Dengan bersimbah darah seorang pendekar wanita berjuang sekuat tenaga untuk melarikan diri dari kejaran para prajurit yang masih terus membuntuti nya . Tuduhan pengkhianatan yang di lemparkan seseorang padanya membuatnya terus menjadi buronan di kerajaan tempat tinggalnya .
Hingga dalam kesekian pelariannya di saat nyawanya terasa sudah di ujung tanduk takdir mempertemukannya dengan seorang pemuda desa yang pada akhirnya menyelamatkan nyawanya . Tanpa diketahui jika pemuda itu sebenarnya merupakan seorang pangeran yang sedang menyamar .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SecretPenaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
isyarat yang tak terjawab
Aula besar istana Utara itu penuh dengan kemewahan, namun ada hawa dingin yang tak bisa diusir oleh tungku api mana pun. Elias duduk di kursi tingginya, menggoyang-goyangkan cawan anggur dengan jari-jarinya yang panjang dan bersih.
"Silakan, Yang Mulia Raja Indra, Permaisuri ." Elias membuka suara dengan nada bariton yang halus.
"Utara memang tidak punya kehangatan matahari Selatan, tapi kami punya anggur yang bisa membakar darah."
Pangeran Elias tersenyum, tipe senyum yang terlihat sangat tulus bagi mereka yang tidak tahu betapa tajam taring di baliknya.
"Tapi ada satu hal yang mengganjal di pikiranku sejak tadi ." Elias meletakkan cawannya, matanya menyipit ramah namun menyelidik. "Dimana pangeran-pangeran Selatan Yang Mulia? Aku tidak melihat satu pun dari mereka di antara rombongan Anda. Apa mereka terlalu sibuk untuk sekedar menyapa saudara jauh mereka ini?"
Raja Indra terkekeh pelan sambil memotong daging di piringnya. " Bukan begitu Elias . Kau tahu sendiri bagaimana anak-anak muda itu. Mereka sedang dalam tugasnya masing-masing. Terlalu banyak urusan di Selatan yang tidak bisa ditinggal."
Permaisuri Suhita yang duduk di samping sang Raja, menatap Elias dengan binar kagum yang tidak disembunyikan. Ia merasa pemuda di depannya adalah contoh sempurna seorang pemimpin.
"Aku justru sangat salut padamu Pangeran Elias..." sahut Suhita dengan suara lembut namun tegas.
"Di kerajaan kami, ada dua pangeran yang bisa saling berbagi beban tugas. Tapi kau? Di usiamu yang masih sangat muda, kau menangani kerajaan ini sendirian. Terlebih setelah kepergian ayahmu... itu sungguh luar biasa."
Elias menunduk sedikit, memasang raut wajah penuh beban yang pura-pura ia pikul dengan gagah. "Itu adalah sebuah kewajiban Permaisuri. Takhta tidak menunggu kita siap untuk memimpin."
"Tapi tetap saja.." lanjut Suhita dengan nada sedikit berbisik, seolah sedang memuji rahasia.
"Kau memiliki saudara, tapi hanya kau yang benar-benar bisa diandalkan oleh kerajaan ini. Tanpamu, aku tidak bisa membayangkan bagaimana nasib Utara sekarang."
Raja Indra tiba-tiba menyela, teringat akan sosok lain yang biasanya ada di aula itu.
"O iya pangeran... bagaimana dengan keadaan pangeran Yoka? Apa dia sudah jauh lebih baik saat ini?" tanya Raja Indra dengan nada peduli yang murni. "Aku sudah lama tidak mendengar kabar darinya."
Suasana di meja itu mendadak sunyi sejenak. Elias menarik napas panjang, wajahnya berubah menjadi sangat melankolis. Akting yang sempurna untuk menutupi fakta bahwa dialah yang membuat kakaknya sendiri membusuk di ranjang.
"Kakakku Yoka..." Elias menggeleng pelan, suaranya terdengar parau.
"Keadaannya masih sama, Yang Mulia. Ia masih terperangkap dalam bisu dan lumpuh yang menyiksa itu. Kadang hatiku hancur setiap kali aku masuk ke kamarnya dan melihatnya hanya bisa menatap langit-langit tanpa bisa mengucapkan sepatah kata pun."
Elias mengusap matanya seolah ada debu yang masuk.
