NovelToon NovelToon
Si Cantik Milik Ketos Sadis

Si Cantik Milik Ketos Sadis

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Ketos / Diam-Diam Cinta
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: Filanina

Yasmin adalah definisi dari kepolosan yang berbahaya. Kecantikannya yang luar biasa justru menjadi magnet bagi perundungan di sekolah. Dia tidak butuh pahlawan berkuda putih; dia hanya butuh cara untuk bertahan hidup.

​Lalu hadirlah Vyan. Ketua OSIS sempurna dengan senyum ramah yang mematikan.

​Bagi Vyan, membalas dendam tidak perlu menggunakan otot. Dia tidak memukul, dia tidak berteriak. Dia hanya berbisik, menyusun skenario, dan menghancurkan reputasi musuhnya hingga mereka memohon ampun di bawah kakinya. Dia genius, dia bermuka dua, dan dia... sadis.

​Vyan telah memagari Yasmin dengan otoritasnya. Siapa pun yang berani menyentuh Yasmin, harus siap menghadapi "pelajaran" dari sang Ketua OSIS yang tidak mengenal kata maaf.

​Namun, di tengah perlindungan gelap itu, muncul Ray—sang atlet populer yang menawarkan kehangatan tulus, dan Dean—masa lalu yang kembali dengan sejuta rahasia.

​Apakah Vyan benar-benar mencintainya, atau Yasmin hanyalah pion dalam skenarionya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Filanina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Main Bersama

​Vyan mengajak Yasmin ke sebuah arena permainan di Mall besar. Mata Yasmin berbinar, ia tampak sangat bersemangat. Vyan membiarkannya memilih apa pun, tapi ia tidak menyangka seleranya akan sejauh ini. Saat ia mengira Yasmin akan mengajaknya ke mesin dansa atau shooting game, Yasmin justru menarik lengannya menuju zona bermain anak-anak.

​"Aku mau naik itu, Kak Vyan. Boleh?" Yasmin menunjuk korsel—komidi putar kecil dengan kuda-kudaan warna-warni yang dikelilingi anak-anak usia TK.

​Vyan tertegun. "Boleh saja... tapi, kamu saja ya?"

​"Kenapa?" tanya Yasmin, jemarinya masih melingkar di lengan Vyan.

​"Yas, yang naik itu cuma anak-anak," bisik Vyan, mencoba memberikan pengertian.

​"Nggak, kok. Aku pernah ke sini sama Om, dan Om ikut naik waktu itu. Ayolah, Kak Vyan ... kalau sendirian nggak asyik."

​Ayolah, kenapa aku harus naik mainan bodoh itu? Kenapa aku jadi seperti pengasuh anak TK? Yasmin, itu korsel kecil...

Vyan menghela napas dalam hati. Namun, sebelum ia sempat menolak lagi, tatapannya membeku pada sosok yang berdiri hanya tiga langkah darinya.

​Sandra, Mia, dan Resi berdiri mematung di sana. Wajah mereka yang baru saja mulai pulih—setelah lima hari memakai masker karena bibir yang membiru dan mengelupas—kini kembali pucat pasi. Niat hati ingin menyegarkan pikiran setelah "tragedi liptint", mereka justru terjebak dalam mimpi buruk yang nyata.

​Vyan menarik sudut bibirnya, membentuk senyum yang terlihat ramah namun mematikan bagi Sandra cs.

"Hai, Sandra. Kebetulan sekali," sapa Vyan.

​"Vy ... Vyan ...." Sandra terbata, suaranya nyaris hilang.

​Yasmin menoleh dan ikut tersenyum lebar. "Eh, Kak Sandra!"

​Sandra, Mia, dan Resi saling lirik dengan jantung yang berdegup kencang. Bayangan video permintaan maaf di sekolah masih menghantui mereka, dan kini sang pembuat skenario ada di depan mata.

