Di balik kelembutan sikap sang suami, ternyata ia menyimpan sejuta duri...
Rengganis tidak pernah menyangka jika di hari ulang tahun pernikahan yang ke sepuluh, ia akan mendapatkan sebuah kado yang sangat spesial. Kado yang menjadi awal petunjuk bahwa ada banyak dusta yang disembunyikan oleh sang suami.
Berawal dari sebuah foto USG yang ia temukan di dalam saku kemeja sang suami, Rengganis berhasil membuka sebuah rahasia yang selama ini disembunyikan. Satu rahasia bahwa ternyata sang suami diam-diam telah menikah sirri dengan wanita lain.
Lantas, jalan apakah yang akan diambil oleh Rengganis di saat pernikahannya sudah dipenuhi dusta oleh sang suami? Apakah ia akan tetap mempertahankan pernikahannya dengan menerima wanita lain untuk menjadi madunya? Atau apakah ia akan mengakhiri biduk rumah tangganya yang sudah berlayar sepuluh tahun dengan melepaskan sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anniv 10. Terkuak
"Aku benar-benar marah sama mas Arya, Bu. Sejak saya tahu jika mas Arya sudah memiliki istri dari info yang disampaikan oleh bu Ganis, saya sama sekali tidak menghubunginya. Bahkan panggilan telepon darinya pun saya tolak."
Di perjalanan menuju Magelang, Rani tiada henti meluapkan amarahnya. Amarah yang bersemayam dalam dada karena merasa sudah dibohongi oleh sang kekasih. Bagaimana ia tidak merasa kesal dan kecewa menghadapi satu kenyataan bahwa selama ini ia menjalani hubungan dengan suami orang. Satu takdir hidup yang sama sekali tidak ingin terjadi dalam perjalanan hidupnya.
"Tidak apa-apa Ran. Kamu memang harus berhenti sejenak untuk berpikir, sehingga apa yang akan kamu putuskan nanti adalah jalan yang terbaik," ucap Ganis menanggapi Rani seraya fokus pada kemudinya.
"Tapi saya benar-benar sakit hati, Bu. Kenapa mas Arya begitu tega melakukan hal ini kepada saya? Padahal saya sudah setulus itu kepadanya," lirih Rani dengan tetes air mata yang sudah mulai terjatuh dari pelupuknya. Gadis itu seakan belum bisa menerima keadaan bahwa kekasihnya sudah memiliki istri.
"Kamu seharusnya bersyukur Ran, karena kebohongan Arya terbongkar lebih cepat. Daripada nanti-nanti di saat perasaanmu sudah semakin dalam, aku rasa kamu akan lebih sulit melepaskan."
"Tapi saya benar-benar merasa dibohongi Bu. Tidak saya sangka kalau mas Arya tega sekali melakukan hal ini."
"Ya sudah, untuk saat ini kamu tenangkan diri kamu sendiri terlebih dahulu. Persiapkan apa yang akan kamu sampaikan kepada Arya. Kamu harus tegas dalam mengambil sikap. Jangan sampai kamu lengah jika Arya memohon-mohon agar kamu tidak melepaskannya."
"Itu sudah pasti, Bu. Saya tidak pernah diajari untuk menjadi wanita simpanan ataupun perebut suami orang, saya akan dengan tegas memutuskan mas Arya."
Ganis tersenyum lega mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Rani. Setidaknya cinta yang dirasakan oleh Rani adalah cinta yang didasari oleh logika, bukan cinta yang tuli dan buta. Karena bagaimanapun juga tidak akan pernah ada kebaikan menjadi perebut kebahagiaan wanita lain.
Hampir dua jam Ganis mengemudikan mobil, pada akhirnya ia sampai di depan kantor milik sang suami. Ia mematikan mesin mobilnya dan sejenak menatap lekat suasana kantor cabang Magelang dari balik kemudinya.
"Ran, kamu turunlah terlebih dahulu. Kamu cari Arya dan ajak ia bicara empat mata. Sepertinya di belakang kantor ini ada tanah kosong, bisa kamu ajak bicara Arya di sana."
Rani mengangguk patuh karena pada dasarnya ia bisa sampai di sini untuk membuat semuanya terang benderang karena kebaikan Ganis.
"Baik Bu. Lalu Bu Ganis sendiri mau ke mana?"
"Aku mau menemui suamiku dulu di ruang kerjanya. Nanti aku susul kamu, sepertinya kamu memerlukan kehadiranku sehingga Arya tidak bisa bersilat lidah."
"Baik Bu."
Rani turun dari mobil untuk kemudian masuk ke dalam kantor. Gadis itu celingak-celinguk mengingat tempat ini merupakan tempat asing yang baru pertama ia kunjungi. Pandangannya mengedar ke sekeliling, di mana kantor ini nampak sedikit sepi. Mungkin para kurir sudah mulai berkeliling untuk mengantarkan paket.
"Loh Sayang, kamu sampai sini?"
