Bagi semua orang, Ning Humaira adalah definisi kesempurnaan. Namun, perjodohan memaksanya berbagi ranjang dengan Gus Arsalan pria tampan berhati sedingin es yang menyisakan seluruh hatinya untuk wanita lain di London.
Tepat di malam pertama, sebuah kalimat kejam meluncur dari bibir sang Gus:
"Jangan pernah berharap saya akan mencintai kamu. Saya akan menafkahi lahirmu, tapi tidak dengan batinmu."
Satu minggu mereka terjebak dalam sandiwara; menjadi pasangan paling romantis di depan keluarga, namun menjadi dua orang asing di balik pintu kamar.
Lelah diabaikan dan hancur karena cinta suaminya yang tertinggal di luar negeri, Humaira akhirnya nekat mengambil langkah gila. Malam itu, selembar gaun tidur satin merah marun menjadi senjatanya untuk meruntuhkan keangkuhan sang suami.
Ketika harga diri seorang Ning bertabrakan dengan kewajiban, akankah taktik berani ini berhasil meruntuhkan tembok es Arsalan, atau justru membuatnya semakin menjauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan dari Masa Lalu
Malam masih berada di ujung peraduannya ketika Humaira sudah terbangun dari tidurnya yang tidak pernah benar-benar nyenyak. Di dalam kamar yang luas itu, keheningan terasa begitu pekat dan menekan dada. Jarum jam dinding baru menunjukkan pukul setengah empat pagi. Angin malam yang berembus dari luar jendela ndalem membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun dingin itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kebekuan yang melingkupi rumah tangga mereka sejak malam itu.
Humaira bangkit dari ranjang dengan gerakan sepelan mungkin. Ia melirik ke arah sofa di sudut ruangan. Di sana, Gus Arsalan masih terlelap dengan posisi memunggungi ranjang, berselimut kain rajut abu-abu tipis. Pria itu tampak begitu tenang dalam tidurnya, seolah badai kata-kata kejam yang ia lontarkan beberapa malam lalu tidak meninggalkan bekas apa pun di dalam benaknya.
Humaira menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang mendadak kembali menyergap dadanya. Sesuai dengan janjinya, tidak akan ada lagi air mata yang tumpah untuk mengemis cinta. Ia berjalan menuju kamar mandi, mengambil air wudu, lalu mengenakan mukena putih bersihnya yang panjang.
Di atas sajadah yang tergelar menghadap kiblat, Humaira menunaikan salat Tahajud beberapa rakaat. Di dalam sujudnya yang panjang, ia tidak lagi meminta agar hati Arsalan dibukakan untuknya. Ia hanya meminta kekuatan pada pemilik semesta agar hatinya sendiri dikuatkan untuk menjalani takdir yang sarat akan sandiwara ini.
Setelah salam, Humaira mengambil mushaf Al-Qur'an kecil berkulit marun dari atas meja rias. Ia kembali duduk bersila di atas sajadah. Sambil menunggu kumandang azan Subuh yang masih sekitar satu jam lagi, Humaira membuka lembaran suci itu. Ia mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang lirih namun teramat merdu.
Suara murottal Humaira mengalir indah di dalam keheningan sepertiga malam. Nada-nada tajwid yang ia lantunkan terdengar begitu teduh, bergetar lembut dipenuhi rasa kepasrahan yang mendalam kepada Sang Pencipta. Setiap ayat yang keluar dari bibirnya seolah menjadi obat penawar sementara bagi luka menganga di hatinya. Sisi anggun dan kesucian seorang Ning kembali memancar kuat dari dirinya yang berbalut mukena putih, mengaburkan semua gejolak amarah yang sempat membakar dadanya kemarin malam.
Bzzzz... Bzzzz... Bzzzz...
Lantunan ayat suci Humaira mendadak terhenti ketika sebuah getaran keras memecah kesunyian kamar. Bukan dari ponselnya, melainkan dari atas meja nakas yang terletak tepat di samping ranjang tempat di mana Gus Arsalan meletakkan barang-barang pribadinya sebelum tidur.
