Di tengah, Ilyas Renvar, remaja laki-laki cerdas berusia 21 tahun, terlihat dengan ekspresi serius dan misterius, mengenakan pakaian gelap penuh lapisan dan armor ringan, tangannya memancarkan aura energi supranatural.
Di belakangnya, Seraphine Vaelor, wanita cantik dengan rambut pirang panjang, berdiri dengan sikap elegan namun dingin, menunjukkan kekuatan dan dominasi intelektualnya. Di langit kelam, samar-samar muncul wujud Arsitek—entitas tak kasatmata yang mempengaruhi dunia.
Di bagian bawah, seorang pria tua menunduk, seolah menunggu eksekusi, dikelilingi pasukan bersenjata, menegaskan sistem kekuasaan brutal di kota Varethra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noxalisz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Api dan Darah 2
Mira tidak pernah suka pertarungan terbuka.
Sejak kecil, ia belajar bahwa kemenangan sejati tidak datang dari siapa yang paling kuat, tetapi dari siapa yang paling tidak terlihat. Pasukan bayangan mengajarinya itu: bagaimana menghilang dalam kerumunan, bagaimana bergerak di antara bayang-bayang, bagaimana menusuk dari belakang sebelum lawan sempat berteriak. Tapi malam ini, tidak ada tempat untuk bersembunyi. Halaman menara terbuka lebar, diterangi oleh obor-obor yang tiba-tiba menyala serentak—seolah-olah seseorang telah menekan sakelar dan mengubah kegelapan menjadi siang palsu.
Tiga puluh pasukan bayangan.
Satu Mira.
Dan di belakang mereka, Komandan dengan jubah hitam yang tidak pernah melepas topengnya, matanya yang gelap menatap Mira seperti seorang kolektor yang menemukan barang langka di pasar loak.
"Kau seharusnya sudah mati," kata Komandan itu, suarara nya terdistorsi oleh kain di wajahnya. "Laporan terakhir mengatakan kau tewas dalam penyergapan tiga tahun lalu. Ternyata laporan itu salah. Atau mungkin kau hanya pandai berpura-pura mati."
"Aku punya guru yang bagus," jawab Mira, pisaunya berkilat di bawah cahaya obor.
"Thalric?" Komandan itu tertawa—tawa pendek, tanpa kegembiraan. "Thalric sudah mati. Bunuh diri. Martir. Pengecut. Terserah bagaimana kau melihatnya."
"Aku melihatnya sebagai orang yang memiliki hati nurani. Sesuatu yang tidak kau miliki."
Komandan itu tidak menjawab. Ia mengangkat tangannya—gerakan kecil, hampir tidak terlihat—dan tiga pasukan bayangan pertama bergerak maju. Bukan berlari, tetapi melangkah, dengan ritme yang terkoordinasi, seolah-olah mereka adalah bagian dari satu mesin yang sama.
Mira tidak menunggu.
Ia melesat ke kiri, menghindari tebasan pedang pertama, pisaunya berputar di tangannya, menusuk celah di antara baju zirahit prajurit pertama—tepat di bawah lengan, tempat perlindungan paling lemah. Prajurit itu terhuyung, berteriak—bukan karena kesakitan, tetapi karena terkejut bahwa seorang wanita sendirian berani menyerang mereka bertiga.
Prajurit kedua lebih cepat. Ia sudah memutar tubuhnya, perisai di tangan kiri diayunkan ke arah kepala Mira. Mira membungkuk, merasakan hembusan angin dari ayunan perisai yang hampir mengenai rambutnya, dan berguling ke samping, pisaunya yang lain kini sudah berada di tangan kirinya.
Dua lawan tersisa. Tapi Mira tahu bahwa di belakangnya, dua puluh tujuh lainnya sedang menunggu.
"Ini tidak seimbang," teriak Mira ke arah Komandan. "Kirim lebih banyak. Aku tidak ingin pertarungan yang membosankan."
Komandan itu tidak tersulut. Ia hanya mengamati, seperti seorang ahli catur yang sedang menghitung pergerakan bidak-bidaknya. "Kau tidak perlu menang. Kau hanya perlu ditahan. Cukup lama sampai orang di dalam menara itu menyadari bahwa ia tidak bisa keluar."
Mira merasakan dadanya sesak. Perangkap. Bukan untuknya. Untuk Ilyas.
