Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Asing
Shafiya berada di teras kamar, duduk terlihat begitu anggun di depan laptop sembari makanan yang di samping laptop tersebut. Shafiya ternyata sedang menonton sembari menikmati nasi goreng yang dia buat untuknya.
Arash sudah memasuki kamar dan melihat dari kejauhan bagaimana istrinya itu makan dengan santai tanpa memikirkan dirinya yang sejak tadi kelaparan dengan perut keroncongan.
"Hah sial!" umpat Arash.
Arash memiliki keinginan untuk memerintah Shafiya, tetapi sebelumnya dia pernah menekankan bahwa tidak akan pernah sudi menyentuh makanan yang dibuat oleh Shafiya dan sekarang tahu rasa sendiri harus menahan lapar.
Arash sebelumnya sudah mencoba untuk memesan makanan, tetapi malam-malam seperti itu banyak Restoran yang tutup. Tidak ada pengantar makanan yang membuat Arash harus menahan lapar.
Shafiya sepertinya menyadari bahwa sejak tadi dia ditatap dan membuat Shafiya menoleh ke arah tatapan itu dan ternyata benar Arash masih menatapnya.
"Apa dia ingin memerintahkanku untuk membuatkannya makanan, tidak mungkin, harga dirinya akan turun jika melakukan hal itu," batin Shafiya tidak peduli sama sekali dan melanjutkan makannya.
****
Shafiya menuruni anak tangga di pagi-pagi seperti ini terlihat cantik dan anggun menggunakan atasan berwarna putih dengan rok berwarna pink.
"Shafiya kamu buatkan saya kopi!" titah Amelia yang berada di ruang tamu.
"Saya bukan pelayan di rumah ini," jawabnya menolak permintaan Amelia.
"Kau mengatakan apa?" Amelia tersinggung dan berdiri dari tempat duduknya dan begitu juga dengan Tami terlihat kesal mendengar pernyataan Shafiya.
"Pelayan di rumah ini tidak ada dan artinya kau adalah sebagai pelayan pengganti. Jadi buatkan saja dan jangan membangkang!" tegas Tami.
"Kenapa bukan kamu sendiri saja yang membuatnya," sahut Shafiya.
"Heh, kau berani menantang kami hah! Apa kau tidak punya sopan santun dan etika untuk menghargai orang yang lebih tua dan juga pemilik rumah ini!" tegas Tami.
"Untuk apa juga aku harus menghargai orang-orang seperti kalian, jika kalian tidak bisa menghargai orang yang menjadi tamu di rumah ini, aku bahkan sudah melakukan yang terbaik, tetapi pada dasarnya kalian tidak bisa menghargai, jadi jika membutuhkan sesuatu maka lakukan sendiri dan jangan menggangguku!" tegas Shafiya dengan berani melawan Tami dan juga Amelia.
"Ulangi perkataanmu barusan!" tegas Amelia benar-benar tersinggung bahkan menghampiri Shafiya.
"Ada apa ini?" langkah itu terhenti ketika Nenek tiba-tiba saja muncul.
"Kenapa pagi-pagi seperti ini kamu memberikan ekspresi seperti itu Amelia? apa yang membuatmu terlihat begitu marah kepada Shafiya?" tanya Nenek.
"Bagaimana aku tidak marah Tante, dia tidak punya sopan santun kepada wanita yang lebih tua. Aku menyuruhnya baik-baik untuk membuatkan kopi ada dia malah berbicara begitu kasar," jawab Tami.
"Shafiya bukan pembantu di rumah ini, kamu tidak punya hak untuk memerintahkannya," tegas Nenek sudah pasti akan membela Shafiya.
Amelia semakin kesal.
"Shafiya ke depannya kamu tidak pernah khawatir dan tidak perlu harus melakukan apapun yang diperintahkan kepada kamu jika kamu memang tidak ingin melakukannya. Kamu menantu di rumah ini dan kamu memiliki hak yang banyak di rumah ini," ucap Nenek.
"Baik. Nek," sahut Shafiya dengan tersenyum.
"Shafiya ingin membuat sarapan. Apa Nenek mau dibuatkan sarapan juga?" tanyanya.
"Jika kamu tidak keberatan, maka tidak apa-apa," jawab Nenek.
