Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: Dunia yang Terasa Berbeda
Kain itu tidak gatal di leher.
Sama sekali tidak seperti seragam proyek bau karat yang biasanya membalut kulit berpeluh Fais. Kemeja ini jatuh dengan sangat presisi. Sederhana. Kainnya memeluk bahunya. Gelap total tanpa logo murahan yang berteriak meminta perhatian publik.
Ia mengancingkan manset kemeja pelan-pelan. Lurus dan rapi.
Cermin tinggi di ruangan pas itu memantulkan sesosok entitas asing. Pria dengan rambut yang kini tertata rapi tanpa debu jalanan. Pria dengan rahang tegang yang tak lagi menghitung sisa koin untuk makan besok pagi. Fais menggesekkan ibu jarinya ke pergelangan tangan kirinya.
Logam jam tangan mahal itu terasa dingin di kulit. Begitu asing. Sangat asing. Tapi ia sangat menyukainya.
Fais benar-benar terlihat seperti orang lain. Bersih. Elegan. Mutlak. Tidak ada lagi sisa-sisa aroma kemiskinan yang menempel seperti kutu busuk pada pori-porinya.
Ia berjalan keluar melewati lorong mal. Pakaian lamanya sudah berakhir di tempat sampah boks depan toko. Tidak ada niat untuk mendaur ulang kenangan busuk.
Suara mesin penggiling kopi berdengung nyaring membelah telinga. Udara berbau karamel dan gula yang membuat gigi ngilu.
Fais duduk bersila santai di sudut sebuah kafe ternama. Sendirian. Memandangi lalu lalang manusia bermodal kepalsuan sosial di luar kaca jendela.
"Fais?"
Suara itu menembus derau suara mesin espresso. Memaksa masuk ke gendang telinganya.
Ia memutar kepalanya lambat. Matanya menangkap dua figur yang berdiri berjarak satu meja darinya. Bagas. Dan Maya. Sepasang manusia yang selalu menjadi barometer seberapa jauh Fais tertinggal dalam rantai makanan kota ini.
Bagas memakai kemeja bermotif mencolok dengan kacamata hitam menggantung di kerah dadanya. Maya berdiri agak menyamping di belakang pria itu. Meremat tali tas kecilnya erat-erat. Bibir Maya sedikit terbuka lebar. Mata wanita itu tidak berkedip menatap Fais.
"Kau ngapain di tempat seperti ini?" tanya Bagas.
Nada suaranya tidak berubah. Sedikitpun tidak. Masih merendahkan. Masih penuh asumsi basi.
"Nyari lowongan jadi tukang sapu kafe?" Bagas tersenyum miring.
Fais tidak langsung merespons. Ia mengambil gelas kaca berisi air es di depannya. Menyesapnya pelan. Mengamati butiran air yang mengembun di dinding gelas.
"Cuma mampir," balas Fais datar.
Bagas mendengus sarkas. Pria itu menarik kursi kayu di seberang Fais tanpa permisi. Maya ikut duduk perlahan. Gerakan wanita itu kaku seperti boneka kayu kehabisan pelumas.
Mata Maya tidak bisa lepas dari pundak Fais. Pundak yang tadinya selalu membungkuk ditekuk beban nasib, kini bersandar tegak seperti dinding beton benteng pertahanan.
Maya mencium anomali ini. Sesuatu bergeser sangat ekstrem. Fais tidak lagi memancarkan keputusasaan. Fais yang sekarang tidak berbau seperti pecundang sekarat.
"Kau kelihatan rapi," ucap Maya tiba-tiba. Suaranya lolos begitu saja. Lirih dan penuh keraguan.
"Terima kasih." Fais hanya menjawab memotong jalan. Singkat. Kosong.
Bagas menyipitkan kelopak matanya tajam. Insting teritorinya mendadak merasa terancam tanpa alasan jelas. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan meja. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk permukaan meja kayu. Mengetuk konstan. Terus-menerus seolah sedang mencari pijakan mental.
Lalu pandangan Bagas terkunci.
