NovelToon NovelToon
PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

PUTRI TERKUTUK DAN KESATRIANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:7.9k
Nilai: 5
Nama Author: Archiemorarty

Tiga tahun setelah perang besar melawan Abyss, dunia tak pernah benar-benar pulih.

Retakan neraka muncul di berbagai penjuru benua, memuntahkan monster, iblis, dan roh-roh jahat yang merasuki manusia.

Rowan Desmond, kesatria terkuat dari Kerajaan Aurelius telah menghabiskan tiga tahun memburu petaka yang tak kunjung berakhir.

Sampai suatu malam Rowan menangkap seorang pencuri bernama Cecilia Landon yang mencuri relik kuno milik kerajaan. Namun Cecilia menyimpan kemampuan besar, dimana ia dapat melihat roh, mendengar bisikan arwah, dan memurnikan kegelapan yang sangat dibutuhkan oleh Rowan.

Rowan akhirnya membuat sebuah perjanjian; Ia akan membantu Cecilia mengumpulkan relik-relik yang diburunya. Sebagai gantinya, Cecilia harus membantu Rowan menghadapi roh-roh yang mengancam seluruh benua.

Namun semakin jauh perjalanan mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak, tentang Cecilia yang ternyata terkutuk.

Akankah mereka mampu menyelamatkan dunia atau justru kehilangan satu sama lain

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Archiemorarty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 34. SUARA YANG KINI TERDENGAR

Para kesatria masih berjaga di berbagai titik penting.

Para pelayan bergerak hilir mudik membersihkan sisa kekacauan.

Sementara para tabib kerajaan bekerja tanpa henti merawat mereka yang terluka.

Namun di salah satu sayap istana yang paling tenang, terdapat sebuah kamar tamu kerajaan yang kini dijaga lebih ketat dari biasanya. Karena di dalam ruangan itu sedang beristirahat seseorang yang baru saja menyelamatkan puluhan nyawa; Putri Cecilia.

Langkah kaki beberapa orang terdengar di koridor.

Kaisar berjalan paling depan, di sampingnya Permaisuri.

Disusul Aaron dan Evan yang mengekor di belakang.

Sementara Rowan berjalan paling belakang. Sejak mendengar Cecilia sadar, tak ada satu kata pun keluar dari mulut pria itu. Pikirannya terlalu penuh dan kacau. Nama yang sejak tadi menghantui benaknya masih terus bergema.

Rowan mengepalkan tangannya, alu melepaskannya lagi, kemudian mengepalkannya kembali. Bahkan dirinya sendiri tidak menyadari kebiasaan itu sejak beberapa saat lalu.

Aaron yang berjalan di depannya melirik sekilas, namun memilih diam. Karena ia tahu tidak ada kata-kata yang bisa menenangkan Rowan saat ini.

Mereka akhirnya berhenti di depan pintu kamar.

Dua kesatria penjaga segera membungkuk hormat.

"Yang Mulia," sapa kedua Kesatria penjaga tersebut.

Kaisar mengangguk. "Bagaimana kondisinya?"

"Sang Putri sudah sadar dan sedang diperiksa tabib," jawab salah satu kesatria penjaga.

Kaisar menghela napas lega. "Kami akan masuk."

Pintu pun dibuka. Ruangan itu cukup luas. Lampu kristal sihir menerangi seluruh sudut dengan cahaya hangat.

Aroma obat-obatan memenuhi udara.

Di atas tempat tidur besar dekat jendela, Cecilia terlihat duduk bersandar pada tumpukan bantal.

Wajahnya memang masih sedikit pucat. Namun jauh lebih baik dibandingkan beberapa jam sebelumnya.

Di samping tempat tidurnya berdiri seorang tabib kerajaan yang sedang memeriksa denyut nadinya.

Cecilia tampak sedang mengobrol santai dengan pria tua itu.

"... jadi saya benar-benar tidak boleh bergerak banyak?" tanya Cecilia pada Tabib.

