Dimas Anggara laki-laki yang berusia sekitar 33 tahun, nama dan wajahnya akan selalu membuat hati seorang Ratih terhenyak betapa tidak karena sudah lebih dari sepuluh tahun ini orang yang selalu mengisi hari-hari nya itu tiba-tiba pergi begitu saja meninggalkan dirinya tanpa ada salam dan kata perpisahan untuknya.
Dan kini di tengah Ratih sudah mulai bangun dari kerapuhan hatinya tiba-tiba saja dia bertemu kembali dengan Dimas Anggara.
yuk baca kisahnya di sini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isshabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.24 kecurigaan Regan
Regan kembali ke kantornya setelah tadi menemani Ratih makan siang di kantin kantor Ratih.
Ratih pun kembali ke ruang kantornya, tiba-tiba ponselnya bergetar ada pesan masuk dari Dimas yang menggunakan nomor lain untuk menghubungi Ratih agar tidak ketahuan Regan kalau itu nomor milik Dimas.
Ratih segera membuka pesan dari Dimas itu dan membacanya ," Aku tahu tadi Regan datang ke kantor dan mengajak makan siang sama kamu. Kamu bertahan Rat, aku dan Kenzo sudah menemukan rekening bank yang di gunakan Regan untuk menyuap orang dalam ayahmu sepuluh tahun yang lalu, sedikit lagi kita sudah bisa menyeretnya ke hukum."
Ratih meremas ponselnya di dada merasakan harapan yang sangat besar bahwa neraka tempatnya terjebak selama ini sebentar lagi akan runtuh.
...----------------...
Sementara itu Regan yang sudah kembali masuk ke dalam ruang kantornya masih terngiang-ngiang dengan perubahan sikap Ratih tadi sewaktu mereka makan siang di kantin.
Regan merasakan kalau sekarang Ratih sudah tidak takut lagi padanya dan sudah mulai berani menatap mata Regan. Terbukti tadi sewaktu makan siang Ratih sudah berani membantah perkataan Regan yang biasanya Ratih selalu pasrah dengan apapun yang Regan katakan.
"Aneh. Tidak biasanya Ratih bersikap begitu padaku, dia sekarang sudah berani membantah perkataanku. Biasanya dulu dia akan selalu pasrah dan takut sama aku. Ada apa ini? jangan-jangan ini semua ada hubungannya dengan si Dimas itu," Regan bermonolog sendiri, dia mulai menaruh kecurigaan pada Dimas yang kini menjadi atasan Ratih di kantornya.
Kemudian dengan kasar Regan mengambil handphonenya yang dia letakkan di atas meja kerjanya itu.
Regan menelpon kaki tangannya, dia memerintahkan untuk mengawasi setiap jengkal aktivitas Dimas baik di dalam kantor maupun di luar kantor.
"Kamu cari tahu siapa sebenarnya Dimas itu dan cari tahu juga siapa orang yang Dimas temui akhir-akhir ini. Aku mau laporan lengkapnya segera sebelum akhir Minggu ini," perintah Regan dengan kejam.
...----------------...
Sore hari menjelang jam pulang kantor, Regan sengaja datang lagi ke kantor Ratih. Namun, kali ini tujuannya bukan hanya menjemput Ratih, melainkan sengaja mendatangi ruangan Dimas dengan dalih "silaturahmi profesional" atau membahas kerja sama antar-perusahaan.
"Sore Pak Regan," sapa Bu Bella ketika berpapasan dengan Regan di koridor yang menuju ke arah ruang kantor Dimas.
"Sore," jawab Regan pendek sambil menghentikan langkahnya.
"Ada yang bisa saya bantu Pak Regan?" ucap Bu Bella ramah pada Regan.
"Gak ada Bu Bella. Saya cuma mau ketemu Pak Dimas untuk membahas proyek yang baru."
"Oh. Silahkan pak, Pak Dimas ada kok di ruangannya karena barusan saya juga dari ruang kantor Pak Dimas," ucap Bu Bella ramah.
"Ya," Regan menganggukkan kepalanya.
"Apa perlu saya antarkan ke ruangan Pak Dimas, pak?" ucap Bu Bella lagi.
"Tidak usah, saya jalan sendiri ke sana," Regan menolak tawaran Bu Bella.
"Oh, baik pak. Kalau begitu saya permisi pamit," kemudian Bu Bella pun pergi meninggalkan Regan.
Saat ini Regan sudah berada di dalam ruang kantor Dimas. Regan langsung duduk di kursi yang ada di hadapan meja kerja Dimas tanpa menunggu di persilahkan terlebih dahulu oleh Dimas
Dimas merasa kedatangan Regan kali ini agak aneh, Dimas mengira kalau Regan datang ke tempatnya itu ada hal yang membuatnya tidak nyaman.
Suasana di dalam ruangan itu nampak semakin dingin dan mencekam saat kedua pria itu saling bertemu dan berhadapan.
