hari itu ketika aku berjalan pandangan ku tertuju pada gadis yang merupakan pacar ku tapi dia berjalan dengan pria yang tidak ku kenal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hitomaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Senin yang buruk
Pov Aidan
Hari aku bangun lebih awal dari biasanya, aku sedang menyiapkan makanan untuk sarapan dan bekal, menumis beberapa sayuran dan menggoreng ikan untuk aku makan nanti.
setelah selesai memasaknya aku memakannya, sarapan sambil menonton televisi adalah hal yang sangat nikmat.
Ting! nong! bel rumahku berbunyi, aku melihat keluar rumah dari balik jendela di sana kak melin sedang berdiri sambil membawa sesuatu.
" permisi Aidan udah bangun " suara kak melin terdengar dari luar.
" tunggu sebentar...." ucap aku, kemudian aku keluar untuk bertemu kak melin.
" ada apa kak? " aku bertanya
" ah ini aku di suruh ibu kamu buat nganterin kamu makanan " sepertinya kak melin di suruh ibuku untuk memberiku makanan.
" terima kasih sudah repot-repot " aku mengambil kotak bekal yang di beri Melin.
Setelah memberikan aku kotak bekal kak melin kembali ke rumahnya, begitu juga dengan aku kembali masuk kedalam rumah. Jarum jam sudah menunjuk ke arah angka 6, aku sedang bersiap memakai seragam dan menyiapkan buku pelajaran.
Setelah semuanya selesai aku berangkat ke sekolah, aku berangkat lebih awal karena ada jadwal piket, udara pagi hari sangat sejuk aku berjalan sendirian menyusuri jalan di pagi hari.
Sesampainya di sekolah, murid-murid yang datang masih bisa di hitung oleh jari, aku masuk kedalam kelas dan mulai merapikannya.
Satu persatu teman-teman sekelas ku mulai berdatangan termasuk imel, mata kami berpapasan, Imel dan aku sedikit membeku tak tahu harus berbuat apa.
" Hai " aku mencoba menyapanya, tapi terdengar sangat memalukan.
" Hai juga " Imel juga menjawabnya dengan kaku, canggung.
Imel akhirnya pergi ke kursinya sendiri, sementara aku memandanginya dari tempat dudukku. Aku sedikit melamun memikirkan momen kemarin.
" ehem!! Ada apa nih " pikiranku pecah oleh suara Keiza yang duduk di samping ku.
" Apa? " aku bertanya balik
" heh... Gak usah pura-pura gitu " Keiza sepertinya sedang mengejek aku.
" aku gak mengerti apa yang kamu maksud " aku mencoba menghindari pertanyaan dari Keiza. Tapi Keiza terus meledek dan berbicara tentang sesuatu yang membuatku malu.
Guru sudah datang kami melanjutkan pembelajaran hari ini, aku sedang menulis pelajaran budaya, topik pelajaran budaya hari ini tentang tari-tari daerah, setelah pelajaran selesai guru itu memberi kamu tugas untuk menari di kelas Rabu besok.
Setelah pelajaran budaya dilanjutkan oleh pelajaran matematika, aku tidak menyukainya entah seberapa serius aku belajar aku masih tidak mengerti.
Guru menjelaskan sementara aku hanya diam berharap tidak di panggil kedepan, setelah berhenti menjelaskan guru meminta kami para murid untuk maju, aku dan yang lain diam seperti patung kecuali satu orang Imel dia berdiri dan maju kedepan papan tulis.
Imel mulai menjawab pertanyaan yang ada di papan tulis, berdiri dengan penuh percaya diri Imel menyerahkan spidol ke guru setelah selesai menjawab.
" jawabannya benar, kamu boleh kembali " Imel kembali ke tempat duduknya. " ada yang mau menjawab lagi " guru itu kembali bertanya.
" Aku!! Aku mau menjawabnya " Dahlia dengan langkah penuh percaya diri maju kedepan, setelah mengambil spidol Dahlia mulai menulis jawaban di papan tulis.
" gimana Bu benar? " Dahlia bertanya kepada guru yang sedang mengajar.
" hmm.... Ada sedikit yang salah, ada yang bisa memperbaikinya " guru itu melirik kearah murid lain termasuk aku, aku mencoba memalingkan wajahku.
" Aidan kamu maju, perbaiki jawaban ini " aduh!! Guru itu menyuruh aku yang maju, aku berjalan dengan langkah pelan.
Otak aku mulai berpikir dengan keras menjawab persoalan ini, saat aku hampir menyerah tiba-tiba pintu kelas terbuka.
" permisi, Aidan nya ada? " yang membuka pintu kelas ternyata adalah guru olahraga, dia mencari aku.
" ada apa ya pak? " aku berbicara kepada guru olahraga itu yang berdiri di depan pintu.
" kamu ikut bapak ke ruang guru ada yang cari kamu? " guru olahraga berbicara kembali, aku melambaikan tanganku ke arah kelas.
siapa yang mencari aku saat jam pembelajaran? Aku berpikir sambil berjalan di belakang guru olahraga.
Di depan ruang guru aku bisa melihat seseorang yang aku kenal. Pamanku berdiri di sana, ada apa ya pamanku tiba-tiba mencari diriku.
" Paman " aku memanggilnya, paman menoleh ke arahku wajahnya terlihat berantakan.
" A..Aidan hiks..hiks.. " paman tiba-tiba mulai menangis.
" Paman kenapa? " aku bertanya menanyakan kondisi pamanku.
" kakek...kamu..dia..hiks..hiks" pamanku tidak bisa melanjutkan perkataannya, mendengar pamanku berbicara tentang kakek sambil menangis, aku sudah mengerti apa yang terjadi. Kakekku dia... Sudah tiada, aku tidak bisa menahan air mata yang keluar, perasaan sedih di tinggalkan oleh kakek membuat hatiku sakit.
Setelah berhenti menangis pamanku bicara dengan guru wali kelas untuk meminta izin supaya aku di izinkan pulang lebih awal, setelah di beri izin aku kembali ke dalam kelas, teman-teman kelas memandangi aku, aku tidak memperhatikan tatapan dari teman sekelas dan fokus merapikan tas ku.
Aku masuk kedalam mobil yang dibawa, kami menghabiskan waktu 40 menit sebelum sampai ke rumah kakek dan nenekku, keadaan rumah itu sudah sangat ramai.
" kakak " aku bertemu dengan kakakku dan segera memanggilnya.
Dia menoleh, sepertinya kakakku sudah selesai menangis, aku melihat-lihat mencoba mencari keberadaan orang tuaku.
" ayah dan ibu dimana kak? " aku bertanya kepada kakakku
" mereka ada didalam "
" ayo, kita juga masuk " aku menarik lengan kakakku mengajaknya masuk kedalam.
" kamu saja yang kesana kakak tunggu disini " kakakku tampak enggan masuk kedalam.
Di dalam banyak wajah yang aku kenal, keluarga dari pihak ibuku.
" Tante Rita ibu ada dimana yak " aku bertanya
" Aidan! Lama tidak bertemu kamu sudah semakin besar " Tante Rita tampak sedikit terkejut. " kamu mencari ibumu? Dia ada didalam ruangan sana "
Aku masuk kedalam ruangan yang di tunjuk oleh Tante Rita, di dalam sana ibuku sudah duduk di dekat jenazah kakekku bersama ayah dan nenek. Aku duduk di dekat ayahku dan mulai memandangi wajah kakekku untuk terakhir kalinya.