Ia tidak punya waktu untuk pertarungan ini.
Dengan gerakan yang tidak pernah ia latih—hanya naluri murni—Mira melemparkan pisau di tangan kanannya ke arah obor terdekat. Pisau itu memantul dari logam obor, mengubah arah, dan jatuh ke tumpukan jerami kering yang sengaja ia lihat sebelumnya—jerami yang ditinggalkan oleh para pekerja, mungkin untuk memberi makan kuda, mungkin untuk keperluan lain.
Jerami itu terbakar.
Dalam hitungan detik, api menyebar ke rumput kering di halaman, menciptakan dinding asap yang memisahkan Mira dari pasukan bayangan.
"Mundur!" teriak Komandan, tetapi sudah terlambat. Mira melesat ke dalam asap, menghilang dari pandangan, dan berlari menuju pintu utama menara.
—
Di dalam menara, Ilyas tidak tahu apa yang terjadi di luar.
Ia sudah mencapai ruang bawah tanah, sebuah ruangan besar dengan langit-langit berkubah yang disangga oleh pilar-pilar batu tebal. Di tengah ruangan, lantai batu terlihat berbeda—lebih gelap, lebih mengkilap, seolah-olah telah dipoles oleh sesuatu yang bukan tangan manusia.
Fondasi.
Ilyas berlutut, meletakkan telapak tangannya di atas batu gelap itu. Energi ungu menyala, merayap ke permukaan batu seperti akar pohon yang mencari air. Dan di dalam kepalanya, suara-suara mulai bermunculan—bukan satu suara, tetapi ribuan. Suara orang-orang yang mati di menara-menara lain. Suara orang-orang yang belum lahir tetapi sudah ditentukan nasibnya oleh cetak biru Arsitek.
"Hancurkan," bisik salah satu suara—suara seorang wanita, tua, rapuh, tetapi penuh tekad. "Hancurkan fondasi ini. Lepaskan kami."
"Aku tidak bisa melepaskan kalian," bisik Ilyas kembali. "Kalian sudah mati."
"Maka biarkan kami mati dengan tenang. Jangan biarkan kami terus menjadi bagian dari cetak birunya."
Ilyas mengepalkan tangannya. Energi ungu semakin terang, menyala seperti matahari mini di telapak tangannya, dan ia menekannya ke batu fondasi dengan sekuat tenaga.
Batu itu retak.
Bukan retakan besar, tetapi retakan kecil—tipis seperti rambut, hampir tidak terlihat. Tapi cukup. Cukup untuk membuat seluruh ruangan bergetar. Cukup untuk membuat debu berhamburan dari langit-langit. Cukup untuk membuat sesuatu di bawah tanah berteriak kesakitan.
"Ilyas."
Suara itu bukan dari dalam kepalanya. Suara itu datang dari bawah, dari kedalaman fondasi, dari tempat di mana cahaya tidak pernah mencapai.
"Kau membuat kesalahan."
Gelombang energi hitam meledak dari retakan fondasi, melemparkan Ilyas ke belakang. Tubuhnya terbanting ke pilar batu dengan keras, dan ia merasakan setidaknya satu tulang rusuknya retak—mungkin lebih. Energi ungu di tangannya memudar, meninggalkan rasa dingin yang aneh, seperti ketika seseorang kehilangan terlalu banyak darah.
"Fondasi ini tidak bisa dihancurkan dari atas," lanjut suara itu—suara Pengukir, tetapi berbeda dari sebelumnya. Lebih dalam, lebih tua, lebih marah. "Fondasi ini adalah bagian dari diriku. Menghancurkannya berarti menghancurkan sebagian dari diriku. Dan kau tidak cukup kuat untuk melakukan itu. Tidak sekarang. Tidak pernah."
Ilyas merasakan darah mengalir dari sudut bibirnya. Ia mendorong dirinya untuk berdiri, bertumpu pada pilar di belakangnya. Matanya menatap retakan di fondasi—retakan kecil yang mulai melebar, dari mana cahaya putih tua mulai menyembur.
"Mungkin aku tidak bisa menghancurkannya," kata Ilyas, suarara nya serak. "Tapi aku bisa melukainya. Dan luka, sekecil apa pun, akan terasa jika ditumpuk."
Ia mengumpulkan sisa energinya—energi ungu yang terasa seperti api yang hampir padam, tetapi masih menyala—dan melepaskannya sekali lagi ke batu fondasi.
