NovelToon NovelToon
Takdir Yang Ditukar

Takdir Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / CEO
Popularitas:909
Nilai: 5
Nama Author: Re _ ara

seorang ibu muda dari istri seorang pengusaha kaya raya sedang mengandung 9 bulan dan sedang mengalami kontraksi lalu dibawa ke rumah sakit , dan bertepatan dengan mantan pembantu rumah tangganya juga melahirkan di rumah sakit yang sama dengan motor majikannya . mereka sama-sama melahirkan bayi perempuan . pembantu rumah tangga yang ingin anak perempuan yang hidup berkecukupan mempunyai rencana licik untuk menukar anak perempuan dengan anak majikannya . sampai umur dewasa perbuatan itu tidak pernah terbongkar . bagaimana kelanjutannya ? ikutin terus novel Re _ Ara ya !

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Di rumah sederhana Bu Sari, usaha Liana dan Leonardo untuk membujuk Dinda pulang menemui jalan buntu. Dinda tetap pada pendiriannya. Tatapannya yang kosong kini berubah menjadi tegas.

 "Maafkan Dinda, Pa, Ma... Dinda mohon mengerti. Dinda mau di sini dulu sampai hati Dinda benar-benar sembuh. Di sini Dinda bisa tidur nyenyak, tidak ada yang menuduh, tidak ada yang menghakimi."

"Tapi Nak... di rumah itu juga rumahmu. Itu hakmu..."

 "Hak bisa dicari lagi, Ma. Tapi kepercayaan dan hati yang sakit, susah buat balik kayak semula. Dinda janji, kalau Dinda sudah siap, Dinda akan kembali. Tapi untuk sekarang... biarkan Dinda di sini sama Bapak dan Ibu."

Bu Sari dan Pak Agus hanya bisa menunduk, mendukung keputusan anak angkatnya. Akhirnya, dengan berat hati, Leonardo dan Liana harus menerima. Mereka berjanji akan sering menjenguk dan memenuhi kebutuhan Dinda, mereka lalu pamit pulang dengan hati yang hancur namun sedikit lega karena tahu Dinda berada di tempat yang aman dan penuh kasih sayang.

 Sementara itu, di Rumah Keluarga Dewantara...

Suasana tegang terasa menyelimuti ruang keluarga. Semua orang sudah berkumpul. Pak Bram, Pak Sam, Bu Ajeng, Bu Rosa, dan yang paling gugup adalah Nayla.

Wajah Nayla pucat pasi, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Ia melihat Adrian, suaminya Amira, masuk dengan wajah datar namun tajam. Adrian berjalan lurus menuju ruang kerja Leonardo, lalu keluar membawa sebuah laptop tebal.

Hanya Adrian dan Leonardo yang tahu akses ke sistem keamanan CCTV canggih yang terpasang di setiap sudut rumah ini.

"Silakan semua duduk. Kita akan tonton sesuatu yang sangat menarik. Ini akan menjawab semua pertanyaan kita tentang siapa yang jujur dan siapa yang berbohong." seru Adrian .

Nayla gemetar hebat. Ia ingin lari, tapi kakinya terasa berat. Ia tahu, permainan sudah berakhir.

Adrian membuka file rekaman tersebut. Layar laptop memperlihatkan rekaman di lorong lantai dua pagi tadi.

Terlihat jelas di layar:

1. Pukul 08.15 pagi: Dinda terlihat hanya menyapu di luar kamar, tidak pernah masuk ke dalam kamar Bu Ajeng .

2. Pukul 08.20 pagi: Saat lorong sepi, Nayla keluar dari kamarnya, mengendap-endap masuk ke kamar Bu Ajeng .

3. Terlihat jelas tangan Nayla mengambil cincin itu dari atas meja rias, lalu ia menyembunyikannya di bawah selimut dengan gerakan cepat dan licik.

4. Setelah itu ia keluar dan berpura-pura mencari-cari.

SUARANYA JUGA TEREKAM JELAS!

Suara gumaman Nayla saat menyembunyikan cincin itu terdengar: " Kena kau Dinda... kali ini kau pasti kalah."

Seketika ruangan itu hening total. Hening yang mencekam.

Pak Sam Suaranya berat dan dingin "Jadi... kita semua dibohongi ya?"

"Ya Allah... Jadi Nayla... kamu yang mengambilnya? Kamu yang menjebak Dinda?" ucap Bu Ajeng dengan tatapan nanar .

