NovelToon NovelToon
Pesona Murid Baru

Pesona Murid Baru

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Teen
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Vina Melani Sekar Asih

Bagi semua siswi di SMA 1 Nusa Bangsa, kedatangan Rian adalah sebuah anugerah. Cowok pindahan bertampang dingin itu punya pesona yang menyihir siapa saja. Namun tidak bagi Cinta.

Melihat seragamnya yang berantakan dan tatapannya yang tajam, Cinta yakin Rian hanyalah tipikal anak nakal yang harus dihindari. Di saat teman-temannya sibuk memuja Rian, Cinta justru memilih menjauh.

Namun, sebuah tugas kelompok memaksa Cinta mengenal Rian lebih dekat. Di balik kesan urakan yang selama ini ia benci, ada sisi Rian yang tak pernah terlihat oleh orang lain. Kini, Cinta dihadapkan pada satu kenyataan. Apakah ia akan tetap pada prasangkanya, atau justru ikut luluh pada pesona sang murid baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vina Melani Sekar Asih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Ciuman Pertama

Motor besar Rian berhenti dengan suara menderu halus di depan pagar rumah Cinta tepat pukul sembilan malam. Sesuai janji, Rian tidak ingin membuat Mamah Cinta khawatir. Cinta turun dari boncengan dengan perasaan yang jauh lebih ringan dibandingkan saat ia berangkat tadi. Kebahagiaan sederhana dari pasar malam masih membekas di wajahnya.

"Terima kasih untuk malam ini, Rian. Arumanisnya enak," ucap Cinta sambil menyerahkan helm.

"Sama-sama. Terima kasih juga sudah mau menemaniku," ucap Rian.

Saat mereka berjalan menuju teras, Cinta melirik ke arah garasi. Ia merasa cemas jika Papahnya sudah pulang. Meskipun Mamah sudah memberi izin, sosok Papah yang jarang pulang namun memiliki otoritas besar di rumah ini tetap membuat Cinta tegang.

"Mah, Cinta pulang," panggil Cinta saat memasuki ruang tamu.

Mamah keluar dari arah dapur sambil membawa segelas air putih. Wajahnya tampak tenang, tidak ada raut tegang yang menandakan kepulangan sosok kepala keluarga yang ditakuti.

"Sudah pulang? Tepat waktu ya," puji Mamah.

"Mah, Papah sudah pulang belum?" tanya Cinta berbisik.

Mamah menghela napas pendek. "Tadi sempat pulang sebentar jam delapan, tapi langsung pergi lagi. Ada urusan bisnis mendadak di luar kota, katanya harus berangkat malam ini juga."

Cinta mengembuskan napas lega yang sangat panjang. Ketegangannya luruh seketika. Ia menoleh ke arah Rian yang berdiri canggung di ambang pintu.

"Eh, Rian. Jangan pulang dulu," panggil Mamah tiba-tiba saat Rian hendak berpamitan.

Rian menoleh bingung. "Ada apa, Tante?"

"Ini sudah malam, dan kelihatannya mendung sekali di luar. Daripada kamu pulang naik motor jauh-jauh dalam kondisi begini, lebih baik kamu menginap saja di sini. Kebetulan Papahnya Cinta juga sedang tidak ada di rumah," ujar Mamah dengan nada santai namun tegas.

Cinta terbelalak. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Mah?! Menginap? Di sini?"

"Kenapa? Kamar tamu di bawah kan kosong dan sudah rapi. Lagipula Tante merasa lebih tenang kalau ada orang lain di rumah ini saat Papahmu pergi," lanjut Mamah.

Cinta tertegun. Sepanjang hidupnya, belum pernah ada satu pun teman laki-laki yang diizinkan menginap, bahkan masuk ke dalam rumah terlalu lama pun jarang. Namun, melihat sorot mata Mamah, Cinta menyadari sesuatu. Mamah selalu menyimpan lubang kecil di hatinya. Takdir pernah berkata lain, seharusnya Cinta memiliki seorang kakak laki-laki, namun Mamah harus kehilangan bayinya saat proses persalinan bertahun-tahun lalu. Mungkin, melihat sosok Rian yang jangkung dan sopan, naluri keibuan Mamah yang merindukan anak laki-laki itu bangkit kembali.

