NovelToon NovelToon
LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

LAYU SEBELUM MALAM : RAHASIA DI BALIK MAHKOTA CLARISSA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Nikahmuda / CEO
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KUPU-KUPU DI BALIK GERIMIS

Hujan rintik-rintik mulai membasahi kaca jendela rumah singgah yang disewa Pak Gunawan di kawasan Novena, Singapura. Aroma tanah basah dan teh melati yang baru saja diseduh memenuhi ruangan. Clarissa duduk di sofa panjang dekat jendela, kakinya diselimuti kain wol tebal. Wajahnya mulai memperlihatkan rona kehidupan, meski ia masih harus mengenakan jilbab rumah yang longgar karena kepalanya masih terasa dingin pasca-kemoterapi konsolidasi pertama.

Di depannya, Adrian sedang sibuk merapikan tumpukan buku skripsi yang ia bawa dari Jakarta. Meskipun ia mengambil cuti, ia tetap berusaha mencicil penelitiannya agar tidak tertinggal jauh.

"Kamu terlalu serius, Adrian," goda Clarissa sambil melemparkan bantal kecil ke arahnya. "Nanti gantengnya hilang kalau dahinya berkerut begitu."

Adrian menoleh, meletakkan kacamatanya, dan tersenyum lebar. Ia beranjak dari meja kerja dan duduk di lantai, tepat di bawah kaki Clarissa yang sedang duduk di sofa. "Aku cuma mau cepat selesai, supaya nanti kalau kamu sudah benar-benar sembuh, aku bisa langsung ajak kamu naik ke pelaminan dengan gelar sarjana di tangan."

Clarissa tersipu, ia menunduk dan memainkan butiran tasbih birunya. Suasana di rumah singgah itu sangat sunyi; Bastian sedang pergi ke pusat kota untuk urusan administrasi rumah sakit, meninggalkan mereka dalam keheningan yang intim namun tetap terjaga.

"Adrian," panggil Clarissa lirih. "Kamu pernah nggak merasa takut? Takut kalau semua ini... kebahagiaan ini... cuma sementara?"

Adrian meraih tangan Clarissa, menggenggamnya dengan lembut. Ia menatap mata Clarissa yang bening, mencari sisa-sisa keraguan di sana. "Aku nggak mau fokus sama rasa takut, Clar. Setiap detik yang aku habiskan bareng kamu, itu adalah kado dari Allah buat aku. Aku sayang banget sama kamu. Sangat sayang."

Adrian perlahan berdiri, posisinya kini sangat dekat dengan Clarissa. Ia bisa mencium aroma lembut dari jilbab Clarissa aroma bunga mawar yang menenangkan. Jantung Clarissa berdegup kencang, sebuah debaran yang jauh lebih sehat daripada debaran jantung saat ia sakit.

Adrian menangkup wajah Clarissa dengan kedua tangannya yang hangat. Clarissa menutup matanya perlahan, merasakan ketulusan yang mengalir dari jemari pria itu. Di bawah temaram lampu ruangan dan suara gerimis yang syahdu, Adrian mendekatkan wajahnya.

Awalnya, Adrian hanya berniat mencium kening Clarissa sebagai tanda hormat. Namun, saat ia menatap bibir Clarissa yang kini tak lagi pucat, ada dorongan kasih sayang yang sangat dalam yang tak mampu ia bendung lagi. Ia ingin menunjukkan bahwa seluruh jiwa dan raganya telah menjadi milik wanita di depannya ini.

Sangat perlahan, Adrian mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Clarissa.

Momen itu terasa seperti waktu yang berhenti. Ciuman itu tidak terasa penuh nafsu, melainkan sebuah ciuman yang penuh dengan janji, kesetiaan, dan rasa syukur. Bagi Clarissa, sentuhan lembut itu adalah obat yang paling mujarab. Ia merasa seluruh beban leukemianya, trauma masa lalunya, dan ketakutannya akan masa depan, sirna seketika dalam dekapan hangat Adrian.

Clarissa membalas ciuman itu dengan sangat lembut, menitikkan air mata haru yang jatuh mengenai pipi Adrian. Mereka terhanyut dalam keheningan yang suci, di mana hanya detak jantung mereka yang saling bersahutan.

Setelah beberapa detik yang terasa seperti keabadian, Adrian melepaskan ciumannya. Ia menyandarkan dahinya di dahi Clarissa, napas mereka berbaur menjadi satu.

"Maafkan aku," bisik Adrian serak. "Aku nggak tahan melihat kamu seindah ini."

Clarissa tersenyum dengan air mata yang masih mengalir. "Aku juga sayang kamu, Adrian. Makasih sudah mencintai aku apa adanya. Makasih sudah membuat aku merasa berharga lagi."

Adrian mengusap air mata di pipi Clarissa dengan ibu jarinya. "Dengar ya, Sayang. Mulai detik ini, aku bukan cuma mau jadi pacar kamu. Aku mau jadi orang yang bakal terus mencium kening kamu setiap pagi sampai kita tua nanti. Aku bakal temenin kamu check-up, aku bakal temenin kamu belajar agama, dan aku nggak akan pernah pergi."

Clarissa memeluk Adrian dengan erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Ia merasa sangat aman. Di rumah singgah di Singapura itu, di tengah hujan yang belum reda, Clarissa menyadari bahwa cintanya dengan Adrian telah berevolusi menjadi sesuatu yang sakral

Suara pintu depan yang terbuka membuat mereka segera menjauh dengan kikuk. Bastian masuk dengan wajah basah karena hujan, membawa kantong belanjaan berisi makanan hangat.

"Wah, kenapa kalian berdua mukanya merah begitu? AC-nya mati ya?" goda Bastian dengan nada curiga namun penuh canda.

"Nggak, Bas. Tadi... tadi Clarissa cuma lagi cerita soal masa kecilnya," jawab Adrian cepat sambil kembali ke meja kerjanya dengan wajah yang masih memerah.

Clarissa tertawa kecil, ia menarik selimutnya lebih tinggi untuk menutupi senyum bahagianya. Malam itu, di meja makan sederhana, mereka bertiga makan bersama dengan penuh tawa. Clarissa menatap Adrian yang sedang asyik berbincang dengan Bastian, dan ia tahu, bahwa ciuman tadi adalah segel bagi takdir mereka.

1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
mewek
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
nagis gue😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!