"Tidak boleh," jawab Tabib santai.

"Tidak boleh sedikit pun?" tanya Cecilia yang seperti anak kecil dilarang kemana-mana saat sakit.

"Tidak," jawab Tabib lagi.

"Kalau hanya berjalan?" Cecilia tak menyerah.

"Juga tidak," jawab Tabib kembali tak merasa terganggu dengan pertanyaan yang dilemparkan oleh sang Putri.

Cecilia menghela napas panjang. "Itu hukuman yang sangat kejam."

"Hukuman yang lebih kejam adalah tubuh Anda berhenti berfungsi karena memaksa diri terlalu jauh, Putri," kata sang Tabib tak mau kalah.

Cecilia langsung cemberut. Dan saat itulah matanya melihat ke arah pintu.

"Yang Mulia?" Wajah Cecilia langsung sedikit cerah.

Permaisuri bahkan tidak menunggu lebih lama. Wanita itu berjalan cepat menuju tempat tidur.

"Cecilia!"

Sebelum gadis itu sempat berkata apa-apa, Permaisuri sudah duduk di tepi ranjang dan memeluknya erat.

Cecilia terkejut sesaat, lalu perlahan tersenyum.

"Kau ini selalu membuat orang lain khawatir. Padahal kau baru saja sadar dan belum pulih. Tapi kau malah melawan monster seperti orang gila." Permaisuri mengusap rambut sang gadis. Nada suaranya terdengar kesal, namun penuh kasih sayang.

Cecilia tertawa kecil.

Permaisuri masih terus mengomel. "Sudah kukatakan untuk tidak membahayakan dirimu lagi. Tapi kau tidak pernah mendengarkan."

"Kondisinya membuatku mau tidak mau melawan. Kalau aku tidak melawan aku akan mati di sana. Monster-monster itu tiba-tiba datang dan menyerang," jawab Cecilia santai.

Permaisuri melepaskan pelukannya, lalu menangkup wajah Cecilia dengan kedua tangan. Ia menatap gadis itu dari dekat. Memastikan tidak ada luka yang terlewat.

"Bagaimana kondisimu? Ada yang sakit? Luka?" tanya Permaisuri.

Cecilia menjawab jujur. "Seluruh tubuhku sakit. Sepertinya ototku kaget karena terlalu banyak bergerak."

Permaisuri langsung mencubit pipi Cecilia.

"Aduh!" ringis Cecilia.

"Bukan terlalu banyak bergerak. Tabib bahkan mengatakan kau bertarung sampai melampaui batas tubuhmu. Kau ini benar-benar tidak bisa menjaga diri sendiri, ya," omel Permaisuri.

Cecilia meringis, namun kemudian tertawa kecil.

Kaisar yang melihat itu akhirnya ikut tersenyum.

"Permaisuri, Putri Cecilia masih belum sehat. Jangan seperti itu," tegur Kaisar.

Permaisuri mendengus. "Habisnya dia nakal sekali. Kubilang jangan masuk zona bahaya. Malah menerobos ke sana. Kau juga tadi mengomel karena dia lagi-lagi dalam bahaya, kan?"

Kaisar terdiam, lalu batuk kecil karena itu memang benar. Beliau tidak bisa membantahnya.

Melihat reaksi Kaisar membuat Cecilia kembali tertawa pelan. Namun tawanya perlahan mereda ketika ia menyadari sesuatu.

Semua orang memang terlihat lega.

Tapi ada sesuatu yang berbeda, terutama Rowan yang sejak tadi diam dan tidak melihat Cecilia.

Kaisar akhirnya menarik kursi. "Cecilia?"

"Ya, Yang Mulia?"

"Sebenarnya kami datang ke sini untuk menanyakan sesuatu," kata sang Kaisar.

"Silahkan," jawab Cecilia.

Kaisar mengangguk, lalu menoleh ke arah Rowan.

