Setelah 8 tahun mendekam dalam penjara, selama
8 tahun juga tidak pernah ada yang datang menjenguknya. Arlan, pria penuh kuasa yang haus akan balas dendam, tiba-tiba datang menjemputnya.
Bukan untuk menyelamatkan, melainkan untuk menjadikan Adira tawanan dalam ikatan suci pernikahan.
Arlan bersumpah akan menghancurkan hidup Adira hingga ayahnya muncul untuk menyerahkan diri. Dalam istana kemegahan yang dingin, Adira menyadari bahwa "Mahar Kebebasan" yang diberikan Arlan hanyalah awal dari hukuman mati yang berjalan perlahan.
Apakah cinta bisa tumbuh di atas tanah yang disirami kebencian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Salsabilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa sakit?
"Berhenti membual!"
Suara bariton itu menggelegar, memutus penjelasan anak buahnya yang terbata-bata. Pria itu berdiri di tengah ruangan yang remang, wajahnya memerah karena amarah yang meluap. "Menyamar? Apa kalian pikir ini film detektif?! Semua orang di perusahaan tahu dia itu Zo, sepupu si cacat itu. Jika kalian memang tidak becus bekerja, akui saja!"
Prang!
Sebuah gelas kristal meluncur deras ke dinding, hancur menjadi serpihan tajam di lantai. Napas pria itu memburu. Ia melangkah maju, mempersempit jarak hingga ujung sepatunya menyentuh lutut anak buahnya yang sedang berlutut gemetar.
"Aku tidak butuh alasan sampah, aku mau kalian susun rencana baru. Habisi Zo secepatnya. Selama anjing penjaga itu masih bernapas, kita tidak akan pernah bisa menyentuh si cacat. Tapi begitu Zo lenyap..." Ia mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih dan gemetar. "...aku sendiri yang akan memastikan si cacat itu membusuk di tanah. Kali ini, tidak akan ada kegagalan kedua."
"B-baik, Tuan. Segera kami laksanakan."
***
Karena Adira bersikeras ingin mengobati luka Zo, pria itu akhirnya memilih diam tidak lagi menghalanginya. Zo melangkah masuk ke dalam sebuah rumah minimalis yang tertata rapi. Meski ukurannya tidak terlalu luas, interiornya tampak mewah dengan barang-barang berkelas yang tersusun indah di setiap sudut.
Zo memasuki kamar, lalu dengan gerakan sigap mengambil kotak P3K. Tanpa membuang waktu, ia langsung merobek kemeja putihnya yang telah bersimbah darah. Seketika itu juga terlihat badan kekarnya yang menggoyahkan kaum hawa. Ia menyiramkan cairan antiseptik ke luka tembak di bahunya guna membunuh kuman.
"Argh!" Zo meringis tertahan. Wajahnya seketika memucat. Keringat dingin membasahi dahi saat rasa perih yang luar biasa menusuk hingga ke tulang.
Tiba-tiba, Zo mengambil gunting kecil dan penjepit medis, lalu menyodorkannya ke arah Adira. Matanya menatap tajam wanita itu di tengah rasa sakit yang menderanya.
"Kau bilang ingin membantuku, bukan? Keluarkan peluru di bahuku sekarang," ucapnya datar, menatap Adira yang masih mematung di ambang pintu kamar.
Adira terpaku. Ia merasa bingung sekaligus ngeri. Ia sama sekali tidak memahami prosedur medis, apalagi harus berhadapan dengan darah sebanyak itu. Sebenarnya, Adira memiliki trauma mendalam sejak kematian Anisa; ingatan tentang darah selalu membuatnya menggigil.
Namun, karena telah berjanji dan merasa berutang nyawa, Adira tidak punya pilihan lain.
Ia memilih bersimpuh dengan lutut di lantai karena Zo duduk di bawah untuk menyejajarkan posisi mereka. Hal itu ia lakukan agar lebih mudah baginya untuk mengeluarkan peluru dari bahu Zo.
Dengan tangan bergetar, ia menerima alat medis dari tangan Zo.
"A-apa yang harus saya lakukan?" tanya Adira gugup, menatap ngeri pada luka terbuka yang masih mengalirkan darah itu.
"Apa lagi yang ingin kau lakukan selain mengeluarkan peluru itu dari bahuku?" jawab Zo dengan nada dingin khasnya, tanpa menoleh sedikit pun.
Adira menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan untuk menenangkan diri. Kenapa aku harus selalu berhadapan dengan orang sedingin es seperti mereka? batinnya kesal. Padahal niatnya tulus karena merasa berutang budi, tetapi sikap pria itu benar-benar menguji kesabarannya.
Wanita itu mulai berusaha mengeluarkan timah panas itu dengan penuh kehati-hatian, ia menggunakan ujung alat medis itu untuk mencari peluru yang bersarang di otot bahu Zo.
Zo terlihat menegang menahan rasa sakit. Namun, ia tetap terlihat tenang membiarkan Adira melakukan tugasnya.
"Ini... ternyata sedikit sulit," gumam Adira pelan, namun suaranya masih tertangkap jelas oleh indra pendengaran Zo.
"Kau bilang ingin membantu, kan? Lakukan saja sampai bisa," sahut Zo pendek.
Adira menjadi sangat fokus. Matanya menyipit, tangannya bergerak sepresisi mungkin agar tidak semakin melukai Zo. Karena terlalu berkonsentrasi, ia tidak menyadari bahwa posisinya kini sangat dekat dengan tubuh pria itu. Napas hangat Adira sesekali menyapu kulit bahu Zo yang dingin.
"Apa sakit?" tanya Adira sambil mengangkat pandangannya.
Tepat saat itu, bola matanya bertemu dengan mata Zo yang tengah menatapnya dalam diam. Jarak mereka begitu dekat, hingga embusan napas satu sama lain pun terdengar jelas di keheningan kamar itu.
ahhh ga berani dia Cemen 🤣🤣
ko aku jadi negatif thinking sana ayah nya dira jangan" ayah lucknat dia" kalau pengorbanan mu Dira kalau ayahmu ayah' durhakim
i hope sih beda orang buka satu orang