Demi menyelamatkan hak waris adiknya dari keserakahan sang kakak tiri, seorang CEO wanita yang berhati dingin terpaksa terjebak dalam pernikahan kontrak. Ia harus bersanding dengan pengacara mendiang ayahnya—pria yang memandangnya dengan kebencian, namun memegang kunci kekuatan hukum yang ia butuhkan.
Tempaan hidup yang keras telah membentuknya menjadi sosok yang tegas dan tak kenal lelah. Di bawah atap yang sama, tak ada ruang bagi cinta, hanya ada dendam yang membara di hati sang suami. Demi ambisi masing-masing, keduanya terpaksa memerankan sandiwara rumah tangga yang sempurna di mata dunia.
Akankah benih cinta tumbuh di sela-sela permusuhan mereka, ataukah perpisahan pahit yang menjadi akhir dari kesepakatan ini?
Mau tahu kelanjutan ceritanya? Jangan lupa baca di sini, ya. 🤗
Jangan lupa, like dan komentarnya sebagai penyemangat Author. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ndo' Anha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. WATACI
Karena gugup, Adnan segera mematikan ponsel dan menyembunyikannya di balik punggung.
"Kamu ... kenapa ada di sini?" tanya Adnan panik. Ia celingukan seolah-olah baru saja tertangkap basah melakukan kesalahan besar.
Mata Nika menyipit. "Memangnya kenapa? Apa aku tidak boleh ke sini?"
"Kau seperti pencuri yang ketahuan saja. Kenapa? Sedang teleponan dengan selingkuhan, ya?" timpal Nika sinis. Ia bersandar pada dinding dan mengeluarkan sebungkus rokok dari saku pakaiannya.
Sontak, mata Adnan membelalak tak percaya. Seorang Nika, direktur perusahaan besar yang dikenal penuh wibawa, ternyata merokok.
"Cukup. Tutup mulutmu itu, nanti atap ini bisa banjir karena air liurmu," ledek Nika sambil menyalakan pemantik api.
Namun, belum sempat api menyentuh ujung rokok, Adnan segera merampasnya dan membuangnya.
"Wanita tidak boleh merokok!" sentaknya kesal.
Nika mengernyitkan dahi. "Apa urusannya denganmu? Lagi pula aku tidak minta uang darimu untuk membelinya, kan?"
"Memang tidak ada urusannya denganku. Tapi ... kita tidur di ruangan yang sama. Aku tidak suka bau asap rokok. Pokoknya tidak boleh!" tegas Adnan, meski ia sadar alasannya terdengar dipaksakan.
"Kau itu perempuan. Suatu saat kau akan mengandung, hal itu tidak baik untuk bayimu kelak," tambahnya lagi.
Adnan merasa ucapannya semakin tidak masuk akal, namun ia tetap mengatakannya. Apa pedulinya pada janin yang bahkan mungkin tidak akan pernah ada di antara mereka?
"Aneh," sahut Nika singkat. "Ah, terserahlah. Aku kembali ke dalam. Aku ke sini ingin mencari ketenangan, tapi mendengar ocehanmu malah membuatku semakin stres."
Saat hendak kembali ke ruangan, Nika berbelok ke toilet wanita. Keadaan di dalam masih sepi, namun saat ia berada di dalam bilik, ia mendengar suara langkah kaki dan percakapan yang menyebut namanya.
"Kau lihat penampilan Bu Nika pagi ini? Sepertinya akan ada yang dipecat lagi," ucap seorang wanita.
"Heh, dia itu hanya sok berkuasa. Padahal bos sebenarnya itu Tuan Barra. Tapi karena ibunya yang pelakor itu, sekarang mereka yang menguasai segalanya," timpal yang lain.
Mendengar itu, Nika tidak bisa tinggal diam. Tangannya meremas tisu hingga hancur. Dihina secara pribadi mungkin masih bisa ia tahan, namun jika sudah menyangkut ibu atau adiknya, ia tidak akan memaafkannya.
"Dan dengar-dengar, dia juga memaksa seseorang untuk menikah dengannya. Tentu saja dia bisa, dia punya kuasa. Aku sebenarnya malas bekerja di bawah pengawasannya," lanjut wanita itu lagi.
BRAK!
Suara pintu yang didorong kuat membuat kedua wanita itu tersentak hebat.
"Kalau kalian tidak suka berada di sini, kenapa tidak bicara langsung? Aku dengan senang hati mengabulkan keinginan kalian untuk pergi," sahut Nika sambil berkacak pinggang.
Karena ketakutan, mereka sampai tersandung tong sampah di belakang mereka.
"Bu ... Bu Direktur. Maafkan kami, kami salah, kami sudah lancang," ucap mereka serempak. Namun, Nika bisa melihat dengan jelas bahwa wanita di hadapannya tidak tulus.
Drrrt! Drrrt!
Nika meraih ponsel dari sakunya. Saat membaca sebuah pesan, senyum sinis mengembang di bibirnya.
"Kalian berdua, ikut aku," perintahnya sambil melenggang keluar.
Dengan langkah ragu, mereka mengikuti Nika ke area staf. Nika berhenti tepat di tengah ruangan.
