NovelToon NovelToon
Teror Maut Di Pabrik Karet

Teror Maut Di Pabrik Karet

Status: sedang berlangsung
Genre:Kumpulan Cerita Horror / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan / Hantu / Horor
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: UncleHoon

Bambang, pengangguran yang jadi bulan-bulanan tetangganya, nekat tanda tangan kontrak satpam di pabrik karet Kalimantan. Gaji lima belas juta. Kamar mewah. Tapi denda lima ratus juta jika berhenti sebelum setahun. Malam pertama ia dengar suara karet diregangkan dari gudang produksi.

Malam kedua ia lihat bayangan tanpa tubuh di dinding pos satpam. Malam ketiga ia sadar: pabrik ini tak pernah menghasilkan karet. Yang keluar dari gerbang setiap subuh adalah sesuatu yang meniru wajah manusia. Dan kontrak yang ia tanda tangan bukan kontrak kerja. Tapi daftar korban berikutnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UncleHoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara di Belakang

Mereka berjalan sepanjang senja. Kaki Bambang terasa seperti ditusuk-tusuk jarum setiap kali menginjak tanah. Sepatu pantofelnya yang sudah rusak kini benar-benar tidak layak pakai. Sol yang diikat dengan tali rapia itu lepas lagi setelah dua jam berjalan. Dia terpaksa melepas sepatu itu dan melanjutkan perjalanan dengan kaki telanjang. Tanah hutan terasa kasar dan dingin. Kadang ada batu tajam yang mengiris kulit telapak kakinya. Tapi dia tidak berhenti. Tidak bisa berhenti.

Ucok berjalan di depan dengan tas ransel pemberian kepala desa di punggungnya. Sepatu boot tua yang ada di dalam tas itu ternyata pas di kakinya. Ucok sempat menawarkan untuk bergantian memakai sepatu itu, tapi Bambang menolak. Kaki Ucok lebih besar dari kakinya. Sepatu itu tidak akan muat.

"Kita harus cari tempat berlindung sebelum benar-benar gelap," kata Ucok tanpa menoleh.

"Ada tempat di depan sana?" tanya Bambang sambil mengatur napas.

"Entahlah. Tapi kita tidak bisa berhenti di tengah hutan. Malam pertama kita kabur, kita hampir mati. Malam ini kita harus lebih pintar."

"Kita tidak punya pilihan, Ucok. Hutan ini tidak punya tempat berlindung. Hanya pohon dan pohon."

"Kalau tidak ada tempat, kita naik ke pohon. Makhluk-makhluk itu mungkin tidak bisa memanjat."

"Kamu yakin?"

"Tidak. Tapi lebih baik daripada berdiri di tanah."

Matahari semakin rendah. Langit berubah dari jingga menjadi merah tua, lalu ungu, lalu perlahan-lahan gelap. Bambang bisa melihat bintang-bintang mulai bermunculan satu per satu. Tidak ada bulan malam ini. Atau mungkin bulan sedang tertutup awan. Yang jelas, kegelapan datang lebih cepat dari yang dia perkirakan.

Dia mulai mendengar suara di belakang. Samar. Jauh. Tapi tidak bisa dia abaikan. Suara seperti karet diregangkan. Suara yang sudah terlalu familiar di telinganya. Suara yang membuat bulu kuduknya berdiri setiap kali mendengarnya.

"Ucok," bisik Bambang.

"Aku dengar."

"Itu mereka, kan?"

"Bukan mereka. Itu satu. Mungkin dua. Masih jauh."

"Tapi mereka tahu arah kita."

"Selalu begitu. Sejak pertama kamu menyalakan monitor nomor delapan, mereka tahu wajah kamu. Mereka tahu bau kamu. Mereka tahu di mana kamu berada, kapan pun."

Bambang menggigit bibirnya. Dia menyesali perbuatannya malam itu. Kenapa dia tidak bisa mematuhi aturan? Kenapa dia harus menyalakan monitor itu? Kenapa dia harus menatap makhluk itu terlalu lama?

"Tidak bisa diubah sekarang," kata Ucok seolah membaca pikiran Bambang. "Yang bisa kita lakukan hanya terus jalan. Jangan beri mereka kesempatan mendekat."

