Selama tiga tahun, Nayra mendedikasikan hidup untuk suaminya, Lettu Ardana Prajakelana. Seorang pria abdi negara yang merangkap profesi sebagai psikolog kesatuan. Semua terjadi karena perjodohan.
Namun, menjelang usia pernikahan yang ke ketiga, sebuah nama lain justru sering digaungkan Ardana. Mantan kekasihnya kembali, mengemis harap dan memohon Ardana menceraikan Nayra. Lalu apa yang akan terjadi dengan pernikahan Ardana dan Nayra setelah mantan kekasih Ardana kembali?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Baru Kali Ini Melihat Nayra Marah
Tubuh Nayra hampir saja tersungkur tepat di jidatnya. Namun, dengan gerakan cepat Ardana menangkap perut Nayra yang ramping, sehingga Nayra tidak sampai tersungkur.
Ardana membawa tubuh itu kembali ke atas ranjang. Ardana baru menyadari bahwa ternyata tubuh Nayra begitu ringan. Ia sama sekali tidak berat saat memangku tubuh itu.
Tubuh Nayra berhasil ia baringkan. Ardana sejenak menatap wajah yang sembab dan basah air mata itu dengan iba. "Maafkan, aku, ya."
Setelah menyelimuti tubuh Nayra, ia segera bergegas secepat mungkin menuruni tangga. Mencari obat penurun panas untuk Nayra. Namun nihil, dalam kotak P3K, tidak ia temui obat itu.
"Tidak ada."
Dalam keadaan kalang kabut seperti itu, Ardana tidak kehilangan ide. Ia segera meraih ponselnya, lalu menghubungi salah satu adik leting yang dekat dengannya.
Ardana memberi perintah kepada adik letingnya atau bawahannya agar membawakannya obat penurun panas serta obat pereda nyeri.
"Segera!" tegasnya, lalu memutuskan sambungan telpon. Saat itu, Ardana seperti punya banyak kesempatan bisa melihat ponselnya.
Ardana menepuk jidatnya keras, beberapa kali panggilan tidak terjawab dan pesan WA dari Nayra, terabaikan begitu saja. Ia benar-benar merasa bersalah dan menyesal.
"Jadi, Nayra sudah menghubungiku? Dia juga menyelipkan kalimat minta maaf karena sudah lancang menghubungiku?" gumamnya benar-benar merasa bersalah.
Lima belas menit kemudian, orang suruhan Ardana datang. Ardana menuju pintu depan dan segera menyambut adik letingnya.
"Ini obat yang dipesannya, Dan," lapor orang itu sembari memberikan satu kantong plastik kecil berisi obat-obatan yang dipesannya.
"Ok Terima kasih."
"Siap."
Ardana segera menutup pintu dan membalikkan badan, begitu pun adik leting. Setelah menjalankan tugasnya, pria tentara yang usianya masih lebih muda dari Ardana itu, segera meninggalkan kediaman Ardana.
Ardana segera bergegas menuju kamar. Dua tangannya kini dibebani dua benda, cangkir besar berisi air bening dan kantong kecil berisi obat-obatan.
Ardana tiba di kamar, ia meletakkan cangkir dan kantong berisi obat itu di meja kecil samping ranjang.
Matanya bergulir ke arah Nayra yang masih terbaring. Wajahnya terlihat sembab dan pucat. Sangat menyedihkan. Ia merasa sangat terenyuh dan merasa bersalah.
"Nayra, aku sudah bawakan obat untukmu. Ayo, bangun dulu," guyahnya mencoba mengangkat tubuh Nayra yang panas dan lemas.
Nayra membuka mata pelan sekali, lalu menatap Ardana dengan lemah, disusul air mata yang keluar dari sudut mata. Kemudian, kepalanya berpaling pelan ke samping kiri, seolah tidak ingin melihat Ardana.
"Ya ampun, bukannya kalau minum obat harus makan dulu dan perut jangan kosong." Ardana baru sadar, kalau obat yang diminum Nayra harus didahului makanan terlebih dahulu.
"Tunggu sebentar, aku akan pesan makanan untuk kamu sarapan." Ardana langsung terbersit untuk pesan makanan lewat jasa gofood atau grabfood. Namun, dalam aplikasi, dia belum menemukan makanan seperti bubur yang buka sepagi ini.
"Ya ampun. Harusnya tadi aku pesan sekalian sama si Hardi makanan untuk sarapan," sesalnya. Tangannya kini meraih ponsel, dan segera menghubungi adik leting yang tadi disuruh olehnya.
Tidak lama dari itu, Hardi adik leting yang disuruhnya sudah datang. Tanpa babibu, Ardana segera meraih bubur ayam untuk sarapan Nayra, sampai ia lupa mengucap terima kasih pada Hardi.
Hardi sang adik leting, hanya geleng kepala melihat seniornya seperti sedang tergesa-gesa.
Ardana sudah memegang mangkok di tangan beserta sendoknya. Ia segera membawa mangkok dan bubur itu ke dalam kamar. Kini tugas ia membujuk Nayra makan bubur itu sebelum minum obat.
