NovelToon NovelToon
SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

SETELAH AKU MATI DIMATA ANAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

Aisha Prameswari adalah seorang ibu rumah tangga yang kehidupannya sempurna Dimata dunia.ia memiliki suami ideal Arka Dirgantara,seorang arsitek ternama dan seorang putra semata wayang,baskara,yang ia cintai lebih dari hidupnya sendiri

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: Pelukan yang Menyembuhkan

Sejak pertemuan tak terduga dengan Ren di supermarket, Aisha menjadi lebih waspada. Ia tidak lagi pergi ke supermarket itu. Ia memilih berbelanja di pasar tradisional yang lebih ramai atau di toko online. Bukan karena ia takut pada Ren, tapi karena ia tidak ingin Baskara mengalami ketakutan yang tidak perlu.

Baskara sendiri mulai menunjukkan kemajuan setelah tiga kali sesi terapi dengan Dokter Andini. Ia tidak lagi sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk. Ia juga mulai mau bermain dengan teman-temannya, meski masih sering menyendiri.

Dokter Andini menjelaskan bahwa proses penyembuhan trauma tidak linear. Ada hari-hari baik, ada hari-hari buruk. Yang terpenting adalah konsistensi dan dukungan dari orang-orang terdekat.

Aisha mencatat semua saran dokter dalam buku kecil yang selalu ia bawa ke mana-mana. Ia ingin menjadi ibu yang lebih baik. Ia ingin Baskara sembuh.

---

Pagi itu, Aisha sedang menyiram tanaman di taman belakang ketika teleponnya berdering. Arka.

“Aisha, aku ada kabar. Mia minta bertemu denganmu.”

Aisha berhenti menyiram. Tangannya menggenggam selang plastik lebih erat. “Untuk apa?”

“Dia ingin minta maaf secara langsung. Dia juga ingin... dia ingin melihat Baskara. Dari kejauhan. Hanya melihat.”

“Arka, itu terlalu berisiko. Baskara masih trauma. Jika dia melihat Mia—”

“Dia tidak akan melihat Mia. Aku sudah bicara dengan terapis Mia. Mereka setuju jika Mia hanya melihat Baskara dari jarak jauh, tanpa sepengetahuan Baskara. Di tempat umum, dengan pengawasan.”

Aisha ragu. “Kapan?”

“Besok sore. Di taman dekat sekolah Baskara. Mia akan duduk di bangku jauh, hanya memperhatikan. Tidak akan mendekat.”

“Aku harus pikirkan dulu.”

“Tentu. Tidak ada paksaan.”

Panggilan berakhir. Aisha duduk di kursi taman, memandangi bunga-bunga yang mulai mekar. Kupu-kupu beterbangan di antara kelopak mawar, sesekali hinggap, lalu terbang lagi.

Ia memikirkan Mia. Wanita yang hampir membunuhnya. Wanita yang mengancam Baskara. Wanita yang kini meminta maaf dan ingin melihat keponakannya dari kejauhan.

Aisha tidak tahu apakah ia siap. Tapi ia juga tidak ingin menjadi orang yang pendendam. Ia sudah belajar bahwa kebencian hanya meracuni hati.

Ia memutuskan untuk menelepon Dokter Andini, meminta pendapat.

“Bu Aisha, secara psikologis, tidak ada salahnya Mia melihat Baskara dari kejauhan, asalkan Baskara tidak tahu. Tapi Ibu harus siap secara emosional. Pertemuan dengan Mia bisa memicu trauma Ibu juga.”

“Saya bisa, Dok. Saya sudah cukup kuat.”

“Baik, Bu. Silakan lakukan jika Ibu merasa siap. Tapi ingat, Ibu bisa membatalkan kapan saja.”

---

Keesokan sorenya, Aisha dan Baskara pergi ke taman dekat sekolah. Baskara senang karena ia bisa bermain ayunan dan perosotan. Aisha duduk di bangku taman, matanya mengawasi Baskara, tapi juga mencari-cari sosok Mia.

Di kejauhan, di bawah pohon rindang, ia melihat Arka berdiri bersama seorang wanita berkerudung. Wanita itu duduk di kursi roda, tubuhnya tampak lebih kurus dari terakhir Aisha lihat. Wajahnya pucat, matanya cekung, tapi masih bisa dikenali.