Namun pria itu tidak bergerak, hanya berdiri diam dengan pandangan ke bawah.

Cecilia semakin bingung.

"Apakah aku berbuat salah? Kenapa semua orang terlihat tegang? Dan apa Rowan marah padaku?" Akhirnya Cecilia bertanya.

"AKU TIDAK MARAH PADAMU," ujar Rowan.

Jawaban itu keluar begitu cepat hingga semua orang terkejut, termasuk Rowan sendiri.

Cecilia berkedip.

Rowan terlihat sedikit panik seolah takut Cecilia salah paham.

"Aku tidak marah. Sama sekali tidak," kata Rowan.

Cecilia semakin bingung. "Kalau begitu ada apa?"

Akhirnya Kaisar menghela napas. "Kami ingin menanyakan sesuatu tentang bagaimana kau bertarung melawan monster-monster itu."

Dan dalam sekejap ekspresi Cecilia berubah, tidak drastis namun cukup untuk disadari semua orang.

Senyumnya menghilang. Matanya sedikit meredup, seolah ia memang sudah mengetahui pertanyaan ini akan datang. Perlahan gadis itu melirik Rowan.

Pria itu sedang mengepalkan tangannya. Begitu kuat hingga buku jarinya memutih.

Dan Cecilia langsung mengerti, jadi itu alasannya Rowan seperti itu.

Evan maju satu langkah. "Putri, aku yakin kau memahami maksud pertanyaan itu. Bagaimana kau bisa menggunakan teknik pedang milik keluargaku?" tanyanya.

Cecilia tidak langsung menjawab. Tatapannya justru kembali mencari Rowan sangat lama, seakan sedang memertimbangkan sesuatu.

Haruskah ia mengatakan ini?

Haruskah ia membuka rahasia yang selama ini ia simpan?

Permaisuri yang melihat keraguan itu akhirnya berbicara.

"Tidak apa-apa. Katakan saja. Kami hanya ingin tahu bagaimana kau bisa mempelajari ilmu pedang keluarga Ravens," kata Permaisuri.

"Rowan?" panggil Cecilia.

Pria itu langsung tersentak, tidak menyangka akan dipanggil. Matanya bertemu dengan mata Cecilia.

"Ada yang ingin bicara denganmu. Sudah lama sekali," kata Cecilia.

Rowan menegang. Jantungnya berdetak semakin keras. Karena jauh di dalam dirinya, ia sudah menduga. Bahwa jika ia bertemu Cecilia saat ini, maka Rowan akan menghadapi sesuatu yang selama ini ia hindari. Namun sekaligus sesuatu yang paling ia rindukan.

Cecilia melanjutkan, "Selama ini dia selalu bersamamu. Mengikutimu ke mana pun kau pergi.Bahkan saat pertama kali kita bertemu, di malam ketika aku mencuri relik di penjara. Aku sudah melihatnya. Dia selalu berjalan di belakangmu. Berusaha bicara padamu. Berusaha memanggilmu. Tapi kau tidak pernah bisa mendengarnya."

Tubuh Rowan mulai gemetar, benar-benar gemetar. Bukan karena marah. Bukan karena takut pada Cecilia. Melainkan karena ia mulai mengetahui ke mana arah pembicaraan ini. Dan ia tidak yakin siap mendengarnya.

Suara Rowan terdengar serak, "A-apakah dia sebenci itu padaku? Apakah dia membenciku karena aku membuatnya mati? Apa itu sebabnya dia terus mengikutiku? Karena aku yang membuatnya meninggal. Atau karena aku-"

"Rowan." Cecilia memotongnya. Suara gadis itu begitu lembut.

Dan entah kenapa membuat Rowan langsung terdiam.

Cecilia menatapnya. "Jika kau ingin tahu apa yang dia rasakan maukah kau bicara dengannya secara langsung?"

Rowan membelalak.

Kaisar mengernyit. "Apa maksudmu? Siapa orang yang terus mengikuti Rowan? Apakah seorang penguntit?"

