Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Puas Dan Tumbang
Cakra berdiri mematung di lorong yang sunyi, jemarinya terkepal kuat hingga buku-bukunya memutih.
Mata tajam nya tak lepas dari daun pintu jati yang tertutup rapat itu. Sebagai orang yang paling tahu seluk-beluk kesehatan Biru, setiap desahan dan suara benturan yang terdengar dari dalam kamar bukan lagi terdengar seperti gairah di telinganya, melainkan seperti denting lonceng kematian.
"Tuan... tolong kendalikan diri Anda," bisik Cakra pelan pada angin, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
Ia tahu Biru baru saja memintanya pergi untuk melanjutkan ronde berikutnya yang terdengar jauh lebih menuntut. Cakra sangat paham, bagi pria dengan katup jantung seperti Biru, aktivitas fisik seberat itu—apalagi dilakukan berulang kali dalam kondisi emosional yang meluap—adalah sebuah perjudian nyawa.
Ramuan Pak Wayan memang membantu, tapi ramuan itu bukan sihir yang bisa membuat jantung Biru menjadi mesin baja.
Di dalam kamar, suasana justru semakin memanas. Biru tidak menunjukkan tanda-tanda ingin berhenti. Ia justru menarik Selena ke tepi ranjang, memposisikan wanita itu dalam keadaan yang lebih menantang.
Tatapan Biru semakin liar, seolah ia sedang menantang takdirnya sendiri.
"Mas... sudah, Mas... wajahmu mulai sangat merah," Selena memperingatkan, napasnya sendiri masih belum teratur. Ia bisa merasakan panas tubuh Biru yang tidak wajar, sebuah kombinasi antara gairah dan kerja jantung yang dipacu maksimal.
"Satu kali lagi, Selena. Aku ingin memastikan kau tidak akan pernah bisa melupakan bagaimana rasanya menjadi milikku," desis Biru parau.
Biru kembali menghujam dengan intensitas yang lebih brutal, mengabaikan denyut tajam yang mulai memberikan sinyal di pangkal lehernya. Ia seolah ingin membuktikan bahwa cintanya—atau obsesinya—lebih kuat daripada penyakitnya.
Di luar, Cakra akhirnya tidak tahan. Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel dan bersiap menghubungi tim medis darurat yang sudah bersiaga di vila sebelah.
Tangannya gemetar saat menyentuh gagang pintu, bimbang antara menjaga privasi tuannya atau mendobrak masuk sebelum Biru benar-benar tumbang di atas tubuh wanita yang dicintainya itu.
"Satu menit lagi..." gumam Cakra dengan napas tertahan. "Kalau dalam satu menit suara itu berubah menjadi rintihan sakit, aku tidak akan peduli lagi pada perintahnya."
Biru tidak memberikan kesempatan bagi Selena untuk memprotes. Dengan sisa tenaga yang seolah diledakkan oleh adrenalin, ia menarik pinggul Selena, memaksa wanita itu bertumpu pada kedua tangannya di atas seprai yang sudah berantakan.
Posisi ini membuat penyatuan mereka terasa jauh lebih dalam dan primitif.
"Mas Biru... ahh! Ini terlalu... Mas!" Selena memekik kecil, kepalanya tertunduk saat ia merasakan setiap hantaman Biru yang begitu bertenaga dan tanpa jeda.
Biru mencengkeram pinggang Selena dengan sangat kuat, hingga jemarinya meninggalkan bekas kemerahan di kulit putih istrinya. Ia tidak lagi peduli pada keringat yang mengucur deras atau dadanya yang mulai terasa bergemuruh hebat.
Setiap hentakan yang ia berikan adalah bentuk kepemilikan yang absolut. Ia ingin Selena merasakan bahwa di balik raga yang didiagnosis lemah ini, ada seorang pria yang mampu menaklukkannya sepenuhnya.
Di luar pintu, Cakra semakin pucat. Ia mendengar suara ranjang yang berderit hebat dan napas Biru yang terdengar semakin berat melalui celah pintu. Cakra tahu, pada posisi seperti ini, beban pada jantung Biru berada di titik maksimal.
"Tuan, cukup..." gumam Cakra penuh kecemasan, tangannya sudah menempel di gagang pintu, siap mendobrak jika suara itu tiba-tiba berubah menjadi keheningan yang mematikan.
Namun di dalam, Biru justru semakin menggila. Ia menenggelamkan wajahnya di antara pundak Selena, mencium kulit istrinya dengan rakus sambil terus memacu iramanya.
Gelombang kenikmatan yang ekstrim ini terasa seperti kembang api yang meledak di dalam kepalanya.
"Kau... milikku, Selena... hanya milikku," geram Biru di sela napasnya yang semakin pendek.
Selena hanya bisa merintih pasrah, tubuhnya berguncang mengikuti ritme brutal yang diciptakan Biru.
Ia merasa seolah jiwanya sedang ditarik paksa keluar dari raga, menyatu dalam gairah yang melampaui batas logika dan kontrak medis yang selama ini menghantui mereka.
Malam di Uluwatu itu benar-benar menjadi saksi bisu bagaimana Biru mempertaruhkan setiap detak jantungnya hanya untuk satu malam yang tak terlupakan bersama Selena.
Biru terbaring telentang dengan dada yang naik-turun drastis, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang terasa seperti baru saja memenangkan maraton paling berbahaya di hidupnya.
Peluh membasahi seluruh tubuhnya, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kemenangan yang tipis. Ia menoleh ke samping, menatap punggung Selena yang mulai menjauh menuju kamar mandi dengan langkah yang sedikit goyah.
Di dalam kamar mandi, Selena berdiri di bawah guyuran air hangat, membiarkan uap memenuhi ruangan. Ia memejamkan mata, merasakan sisa-sisa intensitas tiga ronde tadi masih berdenyut di seluruh sarafnya.
Tubuhnya terasa lengket, lelah, namun ada kepuasan aneh yang menjalar di hatinya—sesuatu yang jauh lebih mendalam daripada sekadar plot novel romansa yang biasa ia tulis.
"Pria gila itu..." gumam Selena sambil mengusap sisa-sisa percintaan mereka dari kulitnya. Ia tidak menyangka Biru yang tampak kaku bisa menjadi begitu dominan dan tak kenal ampun di atas ranjang.
Sementara itu, di luar kamar, Cakra akhirnya bisa mengembuskan napas lega setelah mendengar suara gemericik air dan keheningan yang stabil dari dalam.
Ia menyeka keringat dingin di dahinya, lalu menyarungkan kembali ponselnya.
"Luar biasa, Tuan Biru," batin Cakra sambil menggelengkan kepala. "Sepertinya Anda benar-benar sedang menulis ulang takdir kesehatan Anda sendiri malam ini."
Biru perlahan bangkit dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, menarik selimut untuk menutupi bagian bawah tubuhnya.
Ia meraih segelas air di nakas, meminumnya hingga tandas sambil menunggu Selena keluar.
Meski tenaganya terkuras habis, matanya tetap terjaga, tidak sabar ingin kembali mendekap wanita yang baru saja membuktikan bahwa ia bukan sekadar 'istri kontrak', melainkan pemilik dari setiap detak jantung yang masih tersisa di dadanya.
Namun beberapa menit kemudian, dada kirinya tiba-tiba terasa sangat nyeri. Tangannya dengan cepat meraih handphonenya di atas nakas.
"Cakra..." Panggilnya lewat telepon.
***
jin ouch jin sentuh itu selena...