Ia menatap pergelangan tangan Fais. Detik jarum jam yang berdetak mulus menyita perhatian otaknya. Bingkai baja murni. Refleksi kristal safir yang menolak silau lampu kafe.
Bagas mengenal model jam itu. Harganya merobek dompet. Sangat merobek.
Jakun Bagas naik turun menelan ludah asam. Pikirannya berlari tak menentu. Dari mana kuli ini mendapat barang tiruan super premium seperti itu?
Fais tentu menyadari radar Bagas yang kebingungan. Namun ia diam saja. Ia biarkan pergelangan tangan kirinya terpampang bebas di atas meja. Santai dan tak peduli.
Bagas berdeham. Keras dan serak. Berusaha merebut dominasi percakapan.
"Jadi begini. Aku baru saja mengurus kontainer dari pelabuhan," Bagas menaikkan volume suaranya. Sengaja digemakan agar pengunjung meja sebelah ikut mencuri dengar. "Relasiku orang dalam semua. Bisnis logistikku butuh jalur cepat. Kau tahulah perputaran uang orang-orang sibuk."
Fais menatap lurus pupil mata Bagas. Tidak ada kerutan di dahi Fais. Tidak ada decak kagum.
"Oh. Ya. Minggu lalu aku juga baru ganti mobil baru." Bagas mengayunkan kunci pintar berlogo eropa dari sakunya. Memutarnya di jari. "Suspensi udaranya lebih empuk. Maya lumayan sering mengeluh mual kalau jalanan luar kota sedang bergelombang."
Maya menunduk cepat. Menyembunyikan wajahnya. Ini pola usang mereka.
Biasanya, jika momen ini tiba, Fais akan menatap pasrah ke arah sepatu lusuhnya. Fais akan tersenyum hambar, meremas jari-jarinya sendiri menyembunyikan rasa minder yang mencekik. Biasanya, Fais akan diam membatu dikuliti kesombongan Bagas.
Tapi hari ini bumi berputar di poros yang salah.
"Bagus untukmu, Bagas." Fais memundurkan bahunya ke bantalan kursi. Tangannya bersilang rileks. "Transportasi aman itu penting."
Sangat tenang. Jawaban yang sangat hampa. Fais membalas seolah sedang mengomentari perkiraan cuaca besok pagi.
Bagas mengerutkan alisnya dalam-dalam. Perutnya mendadak bergejolak menolak situasi. Kenapa Fais tidak mengkerut? Kenapa tatapan mata pria gembel ini seolah sedang mengamati monyet sirkus melompat di dalam kandang?
Fais terus diam. Menunggu ego Bagas melorot sendiri ke lantai.
Keheningan seketika jatuh menimpa meja itu. Sepi keparat yang bikin telinga berdenging memekakkan saraf. Ini bukan sekadar jeda tanpa suara. Fais menghadirkan beban mati di udara. Gravitasi di sekitar mereka terasa melipatgandakan dirinya. Menekan ubun-ubun Bagas hingga napasnya terasa pendek.
Seorang pelayan berseragam kemeja putih rapi datang memecah tekanan itu. Ia meletakkan nampan kulit kecil berserta secarik nota di atas meja.
Bagas langsung menarik napas lega. Tulang punggungnya ditegakkan. Kesempatan untuk menyayat sisa harga diri Fais terbentang lebar di depan mata.
"Biar aku yang bereskan," serobot Bagas cepat. Tangannya merogoh saku dalam, menarik dompet kulit tebal. Menggeser sebuah kartu kredit kelas silver ke atas meja. "Kopi tempat begini mahal untuk perutmu, Fais. Simpan saja upah buruh harianmu itu buat makan mie instan akhir bulan."
Bagas tersenyum. Lebar. Memuakkan. Menang sendiri.
Pelayan itu menatap Bagas. Berhenti total. Memandang kartu silver yang tergeletak manis itu dengan dahi mengkerut halus.
"Maaf, Tuan." Pelayan itu menundukkan tubuhnya sangat dalam ke arah Fais, mengabaikan Bagas sepenuhnya. "Semua nominal tagihan untuk pesanan di meja ini sudah diotorisasi lebih awal. Ini kartu Anda kembali, Tuan Fais."
