NovelToon NovelToon
Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Dua Wajah Dibalik Satu Lencana

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / TKP
Popularitas:212
Nilai: 5
Nama Author: Chocolate Chase

Menceritakan tentang seorang mantan pembunuh berantai, yang di bebaskan untuk membantu polisi dalam memecahkan sebuah kasus, yang kemudian membuat dirinya secara resmi menjadi konsultan khusus kepolisian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolate Chase, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Twist Yang Tak Terduga

Arthur Rutherford duduk sendirian di dalam ruang kerja sementara yang berada di markas tim investigasi khusus. Lampu meja kayu di hadapannya sengaja dinyalakan redup, membuat ruangan itu hanya ditemani oleh pendaran cahaya dari layar laptop serta tumpukan map berkas kasus yang semakin hari semakin menebal. Malam sudah merayap sangat larut, jarum jam dinding digital di sudut ruangan menunjukkan pukul 02.17 dini hari. Suasana di dalam apartemen pengawasan yang terletak di lantai atas gedung terasa terlalu sepi dan sunyi. Manuel sudah beranjak tidur sejak satu jam yang lalu, sedangkan Elena juga sudah kembali ke dalam kamarnya setelah menghabiskan waktu berjam jam membantu melacak lalu lintas data digital. Namun Arthur sama sekali tidak bisa memejamkan kedua matanya.

Ia membuka kembali semua dokumen file yang mereka miliki secara berurutan. Foto jasad Jennifer Cartter yang tergantung terbalik seperti potongan karkas babi potong. Foto profil Mia Thompson yang dilaporkan hilang misterius sejak tiga minggu yang lalu. Hasil analisis forensik mendalam mengenai helai rambut cokelat halus. Rekaman video kamera pengawas area pelabuhan yang sempat rusak. Aliran dana transfer uang dari rekening Harlan menuju ke rekening pribadi Thabo. Hingga lembaran catatan hasil interogasi Harlan kemarin sore. Semua lembaran bukti yang berhasil mereka kumpulkan selama ini ditatapnya satu per satu

Arthur menolak untuk menyerah pada rasa kantuk. Ia mencoba mencocokkan setiap detail kecil yang ada secara teliti, bergerak persis seperti orang yang sedang menyusun kepingan teka teki raksasa yang rumit. Sepasang mata hijaunya sama sekali tidak menunjukkan tanda tanda lelah, sementara jemari tangannya bergerak dengan sangat cepat di atas permukaan trackpad laptop untuk membuka, menutup, membandingkan, serta menuliskan beberapa catatan kecil di atas selembar kertas putih.

"Semua alur ini terasa sangat tidak masuk akal jika dipikirkan kembali," gumam Arthur dengan nada suara pelan pada diri sendiri. "Jika Harlan terbukti hanya sesosok pria tua biasa yang ketakutan, dan Thabo hanyalah seorang karyawan toko yang dipaksa di bawah ancaman, lalu siapa sebenarnya sosok yang benar benar mengeksekusi Jennifer secara keji? Dan untuk alasan apa helai rambut milik Mia Thompson bisa tertinggal di dalam ruangan dingin itu?"

Ia membuka kembali dokumen file kasus orang hilang atas nama Mia Thompson. Gadis muda berusia 16 tahun tersebut resmi dilaporkan menghilang oleh kedua orang tuanya sejak tiga minggu yang lalu di area pelabuhan. Foto identitas sekolahnya memperlihatkan sebuah guratan senyuman yang sangat polos, memiliki karakteristik rambut cokelat yang panjang, serta sepasang mata cokelat yang cerah. Tidak ada catatan kriminal apa pun di masa lalunya, dan tidak ada masalah kedisiplinan di sekolahnya. Ia tampak seperti seorang gadis remaja biasa pada umumnya yang tiba tiba saja lenyap ditelan bumi.

