NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26. Gaun Berdarah

Sabrina membiarkan jemari suaminya mencengkeram korset di balik gaunnya. Pandangannya tetap lurus ke depan, mengawasi setiap pergerakan di ballroom layaknya radar.

Di sudut ruangan, berjarak sepuluh meter dari mereka, Kania melempar gelas sloki kosong ke atas meja bar marmer. Denting kaca beradu keras.

Cairan vodka murni baru saja membakar kerongkongannya, merangsek naik ke ubun-ubun, meredam sisa-sisa rasa takut yang mencekiknya lima menit lalu. Tangannya yang tadi bergetar kini mengepal kuat.

"Gila. Gue dibikin kicep sama perempuan penyakitan yang baru melahirkan?" Batin Kania liar.

Harga dirinya terkoyak habis. Ia menatap lekat siluet Sabrina. Gaun sutra putih leher tinggi itu membalut tubuh Sabrina yang ringkih. Tidak ada pisau bedah di sana. Tidak ada jarum suntik. Hanya istri patuh yang sedang dipamerkan untuk menaikkan harga saham.

Ilusi kerapuhan itu memicu adrenalin Kania. Alkohol di darahnya menuntut pembalasan tunai. Kewarasannya menguap digantikan amarah impulsif.

Kania menyambar gelas kristal berisi anggur merah dari nampan pelayan yang melintas. Ia memutar tumitnya. Hak stilettosnya berderap memotong jarak dengan ritme memburu. Ia sengaja menjatuhkan berat badannya ke depan tepat saat melewati punggung Sabrina.

Kania pura-pura tersandung. Gelas wine merah tumpah sepenuhnya ke gaun sutra putih Sabrina.

Cairan dingin itu menabrak perut Sabrina, mengalir deras menembus serat sutra mahal. Sensasi lengket basah langsung melekat pada kulitnya. Korset medis yang mengikat kencang perut bawahnya menyerap cairan tersebut dengan rakus. Tekanan benda cair dingin itu membangunkan luka jahitan rahimnya secara paksa. Sensasi ngilu berdenyut brutal menyebar ke seluruh panggul.

Aroma anggur fermentasi menusuk penciuman Sabrina. Otak pembunuhnya merespons bau itu seketika. Bau ini persis seperti aroma karat darah segar yang menggenang di lantai beton pada malam ia melahirkan Sebastian.

"Ups! Maaf banget." Kania menutup bibir merahnya dengan tiga jari. Tangan kirinya masih memutar tangkai gelas kristal yang sudah kosong.

Wanita bergaun marun itu tidak repot-repot menyembunyikan kilat kepuasan di matanya. Tawa kecil meluncur dari sela jari Kania, mengejek mangsanya secara terbuka. Keberanian palsu hasil induksi alkohol itu membuatnya merasa di atas angin.

Adrian menarik tangannya dari pinggang Sabrina pelan-pelan. Pria itu mundur setengah langkah. Ia membiarkan istrinya menjadi tontonan utama di tengah ballroom. Tidak ada panggilan panik memanggil pelayan. Tidak ada gestur perlindungan dari sang taipan. Matanya menajam, menilai anatomi kejatuhan Sabrina secara saksama.

Bisik-bisik meledak liar di sekitar mereka. Orkestra klasik di panggung nyaris kalah oleh dengungan ratusan tamu VVIP. Kawanan predator kelas atas itu menemukan tontonan menarik. Seekor mangsa terluka di tengah arena.

"Sabrina," tegur Adrian santai. "Gaunmu kotor."

"Dan kau membiarkannya berdiri diam di sana, Adrian?" sahut Kania cepat. Suaranya melengking tinggi, sengaja memancing atensi seluruh orang di ruangan. "Istrimu kelihatan kayak perempuan yang baru keguguran di tengah lantai dansa. Pemandangan yang menjijikkan."

Sabrina tidak berkedip. Ia menunduk menatap noda merah pekat yang menyebar brutal di perut dan pahanya. Cairan wine itu menetes pelan ke atas marmer mengilap. Bentuk kerusakannya tidak beraturan, menghancurkan mahakarya serba putih yang dipaksakan suaminya malam ini.