Pelayan itu meletakkan benda persegi panjang langsung ke tangan Fais.
Sebuah kartu logam solid. Hitam legam tanpa nomor seri tercetak di depannya. Kartu perbankan tier absolut yang baru sepuluh menit lalu Fais gunakan untuk memesan pesanan di meja kasir depan, persis saat Bagas mulai membual tentang relasi bea cukainya.
"Kami sangat berterima kasih atas kehadiran Anda. Semoga harinya menyenangkan, Tuan Fais," tutur pelayan itu dengan intonasi rendah yang penuh penghormatan struktural.
Fais menerima kartu hitam pekat itu. Ia menyelipkannya santai ke saku dada kemeja. Tanpa jeda. Tanpa ragu.
Tangan Bagas yang masih berada di atas dompetnya mendadak lumpuh. Urat nadinya berhenti memompa kesombongan. Rahangnya terkunci seperti mesin tua yang kemasukan krikil tajam. Matanya menatap ruang kosong tempat kartu hitam Fais tadi berada.
Di seberangnya, Maya lupa cara mengambil udara ke paru-parunya. Dadanya sesak.
Maya mengenali warna logam itu. Siapapun yang waras tahu kelas beban dari kartu tersebut.
"Aku ada keperluan lain." Fais berdiri perlahan. Ia merapikan kerahnya sejauh satu milimeter. Berjalan mendahului kebisuan memalukan yang merajam dua manusia di meja itu. "Silakan dilanjut. Saya permisi."
Tidak ada pamit berlebihan. Tidak ada senyum ramah.
Sepatu baru Fais memijak lantai marmer tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Langkah pria itu beranjak mengarah ke pintu keluar. Meninggalkan residu dominasi yang mencekik paru-paru.
Maya secara naluriah menoleh ke belakang. Memutar setengah punggungnya di kursi. Ia melihat punggung lebar Fais menembus pintu kaca ganda. Berjalan menjauh menyatu dengan jalanan metropolitan.
Perut Maya berdenyut perih. Serasa ada serpihan kaca tajam menggores lambungnya.
Untuk pertama kalinya, secara instingtif dan brutal, ia merasa kehilangan. Fais yang dulu menatapnya memelas seperti anjing kecil kehujanan kini sudah mati. Maya merasa ditinggalkan di dasar tebing kotor sementara pria itu melesat naik menembus lapisan ozon menuju tempat yang tak tergapai.
Di sebelahnya, Bagas masih menatap kosong asbak kaca di atas meja. Kartu silver di tangannya terasa serendah bungkus permen karet jalanan.
Isi kepala Bagas berteriak histeris, menabrak tulang tengkoraknya berulang kali. Sejak kapan gembel ini berubah? Sejak kapan sampah rongsokan itu mengenakan jubah sutra?
Udara malam turun menggigit kota beberapa jam setelahnya. Asap karbon monoksida berseliweran mengotori jalan lintas bawah.
Bulan paruh baya mengintip dari balik tiang pancang gedung apartemen kelas atas. Fais berdiri membisu di balkon kamarnya yang gelap. Kaca jendelanya besar. Lebar. Memantulkan jutaan titik lampu kendaraan di bawah kakinya yang terlihat sebesar barisan semut menyala.
Antarmuka hologram muncul di depan wajahnya.
Layar menyala menyengat retina. Fais menatap layar itu dengan ekspresi mati total. Sistem sintetik yang secara ilegal mendobrak masuk ke realitas hidupnya tengah menampilkan panggung pertunjukan gila.
Satu antarmuka digital bercorak emas neon muncul di kegelapan layar. Kotak rahasia premium yang didapatnya memancarkan pendar pixel yang tak alami.
Berputar.
Kotak itu berputar stabil di dalam layar antarmuka iru. Menggiurkan kewarasan otaknya secara perlahan.
Sebuah teks dengan antarmuka biru tebal tiba-tiba merayap naik menutupi pusat animasinya. Menghalangi pandangan Fais sepenuhnya. Sistem sialan ini melempar dadu sekali lagi.
[Apakah Anda ingin memakai peluang 100%?]