"Ada perlu apa Pak Regan datang kesini? tanya Dimas memecah kesunyian antara mereka berdua.
Regan tersenyum sinis menatap Dimas sambil mengeluarkan kata-kata yang penuh sindiran dan memicu emosi.
"Saya dengar tempo hari mobil Anda mogok saat bersama tunangan saya? Terima kasih sudah menjaga Ratih, Pak Dimas. Tapi lain kali, saya harap Anda lebih becus menjaga aset kantor, agar tunangan saya tidak perlu ikut kesusahan di tempat terpencil." Regan sengaja menekankan kata "tunangan saya" untuk menegaskan kepemilikannya atas Ratih.
Dimas yang sudah dipersiapkan mentalnya oleh Kenzo tidak terpancing sedikit pun. Dia membalas tatapan Regan dengan senyuman profesional yang tenang namun berwibawa.
"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya sebagai atasan, Pak Regan. Di perusahaan ini, keselamatan dan kenyamanan setiap karyawan termasuk Ratih adalah prioritas utama saya. Anda tidak perlu khawatir."
"Bagus. Kalau anda sudah mengerti dan paham tentang keselamatan karyawan," Regan kembali tersenyum mencibir menatap Dimas. Tapi Dimas tetap tak bergeming dengan sikap Regan yang meremehkan dirinya, Dimas tetap tenang menghadapi orang seperti Regan.
Ketenangan Dimas ini justru membuat Regan semakin jengkel dan curiga, karena Dimas tidak terlihat terintimidasi sama sekali seperti pria-pria lain yang biasanya takut pada kekuasaan Regan.
"Oke kalau begitu saya akan pergi. Tapi ingat satu hal Pak Dimas, kalau sampai terjadi apa-apa dengan tunangan saya. Orang yang pertama kali akan saya cari adalah anda," nada suara Regan terdengar tegas dan tajam namun Dimas menanggapinya biasa saja.
Dimas tidak menjawab perkataan Regan dia hanya tersenyum tenang.
Dan akhirnya Regan pun keluar dari ruang kantor Dimas dan kembali ke kantornya.
...----------------...
Di koridor yang menuju ke arah ruang kantor finansial tempat Ratih dan Cindy, terlihat Cindy yang sedang berjalan setengah berlari buru-buru masuk ke dalam ruang kantor finansial tersebut.
"Rat. Gawat Rat," ucap Cindy terengah-engah sambil berdiri di depan meja kerja Ratih.
"Ada apa Cin? Apanya yang gawat?" tanya Ratih ikut bingung melihat sikap Cindy itu.
"Tadi itu pas aku habis dari kamar mandi, aku melihat Regan keluar dari ruang kantor Pak Dimas tadi."
"Hah. Bener?" Ratih mendadak kaget, netranya membulat menatap Cindy.
"Iya bener. Aku tadi benar-benar melihat Regan yang sedang keluar dari ruangan Pak Dimas," Cindy meyakinkan Ratih.
Ratih mengerutkan keningnya sambil bergumam ," Ngapain Regan pergi ke ruangan Dimas? Apa dia membahas proyek yang baru dengan Dimas? Atau....ada hal lain yang dia bicarakan dengan Dimas? Jangan-jangan....," Ratih segera meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Dimas menanyakan kedatangan Regan tadi.
"Dim, kata Cindy tadi Regan datang ke ruang kantor kamu? Apa benar? Terus dia ngapain? Dia tidak melukai kamu kan Dim?" WhatsApp Ratih seperti sedang cemas dan was-was.
Di dalam ruang kantor Dimas. Dimas kelihatan tersenyum setelah membaca WhatsApp dari Ratih.
Dimas sadar kalau Ratih ternyata mengkhawatirkan dirinya, kemudian Dimas mengirim pesan balasan pada Ratih.
"Iya. Tadi Regan ke kantor, tapi kamu tidak usah khawatir, aku juga tidak apa-apa. Regan tidak menyerangku. Dia hanya membicarakan tentang mobil yang mogok malam itu," kata Dimas mencoba menenangkan Ratih.
"Oh, ya sudah kalau begitu Dim," Ratih menutup ponselnya lega.
Malam harinya, saat Regan sudah pulang, ponselnya berdering. Orang suruhannya memberikan laporan awal melalui telepon.
"Bos, kami menemukan bahwa Pak Dimas baru saja mengadakan pertemuan rahasia beberapa kali dengan seorang konsultan keuangan bernama Kenzo. Dan sepertinya... mereka sedang mencoba membuka kembali berkas kasus kebangkrutan perusahaan keluarga Ratih beberapa tahun lalu.
Mendengar hal itu, wajah Regan langsung berubah menjadi sangat gelap dan penuh amarah. Kedoknya terancam terbongkar.
Regan terlihat sangat geram sekali dia meremukkan gelas di tangannya dan bersumpah akan menghabisi Dimas sebelum pria itu bertindak lebih jauh.