"Aku selalu berdoa agar ada keajaiban. Aku bersedia menukar nyawaku hanya untuk mendengar suaranya kembali." dusta Elias dengan lancar.
"Tapi takdir begitu kejam padanya... dan mau tidak mau, aku harus memikul semua tanggung jawab ini agar pangeran Yoka tetap bisa hidup sebagai seorang pangeran meski raganya telah mati."
Suhita menyentuh dadanya, merasa terharu. "Kau sungguh adik yang berhati mulia, pangeran Elias."
Di sudut aula, dari balik bayangan pilar, seorang penjaga tua yang tahu kebenarannya hanya bisa menunduk dalam, tangannya gemetar menahan amarah yang harus ia simpan selamanya.
***
Di sebuah goa pertapaan , terlihat seorang pria paruh baya sedang khusyuk membolak-balik halaman sebuah buku tua yang sudah menguning . Suara tetesan air yang jatuh ke genangan batu bergema pelan, menemaninya . Dialah Brata seorang pertapa yang cukup mengenal Sedra di masa kecilnya .
Di sudut lain seorang pemuda bernama Garu terus bergerak gelisah, tangannya berkali-kali memeriksa ketajaman belatinya.
"Paman..." Garu akhirnya memecah keheningan, suaranya terdengar getir.
"Isyarat panah itu sudah berhari-hari dilepaskan. Apa kau yakin dia masih mengenali kode kita? Sedra sudah sangat lama tidak bertemu kita, Paman. "
Paman Brata menutup bukunya perlahan, debu kuno terbang tertiup napasnya yang berat. Ia menatap nyala api yang hampir padam.
"Ingatan seorang prajurit tidak akan hilang hanya karena waktu, Garu. Terutama anak itu . " sahut Paman Brata tenang.
Garu menghentikan langkahnya dan menatap sang guru dengan tatapan menuntut.
"Tapi ini sudah bertahun-tahun! Bagaimana jika dia sudah berubah? Bagaimana jika dia bahkan sudah lupa kalau dia punya guru dan teman masa kecil yang masih menunggunya di lubang gelap ini?"
Paman Brata bangkit berdiri, tubuhnya yang tegap meski sudah tua menciptakan bayangan besar di dinding gua. "Dia mungkin ingin mencariku, Garu. Tapi situasinya saat ini tidak sesederhana yang kau bayangkan."
"Situasi apa lagi paman?" seru Garu frustrasi. "Dia sekarang berada di dekat orang yang bahkan bisa memburunya kapan saja ! Seharusnya Sedra lari ke sini begitu melihat isyarat itu!"
"Justru karena dia berada di dekat Cakra, dia tidak bisa bergerak gegabah." potong Paman Brata tajam, membuat Garu terdiam.
"Kau ingat apa yang kukatakan tentang kekuatan Dewi Kematian yang ada di dalam dirinya? Kekuatan itu adalah kutukan sekaligus anugerah yang kubantu simpan sejak dia kecil."
Paman Brata melangkah menuju mulut gua, menatap kabut yang menyelimuti hutan.
"Kekuatan itu sangatlah dahsyat Garu . Tapi setelah Sedra kehilangan semua itu . Dia harus sangat berhati-hati . Dia tak lagi bisa keluar dengan bebas seperti keinginannya terlebih kini banyak orang yang mengincar kepalanya . "
Garu tertunduk, suaranya mengecil. "Aku hanya merindukannya, Paman. Gadis kecil yang dulu selalu berlatih bersamaku... aku takut dia sudah benar-benar menjadi orang asing bagi kita."
Paman Brata menepuk bahu Garu dengan tangan kasarnya yang penuh bekas luka.
"Dia masih Sedra-mu yang dulu, Garu. Hanya saja seseorang telah memanfaatkannya dan memaksanya memakai terlalu banyak topeng. Sabarlah, sebentar lagi takdir akan menyeretnya kembali ke tempat di mana semuanya dimulai."
***
Rombongan Cakra kembali memacu kuda mereka saat matahari mulai turun menyisakan cahaya keemasan yang menembus celah-celah pepohonan. Cakra duduk dengan gagah di atas pelana, sementara Nayan berada di dalam dekapannya, terkurung oleh kedua lengan kokoh sang Pangeran yang memegang tali kekang.
