserie"
"Wih estetik parah! Namanya juga keren "Sweet Revenge', cocok nih sama prinsip hidup aku sekarang" batin Elara. Dia masuk ke dalam dan disambut aroma vanila yang manis banget.
Di balik meja kasir, ada seorang laki-laki muda berwajah kaku yaitu Oliver, asisten kepercayaan ketua pembunuh bayaran yang lagi serius... membungkus kotak kue pakai pita pink.
Elara menghampirinya sambil pasang muka melas paling menderita sedunia "Mas permisi... ada loker ngga? Cuci piring boleh, bersihin loyang boleh, atau jadi tukang jagain pintu biar nggak ada lalat masuk juga saya jabanin. Yang penting dapet makan"
Oliver mendongak. Detik itu juga pitanya lepas. Dia menatap gadis di depannya. Rambut pendek acak-acakan kaya habis digigitin tikus, baju kusam penuh tanah tapi matanya tajam dan... syal di lehernya itu jelas-jelas sobekan gaun Aurora Silk yang diceritakan tuannya semalam.
"Ini kan Lady yang bikin Tuan gagal pingsan semalam? Kok malah minta kerja jadi tukang cuci piring di markas Shadow Guild?!" batin Oliver shock.
"Anda... mau kerja di sini?" tanya Oliver memastikan dan suaranya agak bergetar.
"Iya Mas, saya rajin kok, ngga banyak nuntut. Cuma butuh nasi sama lauk yang ngga sisa aja" jawab Elara asbun.
Oliver melirik ke arah pintu kayu di belakang kasir. Dia tahu tuannya ada di sana "E-eh kebetulan kami butuh tenaga bantuan. Mari ikut saya ke belakang untuk... wawancara khusus"
"Wih langsung wawancara nih? Oke deh!" Elara mengekor dengan riang dan masih mencengkeram tas berisi linggisnya.
Begitu pintu belakang dibuka pemandangan berubah 180 derajat. Tidak ada lagi warna pink. Ruangan itu luas, penuh dengan senjata yang tergantung di dinding, peta-peta rahasia, dan beberapa orang berpakaian hitam yang lagi asyik makan cupcake sambil mengasah pedang.
Elara membeku di tempat. Matanya tertuju pada sebuah poster di papan pengumuman. Gambarnya adalah wajahnya sendiri dengan tulisan besar TARGET PENCARIAN - LIVE ONLY.
"Loh kok mukaku dipajang di sini? Aku belum daftar jadi member toko kue ini kan" celetuk Elara polos tapi tetep sarkas.
"Itu karena kamu bukan mau beli kue tapi mau menyerahkan diri kan?" suara bariton yang dingin terdengar dari sudut ruangan.
Elara menoleh. Di sana duduk di kursi kebesarannya sambil memegang cangkir teh porselen yang imut, dia adalah si "Mas Es Mambo". Dia tidak lagi pakai masker dan memperlihatkan wajah tampannya yang kelewat batas.
Es Mambo meletakkan cangkir tehnya dan menatap Elara dari atas sampai bawah "Selamat datang di markas pembunuh bayaran paling ditakuti di kerajaan Lady Elara. Atau aku harus memanggilmu... pelamar kerja tukang cuci piring?"
Elara langsung pasang kuda-kuda linggis dan matanya menyipit "Dih Mas Es Mambo ternyata bos roti gumbu?! Jadi ini toko kue apa pangkalan ninja? Terus kenapa poster cantikku ada di situ?! Kamu mau dapet 500 koin emas dari ayahku ya?!"
Cowo itu terkekeh rendah, suara yang bikin Oliver merinding karena biasanya tuannya ngga pernah tertawa "Ayahmu baru saja mengirim surat resmi ke sini untuk menyewaku. Dia mau aku menangkapmu lusa pagi"
Ia lalu mengangkat sepucuk surat dengan stempel keluarga Astoria lalu merobeknya di depan mata Elara "Tapi tenang aja. Aku lebih tertarik melihat caramu menggetok kepala saudaramu pakai benda besi itu daripada sekadar 500 koin emas yang receh"
Elara menurunkan linggisnya sedikit tapi matanya masih melirik curiga ke arah Es Mambo yang kelihatan terlalu santai buat ukuran bos pembunuh bayaran.
