"Dewa Penulis... kenapa Kau bikin kami hidup, tapi gak kasih kami arti?" — Lord Valgus, Penyihir Jahat
Gue Leon, dan gue yang bikin dunia ini. Gue yang nulis siapa hidup, siapa mati, siapa kuat, siapa lemah. Tapi gue ngelakuinnya santai banget, asal ketik aja di keyboard. Buat gue, ini cuma cerita hiburan doang.
Sampai akhirnya gue malah terjebak masuk ke dalam cerita itu sendiri.
Ternyata, jadi penulis itu gak enak ya kalau ceritanya sendiri berantakan. Kerajaan megah tapi bentuknya aneh, tokoh-tokohnya punya perasaan sendiri di luar naskah, terus musuh utama malah pengen bunuh gue karena ngerasa hidupnya cuma dipermainkan.
Sekarang gue gak cuma nulis cerita lagi. Gue harus hidup di dalamnya, benerin semua kesalahan gue, dan bikin akhir cerita yang adil buat mereka... sebelum gue dihukum sama karya gue sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ananda Anggit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 26. penyebab leon koma
Esok harinya, di malam hari suasana di rumah terasa lebih tenang. Setelah makan malam, Leon memutuskan untuk duduk kembali di teras, ditemani Dimas, Raka, dan Bimo yang masih betah mengobrol sebelum pulang. Angin malam berhembus sejuk, membawa aroma bunga melati yang tumbuh di sudut halaman.
Setelah hening sejenak, Dimas menatap Leon dengan pandangan yang berubah, tidak lagi santai seperti sebelumnya. Ia menghela napas panjang seolah sedang mengumpulkan keberanian untuk membuka sesuatu yang selama ini disimpan rapat-rapat.
“Leon… sebenarnya ada satu hal yang belum pernah kita ceritakan ke lo, bahkan ke orang tua lo pun kita minta diam dulu sampai lo benar-benar pulih,” ucap Dimas pelan, membuat Leon langsung menoleh dengan perasaan was-was.
Jantung Leon berdegup kencang. Selama ini ia hanya tahu bahwa ia terbaring koma, tapi tidak pernah tahu apa penyebabnya. Orang tuanya selalu menghindari pertanyaan itu, seolah takut membangkitkan kenangan buruk.
“Apa maksud lo? Apa yang sebenarnya terjadi sampai gue bisa koma selama lima tahun?” tanya Leon dengan suara yang sedikit bergetar.
Raka dan Bimo saling berpandangan, lalu Raka melanjutkan dengan nada berat:
“Malam itu, tepat lima tahun yang lalu, kita berempat habis pulang dari tempat nongkrong biasa. Malam hujan deras, jalanan licin dan sepi. Kita berjalan beriringan, sampai tiba di tikungan jalan yang agak gelap. Di situlah semuanya terjadi.”
Raka berhenti sejenak, menelan ludah seolah menahan rasa sakit saat mengingat kejadian itu.
“Tiba-tiba ada mobil yang melaju kencang tanpa menyalakan lampu, keluar dari tikungan dengan kecepatan tinggi. yang mengendarai terlihat tidak sadarkan diri, mungkin mabuk atau mengantuk. Kita semua terkejut dan berusaha lari, tapi lo yang berdiri paling depan dan mendorong kita bertiga menjauh sebelum akhirnya lo sendiri terhantam keras dan terpental jauh ke parit pinggir jalan.”
Mendengar itu, tubuh Leon terasa kaku. Sesuatu mulai terasa berdenyut samar di kepalanya, kilasan bayangan yang kabur mulai muncul suara teriakan, cahaya lampu yang menyilaukan, rasa sakit yang luar biasa, lalu kegelapan total.
“Kenapa… kenapa gue nggak ingat sama sekali?” gumamnya pelan.
“Karena benturannya sangat keras, Leon,” jawab Bimo dengan suara serak. “Dokter bilang bagian otak yang mengatur ingatan sempat tertekan hebat, dan kemungkinan besar ingatan soal kejadian itu sengaja ‘ditutup’ oleh alam bawah sadar lo sendiri agar lo tidak merasakan trauma yang terlalu berat. Selama ini kita hanya diberi tahu bahwa lo dalam kondisi kritis, nyawa lo melayang-layang di ujung tanduk. Bahkan sempat dinyatakan tidak ada harapan, tapi bokap dan nyokap lo nggak pernah menyerah, membayar semua biaya perawatan sampai habis tabungan mereka hanya demi melihat lo bangun lagi.”
Dimas mengepalkan tangannya kuat-kuat, matanya memerah menahan amarah yang selama ini dipendam.