"Makanlah dulu, aku sudah siapkan bubur ayam untuk sarapanmu. Setelah itu, kamu minum obat agar demammu segera sembuh."
Namun, Nayra tidak menyahut, ia memalingkan muka sejak tadi. Nayra sudah bertekad tidak mau menerima bantuan apa-apa dari Ardana, sebab ia cukup kecewa karena Ardana lebih bela pada mantan kekasihnya.
Nayra yakin, sikap Ardana dan apa yang dilakukannya saat ini, hanya bentuk keterpaksaan saja dan tanggung jawab di depan kedua orang tuanya, agar tidak terlihat menyia-nyiakan Nayra.
"Nayra, ayolah. Kamu harus sarapan dulu, lalu minum obat," bujuk Ardana seraya menggoyah kembali tubuh Nayra.
Bukan sahutan atau jawaban dari bibir Nayra yang terdengar, tapi isakan yang keluar.
Ardana terkejut, ia memejamkan mata merasa kesabarannya sedang diuji. Tapi, kali ini ia memang dituntut untuk bersabar, sebab pada kenyataannya Nayra memang sakit.
"Ayo, bangun, yo. Aku suapin sebentar. Aku minta maaf telah mengabaikan telpon dan WA mu. Di RS aku nggak sempat lihat pesan WA. Sebab Tiana semalam ngamuk dan...."
"Brakkkkk...."
Tiba-tiba mangkok berisi bubur ayam itu jatuh dan isinya tumpah begitu saja saat tangan Nayra menepisnya dari Ardana.
Ardana terkejut, ia menarik napas dalam. Ia tidak sadar bahwa yang menjadi kemarahan Nayra adalah nama Tiana yang lagi-lagi disebut Ardana.
"Ya ampun, kamu ini, Nayra. Aku udah benar-benar perhatian sama kamu, tapi kamu balas seperti ini," dumelnya.
Dengan sisa tenaga yang ada Nayra berusaha bangkit, ia tidak peduli ocehan Ardana yang membuat telinganya berdenging sakit. Rasa sakit karena demam dan amarah, seketika menyatu. Namun amarah dalam diri Nayra justru lebih besar daripada rasa sakit yang tadi ia rasakan.
"Jangan pura-pura perhatian sama Nayra, Mas. Kalau pada kenyataannya yang jadi pusat pikiran Mas Arda adalah Tiana. Jangan hiraukan Nay, biarkan Nay mati," ujarnya menatap tajam dnegan matanya yang sayu, lalu berjalan tergesa menuju pintu dan membukanya. Lalu....
"Bruggggg."
Pintu itu dibantingnya dengan sangat keras, dan tertutup kembali, meninggalkan suara dentuman yang tidak biasanya di rumah itu, memecah suasana pagi yang tadinya hanya suara burung berkicau, kini terdengar dentuman. Burung-burung di luar ikut bereaksi, mereka berterbangan menuju puncak atap paling tinggi, seolah suara dentuman pintu barusan adalah sebuah ancaman bagi mereka.
Ardana melongo tidak percaya. Nayra yang biasanya lembut dan tatapannya teduh, tapi kini berbeda. Bahkan Ardana baru kali ini melihat Nayra semarah itu.
"Nama Tiana jadi pemicunya, dia marah karena nama itu. Ya ampun, gara-gara lidah ini, dia jadi semarah itu."
Menyadari Nayra yang masih sakit dan pucat, Ardana bangkit dan keluar dari kamar, bermaksud menyusul Nayra. Dia tidak mempedulikan bubur yang tumpah di lantai kamar tadi. Ardana benar-benar khawatir kali ini, dan ia segera mencari Nayra.
"Bruggggg." Lagi-lagi suara dentuman pintu terdengar. Ardana melihat ke arah suara. Rupanya Nayra baru saja memasuki ruangan Sanggar Mini miliknya, tempat di mana ia lebih senang menenggelamkan diri di sana.
Ardana segera berlari menuju ruangan itu. Saat ia mengangkat handle pintu, pintu itu sudah terkunci dan tidak bisa dibuka.
"Nayra. Buka pintunya. Kamu sakit, Nay. Ayolah buka," bujuknya. Tapi Nayra tidak peduli. Bahkan kalau ia mati saja ia tidak peduli. Ia justru berpikir, Ardana akan sangat senang apabila ia mati.
"Baru kali ini aku melihatnya marah. Lalu harus bagaimana aku membujuknya supaya keluar?" Ardana berpikir keras bagaimana ia harus membujuk Nayra agar mau keluar dan membuka pintu.
Dua bab ya, cukup. Ayo merapat dan berikan dukungannya. Yang belum follow, segera follow profil Author. Makasih, selamat membaca.
Dan Ardana kamu tuh bodoh , mau aja dibohongin sama Tiana 😡😡😡
Udah deh ini mah fix kamu harus harus pergi Nayra daripada tersiksa batin kamu , kamu berhak bahagia Nayra 🫢🫢🫢
mantau dikit lagi nih...