"Kau punya masalah serius dengan koordinasi motorik, Kania." Nada suara Sabrina mendatar kaku tanpa riak emosi. "Tapi... Ya, sepatu Louboutin setinggi itu memang tidak bisa menolong keseimbangan orang dengan kelainan saraf pusat."

Kania mendelik marah. Tangannya refleks berkacak pinggang. "Gue kan udah bilang maaf. Salah lo sendiri berdiri menghalangi jalan pelayan. Lo buta sih?"

Sabrina melangkah maju satu tindak menembus jarak personal mereka. Ujung sepatu hak pendeknya beradu pelan dengan ujung stiletto runcing Kania.

"Aku mengizinkanmu menggonggong sesekali." Sabrina menatap lurus membelah iris Kania. "Tapi jangan pernah mencoba menggigit kakiku."

"Lo berani ngancam gue di kandang keluarga Halim?" balas Kania sengit, napasnya mulai naik turun. "Lo cuma numpang melahirkan pewaris di sini!"

Sabrina memutuskan kontak mata itu dengan gerakan mekanis. Tidak ada gunanya meladeni orang mabuk yang sedang mencari validasi publik. Ia memutar kepalanya menghadap sang suami.

"Adrian. Beri aku waktu sepuluh menit."

"Kau mau kabur bersembunyi di mobil?" Adrian memasukkan sebelah tangan ke saku celana panjangnya. Sudut bibirnya berkedut sedikit menahan senyum manipulatif. Pria ini menikmati pertunjukan dominasi di depannya.

"Aku mau memperbaiki tata letak seni di tubuhku."

Sabrina berbalik badan. Tumit sepatunya berdetak konstan di atas lantai pualam. Punggungnya tegak lurus menantang gravitasi.

Ia membelah lautan manusia itu tanpa menyembunyikan noda darah palsu di tubuhnya. Para sosialita dan direktur menyingkir secara refleks. Langkahnya adalah derap kaki terukur seorang predator yang menolak mati.

Pintu kayu ek tebal toilet VIP tertutup rapat di belakang punggungnya. Suara bising pesta, denting gelas, dan bisik culas langsung terputus total. Keheningan dingin mengambil alih ruangan luas berlapis marmer hitam itu.

Sabrina memutar kunci pintu bermaterial kuningan. Tubuhnya merosot satu inci. Ia menyandarkan kedua telapak tangannya di pinggiran wastafel. Hawa es merambat cepat dari batu marmer ke buku-buku jarinya yang pucat.

Napasnya menderu tertahan. Rasa ngilu di perut bawahnya makin menggigit liar. Obat penahan sakit dosis tinggi yang ia telan satu jam lalu luntur oleh lonjakan adrenalin. Tubuh fisiknya ini menuntut istirahat.

Pantulan di cermin menampilkan sosok wanita dengan gaun putih hancur. Noda merah menutupi area pusar hingga paha bawah. Bentuknya mengesankan kekalahan telak seorang perempuan di ranjang pesakitan.

Sabrina memejamkan mata erat-erat. Otaknya memblokir transmisi rasa sakit fisik itu secara paksa.

Satu tarikan napas pendek.

Detak konstan dari mesin inkubator Sebastian terngiang berulang di telinganya. Bayi mungil itu bernapas sendirian di tengah ruangan penuh serigala.

Dada kecil anak itu mengembang dan mengempis di balik kaca anti peluru. Sebastian membutuhkan ibunya. Kelemahannya malam ini akan memberi jalan bagi Kania dan seluruh dewan direksi busuk itu untuk menyentuh putranya.

Ia membuka kelopak matanya cepat. Tidak ada lagi jejak kesakitan tersisa di sana. Mode gelapnya menyala merampas kendali.

Tangan kanannya menyusup sigap ke balik pinggiran korset di atas pinggul. Jari telunjuk dan tengahnya mencapit sebuah benda logam pipih yang menempel di kulit. Pisau lipat mikro taktis bermata karbon.

Klik.

Bilah hitam sepanjang telunjuk itu melenting terbuka merobek sunyi.

