NovelToon NovelToon
MATA SAKTI

MATA SAKTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi / Dikelilingi wanita cantik
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

"Dulu aku hanyalah sampah yang diinjak-injak, kurir miskin yang tak punya masa depan. Namun, satu tetes darah dewa mengubah segalanya. Dengan Mata Sakti ini, tidak ada rahasia yang tersembunyi, tidak ada musuh yang tak punya celah, dan tidak ada harta yang tak bisa kuraih. Dunia modern ini akan bertekuk lutut di bawah tatapanku!"

#urban_fantasi
#harem #romance#cultivasion

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

GEMPA DI BALIK MEJA PERJAMUAN

Malam di Jakarta tak pernah benar-benar sunyi, namun bagi Arka, keheningan di dalam kamar VIP itu terasa seperti kemewahan yang dicuri dari takdir. Di bawah temaram lampu tidur, ia memandangi wajah ibunya yang mulai merona. Napas Maria kini teratur, jauh dari suara sesak yang selama bertahun-tahun menghantui pendengaran Arka.

Arka duduk di kursi kayu di samping ranjang, tangannya masih terasa hangat oleh sisa energi Aliran Kehidupan. Di luar sana, ia tahu dunia sedang terbakar karena ulahnya. Ia tahu para petinggi klan sedang mencakar meja giok mereka, mencari kepalanya dengan kemarahan yang meluap. Namun di sini, di depan wanita yang telah mempertaruhkan nyawa untuk melahirkannya, Arka hanyalah seorang putra yang baru saja pulang dari medan perang.

"Tuan Muda..." suara Yan terdengar sangat pelan dari ambang pintu, seolah-olah getaran suaranya pun takut mengganggu ketenangan di ruangan itu.

Arka tidak menoleh, tapi matanya yang sehitam obsidian berkilat tajam. "Bicaralah di luar, Yan. Jangan buat ibuku terbangun."

Mereka melangkah ke koridor luas yang berlantai marmer dingin. Yan membungkuk dalam, wajahnya pucat pasi. "Laporan dari informan kami di pusat kota... seluruh aset yang terhubung dengan akun yang Tuan gunakan untuk transaksi giok kemarin telah dibekukan. Pihak otoritas menyebutnya sebagai 'Audit Keamanan Nasional', tapi kami tahu itu adalah tangan-tangan Konsorsium."

Arka menyandarkan punggungnya ke dinding, melipat tangan di dada. "Segel Langit," gumamnya datar. Sebuah senyum tipis, hampir tak terlihat, muncul di sudut bibirnya. "Mereka bergerak lebih cepat dari yang kukira. Mereka pikir dengan mengunci dompetku, aku akan merangkak memohon ampun?"

"Tuan, ini bukan cuma soal uang," Yan menyela dengan suara bergetar. "Tanpa likuiditas, pengawal sewaan di luar sana tidak akan bertahan lama. Mereka hanya loyal pada angka di saldo bank. Jika besok pagi gaji mereka tidak masuk, rumah ini akan menjadi sangkar terbuka bagi Shadow Guard."

Baru saja Arka hendak menjawab, ponsel di saku celananya bergetar hebat. Nama di layarnya membuat kening Arka berkerut: Clarissa Wijaya.

Arka memberi isyarat agar Yan menjauh. Ia mengangkat telepon itu, namun belum sempat ia mengucap salam, suara panik Clarissa sudah menyerbu gendang telinganya.

"Arka! Kau di mana?! Katakan padaku kau tidak sedang berada di rumah Tuan Yan!" suara Clarissa terdengar terengah-engah, seperti seseorang yang baru saja berlari menjauh dari percakapan rahasia.

"Ada apa, Clarissa?" tanya Arka tenang, kontras dengan kepanikan di seberang sana.

"Kau gila! Apa yang kau lakukan pada Gideon Mahesa?!" Clarissa berteriak lirih, suaranya hampir pecah. "Konsorsium baru saja mengadakan pertemuan darurat. Kakekku... dia sangat marah, Arka. Aku belum pernah melihat klan Wijaya mengeluarkan perintah Segel Langit dalam sepuluh tahun terakhir! Mereka tidak cuma menutup akses uangmu, mereka sudah menandai kau sebagai 'Anomali Tingkat Merah'."

