Selena selalu tahu bahwa dia berbeda. Sejak kecil, ia bisa merasakan sesuatu yang mengalir dalam darahnya, sesuatu yang lebih dari sekadar kekuatan seorang werewolf biasa. Namun, hidupnya berubah drastis ketika sebuah serangan brutal menghancurkan kawanan tempatnya dibesarkan.
Ditemani oleh Joan, seorang Alpha misterius yang menyimpan rahasia kelam, serta Riven, seorang pejuang yang setia tetapi penuh teka-teki, Selena harus menghadapi kenyataan pahit bahwa ada seorang pengkhianat di antara mereka. Seseorang yang menginginkannya untuk tujuan yang jauh lebih berbahaya.
Saat rahasia asal-usulnya mulai terkuak, Selena mendapati dirinya terjebak di antara dua pilihan, menerima kegelapan yang mengintainya atau bertarung demi cahaya yang hampir padam. Dengan dunia yang berada di ambang kehancuran dan hatinya yang terombang-ambing di antara kepercayaan dan pengkhianatan, Selena harus memilih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miarosa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Ketukan itu berhenti dan digantikan oleh keheningan yang lebih mencekam.
Selena bisa merasakan jantungnya berdegup keras dan kemudian sebelum Joan bisa bergerak pintu kabin meledak terbuka, engselnya patah, dan sosok tinggi melangkah masuk ke dalam dengan perlahan.
Selena hampir berteriak. Lucian berdiri di ambang pintu, pria itu tampak sama santainya seperti sebelumnya dengan setelan hitamnya yang tetap rapi meskipun baru saja menerobos masuk dengan kekuatan mengerikan.
Ia tersenyum kecil. "Kalian benar-benar mengira bisa lari dariku?"
Joan tidak menunggu lebih lama. Ia melesat ke depan, menyerang dengan belati di tangannya, tetapi Lucian hanya mengangkat satu tangan.
Joan terpental ke belakang, menghantam dinding dengan keras. Selena menggigit bibirnya, menahan jeritan. Lucian berjalan masuk dan tatapan emasnya langsung menatap lurus ke arah tempatnya bersembunyi.
"Sekarang, keluar, Selena!" katanya dengan suara lembut yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Selena menutup matanya erat-erat. Ia tidak akan keluar dan tidak akan membiarkan dirinya jatuh ke tangan Lucian, tetapi sebelum ia bisa berpikir lebih jauh, tubuhnya kembali merasakan sensasi aneh itu. Darahnya terasa panas seolah sesuatu dalam dirinya baru saja bangkit dan sebelum ia bisa menahannya, sebuah energi meledak keluar dari tubuhnya.
Udara di dalam kabin bergetar. Lucian tersentak ke belakang dan matanya melebar sedikit.
Joan yang masih setengah sadar menatapnya dengan keterkejutan.
Selena berdiri perlahan dan matanya sekarang memancarkan cahaya perak terang, tapi ini berbeda dari sebelumnya. Kali ini ia tidak merasa kehilangan kendali dan bisa merasakan kekuatannya sepenuhnya dan ia siap melawan.
Udara di dalam kabin terasa tegang. Cahaya perak yang menyelimuti tubuh Selena berpendar lebih terang membuat bayangan panjang menari-nari di dinding kayu.
Lucian menatapnya dengan ekspresi campuran antara kejutan dan kekaguman.
"Menarik," katanya sambil melangkah lebih dekat. "Aku tidak menyangka kekuatanmu akan bangkit secepat ini."
Selena mengepalkan tangannya. Ia bisa merasakan energi itu mengalir dalam nadinya, kuat, liar, tetapi juga terasa seperti bagian dari dirinya yang selalu ada.
Joan masih terduduk di lantai dengan napasnya yang terengah, tetapi matanya tetap fokus pada Selena.
"Jangan biarkan dia mengendalikanmu!" katanya lemah.
Lucian mendengus kecil. "Mengendalikannya?"
Ia menatap Selena dengan senyum miring. "Aku tidak perlu mengendalikannya. Dia akan datang kepadaku dengan sendirinya."
Selena merasakan amarah membakar dadanya.
"Kamu sudah cukup bermain dengan pikiranku, Lucian. Aku bukan milikmu," katanya dingin. "Lalu kenapa kamu datang mencariku lagi bukannya tadi kamu bilang tidak akan mengejarku lagi malam ini? Tapi pagi belum datang kamu sudah mengejarku lagi."
Lucian tertawa pelan, tetapi matanya bersinar dengan kesenangan. "Aku berubah pikiran setelah merasakan kekuatanmu. Oh, Sayangku. Kamu masih belum paham, bukan?"
Dalam sekejap, ia bergerak. Lebih cepat dari yang bisa diikuti mata manusia biasa. Refleksnya meningkat secara instan. Ia mengangkat tangannya dan seolah naluri mengendalikan gerakannya, lalu sebuah gelombang energi perak meledak keluar.
Lucian terlempar ke belakang, menghantam meja hingga hancur berantakan. Joan menatapnya dengan mata terbelalak.
"Kau baru saja ...."
Selena sendiri terkejut. Ia tidak tahu bagaimana ia melakukannya, itu hanya terjadi secara alami. Lucian bangkit perlahan dari reruntuhan meja, lalu menyeka darah di sudut bibirnya dengan ibu jari. Alih-alih marah, senyumnya malah semakin lebar.
