NovelToon NovelToon
PENGANTIN ARWAH

PENGANTIN ARWAH

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Lilack Sunrise

Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aroma yang datang tanpa peringatan

Aroma dupa itu datang tiba-tiba. Tipis. Samar. Seperti seseorang yang masuk tanpa permisi.

Kirana diam. Dia sudah tahu polanya sekarang. Dupa tidak pernah datang sendirian. Selalu ada sesuatu yang ikut. Sesuatu yang tidak bisa dia tolak.

Pergelangan tangannya bergerak sendiri.

Bukan sekadar berdenyut ini seperti ada panggilan. Irama yang tadi terasa asing kini berubah jadi lebih dalam, lebih berat. Kirana menahan napas. Tangannya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena tubuhnya seolah tahu apa yang akan terjadi… dan siap menyambutnya.

Lalu suara itu muncul.

Bukan dari luar. Bukan dari belakang. Suara itu muncul tepat di dalam kepalanya, jelas, utuh, seolah sudah lama tinggal di sana.

"Kamu terlambat."

Dua kata. Ringan. Tapi langsung menekan dadanya.

Kirana tersentak. Tangannya refleks memegang pergelangan yang berdenyut itu, seperti bisa menghentikan sesuatu yang sudah berjalan. Tapi tidak ada yang berhenti. Malah sebaliknya dunia di sekitarnya mulai terasa aneh.

Lampu jalan redup. Suara kendaraan menjauh. Udara jadi berat.

Dan kilasan itu datang.

Bukan seperti mimpi. Tidak kabur. Terlalu jelas.

Kirana melihat dirinya duduk.

Di depan meja kayu yang sama.

Dua cangkir.

Uap tipis.

Tangannya bukan tangan yang sekarang terletak di atas meja. Lebih tenang. Lebih yakin. Dan di seberangnya… seseorang. Wajahnya tidak jelas. Tapi keberadaannya begitu kuat sampai Kirana bisa merasakan tatapannya menempel di kulit.

"Kamu selalu nanya hal yang sama," suara itu terdengar lagi.

Dan Kirana dalam kilasan itu tertawa kecil.

Tawa itu membuat dadanya di dunia nyata langsung sesak.

Karena dia tidak pernah tertawa seperti itu. Ringan. Tanpa beban.

Kilasan itu berlanjut.

Tangannya mengangkat cangkir. Uapnya menyentuh wajah. Hangat. Akrab.

Dan di detik itu......

Dada Kirana di dunia nyata terasa seperti ditusuk dari dalam.

Napasnya tersangkut. Tubuhnya membungkuk. Tangannya menekan dada. Bukan sakit biasa. Ini lebih seperti… kehilangan yang datang tiba-tiba.

Air matanya jatuh.

Cepat. Tanpa izin.

Kirana bahkan tidak sadar kapan mulai menangis.

Karena rasa itu tidak punya nama. Bukan sedih. Bukan takut. Ini seperti merindukan sesuatu yang belum pernah dia miliki.

"Jangan lagi," suara itu berbisik.

Kilasannya mulai pecah. Sosok di seberang meja itu condong ke depan. Ada gerakan tangan mungkin ingin menyentuh.Dan untuk pertama kalinya, satu detail tidak hilang.Jari.Seseorang itu memakai cincin perak. Tipis. Dengan goresan kecil di dalamnya.

kirana menatapnya dan tubuhnya bereaksi lebih dulu.Pergelangan tangannya berdenyut lebih keras.

Sekali.

Dua kali.

Lalu sinkron. Persis seperti di kilasan itu.

Kirana tersentak kembali ke dunia nyata. Napasnya kacau. Dunia kembali terasa nyata lampu jalan, suara kendaraan, dingin malam.

Tapi rasa di dadanya tidak hilang.

Masih ada.

Seperti bekas sesuatu yang baru saja dicabut paksa.

Tangannya masih memegang pergelangan sendiri. Denyutnya sekarang lebih cepat. Tidak lagi terasa asing dan itu justru yang membuatnya takut.

Karena itu artinya… tubuhnya mulai mengenali sesuatu yang pikirannya tidak tahu.

"Kamu siapa…" bisiknya lirih.

Tidak ada jawaban.

Tapi aroma dupa itu belum pergi.

Masih di udara. Lebih tipis sekarang, tapi cukup untuk mengingatkan bahwa semua ini bukan kebetulan.

Ini pola.Dan Kirana baru saja masuk lebih dalam.

Dia menutup mata sebentar, mencoba mengatur napas. Tapi yang muncul justru potongan lain lebih singkat, seperti kilatan.

Tangan yang sama.

Cincin yang sama.

Dan suara itu, lebih pelan, seperti janji yang diucapkan terlalu dekat:

"Kamu pernah milih tinggal."

Mata Kirana terbuka.

Jantungnya berhenti sedetik sebelum berdetak lebih keras.

Dia berdiri di trotoar yang sama. Dunia terlihat sama. Tidak ada yang berubah. Tapi sesuatu di dalam dirinya sudah bergeser. Halus. Hampir tidak terlihat. Tapi cukup untuk membuat semua yang dia tahu terasa… tidak bisa dipercaya lagi.

Tangannya perlahan turun dari pergelangan.

Jarinya masih bergetar.

Dia menatap kosong ke depan, ke tempat di mana meja itu tadi "muncul".

Sekarang tidak ada apa-apa.

Kosong.

Normal.

Terlalu normal.

Dan itu justru yang membuat tenggorokannya terasa kering.

"Yang palsu itu…" suaranya pelan.

Kalimat itu menggantung.

Karena untuk pertama kalinya, dia tidak yakin apakah dia siap mendengar jawabannya.

Apakah ini semua yang dia jalani, semua yang dia ingat yang palsu?

Atau justru kilasan itu… yang terasa lebih hidup dari apa pun yang pernah dia rasakan… adalah kebohongan yang dibuat terlalu sempurna?

Kirana menelan ludah.

Tidak ada yang berubah di luar.

Tapi di dalam retakan itu sudah ada.

Dan dia tahu, cepat atau lambat, sesuatu akan masuk melalui celah itu.

Denyut di pergelangan tangannya berdetak lagi.

Pelan.

Sabar.

Seolah menunggu.

Bukan menunggu Kirana mengerti.

Tapi menunggu Kirana menyerah.

1
Dania
semangat tor
byyyycaaaa
keren,lanjutkan thorr
no more dreams
bagusssssss
Na Er
bagus
byyyycaaaa
lanjut dong thor
CIngakuu🦁: siap kak😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!