Humaira menghentikan bacaannya, menutup mushafnya perlahan, lalu menoleh ke arah sofa. Arsalan sama sekali tidak bergerak, pria itu tampaknya terlalu lelah setelah seharian membantu Abi mengurus berkas-berkas pembangunan gedung baru santri putra, sehingga tidurnya begitu lelap.
Bzzzz... Bzzzz...
Ponsel itu kembali bergetar, kali ini diikuti oleh ringtone instrumen piano klasik yang berbunyi nyaring. Di sepertiga malam yang buta seperti ini, sebuah panggilan telepon tentu memicu rasa curiga dan khawatir. Humaira berpikir, apakah ada keadaan darurat dari ndalem sepuh? Apakah Umi atau Abi sedang membutuhkan bantuan mendesak?
Didorong oleh rasa tanggung jawab sebagai seorang istri, Humaira perlahan bangkit dari sajadahnya. Dengan langkah kaki yang tanpa suara, ia mendekati meja nakas. Layar ponsel mahal milik Arsalan menyala terang di tengah kegelapan kamar, memantulkan cahaya putih ke wajah Humaira.
Humaira membungkuk, matanya tertuju pada baris teks yang tertera di layar ponsel yang sedang berdering tersebut. Namun, begitu membaca nama yang tertulis di sana, seluruh persendian tubuh Humaira mendadak lemas. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan jantungnya berdegup dengan hantaman yang begitu menyakitkan.
Di layar ponsel suaminya, tertera sebuah nama dengan huruf latin yang asing bagi lingkungan pesantren:
"Evelyn ❤️"
Sebuah nama wanita. Dan diakhiri dengan sebuah emotikon hati berwarna merah merona tepat di sampingnya.
Layar itu terus menyala, menampilkan panggilan video internasional yang datang dari belahan bumi lain. Dari London. Tempat di mana Arsalan meninggalkan separuh jiwanya. Tempat di mana pemilik sah dari hati suaminya berada.
Humaira berdiri terpaku bak patung bernyawa dengan tangan yang gemetar hebat di samping tubuhnya. Rasa sakit yang menghantamnya kali ini terasa jauh lebih dahsyat, lebih menghancurkan daripada saat Arsalan menyebut usahanya sebagai tindakan "murahan". Nama itu, dan simbol hati kecil di layarnya, adalah bukti nyata yang paling valid bahwa di dalam kamar pengantin ini, Humaira benar-benar tidak lebih dari seorang penyusup yang tidak diinginkan.
Emotikon hati itu seolah mengejeknya, menertawakan statusnya yang "halal" namun sama sekali tidak memiliki tempat di hidup Arsalan. Di hadapan hukum agama, Humaira adalah wanita yang paling berhak atas diri Arsalan, namun di hadapan kenyataan, wanita bernama Evelyn itulah yang menguasai setiap jengkal pikiran dan perasaan suaminya, bahkan di jam-jam suci menjelang subuh.
Panggilan itu akhirnya terputus karena tidak terjawab, membuat layar ponsel kembali gelap. Namun, hanya berselang beberapa detik, sebuah notifikasi pesan masuk kembali menyalakan layar tersebut. Humaira yang jaraknya hanya beberapa sentimeter, mau tidak mau bisa membaca potongan pesan yang muncul di panel layar:
*“I miss you, Arsalan. London is so cold without you. Are you really married to her? Please pick up my call...”*
Humaira memejamkan matanya rapat-rapat. Air mata yang sudah ia janjikan tidak akan tumpah lagi, malam ini kembali mengalir deras menembus pipinya, membasahi kain mukena putihnya. Bahunya terguncang hebat menahan isak tangis yang tertahan di dada.
Sakit. Ini teramat sakit dan menyayat hati. Di saat dirinya sibuk melantunkan kalamullah untuk menenangkan jiwanya yang hancur, kenyataan pahit tentang masa lalu suaminya justru datang menamparnya tanpa ampun. Pernikahannya baru berjalan hitungan hari, namun rasanya ia sudah berjalan di dalam neraka dunia yang tak berujung.
Tepat saat Humaira sedang bergelut dengan rasa hancurnya, terdengar suara gesekan kain dari arah sofa. Gus Arsalan melenguh, perlahan membuka matanya karena sayup-sayup mendengar suara dering ponsel yang sempat berbunyi tadi.