Arthur memperbesar skala gambar resolusi helai rambut yang ditemukan di lokasi kejadian perkara. Ia kemudian membandingkannya secara berdampingan dengan sampel karakteristik rambut Mia yang tersimpan di dalam database nasional. Hasilnya terbukti cocok sempurna tanpa ada celah sedikit pun.

Namun ada satu detail kejanggalan yang aneh yang luput dari perhatian tim forensik lapangan.

Ia membuka kembali rekaman video kamera pengawas pelabuhan yang sempat Elena pulihkan beberapa waktu lalu. Pada salah satu cuplikan frame video yang tampak samar dan buram, terlihat siluet sesosok orang misterius yang mengenakan jaket bertudung sedang berjalan mengendap endap menuju ke arah toko jagal pada malam kejadian pembunuhan. Karakteristik postur tubuh dari siluet tersebut terlihat sangat kecil, ramping, dan memiliki ritme langkah kaki yang ringan, sebuah postur yang jelas bukan mencerminkan tubuh dari seorang pria dewasa.

Tubuh Arthur Rutherford seketika membeku di tempat duduknya saat menyadari sesuatu hal.

Ia langsung membuka file dokumen yang lain, yaitu berkas laporan kronologi hilangnya Mia Thompson. Berdasarkan data laporan dari pihak keluarga, tanggal hilangnya gadis itu ternyata terjadi tepat beberapa hari sebelum jasad Jennifer Cartter ditemukan tewas mengenaskan dengan kondisi dada terbelah.

Arthur mulai menyusun ulang seluruh timeline urutan kejadian di atas selembar kertas baru. Ia menuliskan setiap poin dengan gerakan tangan yang sangat cepat, di mana telapak tangannya hampir bergetar hebat akibat luapan hormon adrenalin yang mendadak membanjiri tubuhnya.

Garis waktu pertama menunjukkan Mia dilaporkan menghilang sejak tiga minggu yang lalu. Garis waktu kedua menunjukkan Jennifer dieksekusi secara keji pada empat hari yang lalu. Dan poin ketiga menunjukkan helai rambut milik Mia ditemukan tertinggal di lokasi kejadian perkara Jennifer.

Arthur menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa, napasnya sempat tertahan selama beberapa detik di tenggorokan. Kemudian sebuah senyuman tipis perlahan terukir di bibirnya, sebuah senyum dingin yang sarat akan nuansa getir dan pahit.

"Dia sebenarnya sama sekali tidak pernah menghilang dari kota ini," gumam Arthur dengan suara lirih. "Dialah sosok asli yang melakukan seluruh aksi keji ini sejak awal."

Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, Arthur langsung bergerak menghubungi kamar Manuel dan Elena untuk memanggil mereka turun. Lima belas menit kemudian, kedua rekannya itu sudah tampak melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan raut wajah yang masih diliputi rasa mengantuk namun sekaligus tegang karena panggilan darurat dari Arthur.

"Apa sebenarnya hal krusial yang berhasil kau temukan di tengah malam buta begini, Arthur" tanya Manuel sambil mengusap kedua matanya yang masih terasa berat.

Arthur tidak langsung memberikan jawaban secara verbal. Ia melangkah mendekat lalu menunjuk ke arah papan bukti yang posisinya sudah ia susun ulang sepenuhnya.

"Sampel helai rambut cokelat itu memang terbukti secara ilmiah sebagai milik Mia Thompson. Namun kalian harus tahu bahwa Mia bukanlah sesosok korban baru di dalam pusaran kasus ini. Mia Thompson adalah pelaku utama yang mengeksekusi Jennifer.

Ruangan kerja tim seketika berubah menjadi hening total mendengar pernyataan tidak terduga dari Arthur.

Elena mengerutkan keningnya dalam dalam, merasa sangat heran dengan kesimpulan tersebut. “Apa sebenarnya maksud dari analisismu itu, Rutherford?”

