NovelToon NovelToon
MISTERI DESA GETIH

MISTERI DESA GETIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Misteri
Popularitas:9.9k
Nilai: 5
Nama Author: Siti H

Alawiyah yang nekad menyusul suaminya ke kampung halaman yang terletak dilereng Gunung Kawi, membuat ia dihadapkan pada teror yang mengerikan.

Desa yang ia bayangkan penuh kedamaian, justru menjadi mimpi buruk yang mengerikan.

Rahasia apa yang sedang disembunyikan suaminya?

Ikuti kisah selanjutnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tejo

Ratih terdiam. Ia menatap Alawiyah dengan tatapan nanar. "Intan? Istrinya—Tejo?"

Suaranya bergetar, seolah ia sedang menyimpan beban yang cukup berat.

"Ana tidak tahu nama suaminya, Mbok. Tetapi hanya ingat sama bibi Intan, karena membeli terung dan kacang panjang, tempo hari." Alawiyah menjabarkan.

Ratih merasa sangat lemah, dan, mencari tempat duduk, untuk menenangkan hatinya yang teriris perih.

Ia duduk diatas lantai, lalu bersandar di dinding rumahnya yang semi permanen. "Gas, Bagas," panggilnya pada anak lelakinya yang sedang tidur di kamar belakang.

Bagas yang baru saja beristirahat, bergegas bangkit—setelah mendengar panggilan.

"‐Ada apa, Mbok?" tanyanya, saat melihat sang ibu terduduk lemah di lantai rumah.

"Coba kau lihat Bu Lekmu—Intan. Bagaimana keadaannya, cepat, Gas." ucapnya dengan wajah sedih.

Bahkan bulir bening mulai mengalir deras disudut matanya.

"Memangnya ada apa, Mbok?" Bagas masih merasa penasaran. Sebab ia mulai mengantuk, dan tidak fokus.

"Lihat saja, pastikan kondisinya."

Ratih terisak dalam tangisnya. Sedangkan Alawiyah masih merasa bingung, saat mendengar si Mbok mengatakan kalau Bi Intan adalah Bu Lek.

"Apakah Bi Intan ada kaitan saudara dengan si Mbok?" tanya Alawiyah dengan sangat hati-hati.

Ia takut, jika pertanyaan akan salah ditafsirkan.

"Tejo adik bungsuku, dan intan adik iparku, tetapi dia sangat baik," sahut Ratih.

Mendadak wajah Alawiyah merasa ikut larut dalam kesedihan.

Ia dapat melihat, betapa Ratih sangat kalut akan nasib Intan. Semoga saja apa yang tadi dilihatnya, hanya halusinasi saja.

Meskipun Intan bukan saudara kandungnya, tetapi Mbok Ratih tampak menyayangi wanita itu.

"Baiklah, Mbok. Bagas coba liat dulu ke rumah Mang Tejo."

Akhirnya Bagas menurut saja, sebab tak ingin melihat wajah Ratih sedih dan cemas.

Ia menyambar kunci motor sang suami, yang tergantung di dinding, mengenakan jaketnya, dan meninggalkan ruangan.

Sementara itu, Tejo menarik tubuh anak lelakinya yang menangis tersedu, akibat ASI yang tak juga keluar.

"Dali, kamu jangan nangis, ada susu botol, dan waktunya kamu itu di sapih." Tejo mengangkat tubuh Dali, lalu membawanya menjauh dari jasad Intan.

Sepertinya, Tejo sudah mati Rasa pada sang istri. Hal itu di sebabkan oleh bayangan tubuh sintal Novita yang sangat menghoda, ditambah lagi—usia gadis itu yang masih muda.

"Si Mbok. Dali mau sama si Mbok."

Bocah itu merengek, meminta agar ibunya yang menggendongnya.

Hal itu semakin membuat Tejo merasa pusing. Ia tidak pernah mengasuh anak, sebab itu, ia sangat tak sabar untuk menghadapinya.

"Diam! Kalau kamu bandel, bapak jadiin tumbal berikutnya!" ancam Tejo, suaranya cukup menggelegar, dan cukup berhasil membuat Dali terdiam takut.