Arsalan mendudukkan tubuhnya, memijat keningnya yang terasa pening. Sorot matanya yang tajam langsung menangkap sosok Humaira yang berdiri mematung di samping ranjang dengan tubuh yang bergetar tertutupi mukena putih.
"Humaira? Apa yang kamu lakukan di sana?" tanya Arsalan, suaranya terdengar serak khas orang baru bangun tidur, namun nadanya langsung berubah penuh selidik saat melihat posisi istrinya yang berada terlalu dekat dengan meja nakas tempat ponselnya berada.
Humaira tidak langsung berbalik. Ia menghapus air matanya dengan cepat dibalik mukenanya, mencoba mengumpulkan seluruh sisa harga diri dan ketegasan yang ia miliki. Ketika ia membalikkan tubuhnya menghadap Arsalan, sorot mata bulatnya tidak lagi menyiratkan kerapuhan seorang gadis yang terluka, melainkan tatapan dingin dan kosong yang sanggup membuat atmosfer kamar mendadak mencekam.
"Ponsel Njenengan berbunyi, Gus," ucap Humaira, suaranya terdengar begitu datar, tenang, dan tanpa riak emosi sedikit pun. Kontras dengan badai yang sedang meremukkan dadanya.
Arsalan mengernyitkan alisnya. Ia segera bangkit dari sofa, melangkah cepat mendekati meja nakas dan menyambar ponselnya. Begitu ia menyalakan layar dan melihat nama panggilan tak terjawab serta pesan dari Evelyn, rahang Arsalan mendadak mengeras. Kilatan kepanikan dan rasa bersalah melintas di matanya selama sepersekian detik, sebelum ia kembali memasang topeng dinginnya.
Arsalan menatap Humaira dengan tatapan mengintimidasi. "Kamu membaca pesan di ponsel saya?"
Humaira tersenyum getir, sebuah senyuman tipis yang sarat akan sarkasme. "Kulo mboten sengaja membacanya, Gus. Layar ponsel Njenengan menyala terlalu terang di kamar yang gelap ini. Dan kulo rasa, kulo mboten butuh keahlian khusus hanya untuk membaca satu nama wanita yang diakhiri dengan emotikon cinta di ponsel suami kulo sendiri."
Arsalan mengepalkan tangannya kuat-kuat, merasa privasi dan rahasia terbesarnya telah ditelanjangi oleh wanita di depannya. "Ini bukan urusanmu, Humaira. Saya sudah pernah memperingatkanmu untuk tidak mencampuri urusan hati saya!"
"Enggeh, Gus. Njenengan leres. Ini memang bukan urusan kulo," potong Humaira cepat, nadanya naik satu oktav, memancarkan ketegasan seorang Ning yang tidak sudi lagi diinjak-injak harganya. "Urusan kulo hanya memastikan bahwa kulo mboten mengganggu waktu luang Njenengan bersama wanita impian Njenengan di London. Silakan angkat teleponnya, Gus. Hubungi dia kembali. Beritahu dia bahwa pernikahan yang Njenengan jalani di sini hanyalah sebuah lelucon demi mematuhi perintah orang tua."
Humaira melangkah mundur, menjauh dari Arsalan seolah-olah pria itu adalah sebuah wabah penyakit yang harus dihindari. Ia berjalan kembali menuju sajadahnya, melipat kain suci itu dengan gerakan yang sangat rapi dan tegas.
"Sebentar lagi azan Subuh. Kulo permisi ke ndalem sepuh untuk membantu Umi menyiapkan sarapan," ucap Humaira dingin tanpa sekali pun menoleh lagi ke arah Arsalan.
Ia membuka pintu kamar dengan hentakan pelan, melangkah keluar meninggalkan Arsalan yang terpaku sendirian di dalam kamar yang mendadak terasa begitu luas dan hampa. Pria itu menatap ponsel di tangannya, lalu beralih menatap pintu yang tertutup rapat, merasakan sebuah denyutan aneh yang perlahan mulai mengikis keangkuhan benteng es di hatinya.