Nayla mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat. Ia tidak bisa menipu lagi. Bukti sudah ada di depan mata.

 "Buk... bukan... aku... aku cuma..." suara Nayla bergetar .

Tiba - tiba Leonardo dan Liana masuk dan melihat rekaman itu langsung menatap tajam kearah Nayla . Wajahnya merah padam menahan amarah yang luar biasa. Ia tidak menyangka anak yang ia besarkan selama 17 tahun memiliki hati sehitam ini. padahal selama ini dia selalu menuruti keinginannya .

 "CUKUP NAYLA! JANGAN BOHONG LAGI! BUKTINYA SUDAH JELAS SEKARANG!" bentak Leonardo dengan wajah merah padam .

Leonardo berjalan mendekat, menatap putri angkatnya itu dengan tatapan kecewa dan marah yang memuncak.

Leonardo: "Kita percaya kamu! Kita sayang kamu! Tapi kamu balasnya dengan menjatuhkan anak kandung ku sendiri! Kamu tega menuduh dia pencuri, kamu tega bikin dia menangis dan pergi dari rumah! Apa salah Dinda sama kamu hah?!"

Liana menangis histeris, campuran antara marah dan lega karena tahu anaknya tidak bersalah.

"Kejam sekali kamu Nay... Kejam! Kamu yang bikin kami salah tuduh! Kamu yang bikin Dinda sakit hati! Dinda yang baik-baik harus menderita karena ulahmu yang busuk!" teriak Liana .

Nayla terduduk lemas di lantai. Ia menangis, tapi kali ini bukan tangisan sedih, melainkan tangisan ketakutan dan keputusasaan. Semua kebusukannya terbongkar sudah. Ia tidak punya tempat untuk bersembunyi lagi.

 "Gimana? Masih ada yang bilang Dinda salah? Masih ada yang bilang dia pencuri ? Lihat itu! Yang jahat ada di depan mata kalian selama ini!" seru Adrian .

 Suasana di ruang keluarga itu mencekam. Rekaman CCTV sudah dimatikan, namun bayangan kebusukan Nayla dan kebodohan mereka mempercayainya masih terbayang jelas.

Nayla sudah diam membisu, terduduk lemas di lantai dengan wajah pucat pasi. Sementara itu, Pak Bram dan Pak Sam—dua orang tua yang paling bijaksana dan disegani di keluarga itu—akhirnya meledak.

Mereka tidak langsung marah ke Nayla, tapi justru menatap tajam ke arah Leonardo, Liana, Bu Ajeng, dan Bu Rosa.

Pak Sam Suaranya berat dan dingin, membuat bulu kuduk merinding .

"Jadi... kalian tadi ke rumah Sari kan ?"

Leonardo: "I... Iya Pa. Tadi kami sudah ke sana. Kami sudah minta maaf..."

"TERUS HASILNYA APA?! KENAPA DINDA TIDAK IKUT PULANG BERSAMA KALIAN?!" bentak Pak Bram keras.

Leonardo Menunduk dalam baru kali ini papa mertuanya semarah itu "Dinda... Dinda menolak Pa. Dia mau tetap tinggal di sana sama Bu Sari dan Pak Agus. Dia bilang... dia butuh waktu buat sembuhin hatinya. Dia kecewa berat sama kita."

BRUK!

Tangan Pak Sam menghantam meja kayu jati itu dengan keras hingga gelas-gelas di atasnya bergetar dan berisik.

 "DASAR BODOH! KALIAN ITU PUNYA OTAK ATAU TIDAK SIH?!" bentak pak Sam lagi.

Semua orang tersentak. Bahkan Adrian, Amira, dan Gio yang berdiri di pojok hanya bisa diam menyaksikan. Mereka tahu, kali ini bapak-bapak itu benar-benar sudah di ambang batas kesabaran.

"Kalian punya segalanya! Harta, Kedudukan, Nama baik! Tapi kalian memperlakukan anak kandung kalian sendiri lebih buruk daripada pembantu! Cuma karena omongan anak setan ini!" tunjuknya ke arah Nayla.

 "Kalian gegabah! Kalian menghakimi sepihak! Kalian menampar, kalian menuduh pencuri, tanpa mau dengar penjelasan! Sekarang rasakan! Anak baik itu pergi meninggalkan kalian karena kalian tidak bisa dipercaya!" hardik pak Sam .