Drrrnnnn

Suara meain motor butut Bagas, berhenti tepat di depan rumahnya.

"Siapa lagi—itu? Jasad Intan saja belum aku bereskan, ini sudah ada lagi masalah yang datang."

Ia mengintai dari balik jendela, dan melihat Bagas yang datang.

"Pak Lek, buka pintunya."

Bagas mengetuk-ngetuk pintu, dan dengan terpaksa, Tejo membukanya.

"Gas."

Tejo langsung memeluk Bagas, dan tubuhnya terguncang, memaksa untuk menangis.

"Pak Lek Kenapa?" tanya Bagas, ia sangat bingung dengan sikap pamannya tersebut.

"Bu Lek, Mu. Dia meninggal, entah sakit apa, sahutnya, sembari memasang wajah sedih, dan menyeka air matanya.

"—Apa?" suara Bagas bagaikan tercekat di tenggorokannya. Ia sangat tak percaya dengan apa yang di dengarnya.

Ternyata, ke khawatiran si Mbok terbukti benar.

"Dimana jasad Bu Lek?" tanyanya, sembari mengedarkan pandangannya.

"Di Dapur. Tadi Pak Lek gak sempat memindahkan, sebab si Dali nangis mulu," ia berusaha untuk terlihat bersedih, sebab tak ingin ketahuan.

Bagas merasakan dadanya begitu sesak. Ia tahu, Bi Intan cukup baik padanya, dan juga terhadap si Mbok.

Akan tetapi, kabar kematian yang begitu mendadak, membuat Bagas tersentak kaget, dan ini sangat begitu tiba-tiba.

Ia beranjak ke dapur, dan setibanya disana, ia dikejutkan dengan sebuah pemandangan yang cukup sangat miris.

Dimana, tubuh Intan tergeletak dengan menyisakan sebuah kepedihan.

Bagas menguatkan hatinya. Ia menghampiri jasad Intan, lalu mematikan kompor yang masih menyala.

Disana terlihat kuah soto yang tadi mendidih, menguarkan aroma bumbu yang gurih, dan tak sempat untuk dihidangkannya.

Perlahan ia berjongkok, mengangkat tubuh yang tak lagi bernyawa, dan masih terasa cukup hangat.

Hal itu menandakan, jika ia baru saja meninggal.

Akan tetapi, Tejo seperti tak begitu peduli pada jasad terebut, seolah tak ada cinta yang tersisa.

Ia membopongnya, membwanya ke ruang depan.

"Pak Lek. Tolong carikan kasur tipis, untuk meletakkan jasad Bu Lek."

Tejo bergegas mengambil kasur yang biasa dipakai untuk menonton televisi.

Bagas meletakkannya, dengan sangat hati-hati.

Di sudut ruangan, terdengar suara isak tangis Dali yang sesenggukkan, ia masih terlalu dini untuk memahami semuanya.

Hal yang paling janggal, terlihat Tejo sedang sibuk membalas chat sesorang, dan sesekali ia tersenyum, tanpa mempedulikan jasad istrinya, ataupun Dalli yang membutuhkan dekapan.

Bagas menghampiri Dalli yang masih sesenggukan.

"Ayo, sama—Mas."

Ia mengulurkan tangannya, dan mengangkat bocah tersebut, lalu menggendongnya.

"Pak Lek, Dalli aku bawa ke rumah."

"Heeem." Tejo hanya membalas dengan deheman, dan tak menggubris kepulangan Bagas, ia masih sibuk dengan chat‐nya.

Setibanya di rumah, Dalli masih sesenggukkan. Tetapi sudah lebih mendingan.

Ratih menyambutnya dengan rasa cemas, lalu mendekapnya.

"Sini, sama si Mbok." Ratih menyambut tubuh mungil tersebut.

Untungnya, Dalli tak rewel, dan ia menurut saja.

"Apa yang sudah terjadi, Gas?" tanya Ratih, suaranya hampir tercekat ditenggorokan.

Ia dapat menangkap firasat buruk yang terjadi, itu tergambar dari ekspresi wajah Bagas.

"Bu Lek sudah meninggal, Mbok." ucap Bagas.