Arka berjalan menuju jendela besar, menatap lampu-lampu kota Jakarta yang terlihat seperti permata yang berserakan. "Mereka terlambat, Clarissa. Aku sudah mendapatkan apa yang kuinginkan."

"Kau tidak mengerti!" Clarissa memotong, suaranya kini berbisik tajam. "Shadow Guard Level S sudah dilepaskan. Mereka bukan manusia, Arka. Mereka adalah mesin pembunuh yang dilatih dengan metode kuno yang tidak masuk akal. Dan kakekku... dia setuju untuk menghubungi Tiga Tetua Gunung. Kau tahu siapa mereka? Mereka adalah monster yang seharusnya hanya ada di dalam legenda!"

Arka terdiam sejenak. Tiga Tetua Gunung. Nama itu memicu getaran aneh di dalam Mata Saktinya. Pupil matanya tiba-tiba berdenyut, warna emas tipis mulai merayap di tepian irisnya seolah-olah merespons ancaman yang belum terlihat.

"Kenapa kau memberitahuku semua ini, Clarissa? Bukankah kau salah satu dari mereka? Klan Wijaya adalah pilar Konsorsium," ucap Arka dingin.

Hening sejenak di seberang sana. Hanya terdengar suara napas Clarissa yang berat. "Karena aku tidak ingin melihatmu mati sia-sia seperti serangga, Arka. Kau menyelamatkanku dari kejaran anak buah Mahesa waktu itu, dan... dan aku benci bagaimana Konsorsium menganggap nyawa orang lain hanya sebagai angka di atas kertas."

Clarissa menarik napas panjang. "Dengarkan aku. Jangan gunakan kartu kredit apa pun. Jangan pergi ke bandara. Semua akses keluar kota sudah dijaga oleh unit siber Wijaya. Dan Arka... satu hal lagi. Mereka tahu tentang ibumu. Mereka tahu dia adalah satu-satunya titik lemahmu."

Mendengar kata 'Ibu', aura di sekitar Arka mendadak berubah. Suhu di koridor itu seolah anjlok hingga titik beku. Yan, yang berdiri lima meter di belakangnya, tiba-tiba merasa dadanya sesak, seolah-olah ada tangan raksasa yang meremas paru-parunya.

"Jika mereka menyentuh sehelai rambut ibuku," suara Arka terdengar sangat pelan, namun mengandung daya ledak yang mengerikan, "aku akan memastikan nama Tujuh Klan hanya akan tertulis di batu nisan sejarah."

"Arka, kumohon, lari selagi bisa—"

Klik.

Arka mematikan sambungan telepon. Ia menggenggam ponselnya erat-melihat pantulan matanya sendiri di layar hitam yang kini bersinar emas redup. Evolusi Tahap Dua-nya tidak hanya memberikan kemampuan menyembuhkan, tapi juga meningkatkan sensitivitas indranya ke tingkat yang menakutkan.

Ia bisa mendengar detak jantung Yan yang tak beraturan di belakangnya. Ia bisa mendengar gesekan daun di taman yang berjarak seratus meter. Dan jauh di luar gerbang kediaman Tuan Yan, ia mendengar suara langkah kaki yang sangat teratur. Sangat ringan. Sangat sunyi.

Langkah kaki yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.

"Yan," panggil Arka tanpa menoleh.

"Ya... Ya, Tuan Muda?" Yan menjawab dengan suara tercekik.

"Matikan semua lampu di gedung ini. Suruh semua pengawal bayaranmu pulang. Mereka tidak akan berguna melawan apa yang akan datang," perintah Arka.

"Tapi Tuan, tanpa mereka—"

"Pulangkan mereka, atau mereka akan mati sebagai tumbal yang sia-sia," Arka membalikkan badan. Wajahnya kini tidak menunjukkan emosi apa pun. "Biarkan mereka datang. Mereka ingin melihat iblis muda? Akan kukatakan pada mereka bahwa iblis pun butuh guru, dan aku bersedia memberikan pelajaran pertama."

