"Di saat napas terakhir Pak Tua Arman dianggap sebagai akhir dari kejayaan keluarga Chandra, seorang asing berpakaian putih muncul tanpa suara. Tak ada obat, tak ada mantra rumit. Ia hanya membungkuk, membisikkan satu kalimat di telinga kakek yang sekarat itu, lalu berbalik pergi. Detik berikutnya, jantung kembali berdetak kuat, membuat para anak tercengang. Siapakah dia? Dan apa yang diucapkannya untuk menantang kematian?"
"Sebuah kalimat yang mengubah takdir. Saat dunia medis menyatakan Kakek sekarat, seorang asing bernama Yun Miao muncul dan menyembuhkannya hanya dengan satu kalimat perintah. Siapakah Yun Miao, dan bagaimana kalimat sederhana bisa melawan maut?"
Mohon maaf ya teman-teman kalau novel pertamaku belum bisa membuat kalian puas bacanya. InsyaAllah aku akan terus berusaha agar novelku selanjutnya bisa memenuhi keinginan dan kriteria kalian semua.... Terimakasih
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auzora Maleeka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
11
"Tidurlah dengan nyaman. Biar aku yang mengurus obsesimu. Kamu nggak perlu melakukannya." Kata Nadira sambil melihat ke arah peti mati tersebut.
"Biar aku yang mengurus obsesimu. Kamu nggak perlu melakukannya." Kata Nadira.
Setelah selesai berbicara Nadira melihat ke atas, dan juga mengangkat tangannya hingga muncul sinar keemasan ditangannya, hingga membuat di area sekitar pemakaman tersebut kembali tenang, Begitupun juga dengan benang tersebut benar-benar hilang. mereka kaget dengan apa yang mereka lihat.
"Nona Nadira, kalau semua tali ini dilepas, apa Nenekku akan merasa lebih baik ?" Tanya Adrian sambil menunjuk ke arah peti mati tersebut.
"Nggak." jawab Nadira.
"Nona Nadira, mohon bimbingan anda." Kata Tuan Gavin.
Pada saat itu, Nadira mengangkat tangan kanannya sedikit hingga muncul warna keemasan kembali ditangannya, lalu di arahkan ke peti mati tersebut sehingga benang-benang itu hilang.
"Ooohhh. Butuh aku membimbing apa ?" Tanya Nadira sambil menghadap ke Tuan Gavin.
"Nona Nadira, kemarin keluarga kami yang nggak mengenali orang hebat dan menyinggung anda. Tapi itu semua kesalahanku. Mohon anda tolong ibuku." Kata Tuan Gavin sambil menunjuk ke arah peti mati sang ibu.
"Menolong ibumu atau menolong keluargamu ?" Tanya Nadira.
"Keduanya. Keluarga kami tadinya mengundang Tuan Bima untuk membebaskan penderitaan ibuku. Siapa sangka dia orang yang sangat jahat dan ingin menjebak kami, dan mengubur hidup-hidup ibu kami." Jawab Tuan Gavin.
"Nona Nadira, seperti yang anda katakan, keluarga kami memang bodoh. Tapi kalau kesalahan kecil yang nggak sengaja ini menyebabkan seluruh keluarga kami harus membayar dengan nyawa mereka, bukankah itu terlalu nggak adil ?." Sambung Tuan Gavin.
"Ya, Nona Nadira. Hal ini memang benar-benar terjadi tanpa sengaja. Kalau benar-benar mengalami malapetaka, itu benar-benar nggak adil." Timpal Adrian.
"Tuan Gavin kau sangat pandai berbicara. Tapi sayangnya, kau nggak tulus, dan berbohong." Kata Nadira sehingga membuat Tuan Gavin terkejut karena Nadira tahu tujuannya.
"Bagaimana dia bisa tahu ?" Bisik dalam hati.
"Dalam waktu kurang dari tiga hari, keluarga kalian pasti akan mengalami petaka. Kalau nggak ingin hidup, bisa terus berpura-pura." Kata Nadira sambil pergi dari hadapan Tuan Gavin dan lainnya.