Cecilia menoleh pada Kaisar lalu menggeleng. "Bukan," jawabnya.

"Lalu siapa?" tanya Kaisar penasaran.

"Anda tahu kemampuan saya, bukan?" Cecilia menatap sang Kaisar.

Kaisar mengangguk perlahan. "Kemampuan supranatural. Kau bisa melihat dan berbicara dengan roh dan segala sesuatu yang berhubungan dengan alam tidak terlihat."

"Benar." Cecilia mengangguk. Lalu mengucapkan kalimat yang membuat seluruh ruangan menegang. "Dan orang yang selalu mengikuti Rowan adalah roh," sambungnya.

"Roh apa? Apakah roh jahat?" Kali ini Aaron yang bertanya, waspada akan kemungkinan bahaya lagi.

"Bukan Roh jahat. Tapi roh seseorang yang sangat dekat dengan Rowan; Tuan Colton," jawab Cecilia.

Seolah petir menyambar ruangan semua orang terkesiap.

Aaron langsung mengernyit tajam.

Dan Rowan bahkan terlihat seperti kehilangan kemampuan bernapas.

Aaron akhirnya buka suara. "Maaf, Putri. Saya tidak bermaksud meragukan Anda. Tapi Kapten Colton meninggal dua tahun lalu. Dalam pertempuran melawan monster Abyss."

Cecilia mengangguk. "Benar."

"Lalu bagaimana mungkin-" Aaron tidak paham.

"Karena dia belum pergi," jawab Cecilia langsung.

Aaron terdiam.

Cecilia melanjutkan, "Dia belum bisa menuju tempat peristirahatan yang damai. Masih ada sesuatu yang mengikatnya di dunia ini."

Ruangan kembali sunyi.

Dan kali ini Rowan yang berbicara, dengan suara yang hampir pecah, "Kurasa aku tahu alasannya."

Semua orang menoleh.

Rowan menunduk. "Aku penyebabnya. Dia marah padaku. Aku yanh membuatnya terbunuh. Dan sekarang dia tidak bisa beristirahat karena membenciku. Dia menghantuiku selama dua tahun."

Lalu sesuatu berubah.

Tatapan Cecilia berubah, ekspresinya, bahkan cara duduknya berubah. Seolah dalam satu kedipan mata ada orang lain yang sedang memandang mereka dari balik mata itu.

Dan ketika suara berikutnya keluar dari gadis itu semua orang langsung membeku. Karena yang terdengar bukan nada dan gaya bicara Cecilia.

"Rowan?" Suara itu terdengar lebih berat, matang. "Itu tidak benar. Aku tidak pernah membencimu. Tidak bahkan untuk satu detik pun."

Rowan membelalak.

Cecilia perlahan turun dari tempat tidur, padahal beberapa saat lalu ia bahkan kesulitan bergerak. Namun sekarang gerakannya berbeda.

Gadis itu berjalan beberapa langkah, lalu berlutut tepat di hadapan Kaisar dan Permaisuri, gerakan itu begitu sempurna.

Begitu khas seperti seorang kesatria veteran.

Hingga Evan dan Aaron langsung menahan napas. Mereka tahu jelas itu adalah salam hormat Kesatria kepada penguasa negeri ini.

Cecilia meletakkan tangan di dada, lalu menundukkan kepala.

"Kepada Matahari dan Bulan Aurelius. Colton Normand memberi salam, Yang Mulia," ucap Cecilia.

Hening.

Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Bahkan udara terasa membeku.

Permaisuri menutup mulutnya.

Kaisar membelalak.

Aaron dan Evan terlihat kehilangan kata-kata.

Sementara Rowan matanya mulai dipenuhi air mata, karena di hadapannya bahkan nama itu.

Semuanya adalah milik satu orang. Orang yang telah meninggal dua tahun lalu.

Bibir Rowan bergetar dengan suara yang hampir pecah.

"Paman Colton?" panggil Rowan.

