Mita tidak pernah menyangka, satu ajakan sederhana dari suaminya akan mengubah segalanya.
Reuni sekolah yang seharusnya menjadi malam biasa justru membuka luka yang tak pernah ia sadari sebelumnya. Di tengah keramaian, Mita berdiri di samping Rio--namun terasa seperti tidak pernah ada. Terlebih saat Rio kembali bertemu dengan cinta pertamanya... dan memilih tenggelam dalam masa lalu.
Ditinggalkan tanpa penjelasan, Mita justru dipertemukan dengan Adrian-teman lama sekaligus rekan kerja Rio. Sosok yang dulu hanya sekadar kenangan, kini hadir sebagai satu-satunya orang yang benar-benar melihatnya.
Dan Reuni itu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rachmaraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23
Lampu yang redup, air hangat yang dipenuhi busa dan taburan kelopak mawar merah, serta aromaterapy vanilla yang menenangkan, membuat Mita dan Adrian merasa rileks. Setelah seharian menjadi raja dan ratu di acara resepsi pernikahan mereka.
Sudah cukup lama mereka berendam. Rencana Mita ingin membilas dan merebahkan tubuhnya di kamar. Namun, tangan Adrian yang berada di dalam air, tiba-tiba memijat dua dadanya dengan lembut dan nyaman. Mita yang duduk membelakangi Adrian pun akhirnya pasrah bersandar kembali pada tubuh suaminya.
"Capek ya?" bisik Adrian.
"Tadi sih lumayan capek. Setelah berendam, lumayan bikin tubuh ku rileks. Mas Dri sendiri gimana?" wajah Mita sedikit menoleh, membuat pipinya menyentuh bibir Adrian.
Tidak diam saja, Adrian mengecup pipi Mita lembut. "Ehm... aku kayaknya belum capek. Pengin ini—" Tangan Adrian sudah berpindah dari dada kini turun ke pangkal paha.
"Ehmm," desah Mita saat jari suaminya memijat lembut pangkal pahanya.
"Mau main di air?" bibir Adrian sudah mencumbu bagian belakang tubuh Mita, terutama di bagian leher dan bahu. Membuat si empunya geli dan gelisah.
Mita meremas tangan Adrian ketika jari suaminya mendobrak masuk pusat tubuhnya.
"Mas..."
"Hmm..." Adrian mendesah kecil di leher Mita, ketika merasakan jarinya di bawah sana dijepit oleh liang milik Mita.
Gerakannya semakin cepat dan teratur, karena Adrian tahu, Mita akan mencapai puncaknya untuk yang pertama. Desahan dan lenguhan dari bibir Mita, menjadi gema indah di telinga Adrian. Bahkan, gema itu membuat Adrian merasa bergairah dalam kobaran yang ia buat sendiri.
Tubuh Mita mengejang dan napasnya tersengal. Desahannya panjang dan cengkraman tangan Mita di lengannya perlahan mengendur bersamaan rasa rileks yang kembali hadir setelah klimaks yang pertama hadir.
"Mau di atas?" tawarnya.
"Siapa takut," jawab Mita sambil tersenyum.
Adrian tersenyum, irisnya semakin berkabut, pusat tubuhnya semakin besar dan keras mendengar jawaban Mita yang membuatnya seperti tersetrum.
'Ya Tuhan, dengar jawabannya aja, hasrat gue menggebu-gebu.'
Pemandangan baru melihat tubuh dan rambut Mita yang basah, kini menatapnya dan sedang perlahan melakukan penyatuan.
"Ahh," desah Mita.
Adrian merinding sebadan-badan, mendengar desahan lembut sampai di perungunya. Ia juga mendesah, karena di bawah sana, miliknya terjepit hangat.
Mita mencari stimulasi untuk membuatnya semakin terbakar. Yang jadi tujuan adalah bibir Adrian. Dengan lembur ia menempelkan bibirnya di bibir suaminya, sedangkan pinggulnya perlahan bergerak, membuat ombak kecil di dalam bathtub.
Adrian merasakan kenikmatan yang luar biasa. Pusat tubuhnya serasa dipompa, dijepit dan terhisap. Beberapa kali ia melenguh karena gerakan yang dibuat Mita, benar-benar ingin membuatnya meledak.
Perlahan tapi pasti, gerakan Mita semakin cepat. Adrian juga tidak diam saja. Tangannya bergerak merangsang bagian tubuh Mita yang lain untuk memompa gerakannya.
"Mas udah keluar belum?" suara Mita terdengar parau.
"Dikit lagi, Sayang. Aah... Terus begitu. Sebentar lagi, lebih cepat," racau Adrian.
Mendengar racauan suaminya, membuat gairah Mita semakin berkobar. Pusat tubuhnya mendadak gatal dan ingin meledak.
"Mas... Aku keluar."
"Aku—" Adrian tidak bisa berkata-kata saat cairan hangatnya meledak memenuhi rahim istrinya. Ia memeluk Mita yang tubuhnya sedikit gemetaran. Mereka berdua saling berpelukan dan mengatur napas masing-masing. Sebelum akhirnya mereka memilih mandi lagi di bawah guyuran shower dan kembali ke kamar untuk istirahat di ranjang yang empuk.