"Nona Nadira." Panggil Tuan Gavin.
"Paman Gavin." Cegah Adrian sambil merentangkan tangannya.
"Pulanglah dulu. Ibuku dan lainnya masih pingsan." Sambung Adrian.
"Adrian, apa kau juga nggak mempercayai kami ?" Tanya Tuan Gavin.
Sedangkan Adrian, hanya diam saja hingga akhirnya, Nyonya Sonia dan juga Nyonya Stella sadar dari pingsannya.
"Ibu.... Ibu.... Ibu...." Teriak Nyonya Sonia sambil celingukan mencari keberadaan ibunya. sedangkan Adrian menghampiri ibunya yang sudah bangun dari pingsan itu.
"Ibu, nggak apa-apa. Ibu ayo kita pulang."Kata Adrian kepada ibunya.
Adrian membantu ibunya untuk bangun, dan pada akhirnya Nyonya Stella pun ikut terbangun. Adrian memaksa ibunya untuk pulang, karena Nyonya Sonia tidak mau beranjak dari posisi awal saat ia bangun dari pingsannya.
"ibu ... Ibu....." Panggil Nyonya Sonia kepada ibunya sambil menghadap ke langit.
Setelah sampai dirumah, Tuan Gavin benar-benar marah karena tidak ada satu pun dari mereka yang ingin mendengarkan penjelasannya.
"Sonia. Adrian. Kalian dengar penjelasanku." Kata Tuan Gavin.
"Penjelasan Apa ?" Tanya Adrian.
"Sudah seperti ini, Mau menjelaskan apa lagi ?" Sambung Adrian sambil menunjuk ke arah Pamannya itu.
"Kau jangan lupa ibumu juga anggota keluarga Wibowo. Kalau seluruh keluarga Wibowo ada yang bisa lolos, apakah Menurutmu ibumu bisa lolos ?" Tanya Tuan Gavin.
" Paman Gavin, kau bahkan bisa mengubur ibumu hidup-hidup, kau yang bisa lolos, ibuku berbeda, aku akan melindunginya." Jawab Adrian sambil bangkit dari duduknya karena saking kesalnya kepada Pamannya itu.
"Bukan aku yang melakukan hal itu. Keluarga Wibowo nggak kekurangan apa pun. Kenapa aku harus melakukan hal seperti itu ?" Ucap Tuan Gavin.
"Kak Gavin, apakah kau benar-benar nggak tahu apa-apa ?" Tanya Nyonya Sonia.
"Sonia, apa kau juga nggak mempercayaiku ? Kenapa aku harus melakukan itu ? Atas dasar apa aku bisa melakukan itu ?" Jawab Tuan Gavin.
"Karena Ayah."Kata Nyonya Sonia, diapun bangkit dari kursinya sambil menghela nafas pelan dan langsung menghadap ke arah Kakaknya.
"Tuan Bima, dikenalkan oleh Ayah, benar nggak ?" Sambung Nyonya Sonia dengan kesal.
"Sonia, Ayah dan Ibu telah saling mendukung seumur hidup, bagaimana mungkin Ayah akan menyakiti ibu ?" Kata Tuan Gavin.
"Seumur hidup saling mendukung. Kak Gavin, apa sekarang kau masih ingin bersandiwara ? Apa kau nggak tahu sikap Ayah pada ibu ?" Bantah Nyonya Sonia dengan keras.
"Apa Ayah nggak cukup baik pada ibu ? Apa kau lupa kejadian waktu ibu kawin lari dengan pria itu ?" Tanya Tuan Gavin kepada adiknya dengan marah.
Saat mereka bertengkar hebat, Nadira muncul sambil mengetuk pintu menggunakan kipas tangan yang dia pegang.
Sedangkan Nyonya Sonia, hanya bisa menengok ke belakang tubuh kakaknya itu, karena kakaknya berdiri di tempat pintu masuk.
"Nona Nadira, kamu kenapa datang ?" Tanya Adrian sambil mempersilahkan Nadira untuk duduk di kursi yang mana ditempati oleh ibunya tadi.
"Silahkan." Sambung Adrian.