"Kamu benar-benar luar biasa tidak heran mereka ingin membunuhmu," kata Lucian.
Selena mengerutkan kening. "Mereka?"
Lucian menatapnya dengan tatapan tajam. "Dewan Tertinggi."
Joan tersentak mendengar nama itu.
"Kamu pikir hanya aku yang menginginkan kekuatanmu?" Lucian berjalan mendekat lagi. "Dewan sudah mengetahui keberadaanmu sejak lama, Selena, tapi mereka tidak ingin memanfaatkan kekuatanmu. Mereka ingin melenyapkanmu."
Selena menegang.
"Aku satu-satunya yang bisa melindungimu. Bersamaku, kamu akan menjadi lebih kuat dari yang bisa kamu bayangkan," lanjut Lucian.
Ia mengulurkan tangannya. "Ikutlah denganku, Selena!"
Selena menatap tangannya yang terulur, kemudian ia menatap Joan yang menggelengkan kepala dengan lemah dan matanya penuh peringatan.
Selena menarik napas dalam-dalam, lalu ia menatap Lucian dengan mata dingin. "Kamu tahu?" katanya pelan.
Lucian menunggu jawabannya dengan penuh minat. Selena tersenyum tipis. "Kamu bisa pergi ke neraka."
Dan dengan itu, ia mengangkat tangannya lagi. Sebuah ledakan energi melesat ke arah Lucian, tetapi kali ini, Lucian sudah siap. Dalam sekejap, ia menghilang dari pandangan.
Selena nyaris tidak sempat bereaksi sebelum sebuah tangan mencengkeram tengkuknya dari belakang.
"Pilihan yang buruk, Sayangku," bisik Lucian di telinganya.
Sebelum ia bisa melawan, dunia di sekelilingnya menjadi gelap dan yang terakhir ia dengar adalah suara Joan yang berteriak namanya.
Kesadaran Selena memudar, tetapi ia masih bisa merasakan tubuhnya terangkat dari tanah. Lucian menggendongnya dengan mudah seperti ia hanya sehelai bulu.
Joan mencoba bangkit, matanya dipenuhi kemarahan. "Jangan sentuh dia!"
Lucian meliriknya dengan tatapan penuh kemenangan. "Ka.u seharusnya tahu batasanmu. Aku bisa membunuhmu di tempat ini, tapi aku tidak tertarik membuang waktu."
Joan berusaha bergerak, tetapi tubuhnya masih terlalu lemah setelah benturan keras sebelumnya. Ia hanya bisa menonton dengan frustrasi saat Lucian membawa Selena keluar dari kabin.
Udara malam langsung menyambut mereka, angin dingin menerpa kulit Selena.
Matanya masih setengah terbuka, tetapi tubuhnya tidak bisa merespons. Apa yang terjadi padaku?
Ia bisa merasakan kekuatan bulan masih mengalir dalam dirinya, tetapi entah bagaimana, cengkeraman Lucian membuatnya tidak berdaya.
Lucian berjalan dengan langkah santai, melewati pepohonan yang tinggi dan rimbun. Selena melihat sekilas cahaya bulan yang menggantung di langit yang bersinar terang di antara celah-celah daun, kemudian ia melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.
Di ujung hutan tepat di tempat cahaya bulan menyinari tanah, sekelompok sosok berdiri menunggu. Mereka mengenakan jubah hitam dengan lambang bulan sabit berwarna emas di dada mereka.
Selena ingin melawan. Ia ingin memberontak, tetapi tubuhnya tetap kaku.
Salah satu dari mereka melangkah maju, seorang pria tua dengan rambut putih panjang dan mata yang bersinar seperti mata serigala.
"Jadi, ini dia," katanya suaranya dalam dan penuh kewibawaan. "Darah Bulan yang terakhir."
Lucian tersenyum kecil. "Sesuai janjiku, aku membawanya ke sini."
Selena tersentak dalam hati. "Apa?"
Selena mencoba berbicara, tetapi tidak ada suara yang keluar. Pria tua itu menatapnya dengan tajam, lalu mengalihkan pandangannya ke Lucian.
"Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, Lucian. Sekarang serahkan dia pada kami."
Lucian tetap tersenyum, tetapi cengkeramannya pada Selena tidak mengendur.
"Aku sudah membawanya, tapi aku tidak pernah mengatakan bahwa aku akan menyerahkannya begitu saja," katanya tenang.
Seketika atmosfer di sekitar mereka berubah. Pria tua itu menyipitkan mata. "Apa maksudmu?"
Lucian memiringkan kepalanya sedikit, masih dengan senyuman misteriusnya.
"Aku punya rencana lain untuknya. Selena tidak akan mati. Aku akan membuatnya menjadi sesuatu yang lebih kuat daripada yang bisa kalian bayangkan."
Dewan Tertinggi mulai bergerak seolah siap menyerang. Selena bisa merasakan ketegangan yang meningkat di udara.
Lucian menoleh padanya sebentar, lalu membisikkan sesuatu tepat di telinganya.
"Kita akan bersenang-senang, Sayangku."
Dan dalam sekejap, semuanya menjadi gelap kembali.