"Sewa? 500 koin emas?" Elara mendengus keras "Cih pelit banget si kumis tebal itu, padahal harga diri aku kalau di kurs ke dunia as....eh maksudku aku tuh aset berharga! Harusnya minimal 10.000 koin emas lah!"
Cowo itu menaikkan sebelah alisnya heran sama jalan pikiran Elara yang bukannya takut malah protes soal harga "Jadi kau kecewa karena hargamu murah?"
"Ya iyalah! Emang aku barang diskonan apa?" sahut Elara asbun, dia kemudian berkacak pinggang "Lagian Masnya ini siapa sih? Bos Roti? Ketua Ninja? Atau... Mas-mas random yang hobi mangkal di gua?"
Cowo itu meletakkan cangkir tehnya dengan anggun "Namaku Xander dan seperti yang kau lihat, aku pemilik toko kue ini... dan beberapa "bisnis sampingan" lainnya"
"Xander doang? ngga pakai Ganteng atau Keren di belakangnya?" celetuk Elara tanpa dosa "Oke Xander. Aku Elara, cuma Elara, ngga pakai Astoria, soalnya marga itu lagi aku buang ke tempat sampah"
Xander sedikit tertegun. Jarang ada orang apalagi seorang Lady yang berani membuang nama besarnya begitu saja "Elara, nama yang bagus untuk seseorang yang baru saja menghancurkan reputasi keluarganya dalam satu malam"
"Dih tahu aja, eh kamu dapet info dari mana? Bisikan gaib atau emang tukang gosip?" Elara mendekat ke meja Xander lalu tanpa izin dia mencomot satu macaroon warna biru dari piring "Hmm enak. Teksturnya lembut ngga kaya hati Duke Astoria yang keras kaya aspal"
Oliver yang berdiri di samping hanya bisa memegang dahi. Tuan Xander dibantah, makanannya dicolong dan diajak ngomong asbun... tapi kok Tuannya ngga marah?
"Kau benar-benar tidak tahu malu ya?" gumam Xander meski ada secuil senyum di sudut bibirnya.
"Malu itu kalau kita laper tapi ngga makan, kalau cuma kabur dari rumah mah namanya self healing yang agak ekstrem" jawab Elara sambil mengunyah "Terus karena Tuan Xander yang terhormat ini udah ngerobek surat pesanan si Duke berarti kita sekarang... rekan kerja? Atau kamu mau jadi sponsor pelarian aku?"
Xander menyandarkan punggungnya di kursi kayu yang estetik itu "Aku tidak memberikan sponsor gratis Elara. Tapi aku butuh seseorang yang bisa membuat kekacauan di Istana lusa nanti. Dan sepertinya kau punya bakat alami untuk itu"
"Kekacauan? Wah itu keahlian aku, aku ini Brand Ambassador kekacauan" sahut Elara bangga "Tapi syaratnya satu, jangan kasih aku makanan sisa, dan izinin aku tidur di tempat yang ngga ada kecoanya, Deal?"
Xander menatap mata Elara yang penuh tekad dan sedikit serpihan kue di pinggir bibirnya "Deal. Oliver siapkan kamar untuk "tukang cuci piring" baru kita. Dan pastikan linggisnya jangan sampai melukai pelanggan di depan"
_______________________________________________
Haii teman-teman jangan lupa tinggalin like sama komen yaaa biar aku tambah semangat update🌹
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
⊂_ヽ
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/
°* (\(\ ⠀(\ /)
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🗿
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* moga-moga nggak ada genre haramnya
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* hancurkan dan bumi hanguskan wanita murahan itu
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 👍
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* up
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Smile/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* 🙂
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°* /Shy/
⊹.(๑´³`(⁎˃ᴗ˂⁎)˚. ⊹
°* /⌒つ ⊹O )⊹.°⊹.°*
\\
\( ͡° ͜ʖ ͡°)
> ⌒ヽ
/ へ\
/ / \\
レ ノ ヽ_つ
/ /
/ /|
( (ヽ
| |、\
| 丿 \ ⌒)
| | ) /
ノ ) Lノ
(_/