Perlahan. Sosok yang mengenakan tubuh Cecilia itu mengangkat wajahnya, lalu tersenyum.

Senyum yang begitu akrab. Begitu hangat. Hingga membuat pertahanan Rowan runtuh seketika.

"Akhirnya aku bisa bicara denganmu, Rowan," ucap Cecilia.

Dan pada saat itu tak seorang pun di ruangan itu lagi meragukan apa yang sedang terjadi.

Karena yang berlutut di hadapan mereka sekarang bukan Cecilia. Melainkan roh Kapten Pasukan Khusus Ravens. Kesatria yang telah gugur dua tahun lalu; Colton Normand.

Yang akhirnya kembali bukan untuk perang.

Melainkan untuk menyampaikan kata-kata yang selama dua tahun tidak pernah berhasil ia ucapkan kepada pria muda yang paling ia sayangi yang selalu diselimuti penyesalan.

1
Septi Wijaya
so emosional tp lega
Hary Nengsih
lega dh gak merasa bersalah lg
Eli Rahma
semangat Lowan..
Wenty Lucia Wardhani
aku terharu sekali😭😭😭
Nisfu Romadhon
/Sob//Sob//Sob/mengandung 🧅🧅🧅ihh k Othor,,,
Archiemorarty: Selanjutnya lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
mengsedih /Cry/Rowan yang kuat ya
Nisfu Romadhon
ishh,,, ikut ngerasain nyesek nya Rowan,,, rindu sedih dan kecewa pada dirinya sendiri,,,hiks/Sweat/
Archiemorarty: Apalagi meninggal karena salah komando si Rowan 😭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aisshh,,, akhir bab mengandung bawang 🧅🧅🧅hiks,,, Rowan teringat paman Colton sang Guru /Sob//Sob//Sob/
Archiemorarty: Nanti bakal lebih banyak bawang 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
hih,,, dasar curang,,,g berani ngadepin Cecil sendirian mesti minta bantuan monster-monster lainnya buat pengalih perhatian,,, Cecil aku mendukungmu,,,kamu pasti bisa 💪💪💪
Archiemorarty: biasa lah yah, pengecut mah gitu 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
lanjut
Archiemorarty: Siap kakak 🥰
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aishh,,, musuh kembali datang
Nisfu Romadhon
aihh aihh,,,baru sadar udah dapat kissing aja Cecil,,, dasar Lowan mengambil kesempitan dalam kesempatan,,, ehh /Chuckle/
Archiemorarty: Abang Lowan emang suka gitu 🤭
total 1 replies
Nisfu Romadhon
g sadar bacanya sambil nahan nafas,,,huft,,,baru dihela nafas nya kalo bab nya selesai 🤦🫣
Archiemorarty: Napas kak napas 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
Rowan kah yang memanggil?
serius,,, seperti nonton film kolosal,,, KEREN k Othor,,, lopiyu muachh /Kiss/
Archiemorarty: Hahaha...kolosal nggak tuh 🤣
total 1 replies
Nisfu Romadhon
aduh,,,aduh,,, gimana ini gimana ini,,,/Gosh//Gosh//Gosh/menghilanglah Cecil,,,🫣🫣🫣
Nisfu Romadhon
aihh,,, merinding guys,,,/Panic//Panic//Panic/
Nisfu Romadhon
aisshh,,,gegara kesibi duta,,,aku telat tegang nya /Facepalm/
Siti Nurjanah
oh berati arwah yg ngikutin rowan itu paman colton mungkin
Archiemorarty: Bisa jadi 🤭
total 1 replies
Hary Nengsih
kaya nya ia
Eli Rahma
apa cecil dirasuki roh nya paman colton..hingga dia bisa menghadapi monster....cecil kan pernah melihat satu roh yg selalu mengikuti Rowan....iyaaa..pasti itu rohnya paman colton..iyaa kan thor??😆
Nisfu Romadhon: iya tuh✌️
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!