"Baiklah, kalau begitu Shafiya buatkan sebentar," ucap Shafiya langsung berlalu menuju dapur.
"Kalian berdua ke depannya untuk menjaga sikap lebih baik lagi, jangan sampai di depan saya masih terdengar bagaimana kalian berdua memerintahkan Shafiya!" tegas Nenek memberi peringatan kepada Tami dan Amelia.
Mereka tidak berkutik sama sekali dan hanya terlihat menahan kekesalan.
Shafiya berada di dapur dan hanya membuat sarapan untuk orang yang bisa menghargainya. Arash sudah selesai siap-siap ingin ke kantor, memang sudah menjadi rutinitas yang sebelum ke kantor akan sarapan terlebih dahulu, tetapi sarapan apa yang dia dapatkan terlihat meja makan itu kosong dan Shafiya masih berada di dapur.
"Apa pelayan tidak ada juga di rumah ini?" umpat Arash.
Shafiya dapat mendengar ocehan suaminya itu, tetapi dia tidak berniat sama sekali untuk menanggapi dan bahkan tidak membalikan tubuhnya.
"Bukan hanya pelayan yang tidak ada di rumah ini, tetapi juga manusia sudah tidak ada di dapur ini, hanya patung yang bisu," umpat Arash memberi sindiran kepada Shafiya yang lagi-lagi tidak menanggapi perkataannya.
Shafiya mendengar suara hentakan kaki itu dan barulah dia membalikkan tubuh, melihat kepergian suaminya dengan penuh amarah. Shafiya menarik nafas panjang dan membuang perlahan ke depan.
******
"Apa maksud kamu Kanaya?" Umi Laina dan Abi Thoriq cukup kaget ketika Kanaya menuruni anak tangga dengan menyeret kopernya.
"Umi saya sudah 5 tahun berada di rumah ini tanpa suami. Saya sudah tidak bisa melanjutkan pernikahan ini saya dengan Mas Willi dengan begitu saya mundur dan akan pergi dari rumah ini," ucap Kanaya benar-benar mengejutkan lainnya dan juga Thoriq.
"Ada apa Kanaya? kenapa kamu tiba-tiba seperti ini? Apa yang membuat kamu ingin mengakhiri pernikahan kamu dan bukankah kamu sudah berjanji kepada suami kamu akan menunggunya?" tanya Laina.
"Hanya wanita bodoh yang akan menepati janji itu, 5 tahun Saya mengabdi di rumah ini, berusaha melakukan yang terbaik menjadi anak untuk kalian berdua dan Kakak untuk Shafiya, tetapi tetap saya membutuhkan hidup dan harus melanjutkan hidup saya. Saya mengucapkan terima kasih untuk kebaikan kalian selama ini kepada saya dan maaf saya tidak bisa melanjutkan hubungan ini," lanjut Kanaya.
"Kanaya, jika ada sesuatu yang mengganjal di dalam pikiran kamu kamu bisa ceritakan kepada kami. Kami sebagai orang tua kamu akan memberi dukungan," ucap Laina.
"Tolong jangan mencegah kepergian saya, ini sudah keputusan saya. Permisi!" Kanaya berdiri dari tempat duduknya setelah berpamitan dan menyeret kopernya.
"Kanaya!"
"Kanaya!"
Kanaya tidak merespon panggilan ibu mertuanya itu.
"Umi biarkan, kita tidak bisa memaksakan Kanaya untuk tetap berada di rumah ini dan setia kepada Willi, mungkin ada sesuatu yang membuat dia mengambil keputusan seperti ini," ucap Abi.
"Tetapi apa Abi, selama ini kita sangat mengenal baik Kanaya, dia wanita yang sabar dan tidak pernah macam-macam lalu kenapa tiba-tiba dia ingin mengakhiri pernikahannya dan bahkan pergi dari rumah ini?" tanya Umi.
"Kanaya butuh waktu dan menenangkan diri, Abi yakin dia pasti akan kembali, Kita juga bisa tanyakan semua ini kepada Willi, semoga saja masih bisa diperbaiki jika ada permasalahan di antara mereka berdua," ucap Abi.
"Astagfirullah apa yang terjadi, kenapa harus seperti ini," Umi terlihat frustasi.
Bersambung......