Rian tampak serba salah. "Anu, Tante... apa tidak merepotkan? Saya tidak enak."

"Tidak sama sekali. Sudah, menginap saja. Tante ambilkan bantal dan selimut tambahan."

Karena merasa tidak enak menolak niat baik yang begitu tulus, Rian akhirnya mengangguk pelan. "Baik, Tante. Terima kasih banyak."

...****************...

Pukul sebelas malam. Rumah sudah sangat sunyi. Mamah sudah masuk ke kamarnya sejak satu jam yang lalu. Namun, Cinta tidak bisa memejamkan mata. Pikirannya masih melayang-layang pada kejadian di pasar malam dan keberadaan Rian yang hanya berjarak satu lantai di bawahnya.

Saat ia sedang berbaring menatap langit-langit, indra pendengarannya menangkap suara gesekan halus dari arah teras luar. Karena penasaran, Cinta berjingkat menuju jendela kamarnya di lantai dua. Ia menyibak sedikit gorden.

Di bawah sana, di atas kursi kayu teras, Rian sedang duduk sendirian. Yang membuat Cinta terkejut adalah kepulan asap tipis yang keluar dari mulut cowok itu. Rian sedang merokok.

Tanpa berpikir panjang, Cinta keluar dari kamar dan menuruni tangga dengan sangat perlahan agar tidak membangunkan Mamah. Ia membuka pintu depan dengan hati-hati. Rian tersentak kaget saat melihat Cinta tiba-tiba muncul.

"Cinta? Kamu belum tidur?" Rian buru-buru menyembunyikan tangannya yang memegang rokok ke belakang tubuhnya.

Cinta tidak menjawab. Ia melangkah mendekat, lalu tanpa permisi mengambil paksa batang rokok yang masih menyala itu dari tangan Rian.

"Tidak baik merokok, Rian. Apalagi malam-malam begini. Tidak baik untuk kesehatanmu," nasehat Cinta dengan wajah serius.

Rian terdiam sejenak, lalu sebuah senyum tipis terukir di bibirnya. Ia tidak marah, justru tampak senang diperhatikan seperti itu. "Maaf, aku cuma sedang banyak pikiran."

Cinta mematikan rokok tersebut dengan menekannya ke asbak, lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia kemudian menarik kursi dan duduk di sebelah Rian. Keheningan malam menyelimuti mereka.

"Masih soal rahasia itu?" tanya Cinta pelan. "Tadi di pasar malam kamu bilang mau cerita. Ceritakan sekarang, mumpung sepi."

Rian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap langit malam yang mendung. Ia menghela napas panjang, kali ini tanpa asap rokok.

"Gosip yang kamu dengar saat aku baru pindah itu... sebenarnya tidak seberapa, Cin. Tentang aku yang memukul orang sampai luka ringan, itu versi yang sudah diperhalus oleh Papahku," Rian memulai dengan suara rendah. "Papah menutupi kasusku agar nama baik keluarga tetap terjaga di Jakarta."

Cinta mendengarkan dengan saksama, jantungnya berdebar menunggu kelanjutan cerita.

"Sejujurnya, dulu aku benar-benar nakal. Suatu malam, aku pergi ke sebuah klub malam. Di sana, aku melihat Clarissa sedang bersama seorang cowok. Cowok itu satu sekolah dengan kami di Jakarta. Aku gelap mata, Cin. Aku tidak percaya pada penjelasan siapa pun. Aku menghajar cowok itu habis-habisan. Bukan cuma luka lecet, tapi tulang hidungnya patah dan dia tidak sadarkan diri selama beberapa hari di rumah sakit."

Cinta menutup mulutnya dengan tangan, kaget mendengar sisi gelap Rian yang ternyata lebih mengerikan dari dugaannya.

