Di tengah puing-puing yang membara, takdir mempertemukan Rangga dengan sosok misterius, Pertapa Gila Tanpa Tanding. Sang pertapa bukanlah orang sembarangan; di balik pakaian compang-camping dan tawa yang nyeleneh, ia adalah pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, pusaka sakti yang konon mampu membelah awan dan menggetarkan bumi. Rangga kemudian dibawa ke lereng Gunung Kerinci yang berselimut kabut, sebuah tempat terpencil di mana waktu seolah berhenti berputar.
Selama lima belas tahun, Rangga dididik dengan keras di bawah gemblengan sang Pertapa Gila. Ia tidak hanya belajar olah kanuragan dan ilmu meringankan tubuh yang membuat gerakannya seringan kapas, tetapi juga ditempa secara spiritual untuk mengendalikan api dendam yang membara di dadanya. Sang pertapa mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada tajamnya bilah pedang, melainkan pada kemampuan hati untuk tetap tegak di jalan kebenaran. Rangga tumbuh menjadi pemuda yang gagah perkasa..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Idwan Virca84, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Darah di Bumi Andalas
Mentari senja menyiramkan warna jingga yang pekat di langit Jambi. Di sebuah lembah hijau yang subur di pedalaman Pulau Andalas, berdiri sebuah perkampungan yang tenang bernama Desa bungo tanjung.
Suara gemericik air sungai Batanghari yang mengalir di kejauhan bersahutan dengan suara lesung penumbuk padi, menciptakan irama kedamaian yang seolah akan abadi.
Di depan sebuah rumah panggung yang cukup besar, seorang bocah berusia lima tahun bernama Rangga Nata tengah asyik bermain dengan seekor anak kucing. Wajahnya yang bulat dan matanya yang bening memancarkan keceriaan tanpa beban.
"Rangga, masuklah, Nak. Hari sudah hampir gelap," sebuah suara lembut memanggil dari atas rumah.
Seorang wanita cantik berbaju kurung merah dengan selendang yang melilit anggun di lehernya muncul di pintu. Dialah Ayu Ningsih. Siapa pun orang persilatan yang melihatnya pasti akan bergidik atau terpana, sebab dialah sang Bidadari Merah, tokoh yang dulu ditakuti sekaligus dikagumi sebelum akhirnya memilih menanggalkan pedang demi cinta kepada suaminya, sang Kepala Kampung.
"Sebentar lagi, Bunda! Ayah belum pulang dari sawah," sahut Rangga riang.
Namun, keceriaan itu tidak bertahan lama. Tiba-tiba, telinga tajam Ayu Ningsih menangkap suara derap kaki kuda yang dipacu kencang dari arah pintu masuk desa. Bukan satu, melainkan puluhan!
Deg!
Firasat buruk menghantam dada Ayu Ningsih. Ia segera melompat turun dari tangga rumah tanpa menyentuh anak tangga—sebuah gerak ringan yang menandakan ilmunya belum luntur.
"Rangga, kemari!" teriaknya dengan nada yang tak terbantahkan.
Belum sempat Rangga mendekat, jerit histeris penduduk desa mulai memecah kesunyian. Asap hitam tiba-tiba membubung dari rumah-rumah di barisan depan. Api menjilat cepat, dan bersamaan dengan itu, gerombolan laki-laki berpakaian serba hitam dengan ikat kepala bergambar macan merangsek masuk.
"Bakar semuanya! Jangan sisakan satu nyawa pun!" teriak sebuah suara parau yang menggelegar penuh aura jahat.
Ayu Ningsih membelalak. Di barisan paling depan, seorang laki-laki bertubuh raksasa dengan jubah kulit macan dan kumis melintang tampak menyeringai kejam. Di pinggangnya terselip sepasang parang panjang yang sudah berlumuran darah.
"Macan Hitam..." desis Ayu Ningsih. Wajahnya pucat, bukan karena takut, melainkan karena ia tahu dedemit dari Gunung Tiga Puluh ini datang untuk menagih luka lama.
"Ha ha ha! Ayu Ningsih! Akhirnya setelah enam tahun, aku menemukanmu di lubang tikus ini!" teriak Macan Hitam. Matanya yang merah menatap penuh nafsu dan dendam. "Dulu kau menolak cintaku dan lebih memilih hidup dengan kepala kampung culas itu. Sekarang, lihatlah bagaimana aku meratakan duniamu dengan tanah!"