Sabrina mencengkeram sisa kain gaun yang kering di area lutut kiri. Ujung tajam pisau merobek sutra maha karya itu dengan satu sayatan mulus ke atas. Suara serat benang putus menggema nyaring.

Ia memotong bagian bawah gaun secara asimetris brutal. Ia membuang potongan kain putih murni ke lantai basah, mempertahankan seluruh area yang terkena tumpahan wine. Belahan tingginya mengekspos seluruh kaki kirinya secara agresif menantang norma. Noda merah di perut itu membingkai paha atasnya.

Jemarinya menyentuh laci kecil di sudut meja wastafel. Ia menarik kenopnya. Kotak akrilik berisi perlengkapan menjahit darurat para tamu VIP tersimpan rapi di sana.

Sabrina mengambil lima buah peniti perak berukuran besar. Kain sutra bernoda di perutnya ia kumpulkan, lalu ia tarik paksa menyilang ke arah tulang rusuk kiri. Ia mengunci tumpukan kain basah itu menggunakan tusukan peniti secara zig-zag menembus korsetnya.

Kerutan dramatis tercipta instan, membentuk lekuk pelindung luar yang provokatif. Cairan wine itu tidak lagi terlihat seperti tumpahan memalukan. Noda itu bertransformasi menjadi letupan kelopak mawar berdarah yang merekah liar di pinggangnya.

Sisa potongan sutra putih bersih ia pungut kembali dari lantai. Ia membelitkan kain panjang itu di telapak dan pergelangan tangan kanannya. Ia mengikat simpul matinya kuat-kuat. Balutan kain itu meniru persis gaya perban petarung jalanan sebelum masuk ring kematian.

Sabrina menatap pantulan dirinya sekali lagi di kaca cermin. Gaun putih ilusi kepatuhan Adrian telah mati. Sosok yang membalas tatapannya adalah monster elegan dengan zirah yang siap memenggal kepala lawan.

Pintu toilet terbuka ditarik paksa dari dalam. Dua penjaga keamanan berpakaian hitam di lorong melangkah mundur refleks, menundukkan wajah mereka ke lantai.

Langkah sepatu Sabrina kembali menghantam marmer lorong luar. Irama langkahnya konstan, memancarkan aura dominasi yang menyesakkan dada.

Begitu ia melangkah masuk ke batas ballroom, dengungan suara seratus tamu mendadak mati. Pemain celo di panggung melewatkan tiga ketukan busurnya berturut-turut. Kesunyian merayap cepat.

Sabrina berjalan memotong lurus kerumunan elit tersebut. Cahaya lampu kristal raksasa memantul tajam dari deretan peniti perak di pinggangnya. Desain asimetris gaunnya mengekspos kaki telanjang dan balutan perban sutra di tangannya. Estetika yang buas, liar, dan mematikan.

Kania berdiri membeku di dekat meja bar bundar. Gelas sampanye baru di tangannya bergetar menumpahkan isinya. Rahang wanita itu jatuh menatap transformasi Sabrina.

Adrian menoleh lambat. Pria tiran itu menurunkan pandangannya mengikuti lekuk tubuh istrinya. Napasnya tertahan sebentar. Dada pria itu naik satu sentimeter mengunci postur modifikasi gaun Sabrina.

Sabrina menghentikan langkah persis di titik awal percikan konflik tadi terjadi.

"Pemandangan menjijikkan ini sudah kuperbaiki." Sabrina mendongak, membalas tatapan gelap suaminya.

Adrian memandangi kulit kaki kiri istrinya yang terpampang tanpa penghalang. Pandangannya naik menyapu kerutan asimetris berdarah di rusuk, lalu berakhir mengunci lilitan perban sutra tempur di kepalan tangan kanan.

"Kau merobek gaun desainer Paris edisi terbatas." Suara Adrian terdengar parau. Jarak dada mereka kembali merapat. "Harga kain kotor itu dua ratus juta rupiah, Sabrina."

"Aku baru saja menaikkan valuasi pasarnya menjadi lima ratus juta," balas Sabrina tak kalah rendah. Suaranya menyentuh kulit leher Adrian bak gesekan belati es. "Mulai malam ini, gaun ini bukan properti milik istri korban perundungan. Ini mahakarya seni gelap."

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!