Arka berjalan kembali ke dalam kamar ibunya. Ia duduk kembali di kursi kayu itu, menggenggam tangan Maria dengan lembut. Di tangan kirinya, ia mengeluarkan sebuah belati kecil dari saku—senjata rampasan dari Tower Regalia.

Di kegelapan ruangan yang kini hanya diterangi cahaya bulan dari celah gorden, Arka berbisik pelan di telinga ibunya yang masih terlelap. "Tidurlah yang nyenyak, Bu. Arka hanya perlu menyapu halaman sebentar."

Tepat saat itu, alarm keamanan di gerbang depan mati secara bersamaan tanpa suara ledakan. Kamera CCTV berubah menjadi statik. Enam bayangan berpakaian hitam ketat, tanpa senjata api namun masing-masing membawa pedang tipis di punggung, melompati pagar tinggi dengan gerakan yang melanggar hukum gravitasi.

Mereka adalah Shadow Guard. Bayangan kematian yang dikirim oleh Konsorsium.

Arka berdiri, matanya bersinar emas terang di tengah kegelapan total. Ia bisa melihat aliran energi merah yang terpancar dari tubuh keenam pembunuh itu—sebuah tanda bahwa mereka adalah praktisi energi dalam tingkat tinggi.

"Satu... dua... enam tikus," gumam Arka.

Ia melangkah keluar kamar, menutup pintu dengan sangat perlahan agar tidak menimbulkan bunyi. Di koridor yang gelap gulita, Arka berdiri tegak, membiarkan auranya meledak keluar seperti gelombang tsunami yang menghantam dinding-dinding gedung.

Malam itu, di kediaman Tuan Yan, sebuah pesan berdarah sedang disiapkan. Bukan dengan kata-kata, tapi dengan nyawa. Arka akan menunjukkan pada Konsorsium bahwa 'Segel Langit' tidak ada artinya bagi seseorang yang memiliki mata yang mampu melihat menembus takdir.

1
SANG
Berlanjut terus💪👍
SANG
Semangat👍
SANG
Lanjut terus
SANG
like👍
Tang xu
terlalu terbuka soal kekuatannya
the misterius author 🐐: buka dikit aja bg belum semua
total 1 replies
the misterius author 🐐
arc 1 tamat lanjut ke Arc 2
SANG
Like, suka
SANG
menarik
SANG
Mampir Thor
the misterius author 🐐: ok bg
total 7 replies
Sules Tiyanto
👍👍,, lanjut Thor,,
the misterius author 🐐: nanti lanjut kan bg
total 1 replies
Gege
dahlah otor menyembah AI buat generate kata..
the misterius author 🐐: bg bukan nyembah itu di gantung cerita nya soal nanti Abraham bakal mati sabr aja
total 1 replies
Gege
yaaah ga dapat duit jadinya si MC.. gass teroos bang 10k kata sekali update...jangan nanggung keluarkan semua...🤭
the misterius author 🐐: fokus perbaiki plot nya sistem si mulut pedas dulu bg
total 1 replies
Manusia Biasa
jadi MC🤣
Manusia Biasa
yakin?? kwk
Manusia Biasa
lanjutt 😂 ditunggu next Thor semangat
the misterius author 🐐: sudah tu thor
total 1 replies
Manusia Biasa
ngakak gw sekilas mikir santet😂
the misterius author 🐐: jangan bg itu paru paru ada gumpalan darah hitam bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
Menarik, novelnya berpotensi masuk jajaran Rekomendasi NT dan halaman beranda

semangat kak👍
the misterius author 🐐: ARKA cocok jadi Sigma 🤣 kak
total 6 replies
Manusia Biasa
potensi menjadi sigma ini mc🗿
the misterius author 🐐: tenang bg nanti bab tertentu ada saingan Clarissa bg 🤣
total 1 replies
Manusia Biasa
seperti biasa🗿
Manusia Biasa
iyalah boss, untuk rakyat jelata kaya kita kita bisa buat generasi beberapa keluarga itu😂
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!