​"Wah, kebetulan sekali kalian di sini. Bagaimana kalau kalian yang menemani Yasmin naik korsel?" tanya Vyan dengan nada bicara yang tidak menerima penolakan.

​"Oh... tentu saja!" Yasmin manggut-manggut setuju, terlihat sangat senang.

​"Naik... korsel?" Mia terbelalak, menatap kuda plastik kecil yang bergerak naik-turun di samping mereka.

​"Iya. Aku yang bayar," ucap Vyan singkat sambil merogoh kartu permainan. "Kalian mau, kan, menemani Yasmin?"

​Ketiganya mengangguk cepat secara bersamaan. Mereka tahu benar, menolak permintaan Vyan saat ini sama saja dengan mencari masalah baru.

​Akhirnya, pemandangan surealis itu terjadi. Yasmin, Sandra, Mia, dan Resi duduk berjajar di atas kuda-kudaan kecil, berputar di antara anak-anak balita. Vyan berdiri di pinggir arena, tertawa senang sambil mengarahkan kamera ponselnya, mengabadikan momen memalukan itu dalam foto dan video.

Hanya Yasmin yang terlihat sangat menikmati putaran korsel itu, sementara Sandra cs tertunduk lesu, berusaha menutupi wajah mereka yang merah padam karena malu.

​Gue sebenarnya mau refreshing, tapi kenapa malah ketemu monster ini? keluh Sandra dalam hati, ingin rasanya bumi menelannya saat itu juga.

​Penderitaan Sandra, Mia, dan Resi ternyata baru saja dimulai. Vyan seolah mendapatkan pasokan energi baru untuk setiap koin yang ia gesekkan ke mesin permainan. Ia mendadak menjadi sosok yang sangat antusias, terus-menerus menunjuk wahana anak-anak lainnya seolah itu adalah hal paling menyenangkan di dunia.

​Setelah kereta api mini dan kapal goyang, langkah Yasmin mulai melambat. Ia menatap sebuah komidi putar kecil berbentuk cangkir putar yang diisi oleh anak-anak balita.

​"Kak Vyan... sepertinya aku sudah agak pusing. Apa kita duduk saja?" tanya Yasmin pelan, mulai merasa bosan dengan wahana yang gerakannya hanya berputar-putar pelan.

​Vyan menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arah Sandra yang berdiri di belakangnya dengan wajah yang sudah tidak keruan bentuknya. Senyum Vyan mengembang, namun tatapannya tetap dingin.

​"Oh, kamu Sudah bosan, Cantik?" Vyan bertanya dengan nada pura-pura kecewa. "Tapi sayang sekali, sepertinya Sandra dan teman-temannya masih sangat bersemangat. Lihat wajah mereka, mereka sepertinya masih ingin mencoba wahana 'Cangkir Putar' itu, kan?"

​Vyan menatap Sandra tajam. "Iya, kan, San? Lo belum bosan, kan?"

​Sandra menelan ludah. Ia ingin sekali berteriak bahwa ia sangat malu dan ingin pulang, tapi melihat binar ancaman di mata Vyan, lidahnya kelu. "I-iya... kami masih mau main, kok," jawab Sandra dengan suara gemetar.

​Vyan mengangguk puas. "Nah, Yasmin. Kalau kamu bosan, kita duduk di kafe depan itu saja sambil makan es krim. Biarkan Sandra, Mia, dan Resi menikmati wahana cangkir itu. Kasihan kalau mereka sudah semangat tapi dilarang."

​Yasmin yang polos tentu saja percaya. Ia merasa tidak enak jika menghalangi "kegembiraan" kakak kelasnya. "Oh, benarkah? Ya sudah kalau begitu. Kak Sandra, main yang seru, ya!"

​Vyan segera menggiring Yasmin menuju sebuah kafe terbuka yang letaknya persis menghadap wahana tersebut. Sementara itu, Sandra, Mia, dan Resi dengan terpaksa harus naik ke dalam cangkir putar plastik yang sempit, berdesakan di antara anak-anak kecil yang menatap mereka dengan heran.