"Clarissa bilang dia tidak ada hubungan apa-apa dengan cowok itu, tapi aku tidak percaya karena teman-temanku sudah berkali-kali memperingatkanku kalau dia sering jalan di belakangku. Akhirnya, orang tua cowok itu memanggil Papah. Kasusnya panjang. Ujung-ujungnya, Papah membayar semua biaya perawatan dan memberi uang tutup mulut dalam jumlah besar agar tidak sampai ke kepolisian. Dan untuk menghindar agar aku tidak bertemu lagi dengan cowok itu atau membuat keributan baru, Papah memindahkanku ke sini. Ke tempat yang jauh dari pergaulan Jakarta."

Rian menoleh ke arah Cinta. "Clarissa tahu betapa berusahanya Papah menutupi ini. Dia mengancam akan menyebarkan kebenaran bahwa aku hampir membunuh orang kalau aku tidak menuruti kemauannya selama dia di sini."

Cinta terdiam membatu. Ada rasa pahit yang menjalar di hatinya. Bukan karena takut pada masa lalu Rian, melainkan karena ia menyadari satu hal. "Kamu... dulu benar-benar mencintai Clarissa ya, Rian? Sampai kamu bisa segila itu saat melihatnya bersama orang lain."

Rian memperhatikan perubahan raut wajah Cinta. "Kenapa, Cin? Kok kamu diam saja?"

Cinta menggeleng pelan, ia merasa dadanya sesak. Ia merasa kecil dibandingkan perasaan besar yang pernah Rian miliki untuk Clarissa. "Tidak apa-apa. Aku... aku masuk dulu ya. Sudah malam."

Cinta berdiri, namun dengan gerakan cepat dan lembut, Rian menarik tangan Cinta. "Tunggu, Cin. Kenapa tiba-tiba begini?"

Rian menarik tangan Cinta agar gadis itu kembali duduk. Ia menatap Cinta dengan tatapan yang sangat dalam, mencoba mencari kejujuran di mata gadis di depannya. "Katakan padaku apa yang ada di pikiranmu."

Cinta akhirnya mengeluarkan unek-unek yang sejak tadi menghimpitnya. "Aku cuma berpikir... apa aku ini cuma pelampiasan? Kamu pindah ke sini dalam keadaan hancur karena Clarissa, lalu kamu bertemu aku. Apa kamu menyukaiku hanya karena ingin melupakan dia? Apa aku cuma pengganti sementara sampai urusanmu dengannya selesai?"

Mata Rian memancarkan kesungguhan yang luar biasa. Ia tidak melepaskan tangan Cinta. "Dengar, Cinta. Kejadian itu adalah titik terendah dalam hidupku. Aku memang pernah mencintainya, tapi itu dulu. Rasa itu sudah mati saat aku sadar betapa beracunnya hubungan kami. Aku menyukaimu bukan karena kamu pengganti siapapun."

Rian mendekatkan wajahnya, suaranya nyaris seperti bisikan. "Aku menyukaimu karena kamu adalah kamu. Sekretaris kelas yang galak, yang peduli pada kesehatanku, yang membuatku merasa berharga tanpa perlu menjadi orang lain. Kamu bukan pelampiasan, Cinta."

Wajah mereka kini hanya berjarak beberapa sentuhan. Cinta terpaku, napasnya memburu. Aroma parfum Rian yang maskulin terasa begitu dekat. Di tengah heningnya malam, Rian perlahan memajukan wajahnya dan mencium bibir Cinta dengan lembut.

Hanya sebentar, namun sukses membuat dunia Cinta seolah berhenti berputar. Jantungnya berdegup sangat kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Pipi Cinta memanas hebat.

Begitu Rian menjauhkan wajahnya, Cinta langsung berdiri dengan gerakan kaku. Ia benar-benar salah tingkah, tangannya menyentuh bibirnya sendiri dengan gemetar.

"Aku... aku masuk sekarang! Selamat malam, Rian!"

Tanpa menunggu jawaban, Cinta berlari masuk ke dalam rumah dan naik ke kamarnya dengan langkah seribu. Begitu sampai di kamar, ia langsung menyembunyikan wajahnya di balik bantal, mencoba meredam teriakan tanpa suara yang meledak di dalam hatinya. Malam ini, benar-benar mencatat sejarah baru dalam hidup Cinta.

1
EvhaLynn
Luar Biasa😉
clarisa
Ayo lanjut lagi, eh jgn lupa mampir di karyaku permen kopi edisi spesial yaaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!