“Dan yang lebih parah lagi… orang yang nabrak lo itu bukan orang sembarangan. Dia anak dari pengusaha kaya yang punya banyak koneksi. Begitu kecelakaan itu terjadi, dia langsung dibawa pergi oleh orang-orangnya, dan kasusnya sengaja ditutup-tutupi. Polisi sempat kesulitan melacaknya karena bukti-bukti perlahan menghilang, saksi mata takut berbicara, dan mereka menawarkan uang damai dalam jumlah besar dengan syarat keluarga lo tidak melanjutkan kasus ini.”
Leon tertegun, perasaan campur aduk meledak di dadanya,kaget, marah, sekaligus sedih. Ia baru sadar bahwa bukan hanya tubuhnya yang terhenti selama lima tahun, tapi juga ada ketidakadilan yang terjadi di balik semua itu.
“Jadi selama ini, orang yang bikin gue terbaring bertahun-tahun itu masih bebas berkeliaran?” tanya Leon dengan nada dingin yang membuat suasananya terasa semakin tegang.
“Belum bisa dipastikan,” jawab Dimas. “Setelah kejadian itu, dia dikabarkan pergi ke luar negeri untuk ‘berobat’, padahal jelas-jelas hanya lari dari tanggung jawab. Kita sempat mencoba mencari informasi, tapi selalu terhalang tembok yang kuat. Bahkan kalau kita berani melapor, mereka bisa saja memutarbalikkan fakta dan menyalahkan kita.”
Leon meremas gagang kursi dengan erat, jari-jarinya memutih. Di satu sisi, ia bersyukur bisa kembali dan memiliki kehidupan lagi, tapi di sisi lain, ada rasa tidak terima yang membara di hatinya. Lima tahun waktu yang terlewat, kesedihan orang tuanya, ketidakpastian masa depan semua itu terjadi karena kelalaian seseorang yang seolah bisa lepas dari hukum hanya karena punya uang dan kekuasaan.
“Gue ngerti kenapa nyokap dan bokap nggak mau cerita,” kata Leon akhirnya, suaranya sudah lebih tenang tapi penuh ketegasan. “Mereka takut gue akan marah berlebihan, memaksakan diri, dan malah membuat kondisi kesehatan gue memburuk lagi.”
“Iya, itulah alasannya,” sambung Raka. “Mereka hanya ingin lo pulih sepenuhnya, tanpa memikirkan hal-hal yang bisa menyakiti hati lo. Tapi sekarang lo sudah sadar, lo berhak tahu kebenarannya. Kita akan mendukung lo apa pun keputusan yang lo ambil, tapi ingat! kesehatan lo tetap yang paling utama.”
Leon menunduk, memandang buku catatan yang tergeletak di pangkuannya. Di dalam hatinya, dua kekuatan bertemu keinginan untuk hidup tenang dan melanjutkan kisah yang baru dimulai, serta dorongan untuk memperjuangkan keadilan agar kejadian serupa tidak menimpa orang lain.
“Terima kasih sudah jujur cerita semuanya,” ucap Leon sambil mengangkat wajahnya, matanya kini bersinar dengan tekad yang baru. “Gue nggak akan gegabah. Tapi sekarang gue tahu kenapa gue harus kembali. Ini bukan cuma soal hidup lagi, tapi juga soal menyelesaikan apa yang belum selesai.”
Malam itu, Leon tidak bisa tidur nyenyak. Ia memegang buku catatannya erat-erat, menyadari bahwa di dunia nyata ini pun, ia kini memiliki sebuah cerita baru yang harus diperjuangkan ... cerita tentang keadilan, kebenaran, dan keberanian untuk melawan ketidakadilan, sama seperti yang pernah ia lakukan di dunia yang ia ciptakan sendiri.
Di real life... kalau kita baca cerita, ceritanya bagus. Tokohnya hidup. Pokoknya bagus lah. Itu pasti pas udah ada kata “Tamat/End/Selesai” itu sebagai pembaca kita masih bisa membayangkan kehidupan mereka setelah itu. Itu ’kan definisi sebenarnya dari “Menciptakan dunia yang cukup kuat untuk terus bercerita meski pena sudah diletakkan”. Karena penulis udah gak lanjutin ceritanya lagi, tapi kita bisa membayangkan kalau gimana kehidupan tokoh-tokoh di cerita yang kita baca setelah itu. Makanya ceritanya gak pernah benar-benar berakhir meskipun ceritanya dah ada label “Tamat”.
Ya enggak? Karena kita gak mungkin masuk novel kayak Leon dan membebaskan aturan dunia cerita itu kan makanya ceritanya tidak pernah benar-benar berakhir. Wkwkwk. 😁