Suara bariton yang tiba-tiba masuk ke dalam indera pendengar, membuat Rani sedikit terperanjat. Ia berbalik punggung, mencari asal sumber suara yang terdengar. Terlihat Arya berdiri gagah dengan mengenakan seragam kantornya.
"Tidak usah panggil sayang, sayang. Aku jijik mendengarnya Mas!" sungut Rani meluapkan emosi.
"Loh, loh, loh, kamu kenapa Sayang? Kenapa tiba-tiba marah dan uring-uringan seperti itu? Mana dari kemarin panggilanku ditolak terus," tanya Arya dengan rentetan pertanyaannya. "Ada apa sih Sayang? Aku melakukan kesalahan apa?"
"Kesalahan apa?" tanya Rani dengan bola mata yang hampir keluar. "Kamu sudah menipuku. Kamu sudah menduakan istrimu. Kamu masih bertanya apa kesalahanmu?"
Arya terhenyak. Lelaki itu sungguh tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh kekasihnya ini. Ia melihat sekeliling. Suara Rani yang begitu membahana sungguh menyita perhatian beberapa karyawan yang ada di sini. Tanpa berpikir panjang, Arya langsung menarik tangan Rani dan mengajaknya ke belakang kantor di mana ada lahan kosong di sana.
"Tenangkan dirimu terlebih dahulu Sayang!" ucap Arya berusaha membujuk Rani. "Tarik napas, lalu pelan-pelan kamu bicarakan apa yang sebenarnya membuatmu marah seperti ini."
Rani mencoba mengatur napas. Ia hirup napas dalam-dalam, lalu ia hembuskan kasar. Ia mencoba untuk tenang meskipun dadanya masih bergemuruh.
"Mengapa kamu menjalin hubungan denganku di saat kamu sudah memiliki istri, Mas? Bahkan saat ini istrimu tengah hamil."
Arya sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rani. "Kata siapa aku sudah memiliki istri, Sayang? Demi Tuhan aku masih single. Kalau tidak percaya aku tunjukkan KTP ku."
"Ckkkcckkk.. Gak usah bawa-bawa nama Tuhan untuk menutupi dustamu Mas. Lagipula kalau perkara KTP bisa jadi kamu palsukan."
"Sumpah mati aku masih single Sayang!" ucap Arya tak menyerah membuat percaya sang kekasih. "Lagipula kamu dapat berita dari mana sih kalau aku sudah beristri dan istriku lagi hamil? Sungguh berita hoax."
"Aku tahu berita itu dari pemilik toko kue tempatku bekerja. Dia mengatakan kalau kamu sudah beristri dan saat ini istrimu sedang hamil."
"Pemilik toko kue tempatmu bekerja?" tanya Arya memastikan. "Memang siapa pemilik toko kue itu? Tahu apa dia tentang aku? Sampai-sampai dia menyebar berita bohong seperti itu?"
"Aku pemilik toko kue itu Ar!" timpal Rengganis di sela-sela percakapan Rani dan Arya. "Jadi yang benar kamu sudah menikah atau belum?"
Arya menoleh ke arah sumber suara. Kedua bola matanya terbelalak sempurna melihat istri dari bos di kantornya ada di tempat ini. Mendadak tubuh Arya kaku layaknya patung. Hanya bibir yang mengaga lebar dan mata yang terbelalak yang seakan menjadi isyarat jika ia terkejut setengah mati.
"Bu Rengganis?" lirih Arya.
Rengganis tersenyum sumbang. Ia ayunkan tungkai kakinya untuk mendekat ke arah Arya dan Rani.
"Iya Ar, ini aku. Masih ingat kan?"
Arya mengangguk. "Iya Bu, saya masih ingat."
"Syukurlah kalau kamu masih ingat, itu artinya kamu juga masih ingat akan pembicaraan kita via video call beberapa waktu yang lalu kan?"
"I-iya Bu, saya masih ingat," jawab Arya gugup. Pria itu seakan berada dalam posisi tersudut.
"Lantas, mana ucapanmu yang benar?" cecar Ganis. "Kamu masih single atau kamu sudah punya istri bernama Dinda Larasati yang saat ini tengah hamil lima bulan?"
Sorot mata Ganis nampak begitu tajam. Layaknya seekor singa betina yang tengah membidik mangsa yang tidak mau sedetikpun ia lepaskan pandangannya.
Arya makin tersudut. Dalam keadaan seperti ini is bingung sekali mau menjawab apa. Di satu sisi ia harus jujur mengingat Rengganis sudah tahu, dan di sisi lain ia harus tetap berbohong demi rahasia Krisna.
"S-saya...."
"Ada apa Ar? Mengapa kamu terlihat gugup seperti itu? Kebohongan apa yang sedang ia tutupi dan sandiwara apa yang sedang kamu perankan?" cecar Ganis.
Aku tidak punya pilihan lain. Kalau seperti ini mau tidak mau aku harus jujur kepada bu Ganis.
"Sebenarnya, Dinda Larasati itu istri kedua pak Krisna, Bu..."
.
.
.