Mia.

Aisha menahan napas. Mia menatap ke arah Baskara yang sedang bermain ayunan. Matanya berkaca-kaca, tangannya memegang erat sandaran kursi roda.

Arka membisikkan sesuatu pada Mia. Wanita itu mengangguk, lalu tersenyum tipis. Senyum yang rapuh, penuh penyesalan.

Aisha tidak bisa menahan diri. Ia berdiri, berjalan mendekati mereka. Arka melihatnya, sedikit terkejut.

“Aisha, kau tidak perlu—”

“Aku ingin bicara dengannya.”

Aisha berdiri di hadapan Mia. Wanita itu menunduk, tidak berani menatap matanya.

“Mia.”

“Aisha,” bisik Mia, suaranya parau. “Aku... aku minta maaf. Aku tahu kata maaf tidak cukup. Tapi aku ingin kau tahu, aku menyesal. Setiap hari aku menyesal.”

Aisha duduk di kursi di samping Mia. Ia menatap wajah wanita itu—bekas luka di pipi, kerutan di dahi, mata yang sembab. Mia telah berubah. Bukan hanya secara fisik, tapi juga secara spiritual. Ada ketenangan yang tidak ada sebelumnya.

“Apa yang terjadi padamu setelah ditahan?” tanya Aisha.

“Aku dirawat di rumah sakit jiwa selama sebulan. Kemudian dipindahkan ke panti rehabilitasi. Aku menjalani terapi setiap hari. Aku minum obat. Aku belajar menerima masa laluku.”

“Dan sekarang?”

“Sekarang aku lebih baik. Aku masih punya mimpi buruk. Aku masih suka paranoid. Tapi aku tidak lagi ingin menyakiti orang lain. Aku hanya ingin... damai.”

Aisha menghela napas. “Aku tidak bisa memaafkanmu sekarang, Mia. Mungkin tidak akan pernah. Tapi aku tidak membencimu. Aku sudah lelah membenci.”

Mia menangis. Tangisnya pelan, tertahan, seperti orang yang sudah terlalu sering menangis hingga kehabisan air mata.

“Terima kasih, Aisha. Terima kasih karena tidak membenciku. Terima kasih karena menjaga Baskara. Terima kasih karena masih ada untuk Arka.”

“Arka sudah dewasa. Dia bisa menjaga dirinya sendiri.”

“Tapi dia butuh seseorang. Dia butuh kau.”

Aisha tidak menjawab. Ia menatap Baskara yang masih asyik bermain ayunan. Anak itu tertawa ketika ayunannya semakin tinggi. Tawa yang lepas, tanpa beban.

“Baskara anak yang baik,” bisik Mia. “Dia mirip Arka dulu. Waktu masih kecil. Sebelum semuanya hancur.”

“Dia lebih kuat dari Arka. Dia melewati banyak hal dan masih bisa tersenyum.”

“Karena dia punya kau, Aisha. Kau ibu yang baik.”

Aisha tersenyum pahit. “Aku bukan ibu yang baik. Aku melakukan banyak kesalahan. Aku hampir menghancurkan hidupnya.”

“Tapi kau tidak menyerah. Kau terus berusaha. Itu yang membuat kau baik.”

Mereka berdua diam. Arka berdiri di belakang mereka, tidak ikut bicara, hanya mendengarkan.

“Aisha,” Mia memecah keheningan. “Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Setelah hari ini, aku akan kembali ke panti rehabilitasi. Aku akan fokus pada penyembuhanku. Tapi jika suatu hari nanti Baskara bertanya tentang bibinya... tolong katakan bahwa bibinya menyesal. Bahwa bibinya sayang padanya.”

Aisha mengangguk. “Aku akan sampaikan. Jika waktunya tepat.”

Mia tersenyum. Senyum yang tulus, untuk pertama kalinya. “Selamat tinggal, Aisha. Terima kasih untuk semuanya.”

Aisha berdiri, melangkah mundur. Mia melambaikan tangan lemah, lalu Arka mendorong kursi rodanya menjauh.

Aisha kembali ke bangku taman, menatap Baskara yang masih bermain. Anak itu berlari menghampirinya, wajahnya basah oleh keringat.