Mereka mempercepat langkah. Kaki Bambang yang telanjang kini terasa mati rasa. Dia tidak lagi merasakan sakit. Yang dia rasa hanya dingin. Dingin yang menjalar dari telapak kaki sampai ke ubun-ubun.

Setelah berjalan sekitar satu jam dalam kegelapan, Ucok berhenti di bawah pohon besar. Pohon itu tingginya luar biasa. Ranting-rantingnya rendah di beberapa tempat, cukup untuk dipanjat.

"Kita naik ke sini," kata Ucok.

"Pohon ini? Kamu yakin?"

"Tidak. Tapi tidak ada pilihan lain."

Ucok memanjat dengan gerakan yang lambat tapi mantap. Tubuhnya yang besar tidak menjadi halangan. Dia meraih ranting terendah, menarik tubuhnya ke atas, lalu mencari pijakan di dahan yang lebih tinggi. Bambang mengikutinya. Tangannya terasa licin karena keringat. Beberapa kali dia hampir jatuh. Tapi akhirnya dia berhasil duduk di dahan yang cukup kuat, sekitar lima meter dari tanah.

Dari ketinggian itu, mereka bisa melihat sekeliling. Hutan di bawah mereka gelap. Pepohonan di kejauhan terlihat seperti bayangan-bayangan raksasa yang berdiri diam. Suara-suara malam mulai terdengar. Jangkrik. Burung hantu. Dan sesekali, suara seperti karet diregangkan.

"Itu masih jauh," bisik Ucok. "Mereka belum tahu kita di pohon."

"Kita tidak bisa di sini semalaman. Nanti kaki kita kesemutan. Jatuh."

"Lebih baik jatuh dari pohon daripada dimakan mereka."

Bambang tidak membantah. Ucok benar. Apapun lebih baik daripada berhadapan langsung dengan makhluk-makhluk itu.

Mereka duduk diam di atas pohon selama berjam-jam. Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang berani bicara. Sesekali Bambang mendengar suara di bawah. Suara langkah kaki. Pelan. Hati-hati. Seperti seseorang berjalan di atas daun-daun kering.

Dia menahan napas. Tangannya meraih parang kecil yang dia selipkan di ikat pinggang. Ucok juga melakukan hal yang sama. Pisau besarnya sudah siap di tangan.

Suara langkah kaki itu semakin dekat.

Bambang bisa melihat bayangan di bawah. Hitam. Bergerak perlahan. Sekitar sepuluh meter dari pohon tempat mereka bersembunyi.

Bayangan itu berhenti.

Seperti sedang mencium bau. Seperti sedang mendengar suara napas.

Bambang tidak berani bernapas. Dadanya terasa sesak. Jantungnya berdebar begitu keras sampai dia yakin bayangan itu bisa mendengarnya.

Bayangan itu mulai bergerak lagi. Mendekati pohon.

Lima meter.

Empat meter.

Tiga meter.

Bambang mengangkat parangnya. Tangannya gemetar. Dia siap menusuk apa pun yang mencoba memanjat.

Tapi bayangan itu berhenti lagi. Tepat di bawah pohon.

Diam.

Hanya kegelapan. Hanya keheningan.

Kemudian bayangan itu bergerak mundur. Perlahan. Menjauh.

Bambang baru berani bernapas setelah bayangan itu tidak terlihat lagi. Dadanya naik turun cepat. Keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya.

"Kenapa dia pergi?" bisik Bambang.

"Mungkin dia tidak bisa memanjat," bisik Ucok. "Atau mungkin dia tidak melihat kita. Atau mungkin..."

"Mungkin apa?"

"Mungkin dia sengaja pergi. Karena dia tahu kita tidak bisa turun. Karena dia tahu kita akan lelah. Karena dia tahu kita akan tidur. Dan saat kita tidur, dia akan kembali."

Bambang menelan ludah. "Jadi kita tidak bisa tidur?"

"Tidak bisa. Kalau kita tidur, kita jatuh. Atau kita jadi mimpi mereka."

Mereka berdua terdiam. Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Bambang menggigil hebat. Jaket tipis yang dia pakai tidak cukup untuk menahan dinginnya hutan di ketinggian.

