NovelToon NovelToon
Lara Di Tapal Batas

Lara Di Tapal Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Kelahiran kembali menjadi kuat
Popularitas:39.3k
Nilai: 5
Nama Author: Sopaatta

Mengulik kisah seorang pria bernama Rafael yang menerima kesepakatan menjadi bapak rumah tangga dan membiarkan istrinya berkarier di luar rumah.

Seiring bertambah usia pernikahan, kesepakatan mereka perlahan mulai mengusik ego dan jadi dilema bagi Rafael sebagai laki-laki.

》Apakah Rafael bisa bertahan menjalani aktivitasnya sebagai bapak rumah tangga dan melihat kesuksesan karier istrinya?

》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Lara Di Tapal Batas"

Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗

Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23.

...~•Happy Reading•~...

"Gak pingin berjauhan." Bisik Laras dan langsung memeluk Rafael untuk meredam suasana hati agar mereka tidak bertengkar, sehingga Rafael bisa berubah pikiran.

"Kalau semua sudah selesai, kita akan bersama. Sekarang perlu bagi tugas, supaya bisa selesai tepat waktu. Jangan terus repotkan Papa Mama." Rafael berkata pelan di pinggiran kepala Laras.

"Iya. Nanti berapa lama di kampung?" Laras masih butuh kepastian, sebab keraguan belum beranjak dari hatinya.

"Belum tahu. Aku tidak bisa bilang hari apa kembali, karna mengurus surat di sana tidak bisa ditebak. Kadang cepat, kadang lambat, tergantung sikon. Bantu doa, supaya bisa selesai minggu depan."

"Iya, aku ngerti. Nanti kabari." Laras melepaskan pelukan.

"Duduk lagi, aku perlu kepastian sebelum bicara dengan Ibuku." Rafael mengajak Laras duduk.

"Ada apa?" Laras bertanya serius.

"Aku mau memastikan. Ini bukan tidak percaya padamu. Tapi suasana hati dan pikiran seseorang bisa berubah sewaktu-waktu."

"Kalau pekerjaanku sudah stabil, aku tidak perlu tanyakan ini. Tapi dengan ikut ke tempat tugasmu, aku akan mulai dari nol lagi."

"Ya, Rafa. Aku serius. Aku tidak apa-apa, kalau kau tidak kerja. Yang penting, kau mendukung karierku yang sekarang..." Laras mengulang lagi kesepakatan mereka tentang pekerjaan masing-masing.

"Baik. Aku memastikan ini, sebab aku harus menjelaskan kepada Ibu yang mungkin agak keberatan, karna pekerjaanku belum stabil."

"Apa aku perlu bicara dengan Ibu dan kasih tahu pekerjaanku?"

"Sssstttt... Ibuku hanya wanita sederhana. Beliau tidak mengerti dengan kondisi wanita sepertimu. Justru kalau tahu pekerjaan dan jabatanmu, mungkin beliau akan sangat berat merestui."

"Jadi biarkan aku yang bicara dan jelaskan pada Ibu. Kau urus saja di sini. Nanti aku telpon, kalau sudah bicara dengan Ibu." Rafael menutup pembicaraan, sebab khawatir Laras menuntut sesuatu yang akan memperpanjang bahasan mereka.

"Baiklah. Sudah beli tiket?"

"Belum. Nanti saja di stasiun." Jawab Rafael sambil berdiri.

"Kalau begitu, aku antar ke stasiun." Laras ikut berdiri.

"Sebentar. Aku mau ketemu Juan. Sekalian pamit sama Papa Mama." Rafael mengusap lengan Laras dengan hati lega, sebab tidak menuntut sesuatu yang membuat mereka berdebat dan membuang waktu.

Rafael segera meninggalkan Laras menuju kamar Juan. "Pak, saya pamit pulang kampung..." Rafael menjelaskan rencananya.

Pak Yafeth dan Bu Ester yang sudah bergabung menggangguk. "Hati-hati di perjalanan. Karna mendadak, kami gak bisa nitip sesuatu buat Ibu dan adikmu."

"Tidak apa-apa, Bu. Terima kasih. Saya mau temui Juan sebentar." Rafael menunjuk kamar Juano.

"Iya, temui dia. Dari tadi dia cemas, karna kira Rafa kurang sehat." Pak Yafeth mendorong pundak Rafael. Hatinya lega melihat wajah Laras tidak mendung lagi.

Setelah mengetok pintu, Rafael masuk ke dalam kamar. Dia terkejut melihat Juano sedang main monopoli sendiri. "Sudah beli berapa stasiun, Juan?" Rafael meledek dengan wajah cerah.