Bu Rosa Menangis "Maafkan kami Yah... Kami buta mata hati. Kami terbuai sama sikap Nayla selama ini..."

 "DASAR BUTA! Itu bukan namanya terbuai, itu namanya TIDAK ADIL! Dinda datang ke sini cari kasih sayang orang tua, yang dia dapat apa? Hinaan dan tamparan! Wajar kalau dia lebih milih tinggal di rumah kecil yang miskin tapi hatinya tenang daripada di sini yang mewah tapi isinya kebusukan dan ketidakadilan!" teriak pak sam

menatap tajam ke arah menantunya dan putrinya.

"Dengar baik-baik ya kalian semua! Ini hukuman buat kalian! Kalian yang salah, kalian yang gegabah, maka kalian yang harus menanggung akibatnya!" ucap pak Bram tegas .

"Maksud Papa Pa?" tanya Leonardo bingung .

 "Dinda tidak mau pulang sekarang kan? YA SUDAH! Biarkan dia di sana! Kalian tidak boleh memaksanya! Kalian harus merasakan rindu yang menyiksa! Kalian harus merasakan hidup tanpa dia sampai dia sendiri yang mau melunakkan hatinya dan kembali!"

"BENAR! Itu pelajaran paling mahal buat kalian! Jangan harap kami mau membantu membujuknya! Jangan harap kami mau ikut campur tangan! Biarkan kalian merasakan pahitnya kehilangan! Biar kalian sadar, harta tidak ada artinya kalau hati anak sendiri sudah hancur!" sela pak Bram .

Liana menangis tersedu-sedu "Tapi Yah... Liana kangen Dinda... Liana mau sama Dinda..."

 "ITU HUKUMAN BUAT KALIAN! KARENA KALIAN SUDAH MENYAKITI DIA! SEKARANG KALIAN BEKERJA KERAS! BUJUK DIA DENGAN CARA KALIAN SENDIRI! TUNJUKKAN KALIAN PANTAS DIPANGGIL AYAH DAN IBU! JANGAN HARAP MUDAH!" bentak pak Sam nafasnya memburu menahan kekesalan .

Amira dan Adrian saling pandang, lalu mengangguk setuju.

"Memang harus begitu. Biar mereka sadar. Mempermainkan perasaan anak sebaik Dinda itu salah besar. Mereka harus berjuang keras buat dapat kepercayaan Dinda lagi." sebenarnya Amira juga kasihan melihat Liana . dulu ya adalah orang yang tegas dan berhati lembut .

 "Bener Om, Tante. Mereka harus dihukum begini. Supaya tidak gegabah lagi ambil keputusan." ucap Adrian .

 Akhirnya, kemarahan itu mereda. Kini giliran mereka menatap Nayla yang masih terduduk di lantai.

Wajah Pak Sam dan Pak Bram berubah menjadi sangat dingin dan kejam saat melihat cucu angkat yang penuh tipu daya itu.

"Dan kamu... Nayla. Jangan pikir masalahmu selesai begitu saja." tunjuk pak Bram .

Nayla gemetar hebat. "Kakek... Ampun Kek... Nayla salah... Nayla janji gak bakal melakukannya lagi..."

"Sudah terlambat buat janji-janji manis. Kamu sudah terlalu jauh. Kamu tega menjebak cucuku demi keinginan egoismu. Kamu tidak pantas tinggal di rumah ini lagi." geram pak Bram

 " lalu keputusan papa apa ?" tanya Leonardo.

"Besok pagi! Antar dia ke orang tua kandungnya! Sari dan Agus! Biar mereka yang mendidiknya! Biar dia tahu rasanya hidup susah, biar dia tahu rasanya jadi orang biasa, biar dia belajar rendah hati! Selama ini dia manja dan sombong karena kita yang salah didik! Sekarang waktunya dia merasakan kehidupan yang sebenarnya!" ucap pak Sam tegas dan disetujui oleh pak Bram .

Nayla menjerit ketakutan.

"JANGAN! JANGAN ANTAR AKU KE SANA! AKU TIDAK MAU! AKU BENCI MEREKA! AKU GAK MAU MISKIN!"

 "Diam! Itu nasibmu! Darah dagingmu memang dari situ! Kamu pikir dengan jadi anak orang kaya kamu bisa seenaknya? Tidak! Kamu harus dibuang dulu sifat iblismu itu!" ujar pak Sam lagi .

...----------------...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!