Arthur mulai memberikan penjelasan dengan nada suara yang tenang namun terdengar sangat tegas, memaparkan analisisnya langkah demi langkah di depan kedua rekannya.

“Mia dengan sengaja memalsukan laporan kehilangannya sendiri sejak tiga minggu yang lalu untuk membangun sebuah alibi di mata hukum. Ia kemudian dengan sengaja meninggalkan beberapa helai rambut cokelat miliknya di lokasi kejadian perkara Jennifer dengan tujuan untuk mengelabui proses penyelidikan tim kita agar kita mengira dia adalah korban berikutnya. Ia mengeksekusi Jennifer secara keji, kemudian memanfaatkan Tuan Harlan dan Thabo sebagai umpan pengalih perhatian kita. Harlan hanyalah seorang pria tua yang ketakutan karena diancam, sementara Thabo hanyalah seorang karyawan yang dipaksa di bawah tekanan untuk membersihkan sisa sisa aliran darah di lokasi kejadian. Sosok pembunuh berdarah dingin yang sesungguhnya di dalam kasus ini adalah Mia Thompson sendiri."

Manuel seketika terduduk lemas di atas kursi kerjanya, merasa sangat terkejut dengan fakta baru tersebut. "Seorang gadis remaja yang baru berusia 16 tahun? Bagaimana mungkin ia bisa tega membunuh dan membelah bagian dada manusia dengan rapi seperti hasil kerja seorang jagal profesional?"

Arthur mengangguk pelan memberikan pembenaran. "Detail itulah yang membuat seluruh rencana pembunuhannya berjalan dengan sangat sempurna di lapangan. Tidak akan ada satu pun petugas polisi yang akan menaruh rasa curiga pada sosok seorang gadis remaja yang polos. Ia memilih untuk menggunakan area toko jagal milik Tuan Harlan karena ia sudah mengetahui dengan pasti seluk beluk lokasinya. Ia menggantung jasad Jennifer terbalik seperti daging konsumsi karena ia ingin tim kita berasumsi bahwa ini adalah hasil perbuatan sadis dari orang dewasa. Dan keberadaan helai rambutnya sengaja ditinggalkan di sana sebagai sebuah jebakan psikologis untuk kita semua. Saat ini ia dipastikan masih hidup, dan ia masih bebas berkeliaran di luar sana."

Elena menatap lurus ke arah wajah Arthur dengan sepasang mata birunya yang melebar sempurna, memancarkan rasa takjub yang luar biasa di dalam dirinya. "Kau… kau benar benar berhasil menyingkap seluruh kebenaran tersembunyi ini hanya dengan bermodalkan sehelai serat benang kuning dan beberapa helai rambut saja?”

Arthur mengulas sebuah senyuman tipis menanggapi kekaguman Elena. "Aku hanya mencoba untuk mencocokkan setiap detail bukti yang ada dengan alur logika yang tepat. Dan seluruh hasil analisis terbukti mengarah langsung pada sosok Mia. Kita harus bergerak dengan cepat sekarang, ia masih berada di luar sana."

Anggota tim investigasi khusus itu langsung bergerak aktif tanpa membuang waktu. Manuel segera menghubungi markas pusat untuk mengaktifkan tim pencarian dalam skala besar besaran di seluruh penjuru kota. Di sudut meja, Elena bergerak cepat melacak koordinat sinyal ponsel pintar serta riwayat transaksi kartu rekening milik Mia yang ternyata diam diam masih berstatus aktif. Sementara Arthur memilih untuk tetap duduk tenang di depan papan bukti, sepasang mata hijaunya tetap terjaga tanpa menunjukkan rasa lelah sedikit pun.

Malam yang pekat perlahan mulai berubah menjadi sebuah pagi yang cerah memayungi kota New York. Dan akhirnya, tepat pada pukul 06.45 pagi, Elena berhasil menemukan titik lokasi koordinat terakhir dari aktivitas Mia Thompson, yaitu menempati sebuah bangunan gudang kosong tua yang berada di area pinggiran pelabuhan Manhattan.