Cakra sengaja memacu kudanya lebih lambat, membiarkan Riu dan Ana tertinggal beberapa tombak di belakang agar ia bisa menikmati aroma rambut Nayan yang tertiup angin.
"Kau tahu, Nayan..." bisik Cakra tepat di samping telinga Nayan, suaranya parau dan rendah.
"Kudaku ini biasanya sangat penurut, tapi sepertinya hari ini dia mendadak manja. Dia tidak mau lari kencang kalau beban di depannya tidak bersandar lebih erat."
Nayan mendengus, mencoba menahan senyumnya. "Pangeran, kudamu itu kuda perang terlatih, bukan keledai pasar. Jangan buat alasan konyol."
"Oh, kau meragukanku?" Cakra justru sengaja menarik tali kekang hingga kuda itu sedikit menghentak, membuat punggung Nayan menempel rapat ke dada bidangnya.
"Nah, lihat? Dia hanya ingin kita lebih dekat. Mungkin dia tahu kalau tuannya sedang butuh sandaran."
Cakra mengeratkan pelukannya, tangannya yang besar hampir menutupi jemari Nayan yang memegang pinggiran pelana. "Tanganmu dingin sekali Nayan. Apa kau takut jatuh, atau kau sedang gugup karena sedari tadi aku tidak berhenti menatap lehermu?"
"Cakra, berhenti menggoda atau aku akan melompat turun dan berjalan kaki!" ancam Nayan, meski wajahnya kini sudah merah padam.
Cakra tertawa kecil, suara tawanya terasa bergetar di punggung Nayan. "Silakan saja. Tapi aku akan langsung turun dan menggendongmu sepanjang jalan. Aku yakin Riu akan sangat senang melihat pemandangan itu."
Sementara itu, beberapa meter di belakang mereka, Riu tampak seperti orang yang sedang menelan empedu. Ia duduk di atas kudanya dengan wajah masam, sementara Ana duduk di depannya sambil asyik melihat lihat pepohonan .
"Aduh, kepalaku!" umpat Riu dengan volume yang sengaja dikencangkan. "Ana, apa kau mencium bau sesuatu yang sangat menyengat?"
Ana menoleh dengan polos. "Bau apa, Paman Riu? Bau bunga?"
"Bukan! Ini bau dari orang-orang yang sedang mabuk asmara!" Riu memutar bola matanya, lalu berteriak ke arah depan. " Pangeran! Bisa tidak gerakannya dipercepat sedikit? Aku di belakang sini rasanya seperti sedang menonton drama ! Dunia ini milik kalian berdua, ya? Kami ini hanya rumput kering yang tidak sengaja lewat?!"
Cakra tidak menoleh, ia hanya mengangkat satu tangannya sambil tetap memeluk Nayan. "Diamlah, Riu! Urusi saja kudamu yang baunya lebih buruk dari umpatanmu!"
" Kau lah yang seharusnya mengurus akal sehatmu pangeran ! " gerutu Riu dalam hati . "Lihat itu, Ana. Jangan dicontoh. Itu namanya penyalahgunaan kekuasaan demi kepentingan asmara. "
Ana tak menyahut sama sekali dia masih asyik dengan dunianya .
"Bisa-bisanya dia memonopoli gadis cantik sementara aku di sini harus mengurus anak . Aishhh..bokongku sudah mulai ngilu rasanya ." Riu masih terus saja menggerutu pelan .
Riu menghentak tali kekangnya dengan kesal. "Besok-besok aku akan menyewa tentara bayaran hanya untuk berjalan di antara mereka sebagai pembatas. Kalau begini terus, aku bisa mati karena muak, bukan karena pedang musuh!"
Nayan tertawa renyah mendengar gerutuan Riu, namun tawa itu terhenti saat ia merasakan Cakra mengecup puncak kepalanya dengan lembut.
"Biarkan dia mengoceh.." bisik Cakra, kali ini dengan nada yang jauh lebih serius dan hangat. "Aku tidak peduli meski seluruh dunia mengumpat, asalkan kau tetap berada di sisiku seperti ini, Nayan."
Nayan terdiam, hatinya berdesir. Di balik topeng "buronan" yang ia sandang dan kekuatan yang hilang, pelukan Cakra terasa seperti satu-satunya tempat yang paling aman sekaligus paling berbahaya di dunia.
Bersambung.....
🥦🥦🥦🥦