​Dari balik meja kafe yang nyaman, Vyan memesan dua gelas minuman dingin dan sepiring jajanan. Ia duduk bersandar, menyesap minumannya dengan santai sambil menikmati pemandangan di depannya: tiga gadis populer sekolah yang sedang berputar-putar di dalam cangkir warna-warni dengan wajah yang menahan malu luar biasa.

​"Dadaaa, Kak Sandraaa!" seru Yasmin riang sambil melambaikan tangannya tinggi-tinggi ke arah wahana.

​Sandra hanya bisa memberikan lambaian lemah, wajahnya tertunduk dalam, mencoba menyembunyikan bibirnya yang masih sedikit mengelupas di balik telapak tangan. Ia bisa melihat dari kejauhan, Vyan sedang mengangkat ponselnya, memotret momen "bahagia" mereka dari kejauhan dengan senyum kemenangan yang sangat tipis.

​"Mereka baik sekali ya, Kak Vyan. Mau menemani aku main dari tadi," ucap Yasmin tulus sambil menyuap es krimnya.

​Vyan terkekeh pelan, mengacak rambut Yasmin dengan gemas. "Iya, Yas. Mereka memang sangat baik. Mungkin mereka merasa... berutang banyak padamu."

...****************...

Halaman sekolah pagi itu tak ubahnya sebuah festival budaya. Riuh rendah suara siswa terdengar lebih ceria dari biasanya. Para siswi tampak anggun—sekaligus sedikit kerepotan—berjalan dengan kain kebaya yang membatasi langkah mereka, sementara sanggul dan hiasan kepala mereka berkilauan diterpa sinar matahari pagi. Wangi parfum dan bedak tercium lebih tajam di koridor, bercampur dengan aroma melati dari beberapa rangkaian ronce yang menghias rambut.

​Siswa laki-laki pun tak kalah gagah. Ada yang memakai beskap Jawa lengkap dengan blangkonnya, ada yang mengenakan kain tenun khas Nusa Tenggara, hingga pakaian adat Sumatera yang terkesan megah.

​Di tengah keriuhan itu, Ray berdiri di dekat gerbang dengan penampilan yang cukup mencolok. Ia memakai pakaian adat Sunda; celana pangsi hitam dan kain sarung yang tersampir di bahu, lengkap dengan ikat kepala bermotif batik. Namun, rambut gimbalnya menciptakan kontras yang aneh dengan pakaian tradisionalnya—seolah-olah ada seorang turis asing yang salah kostum di tengah upacara adat.

​Tatapan Ray menyapu kerumunan sampai matanya terpaku pada satu titik. Di antara lautan kebaya dan beskap, sosok Yasmin muncul dengan penampilan yang paling mencolok karena kejujurannya. Ia hanya mengenakan seragam putih-abu-abu yang bersih dan rapi. Di tengah kerumunan yang berlomba-lomba tampil mewah, Yasmin tampak seperti sebuah titik putih yang tenang dan polos.

​"Yasmin, kenapa pakai baju sekolah? Ini kan hari Kartini," tegur Ray, segera menghampiri gadis itu sebelum ia masuk lebih dalam ke area sekolah.

​Yasmin berhenti, menatap Ray dari ujung kepala hingga ujung kaki, lalu tawa kecilnya pecah. "Baju Ray lucu..."

​"Yasmin, jangan mengalihkan perhatian," potong Ray, mencoba terdengar serius meski ia tersipu.

"Hari ini kita cuma belajar satu jam, setelah itu ada perayaan di aula. Apa kamu nggak tahu ada lomba busana juga?"

​Yasmin menunduk sedikit, merapikan rok seragamnya. "Tapi... aku nggak punya kebaya. Kebaya Ibu kebesaran di badanku."