"Keparat kau, Macan Hitam! Apa salah penduduk desa ini?!" teriak sebuah suara lantang. Ayah Rangga muncul dari balik kerumunan dengan sebilah parang di tangan. Meskipun ia hanya juara silat kampung, keberaniannya tak surut melihat ribuan nyawa terancam.
"Ayah!" Rangga berlari hendak memeluk ayahnya, namun Ayu Ningsih segera menyambar tubuh bocah itu.
"Jangan, Rangga!"
Crat!
Tanpa peringatan, Macan Hitam bergerak secepat kilat. Parangnya menebas udara, mengeluarkan angin yang bersiut tajam. Ayah Rangga mencoba menangkis, namun kekuatan tenaga dalam Macan Hitam jauh di atasnya. Parang di tangannya patah, dan serangan susulan merobek dadanya.
"Tidaakkkk!" Ayu Ningsih menjerit pilu melihat suaminya ambruk bersimbah darah.
Keadaan menjadi neraka. Jerit tangis anak-anak dan wanita bersahutan dengan denting senjata. Desa Bungo Tanjung yang asri kini berubah menjadi lautan api dan darah.
Ayu Ningsih tahu ia tak bisa melawan dalam kondisi melindungi Rangga. Dengan sisa tenaga dan air mata yang mengalir, ia membawa Rangga ke arah belakang rumah, menuju sebuah gubuk penyimpanan jerami.
"Rangga, dengarkan Bunda. Masuklah ke dalam tumpukan jerami ini. Jangan keluar, jangan bersuara, apa pun yang kau dengar... kau mengerti?" bisik Ayu Ningsih sambil mencium kening putranya untuk terakhir kali.
"Bunda mau ke mana? Rangga takut..." isak bocah itu.
"Bunda harus menemani Ayah. Ingat, Nak... kau adalah putra naga. Kau harus hidup!"
Ayu Ningsih menutup tumpukan jerami itu tepat saat Macan Hitam dan anak buahnya mengepung tempat tersebut.
Dengan sisa-sisa kegagahan sang Bidadari Merah, Ayu menerjang maju. Pertarungan hebat terjadi, namun karena dikeroyok dan emosi yang tak stabil, sang Bidadari Merah akhirnya jatuh tertusuk tepat di depan persembunyian anaknya.
Rangga melihat semuanya dari celah jerami. Ia melihat ibunya jatuh, melihat ayahnya tak bernyawa, dan melihat desanya musnah. Dendam itu seolah membeku di matanya yang kecil.
Saat Macan Hitam hendak membakar gubuk jerami itu, tiba-tiba...
"Wuuuuuuuttt!"
Sebuah hembusan angin yang luar biasa dahsyat menerjang tempat itu. Kekuatannya begitu besar hingga beberapa anak buah Macan Hitam terpental jatuh.
"Siapa yang berani mengganggu kesenanganku?!" bentak Macan Hitam.
Dari balik asap kebakaran, muncul seorang kakek tua berpakaian compang-camping. Rambutnya putih awut-awutan, dan di tangannya ia memegang sebuah botol labu sambil tertawa-tawa kecil seperti orang gila.
"Aduh, aduh... main api itu berbahaya, Anak Muda. Nanti kencing di celana, ha ha ha!" ujar si kakek dengan suara yang melengking aneh.
"Kakek gila! Mau mati kau, ya?!"
Macan Hitam menerjang, namun si kakek hanya bergeser satu inci dengan gerakan yang mustahil diikuti mata. Dengan satu sentuhan lembut di pundak Macan Hitam, pemimpin perampok itu terlempar lima tombak ke belakang!
"Hm, tempat ini sudah terlalu panas untuk bocah kecil. Mari ikut kakek, Nak," ujar si kakek sambil melambaikan tangan ke arah tumpukan jerami.
Seolah ada kekuatan gaib, jerami itu tersingkap dan tubuh Rangga terbang lembut ke pelukan si kakek. Sebelum Macan Hitam sempat membalas, kakek itu sudah berkelebat pergi bagaikan bayangan, meninggalkan desa yang telah menjadi arang.
Dialah sang Pertapa Gila Tanpa Tanding, pemegang rahasia Pedang Naga Emas Seribu Langit, yang kini membawa benih dendam terbesar di seantero Pulau Andalas.
Bersambung...