"Innalillahi wa inna illahi raji'un," sahut Alawiyah, yang dengan cepat menanggapinya.

"Berarti benar, Pamanmu menganut pesugihan, dia juga sudah terjebak oleh pengaruh warga di Desa Getih."

Ratih merasakan hatinya hancur. Ia tak dapat lagi menasehati adik laki-lakinya, sebab kemewahan dunia sudah menjebaknya, dalam lingkaran setan.

Alawiyah menelan salivanya. Entah mengapa, perasannya mengatakan, ada sesuatu yang mengusik hatinya.

"Apakah Pak Lek ada hubungannya dengan Mas Bayu?" Alawiyah berguman dalam hatinya.

Ia hanya masih menerka-nerka, tetapi tidak ada bukti yang menegaskan.

Eaok malam, adalah malam terakhir ia membaca yasin yang ia laksanakan selama tujuh hari berturut-turut.

Jika sadar, maka akan selamat, tetapi jika tak menunjukkan hal yang positif, maka akan pergi selamanya.

"Aku akan mencari tau esok, apakah ada keterlibatan Pak Lek dengan semua ini," Alawiyah merasakan sesuatu yang seolah menjadi firasat.

"Entahlah, Mbok. Tapi aku melihatnya, seperti ia tak peduli dengan jasad Bu Lek," Bagas mengingat jelas bagaimana reaksi dari Tejo.

1
mifta
setannya gaul tau MBG juga🤣🤣🤣🤣
Mamake Nayla
sma2 hilang arah...apa ga nyasar mereka ber 2🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mifta
bisa jga setan gaul🤣🤣
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
sekarang kau tersenyum2 Jo.. Tejo.. sebentar lagi kau berenang dlm kuah soto pojok kesukaanmu itu 😋😋👻👻👻
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
ati2 sama adikmu mbok Ratih, istrinya aja tega dia tumbalkan, nanti keluargamu selanjutnya 🙈🙈👻👻👻
Ai Emy Ningrum: iissh issh ...teruskan /Determined//Determined//Determined//Determined/ !!!!
total 5 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ
elaah galak amat we! padahal baru dtp tumbal, kok esmosian 😋😋😋
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandini☠️⃝🖌️M⃤_☆⃝𝗧ꋬꋊ: kebanyakan ngemilin garem dia 😋
total 2 replies
🟡SENJA
hadeeeh mbok ratih, tejo jauh tersesat mbok 😤
🟡SENJA
astaga lakik macam apa 😭
🟡SENJA
wakakaak ibunya sendiri aja jadi kulineran 🤭
🟡SENJA
buseh 😅😅😅
🟡SENJA
wakakaak ga manusia ga setan kalau nganggur di bully 😅
FiaNasa
ntar klau jadian samanobita bisa direndang si Tejo ini
FiaNasa: bukan mesin ketiknya yg udah uzur tp yg ngetik😀
total 5 replies
Ayani Lombokutara
tumben dibab ini gk ada dialog setan laknat 🤣🤣
Siti H✍️⃞⃟𝑹𝑨: khusus Mellow🤧
total 1 replies
Desyi Alawiyah
Matamu sakit, jelas Intan dijadikan tumbal kok 😫
Ayani Lombokutara: kan dnak tau dia siapa yg jdiin dia tumbal kan rata rata isi kampung penganutnya ..tpi tu si mbok udah yakin adiknya yg buat iparnya bgitu
total 1 replies
Desyi Alawiyah
Bener-bener deh si Tejo, sekarang malah ngincer Novita... 😌😌
kinoy
drama persetanan..kasian jg intan y anaknya msh nyusu..si Tejo so kecakepan bgt
FiaNasa
jin nya gaul semua ngomongnya,,kek nya jin nya semua kluaran edisi terbaru nih😀
FiaNasa: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
Ayani Lombokutara
apa lo 🤣🤣🤣 si wewe lucu 🤣🤣
pkoknya lebih lucu setannya dripda org orgnya 🤣🤣
Ai Emy Ningrum: hihihi 👻👻👻
total 12 replies
Rembulan menangis
punah berjamaah gk tuh 🤭
Tini Nurhenti
🤣🤣🤣/Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!