"Kak Rafa sudah baikan? Gak sakit lagi?" Juano berdiri dan langsung memeluk pinggang Rafael.

"Siapa bilang sakit?" Rafael mengacak rambut Juano dengan sayang.

"Juan kira Kak Rafa sakit. Abis Papa minta Juan dan Kak Laras gak boleh naik ke atas."

"Oh, mungkin karna Papa lihat saya mau istirahat. Ayo, duduk lagi. Kita bicara sebentar."

"Gak main, Kak?"

"Tidak. Saya mau pulang kampung." Juano langsung melepaskan pelukan dan melihat wajah Rafael. "Jangan begitu..." Rafael menjelaskan rencananya dengan kata-kata sederhana yang mudah dimengerti Juano.

Raut wajah Juano langsung berubah dan matanya tidak lepas dari wajah Rafael. "Kak Rafa janji akan kembali lagi?" Juano memberikan jari kelingking untuk dikaitkan sebagai tanda ikatan janji.

"Iya, janji." Rafael mengaitkan jarinya, agar tidak membuat Juano sedih. "Sekarang ikut antar ke stasiun dengan Kak Laras, ya." Rafael mengajak Juano untuk menyenangkan hatinya.

"Iya, Kak." Wajah Juano jadi cerah mendengar Rafael akan diantar Laras. Dia jadi yakin, Rafael tidak sedang marahan dengan kakaknya.

~••

Setelah Rafael kembali dari kampung, seperti yang diinginkan Laras. Pernikahan mereka dicatat di catatan sipil. Tidak ada pesta perayaan. Hanya makan malam sekeluarga di rumah, sebab Laras sangat sibuk mempersiapkan penempatannya di tempat tugas baru.

Hari ini, menjelang akhir pekan di akhir bulan April, Pak Yafeth, Bu Ester dan Juano mengantar Laras dan Rafael ke bandara. "Sudah bawah semua keperluanmu?" Bisik Bu Ester yang duduk di belakang kepada Laras.

"Sudah, Ma. Kami hanya bawa outfit. Yang lain sudah disiapkan kantor." Bisik Laras sambil menggenggam tangan Mamanya untuk menenangkan.

"Pintar-pintar atur hidup di sana. Kalau adikmu libur, mungkin kami bisa berlibur lihat kalian." Hati Bu Ester tetap was-was, walau mereka sudah menikah.

Saat tiba di bandara, Bu Ester memeluk Rafael lama. Tanpa bisa ditahan, air matanya mengalir sambil memeluk Rafael. Berbagai rasa berkecamuk dalam hatinya. "Rafa, tolong sabar dan bimbing Laras, ya." Bisik Bu Ester.

"Iya, Ma. Jaga kesehatan. Hanya 6 bulan. Kami kembali, Mama dan Papa harus tetap sehat." Rafael menguatkan hatinya agar bisa berbicara baik dan tenang, walau hatinya sangat sedih.

Pak Yafeth memeluk Rafael setelah Bu Ester memeluk Laras. "Hati-hati di sana."

"Iya, Pa. Jaga kesehatan." Ucap Rafael pelan dan segera melepaskan pelukan sebab dia bisa merasakan keharuan hati Pak Yafeth.

"Kak, Juan gak bisa ikut?" Tanya Juano yang sudah menangis.

"Sssstttt... Sebentar lagi mau naik-naikan. Belajar yang benar. Nanti kita vc, ya." Rafael coba menghibur.

"Iya, Kak. Juan akan kasih tunjuk, kalau juara kelas." Juano jadi berhenti menangis.

"Bukan juara kelas. Juara sekolah." Rafael menyemangati.

"Mari kita masuk." Laras menepuk bahu Rafael. "Jangan sering main, ya." Laras mengusap kepala Juano lalu meninggalkan mereka. Juano dan Papa Mamanya melambai dengan mata berkaca-kaca.

Ketika sedang cek-in, mereka dikejutkan oleh suara teguran yang dikenal. Rafael dan Laras melihat sumber suara. "Ke mana-mana nempel seperti prangko." Ucap Jarem yang sedang cek-in di seberang.

"Kemana perampokmu? Tumben, biarkan kau berkeliaran sendiri." Rafael mendekati Jarem sambil menyeret koper sebab Laras yang cek-in.

Jarem jadi emosi. Dia segera cek-in dan mengikuti Rafael. "Kau ikut juga?" Jarem terkejut melihat 2 koper di dekat Rafael.