Mereka bertiga bersama dengan iring iringan pasukan tim SWAT langsung bergegas menuju ke titik lokasi kejadian dengan kecepatan penuh.

Begitu pintu besi gudang tua itu berhasil didobrak paksa oleh petugas, pemandangan di dalam ruangan seketika mengejutkan mereka semua. Mereka menemukan sosok Mia Thompson sedang duduk tenang di atas sebuah kursi kayu sambil mengulas sebuah senyuman manis yang dingin. Karakteristik rambut cokelat panjangnya tampak tergerai rapi, sementara tangan kanannya terlihat sedang memegang sebilah pisau jagal besar yang masih menyisakan noda darah segar yang menetes ke lantai.

"Langkah pergerakan kalian semua tergolong sangat lambat untuk ukuran tim khusus,ji kata Mia dengan nada suara yang terdengar sangat lembut dan tenang. “Aku sebenarnya sudah menunggu kedatangan kalian di tempat ini sejak lama."

Arthur mengambil langkah kaki maju ke depan, sepasang mata hijaunya menatap lurus ke arah sepasang mata milik gadis berusia 16 tahun itu dengan pandangan yang dalam. "Apa sebenarnya alasan yang membuatmu tega melakukan semua perbuatan keji ini, Mia?"

Mia Thompson justru mengulas sebuah senyuman lebar yang tampak sangat mengerikan, tidak sejalan dengan wajah polosnya. “Karena di mataku, seluruh dunia ini dipenuhi oleh tumpukan daging mentah yang berjalan. Dan aku pribadi hanya ingin memotong motong daging tersebut untuk kepuasan diriku sendiri."

Misteri pembunuhan atas mendiang Jennifer Cartter dan teka teki hilangnya Mia Thompson akhirnya resmi terungkap sepenuhnya hari itu. Sosok gadis remaja yang memalsukan kehilangannya sendiri terbukti sebagai pelaku tunggal yang kejam. Anggota tim investigasi khusus bersama pasukan SWAT berhasil melakukan tindakan penangkapan terhadap Mia tanpa ada aksi perlawanan fisik yang berarti.

Malam harinya di dalam area apartemen pengawasan, Arthur tampak sedang duduk santai di balkon luar sendirian sambil menikmati embusan angin malam kota New York. Elena kemudian melangkah keluar menyusulnya, lalu mendudukkan diri tepat di samping posisi Arthur dalam sebuah keheningan yang terasa sangat nyaman bagi mereka berdua.

'Apakah perasaanmu baik baik saja setelah semua kejadian hari ini, Rutherford?" tanya Elena dengan nada suara yang terdengar jauh lebih lembut dari biasanya.

Arthur tersenyum tipis, pandangan matanya menatap lurus ke arah gemerlap lampu lampu kota Manhattan di depan mereka. "Aku perlahan mulai merasa bosan karena harus terus menerus menangkap sosok monster di dunia ini, Elena. Namun setidaknya untuk hasil kerja keras kita kali ini, tim kita berhasil memenangkan pertarungan dengan baik."

Elena terdiam membisu mendengar jawaban Arthur. Secara diam diam dari samping, ia perlahan menggeser tangannya lalu menyandarkannya lembut di atas pundak kokoh Arthur, sebuah gestur tubuh hangat yang mencerminkan debaran benih benih rasa cinta di dalam hatinya yang kini telah tumbuh menjadi semakin kuat dan mengakar nyata.

Misteri kasus ketiga mereka telah resmi diselesaikan dengan tuntas malam hari itu. Namun Arthur Rutherford tahu betul di dalam hatinya, bahwa di luar sana masih ada terlalu banyak kegelapan dan misteri rumit lain yang sedang menanti kedatangan tim mereka berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!