"Suuut" lelaki itu membekap Garima dengan telapak tangan besarnya, mereka saat ini tengah berada gang kecil penuh dengan kupu - kupu malam yang dengan gamblang menjajahkan tubuhnya.
Tubuh Garima bergetar karena ketakutan, matanya menatap lelaki misterius didepannya itu dengan melotot "siapa dia ?, apa dia seorang penjahat ?" gumam Garima dalam hati.
"Tuhan tolong aku" jerit batin Garima kembali, tidak berapa lama terdengar suara langkah kaki yang banyak membuat seluruh gang sempit dan kumuh itu menjadi ramai.
Para wanita yang sedang menjalankan pekerjaannya lari terbirit - birit karena kehadiran beberapa orang yang sedang mencari seseorang.
Lelaki itu mendorong tubuh Garima membuat rumah kecil milik Garima terbuka dan dia dengan sengaja mencium bibir Garima saat salah satu lelaki berambut gondrong memperhatikan mereka.
Garima terkejut dengan aksi lelaki didepanya itu hingga dia tidak bisa berkata apa - apa dan bingung akan melakukan apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sukapena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tempat tinggal untuk Rima
Rima berjalan memasuki apartement mewah yang telah Lola buka pintunya, mata Rima liar melihat sekeliling ruangan "mulai sekarang kau tinggal disini !" Rima melototkan kedua bola mata mendengar penuturan Loka.
"Kau bicara apa tadi ?" Loka yang berdiri didekat sofa melihat Rima kemudian menghela nafasnya "mulai sekarang kau tinggal disini, apartement ini milikku" Rima menggelengkan kepala sembari menutup kedua matanya.
"Aku tidak mau" Loka menatap tajam Rima sementara Rima melihat Loka dengan berani "menurutlah, ikuti ucapanku" Ruma mendengus tidak suka "memang kau siapa berani sekali menyuruhku menuruti ucapanmu" Loka berjalan cepat menuju Rima yang saat ini masih berada didekat pintu.
Rima menahan nafasnya sekilas dan melangkah kaki mundur saat melihat Loka berjalan kearahnya dengan aura dingin, punggung Rima menyentuh dinding samping pintu "apa yang" ucapan Rima menggantung saat Loka sudah berada tepat didepan tubuhnya.
Loka menghimpit tubuh Rima yang kecil sampai Rima terlihat panik, saat ini jarak mereka sangat dekat bahkan Rima dapat merasakan nafas Loka yang berada dekat diwajahnya.
"Dasar wanta keras kepala, sudah ku bilang turuti saja apa kataku" Rima merasa merinding mendengar suara Loka yang sangat dingin "a..aku tidak mau" jawab Rima dengan terbata.
"Aku tidak meminta pendapatmu, jika kau masih keras kepala demi tuhan aku akan membawamu kembali pada mucikari itu" Rima seketika terkejut dan melihat mata Loka sembari menggelengkan kepala.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang diriku dan Bella ?" Loka tertawa mengejek Rima kemudian Loka menyenderkan tangannya disamping kanan dan kiri tubuh Rima sehingga tubuh kecil wanita itu terkurung dalam tubuh besar Loka.
"Apa yang aku tidak tahu tentang dirimu" Rima menaha nafasnya kemudian rasa ketakutan itu hadir hingga membuat tubuh Rima bergetar dan air mata sudah menumpuk dipelupuk mata indah milik Rima.
Loka melihat semua itu dengan diam dan detik kemudian Loka mendekatkan bibirnya pada bibir wanita cantik yang sedang mengandung anaknya itu.
Rima hanya diam karena terkejut, entah apa yang merasuki tubuh Rima hingga saat ini dia tidak dapat melawan ciuman yang Loka lakukan padanya "dasar jalang kau Rima" jerit batin Rima.
Loka tersenyum kecil dalam ciumannya tanpa Rima sadari, Loka mulai melumat bibir kecil milik Rima dengan seketika ingatan Loka kebali pada malam dimana dia mencium dengan ganas bibir kecil milik Rima.
"Rasanya masih sama, manis" Loka berkata setelah melepas ciumannya pada Rima, sementara Rima hanya diam dan masih bingung dengan apa yang terjadi dengan dirinya dan Loka.
"Aku akan menyuruh orang untuk mengambil barang - barangmu ditempat kos lamamu" Rima hanya mengangguk kaku, demi tuhan jantungnya masih berdebar sangat cepat saat ini "sudah pukul sepuluh, ayo aku antar kau bekerja" Rima mengerjab saat tangannya ditarik cepat oleh Loka.
"Siapa namamu tuan ?" Loka melihat Rima yang berdiri menatapnya saat mereka didalam kotak besi menuju lantai lobby "Asmaraloka" Rima mengeryitkan dahi mendengar nama Loka.
"Nama yang bagus" lirih Rima tanpa dia sadari membuat Loka tersenyum tipis hingga Rima tidak mengetahuinya, Loka menarik tangan Rima keluar dari lift membuat Rima lagi - lagi terkejut dengan aksi lelaki didepannya itu.
Mereka hanya diam didalam mobil selama perjalanan menuju restoran tempat Rima bekerja, tidak berapa lama mobil yang mereka tumpangi telah sampai dengan tergesa - gesa Rima membuka sabuk pengaman namun sabuk pengaman itu sepertinya macet.
Loka membantu Rima melepas sabuk pengamannya hingga sabuk pengaman yang Rima pakai sudah terlepas "terima kasih" ucap Rima setelah itu bergegas turun dari mobil.
Loka hanya tersenyum kecil melihat wanita itu berlari kecil memasuki tempat kerjanya, hingga terlihat seseorang tengah mengusir Rima membuat Loka memicingkan mata melihat kejadian itu dari dalam mobil.