"Semuanya, mohon perhatiannya!" Seketika, semua karyawan menoleh.
Nika melangkah maju ke arah wanita tadi dan melirik kartu identitasnya. "Jadi, itu kamu," bisiknya pelan.
"Kau Elena. Tugasmu mengawasi produk siap pasar, bukan?" Nika menunjuk kartu identitas wanita itu.
"Iya, benar," jawab Elena singkat, tanpa raut penyesalan.
Nika bertepuk tangan sekali untuk menegaskan otoritasnya. Adnan yang kebetulan lewat segera berhenti. Rasa penasarannya memuncak melihat keributan yang melibatkan istrinya itu.
"Dengan jabatan setinggi itu, pendidikanmu pasti tinggi juga, kan? Tapi kenapa isi otakmu tidak kau gunakan?" cibir Nika.
Seketika suasana riuh. Orang-orang penasaran apa yang telah dilakukan Elena hingga sang Direktur mempermalukannya di depan umum.
"Dia, tanpa dasar yang kuat, berani menghina keluargaku sebagai pelakor. Tahu apa kau soal hidupku?" Nika menatap tajam ke sekeliling. "Ini peringatan bagi kalian semua. Jika aku mendengar hal serupa lagi, aku tidak akan segan menuntut kalian ke pengadilan!"
Ia kembali menatap Elena. "Dan untukmu, kau dipecat sekarang juga! Tanpa pesangon. Dan aku pastikan kau tidak akan pernah mendapatkan pekerjaan di kota ini lagi. Jadi, lebih baik kau angkat kaki sejauh mungkin."
Ruangan menjadi gaduh. Beberapa staf merasa keputusan itu terlalu berlebihan, namun tak ada yang berani membantah.
"Anda tidak bisa memperlakukan kami seperti ini! Anda memang Direktur, tapi kami manusia yang bekerja jujur! Hanya karena ucapan begitu, apa pantas Anda menghancurkan hidup saya?!" sentak Elena, berusaha memancing simpati rekan-rekannya.
"Kami yang membuat perusahaan ini sukses! Bagaimana bisa Anda memperlakukan kami seperti sampah?!" tambahnya dengan nada provokatif.
Nika tak gentar. Ia bukan tipe atasan yang asal pecat jika tidak ada alasan kuat. Tanpa niat berdebat lebih lama, ia memanggil petugas keamanan.
"Bawa dia keluar. Dan urus laporannya ke kantor polisi," perintahnya dingin.
"Tidak! Lepaskan aku! Apa kau tega?! Aku seorang janda dengan satu anak! Kalau aku dipenjara, bagaimana nasib anakku?!" rengek Elena dengan wajah memelas.
"Aku tidak peduli. Bawa dia!"
Tiba-tiba, Adnan melangkah maju. Ia menepis tangan petugas keamanan yang hendak menyeret Elena.
"Hentikan semua ini, Nika! Apa kau tidak malu dengan kelakuan kekanak-kanakanmu ini?!" Adnan menatapnya tajam.
"Jangan ikut campur, Tuan Adnan," ujar Nika dingin.
Adnan justru melangkah mendekat dan mencengkeram tangan Nika dengan kuat hingga wanita itu meringis.
"Aku bilang cukup! Dulu aku diam karena kau atasan-ku, tapi sekarang aku suamimu. Aku berhak ikut campur dalam urusan ini!" ancam Adnan dengan nada rendah namun menekan.
Nika tertegun. Ia tidak menyangka Adnan, pria yang menikahinya karena perjodohan, berani mempermalukannya di depan para karyawan.
"Aku sudah menahan diri selama ini, tapi kali ini kau keterlaluan. Mulai sekarang, kau tidak bisa lagi memecat orang sesuka hatimu," ujar Adnan sambil menarik Nika menjauh dari kerumunan.
Adnan menarik Nika menjauh dari kerumunan, meninggalkan para staf yang mematung karena syok. Pengakuan Adnan bagai petir di siang bolong, mengingat pernikahan mereka dilakukan secara rahasia. Begitu sampai di tempat yang agak sepi, Nika menyentak tangannya dengan kuat. Ia meringis sambil mengusap pergelangan tangannya yang memerah.
"Atas dasar apa kau mempermalukanku di depan semua orang?! Kau mau membuatku kehilangan muka, hah?!" bentak Nika dengan napas memburu.
"Itu karena kau terlalu egois! Aku tidak habis pikir bagaimana bisa ada wanita yang tidak punya perasaan sepertimu," cecar Adnan tanpa memberi kesempatan bagi Nika untuk membela diri.
Nika tertawa hambar, matanya berkilat marah. "Oh, jadi sekarang kau baru tahu siapa aku yang sebenarnya? Kau menyesal sekarang, hah?!"
Nika melangkah mendekat, menatap tajam tepat di manik mata Adnan. "Dengarkan aku baik-baik. Jangan pernah merasa paling tahu tentang hidupku. Dan satu hal lagi, ingat batasanmu, Tuan Adnan!"
Nika yang sudah muak segera berbalik, meninggalkan Adnan yang masih mematung dengan kepalan tangan erat dan tatapan penuh kekesalan.