Ledakan kali ini lebih kecil, tetapi lebih fokus. Tidak membuang energi ke segala arah, tetapi mengarahkannya ke satu titik: pusat retakan yang sudah ada.
Batu fondasi itu tidak hancur.
Tapi ia menjerit.
Jeritan yang tidak terdengar oleh telinga, tetapi terasa di tulang, di sumsum, di bagian paling dalam dari kesadaran Ilyas. Jeritan yang mengatakan bahwa Pengukir terluka—mungkin tidak parah, mungkin hanya goresan kecil di permukaan, tetapi terluka.
"Cukup!"
Gelombang energi hitam yang lebih kuat dari sebelumnya melemparkan Ilyas ke dinding seberang ruangan. Kali ini, ia tidak bisa bangun. Tulang rusuknya terasa seperti ditusuk pisau setiap kali ia bernapas, dan energi ungu di tangannya benar-benar padam—untuk pertama kalinya sejak ia bisa mengingat, ia tidak merasakan apa pun selain rasa sakit dan dingin.
"Kau membayar mahal untuk kemenangan kecilmu, Ilyas Renvar. Tulang rusuk patah. Luka dalam. Dan kekuatanmu... kekuatanmu akan butuh waktu lama untuk pulih. Jika ia pulih."
"Masih... sepadan," bisik Ilyas, matanya tertutup, dadanya naik turun dengan susah payah.
"Kau bodoh. Tapi mungkin itulah yang membuatmu berbahaya."
Cahaya putih di retakan fondasi mulai meredup. Pengukir pergi—tidak sepenuhnya, tidak selamanya, tetapi untuk saat ini, ia sudah cukup puas dengan apa yang terjadi.
Ilyas sendirian di ruang bawah tanah yang gelap, dengan tubuh yang terasa seperti dihantam kereta kuda, dan sisa-sisa energinya yang menghilang seperti kabut di pagi hari.
—
Pintu ruang bawah tanah terbuka dengan suara berderit.
Mira masuk, wajahnya berlumuran jelaga dan darah—bukan darahnya sendiri, tapi darah orang lain. Matanya mencari-cari di kegelapan, dan ketika ia melihat Ilyas tergeletak di dekat dinding, ia berlari mendekat, berlutut di sampingnya.
"Ilyas! Ilyas, kau dengar aku?"
"Ya," bisik Ilyas, matanya masih tertutup. "Aku tidak mati. Hanya... istirahat."
"Kita harus pergi. Pasukan bayangan akan masuk sebentar lagi. Aku hanya bisa menahan mereka dengan api dan asap, tapi itu tidak akan bertahan lama."
"Berhasil."
"Apa?"
Ilyas membuka matanya. Matanya—yang biasanya abu-abu kehijauan, atau hitam ketika energi ungu sedang kuat—kini berwarna abu-abu pucat, seperti langit sebelum badai yang tidak pernah datang.
"Aku melukainya. Pengukir. Mungkin tidak parah, tapi aku melukainya. Itu berarti ia bisa dikalahkan."
Mira menatap Ilyas seolah-olah ia sedang digilir oleh setan. "Kau hampir mati, dan kau bicara tentang kemenangan?"
"Ini lebih dari sekadar kemenangan. Ini adalah bukti. Bukti bahwa ia tidak tak terkalahkan. Bukti bahwa kita bisa melawan." Ilyas meraih lengan Mira, berusaha berdiri. Tubuhnya terasa berat, seperti dipenuhi timah, tetapi ia berhasil—kaki goyah, tangan gemetar, tetapi berdiri. "Sekarang bantu aku keluar dari sini. Aku tidak ingin mati di tempat yang sama di mana aku hampir mati."
Mira menyandarkan bahu Ilyas ke tubuhnya, menopang berat pemuda itu dengan susah payah. Bersama-sama, mereka berjalan menuju tangga, menuju pintu keluar, menuju halaman yang kini dipenuhi asap dan api.
Di belakang mereka, retakan di fondasi menara masih menyala dengan cahaya putih redup—seperti luka yang tidak mau menutup, seperti mata yang tidak mau terpejam.
Pengukir masih mengawasi.
Tapi untuk pertama kalinya, ada sesuatu yang berbeda dalam tatapannya.
Bukan lagi keangkuhan.
Tapi kewaspadaan.