"Saya sudah rekrut Laras jadi istri." Rafael menggerakan jari manisnya.

"Kalian sudah menikah?"

"Seperti yang anda lihat. Problem?"

"Kau berkali-kali aku ajak menikah, tidak mau. Ternyata sudah janjian mau menikah dengan dia." Jarem jadi emosi dan marah pada Laras yang datang mendekati Rafael.

"Mungkin ajakan anda tidak menarik..." Rafael tidak meneruskan, tapi simpan di hati. Dia menjaga harga diri Laras yang sudah jadi istrinya, dengan tidak mengatakan Laras yang mengajak dia menikah.

Walau heran dengan keberadaan Jarem di bandara, Rafael mendekatinya. "Jangan coba-coba dekati dan mengusik istri saya." Ancaman Rafael membuat Jarem melangkah mundur. "Dan jangan terulang lagi memarahi istri saya, kalau tidak mau gigimu lari tinggalkan gusi." Rafael meneruskan ancaman.

...~•••~...

...~•○♡○•~...

1
❥␠⃝ ͭ🍁HER💋🆂🆄🅼🅰🆁🅽🅸👻ᴸᴷ
kasihan babang rafa. pasti sedih banget punya istri rada rada egois tapi gak ngaca 🙊🙈
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Alhamdulillah Laras hamil artinya Rafael dan Laras sebentar lagi jadi orang tua
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Hendi dan istrinya sekarang minta maaf tadi istrinya Hendi langsung jambak Laras beruntung Laras ngga mendorong istrinya Hendi sampai jatuh
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Laras itu sangat mencintai Rafael bahkan sebelum menikah Rafael di godain cewek cewek juga Laras cemburu, ngga mungkin Laras godain suami Ibu
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Laras kamu harusnya bersyukur punya suami yang pengertian seperti Rafael, kalau selain Rafael pasti ngga bakal membuatkan minuman kopi buatmu
Risa Yayang Selamanya Bahagia
Rafael kamu harus sabar hadapi Laras karena sepertinya Laras cuma tahunya karier doang
Suamiku Paling Sempurna
Rafael sepertinya belum tahu kalau Laras itu belum ingin punya anak ya
Suamiku Paling Sempurna
Sebenarnya motif Hendi itu apa kenapa datang ke rumah Laras apa dia mau menjelekkan nama baik Laras
Suamiku Paling Sempurna
Ibu ngga usah langsung menjambak Laras soalnya Laras orang baik ngga pernah rebut suami orang bahkan pacar orang juga ngga pernah di rebut oleh Laras
Suamiku Paling Sempurna
Laras sepertinya belum bisa apapun bisanya cuma jadi wanita karier tapi ngga bisa mengerjakan pekerjaan rumah
Suamiku Paling Sempurna
Rafael kamu suami yang baik buat Laras bahkan kamu ngga ingin bertengkar sama Laras
Risa Istri Cantik
Rafael kamu senang banget tahu kalau Laras sedang hamil tapi kenapa reaksi Laras ngga seperti kamu ya
Risa Istri Cantik
Ternyata Hendi itu staff pak Hotlif ngapain datang ke rumah Laras apa mau caper ke Laras
Risa Istri Cantik
Laras kenapa kamu ngga jambak rambut ibu tersebut atau kalau perlu kamu dorong tubuh ibu tersebut sampai jatuh tersungkur
Risa Istri Cantik
Laras sepertinya belum bisa melakukan pekerjaan dapur, bahkan mungkin menyapu lantai juga belum bisa
Risa Istri Cantik
Rafael kamu beli stok kesabaran yang banyak kalau perlu sebelum habis kamu beli lagi stok kesabaran di supermarket
Yayang Suami Risa
Laras mengabari orang tuanya kalau dia sedang hamil Rafael kelihatan bahagia mengetahui Laras hamil berbeda dengan Laras yang reaksinya berbeda
Yayang Suami Risa
Laras dengarkan omongan suami kamu jangan menyepelekan omongan suami kamu ingat jangan mudah percaya ke orang ya
Yayang Suami Risa
Ibu jangan fitnah Laras karena Laras cuma mencintai Rafael makanya Laras menyuruh Rafael menikahi Laras pasti suami ibu yang genit ke Laras
Yayang Suami Risa
Laras ngga usah bikin drama deh kasihan Rafael dia suami yang baik buatmu lagian Rafael menikah sama kamu juga karena kamu yang menyuruh Rafael menikahi kamu dalam waktu dekat
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!