"Teruskan ucapanmu." Ujar Nadira. Setelah Nadira nyaman dengan duduknya.
"Apa itu hanya perasaanku saja ? Sepertinya, sudut bibirnya sedikit terangkat saat mendengar kata kawin lari." Ujar Adrian dalam hati.
"Hal ini, nggak baik diceritakan pada orang luar." Kata Tuan Gavin sambil memalingkan wajah ke arah lain.
Nyonya Sonia hanya terkekeh saat mendengar jawaban dari Kakaknya itu. "Nona Nadira bahkan tahu tentang keluarga kita yang mengubur hidup-hidup ibu kandung, membuat ibu nggak bisa bereinkarnasi selamanya. Apa lagi yang nggak boleh didengar?" Kata Nyonya Sonia dengan amarah yang mungkin sudah tidak dibandung lagi.
"Sialan, kau...." Kata Tuan Gavin.
"Aku ini suka dengar cerita. kalau kau ceritakan dengan baik, mungkin aku bersedia untuk membantumu." Sambung Nadira sambil mengipasi dirinya dengan pelan.
"Nona Nadira, apa ucapanmu benar ?" Tanya Tuan Gavin.
Nadira langsung menutup kipasnya dan berkata. "Tentu saja."
"Masalah ini melibatkan para tetua keluarga. Sebenarnya nggak boleh dibicarakan, tapi karena Nona Nadira sudah mengatakannya, Maka aku akan...." Jawab Tuan Gavin.
"Nggak perlu bertele-tele, langsung saja ke intinya." Protes Nadira dengan cepat.
Sebelum menjawab, ia melihat ke arah Adik dan keponakannya itu, seakan-akan menimbang ingin membicarakannya atau tidak.
"Baiklah. Aku akan langsung ke intinya. Sebenarnya, ibuku agak nakal ketika masih muda." Kata Tuan Gavin.
"Paman Gavin, apa kau tahu yang kau katakan ?" Tanya Adrian kepada Pamannya itu.
"Kau jangan panik dulu. Biar aku selesaikan ucapanku dulu. Ibuku, saat muda bernama Erna. Sejak kecil dia Yatim-piatu, dibesarkan oleh bantuan orang-orang sekitar. Suatu waktu, desa kami dilanda kelaparan, karena dia nggak bisa mendapatkan makanan dia mulai mencuri. Setelah nggak bisa mencuri lagi, dia mulai berhubungan dengan pria liar untuk mendapatkan makanan." Kata Tuan Gavin.
Sedangkan, Nyonya Sonia yang mendengar cerita dari kakaknya itu tentu saja syok dan juga kaget saat mengetahui kebenaran tentang ibunya, begitupun juga dengan Adrian, dia juga tidak percaya apa yang dikatakan oleh pamannya itu. Dia takut Pamannya hanya mengada-ada saja.
"Aku kasih tahu, ini nggak mungkin. Nenek nggak mungkin melakukan hal itu." Tuding Adrian kepada Pamannya karena dia masih tidak percaya.
"Adrian, apa kau tahu kenapa Kakekmu bisa menyukai Nenekmu ?" Tanya Tuan Gavin.
"Haaahhh...."
"Dia diam-diam menyelinap ke tempat tidur ayahku di tengah malam, tidur dengannya, lalu membawa seluruh orang desa, memaksa kakekku untuk mengakuinya sebagai menantu. Lalu, dia menempel pada Ayahku. Kemudian, ayahku juga mencintai ibuku, tapi kakekku sangat marah karena ayahku mencintai wanita bekas, hingga membuatnya meninggal dunia." Jawab Tuan Gavin.
Sedangkan Adrian, sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi saat mengetahui salah satu fakta tentang Neneknya itu, apalagi Nyonya Sonia hanya bisa menangis sesegukan.
"Itu belum semuanya. Dia nggak hanya menggoda Ayahku, tapi juga bermain mata dengan laki-laki lain di desa. Apa kau tahu, betapa parahnya Ayah saat dicemooh, dan digunjingkan oleh orang-orang di desa bertahun-tahun yang lalu ?" Kata Tuan Gavin.