“Bu, aku haus.”

Aisha mengeluarkan botol minum dari tas. “Minum, Nak. Jangan terlalu kencang ayunannya, nanti jatuh.”

“Iya, Bu. Bu, siapa wanita yang tadi Ibu ajak bicara?”

Jantung Aisha berdegup kencang. “Teman Ibu. Dia sedang sakit.”

“Kasihan. Mudah-mudahan cepat sembuh.”

“Aamiin, Nak.”

Baskara berlari kembali ke ayunan, melambai pada Aisha. Aisha melambai kembali, tersenyum meski matanya berkaca-kaca.

---

Malam harinya, Arka menelepon. “Terima kasih sudah mau menemui Mia.”

“Aku melakukannya untuk diriku sendiri, bukan untuk Mia.”

“Aku tahu. Tapi tetap, terima kasih. Mia pulang dengan tenang. Untuk pertama kalinya, dia tidur tanpa mimpi buruk.”

“Syukurlah.”

“Aisha, aku ingin bicara sesuatu. Tentang kita.”

Aisha memegang ponselnya lebih erat. “Apa?”

“Aku tidak tahu apakah kita akan bersama lagi. Tapi aku ingin kau tahu... aku masih menyayangimu. Bukan sebagai mantan istri. Tapi sebagai seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupku.”

Aisha menutup mata. “Aku juga, Arka. Tapi kita butuh waktu. Masing-masing dari kita butuh waktu untuk menyembuhkan luka.”

“Aku tahu. Aku tidak terburu-buru. Aku hanya ingin kau tahu.”

“Aku tahu, Arka. Terima kasih.”

Mereka bicara sebentar tentang Baskara, tentang jadwal terapi minggu depan, tentang rencana liburan ke pantai. Lalu Arka pamit tidur.

Aisha mematikan lampu kamar, membaringkan tubuh di tempat tidur. Ia memandangi langit-langit yang gelap, memikirkan tentang masa depan.

Ia tidak tahu apa yang akan terjadi. Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak takut.

---

Seminggu kemudian, Aisha menerima surat dari Mia. Surat tulisan tangan dengan kertas bergaris biru. Aisha membacanya di teras belakang, ditemani secangkir teh hangat.

*“Aisha,*

*Aku menulis surat ini karena aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya langsung. Mungkin juga karena dengan menulis, aku bisa merangkai kata-kata dengan lebih baik.*

*Aku minta maaf. Bukan hanya karena hampir menyakiti Baskara, tapi juga karena telah membuatmu takut. Aku tahu kata maaf tidak cukup. Tapi aku tidak punya apa-apa lagi selain kata-kata ini.*

*Aku tahu kau dan Arka sudah bercerai. Tapi aku berharap, suatu hari nanti, kalian bisa bersama lagi. Bukan untukku, tapi untuk Baskara. Anak itu pantas memiliki orang tua yang utuh.*

*Terima kasih untuk Arka, yang masih mau menjengukku. Terima kasih untukmu, yang tidak membenciku. Terima kasih untuk Baskara, yang tanpa sadar telah memberiku harapan.*

*Semoga kau bahagia, Aisha. Kau pantas bahagia.*

*- Mia”*

Aisha membaca surat itu berulang kali. Air matanya jatuh, menetes di atas kertas, mengaburkan beberapa kata.

Ia tidak tahu apakah ia akan memaafkan Mia. Tapi ia tahu, ia tidak lagi membenci wanita itu.

Dan itu sudah cukup.

---

Dua minggu kemudian, Aisha, Arka, dan Baskara pergi liburan ke pantai. Bukan pantai mewah di Bali, tapi pantai sederhana di Selatan Jawa, hanya tiga jam perjalanan dari Jakarta.

Baskara senang sekali. Ia berlarian di pasir, membuat istana pasir, bermain air meski ombaknya kecil. Aisha dan Arka duduk di tikar, memandangi Baskara.

“Dia bahagia,” kata Arka.

“Ya. Untuk pertama kalinya, dia terlihat seperti anak kecil lagi.”

“Kita berhasil, Aisha. Kita melewati badai.”

Aisha tersenyum. “Kita belum sepenuhnya melewati. Masih ada luka. Tapi setidaknya, kita tidak lagi tenggelam.”