​Mendengar itu, hati Ray berdenyut. Ia tidak tahan melihat Yasmin menjadi satu-satunya yang "berbeda" dalam artian yang menyedihkan di hari seperti ini. Ray melirik jam tangannya, lalu menatap taksi yang baru saja menurunkan penumpang di depan gerbang.

​"Bien! Kamu ikut aku!"

​Tanpa menunggu persetujuan, Ray menarik lembut tangan Yasmin, membawanya memutar balik meninggalkan koridor sekolah yang mulai dipenuhi sorak-sorai persiapan lomba.

​"Mau ke mana, Ray?" tanya Yasmin bingung.

​"Cari baju buat kamu..." jawab Ray mantap sambil menyetop taksi.

​"Tapi di mana? Terus sebentar lagi kan masuk pelajaran."

​Ray membukakan pintu taksi dengan gaya seorang gentleman. "Biarin aja sekali-kali bolos. Nggak ngikutin satu jam pelajaran nggak akan bikin kita langsung pintar, kan?"

​Yasmin menatap Ray sejenak, lalu senyum manisnya terukir. Ia mengangguk, seolah setuju bahwa petualangan kecil ini jauh lebih menarik daripada duduk di kelas sosiologi selama satu jam.

​Taksi itu pun melaju, meninggalkan riuh sekolah yang bersiap merayakan hari Kartini, menuju sebuah tempat yang sudah direncanakan Ray untuk mengubah "Si Cantik" menjadi pusat perhatian yang sesungguhnya.

1
Xlyzy
naik itu kuping ray karna di puji yasmin🤣
Xlyzy
si ray yang tadi nya cemberut langsung berubah
Aquarius97 🕊️
astaga vyan... lu juga benar2 dah ahh😆
Aquarius97 🕊️
hahahahaha ngakak banget ray... pas sebut setan vyan 🤣🤣🤣
Miu.Nuha
semua pada baik ke yasmin takut dimarahi pak ketos lagi 😅😅😅
Miu.Nuha
masih heran kenapa vyan yg harus bertindak... sungguh ironis ya sampe guru gk ad yg peduli...
Three Flowers
Dhini dan Tegar habis di'cuci' sama Ketos sadis🤣
-Thiea-
ya dia lah yang ngejebak kalian. siapa lagi yang punya akses lengkap di sekolah kalian..😅
-Thiea-
pak yoga sepertinya tahu banyak tentang keluarga Vyan.
-Thiea-
kerjaan si vyan ini pasti. 😆😆
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
kok bisa nyangkut😭😭😭
Filan: nyangkutlah. Pas masuk ga pegang apa-apa, pas keluarin pegang tupai
total 1 replies
PrettyDuck
terbukti ya kalo cowok gak peduli cewek bego atau enggak, yang penting cakep 🙃
Filan: bagaimana pun juga dari mata turun ke hati.
tapi Vyan itu cuma jadiin Yasmin pion sih, lalu lucu-lucuan aja kayak ke adik, lalu ga suka dg adanya pembullyan jadi belain, lalu jadiin alat lagi... lama-lama tahu sifatnya baru suka.
total 1 replies
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
hewan tuh pasti🤣
PrettyDuck
serem juga vyan ini
ᰔᩚ⊹܀⃟ᴸ⃞ᵒᵛᵉˡʸ𝐂𝐡𝐞𝐨𝐧𝐦𝐚❦ೄྀ❧
berubah menjadi panas karena terbakar api cemburu🤭
PrettyDuck
ooo dia mikirin keselamatn yasmin yaa
PrettyDuck
dih ngatur2, emamg situ sapa? /Facepalm/
PrettyDuck
dah, rebutan sana lu sama vyan
PrettyDuck
terlalu jujur mas 🤣
🐄 MULIANA ѕ⍣⃝✰
Dhini dan Tegar langsung bertindak baik ya /Facepalm//Facepalm/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!