。◕‿◕。
Di kamar hotel lain, lebih tepatnya hotel bintang tiga yang ada di sekitar klub. Ada pasangan berdosa lainnya yang menghabiskan waktu weekend mereka di kamar tersebut. Rio dan Tiara.
Sejak malam itu di klub, entah apa yang merasuki Rio. ia mencoba merayu Tiara yang sedang patah hati karena ditinggal menikah oleh Adrian. Sedangkan Rio sedang mumet dengan istri dan seisi rumahnya. Karena ia tahu mantan istrinya menikah dengan Adrian.
Sebenarnya Rio akan bodo amat, jika Mita menikah dengan pria lain. tetapi, ini masalahnya adalah Adrian. Teman sekampus dan sejawatnya di kantor. Jabatan Adrian lebih tinggi darinya yang hanya supervisor. Bahkan, kekayaan Adrian pun Rio tahu, tidak akan habis tujuh turunan dan tanjakan.
Ego milik Rio agak tersentil juga. Kalau dipikir, memangnya Mita itu siapa? Perempuan seperti apa? Rio tahu semuanya. Mita itu tidak begitu spesial, dulu. Tapi, setelah melihatnya di pesta waktu itu, membuat Rio sadar, semua telah berubah. Bahkan mantan istrinya yang dulu selalu biasa aja menurutnya, kini lebih terlihat lebih cantik, lebih bersinar.
"Aaah,,, Pak, terus—" racau Tiara dibawah hentakan tubuh Rio.
Entah sudah berapa kali mereka melakukan hal kotor itu. meskipun rasanya Rio sudah lelah, bahkan sudah tidak ada sperma yang tersisa. Tetapi, rasanya candu sekali. Apalagi desahan yang keluar dari bibir Tiara itu bukan desahan biasa. Tapi, desahan kotor yang ternyata mampu membuatnya makin kebakaran dengan gairahnya sendiri.
"Gantian Aku yang goyang," goda Tiara dengan centil. Ia mengubah posisinya menjadi berada di atas tubuh telanjangnya Rio.
Tiara bergerak liar menjepit pusat tubuh Rio. tidak hanya pinggulnya yang bergerak, akan tetapi tangan dan wajahnya memberikan gerakan sensual.
Rio ingin meledak di bawah sana. tapi, ia tahu kalau perempuan di atasnya belum sampai pada klimaksnya. Jadi, ia menahannya.
Beberapa menit kemudian, Tiara mendesah panjang dan tubuhnya bergetar hebat ketika cairan miliknya tumpah membasahi perut Rio.
Rio yang melihat itu, tidak membiarkan Tiara berhenti. Karena baru kali ini ia menemukan lawan yang rasanya seimbang. Tiara mengalami squirting dan hal itu membuat miliknya pun ingin segera meledak. Satu menit kemudian, Rio mengerang panjang dan Tiara kembali klimaks. tubuh Tiara ambruk di atas tubuh Rio. Napasnya tersengal.
"Kamu nggak dicariin istrimu?" tanya Tiara di sela-sela membersihkan diri.
"Gampang lah. Lagian dia cerewet banget, bikin kepala pusing. Aku begini juga karena dia curiga terus. Daripada cuma dicurigai dan difitnah, sekalian aja lah kecebur. Kamu hebat banget, Ti." Rio memiringkan tubuhnya untuk menatap Tiara yang berkeringat.
"Ah, masa sih! Kamu juga hebat lho. Sejujurnya aku ini hyper. Aku nggak bisa lebih dari dua hari nggak begitu," jelas Tiara.
Kening Rio mengerut dalam. "Berarti kamu suka ganti pasangan?"
"Enak aja! 27 tahun aku hidup, cuma begitu sama empat cowok termasuk pak Rio."
"Ah, yang bener?"
"Emang maksudnya Pak Rio, aku ini perempuan murahan apah! Aku mau begitu juga milih-milih." Tiara menanggapi dengan santai.
"Kalau ada empat, apa salah satunya Adrian?" Rio penasaran.
"Itu dia masalahnya! Aku penasaran juga rasanya Adrian itu gimana. Dia tuh berkarisma banget. Aku kalau sendirian, suka ngebayangin Adrian." Tiara terkekeh pelan dan beranjak dari kasur. "Aku mau mandi dan harus pulang. Pak Rio juga harus pulang, sebelum istrinya bakar rumah karena suaminya nggak pulang-pulang." Tiara mengedip centil dan masuk ke dalam kamar mandi.
Rio mengangguk dan memperhatikan Tiara sampai pintu kamar mandi tertutup. Ia terkekeh sendiri atas kelakuannya.
"Cari alasan apa ya? Dua hari gue udah habis 15 juta." Rio pusing melihat m-bankingnya terkuras.
[]
*boleh banget dong vote, komentar dan hadiah kalian meramaikan cerita ini 😊