Arka meraih tangan Aisha. Aisha tidak melepaskan.

“Aisha, aku tidak tahu masa depan. Tapi aku ingin kita terus seperti ini. Menjadi teman. Menjadi orang tua yang baik untuk Baskara. Mungkin suatu hari nanti... kita bisa memulai lagi.”

Aisha menatap Arka. “Aku tidak berjanji. Tapi aku tidak menutup pintu.”

Arka tersenyum. “Itu sudah cukup.”

Mereka berdua memandangi Baskara yang tertawa riang di tepi pantai. Matahari mulai terbenam, langit berwarna jingga kemerahan. Ombak bergulung pelan, seolah ikut bahagia.

Baskara berlari menghampiri mereka. “Bu, Ayah, lihat! Aku nemu kerang!”

Baskara menunjukkan kerang kecil berwarna putih di telapak tangannya. Aisha mengambil kerang itu, memeriksanya dengan saksama.

“Bagus sekali, Nak. Ibu simpan, ya. Nanti Ibu buatkan kalung.”

“Buat Ibu aja. Aku mau cari lagi buat Ayah.”

Baskara berlari kembali ke tepi pantai. Aisha dan Arka tertawa.

“Dia anak yang baik,” kata Arka.

“Karena dia punya kita.”

Mereka berdua tersenyum. Tidak ada janji. Tidak ada harapan yang berlebihan. Hanya kebahagiaan sederhana di sore itu.

---

Malam harinya, di penginapan sederhana dekat pantai, Baskara tidur nyenyak setelah seharian bermain. Aisha duduk di teras, memandangi laut yang gelap. Bintang-bintang bertaburan di langit, bulan bersinar terang.

Arka keluar, duduk di sampingnya. “Kau tidak tidur?”

“Aku tidak bisa. Masih terlalu banyak yang dipikirkan.”

“Seperti apa?”

“Seperti bagaimana aku akan menjadi ibu yang lebih baik. Seperti bagaimana aku akan memaafkan diriku sendiri. Seperti bagaimana aku akan membangun hidupku setelah semua ini.”

Arka mengangguk. “Aku juga. Tapi kita tidak sendirian. Kita punya Baskara. Kita punya satu sama lain.”

Aisha menatap Arka. “Aku tidak tahu apakah kita akan bersama lagi. Tapi aku bersyukur kau masih ada.”

Arka tersenyum. “Aku juga bersyukur kau masih ada.”

Mereka berdua terdiam, menikmati malam yang sunyi. Angin laut berhembus pelan, membawa aroma garam dan pasir.

“Aisha,” Arka memecah keheningan. “Aku mencintaimu.”

Aisha terkejut. “Arka...”

“Aku tahu ini mungkin terlalu cepat. Aku tahu kita belum siap. Tapi aku ingin kau tahu. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu. Bahkan ketika kau berselingkuh, bahkan ketika kita bercerai, bahkan ketika semuanya hancur. Aku tetap mencintaimu.”

Aisha menunduk. Air matanya jatuh. “Arka, aku tidak pantas dicintai.”

“Kita semua tidak pantas. Tapi cinta bukan tentang pantas atau tidak. Cinta adalah pilihan. Dan aku memilih untuk mencintaimu.”

Aisha terisak. Arka memeluknya, membiarkannya menangis di bahunya.

“Aku juga mencintaimu, Arka. Tapi aku takut. Aku takut melukaimu lagi.”

“Kita tidak perlu takut. Kita sudah melewati yang terburuk. Selebihnya, hanya perjalanan yang harus kita jalani bersama.”

Mereka berpelukan di teras penginapan, di bawah sinar bulan yang lembut. Laut bergemuruh pelan, seolah merestui.

Di dalam kamar, Baskara tertawa dalam tidurnya. Mungkin ia bermimpi indah. Mungkin tentang pantai, tentang kerang, tentang orang tuanya yang tersenyum bersamanya.

Aisha mendengar tawa itu, dan hatinya terasa hangat. Inilah yang selama ini ia cari. Bukan kebahagiaan yang sempurna, tapi kebahagiaan yang nyata. Kebahagiaan yang sederhana, tapi cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!