Dia memejamkan mata sebentar. Hanya sebentar. Untuk mengistirahatkan matanya yang perih.

Tiba-tiba dia mendengar suara. Bukan dari bawah. Tapi dari dalam kepalanya sendiri.

"Bambang..."

Suara itu pelan. Lembut. Familiar.

"Bambang... kamu di sana?"

Suara Ibu.

Bambang membuka matanya lebar-lebar. Dia menoleh ke kiri dan kanan. Ucok masih duduk di sampingnya, terjaga, matanya waspada ke arah bawah.

"Ucok, kamu dengar itu?"

"Dengar apa?"

"Suara. Suara ibu saya."

Ucok menoleh ke arah Bambang. Matanya tajam. "Itu mereka. Jangan dengar. Jangan percaya."

"Tapi suaranya persis..."

"Persis. Tapi itu bukan ibu kamu. Ibu kamu tidak ada di hutan ini. Ibu kamu di rumah. Jauh dari sini. Suara itu hanya tipuan. Jangan pernah lupa aturan nomor dua."

Bambang menutup telinganya dengan kedua tangan. Tapi suara itu tetap masuk. Menembus sela-sela jarinya. Menembus gendang telinganya. Menembus pikirannya.

"Nak, ibu kangen. Pulanglah. Ibu sudah masak sayur asem. Kesukaan kamu."

Air mata Bambang jatuh. Dia tahu itu bukan Ibu. Tapi suaranya begitu nyata. Begitu dekat. Begitu hangat. Berbeda dengan dinginnya hutan ini.

"Bambang!" Ucok mengguncang bahunya keras. "Dengar aku! Itu bukan ibu kamu! Itu makhluk! Kalau kamu jawab, kamu mati!"

Bambang menggigit bibirnya sampai berdarah. Rasa sakit di bibirnya membantu dia fokus. Suara Ibu perlahan menghilang. Berganti dengan suara lain. Suara Bapak.

"Nak, Bapak sakit. Bapak butuh kamu. Pulanglah."

Bambang menggigit bibirnya lebih keras. Darah semakin banyak. Rasa asin di lidahnya. Tapi suara itu tidak berhenti.

"Bambang, kamu lihat aku? Aku di bawah pohon. Aku menunggumu."

Dengan mata berkaca-kaca, Bambang menunduk. Di bawah pohon, dalam kegelapan, dia melihat sesosok bayangan. Tidak tinggi. Tidak besar. Bayangan perempuan dengan daster kembang-kembang. Sama seperti yang biasa Ibu pakai di rumah.

Bambang hampir menjawab. Hampir berteriak, "Bu, aku di sini!"

Tapi Ucok menutup mulutnya dengan tangan besar. "Diam! Diam! Itu bukan ibu kamu!"

Bayangan di bawah itu mulai bergerak. Mendekati pohon. Lalu berhenti. Kemudian bayangan itu menengadah.

Bambang bisa melihat wajahnya. Wajah Ibu. Persis. Sampai ke parut di dagu karena jatuh waktu kecil. Sampai ke kerutan di sekitar mata. Sampai ke rambut yang mulai beruban.

Tapi matanya. Matanya berbeda. Matanya hitam. Hitam pekat. Seperti lubang yang tidak berdasar.

Bayangan itu tersenyum. Senyum yang sama seperti makhluk di monitor. Senyum yang mengerikan. Senyum yang tidak pernah Ibu berikan.

Bambang memejamkan mata. Dia tidak mau melihat lagi. Dia menggigit bibirnya lebih keras sampai dia merasakan darah mengalir ke dagu. Dia memegang erat-erat dahan pohon agar tidak jatuh.

Ketika dia membuka mata kembali, bayangan itu sudah tidak ada. Hanya kegelapan. Hanya pepohonan. Hanya suara jangkrik yang kembali terdengar.

Ucok melepaskan tangannya dari mulut Bambang. "Kamu selamat. Tapi lain kali, jangan pernah menunduk. Jangan pernah melihat mereka langsung. Mereka bisa masuk lewat mata."

"Lewat mata?"

"Mata adalah jendela jiwa. Kalau kamu menatap mereka terlalu lama, mereka bisa masuk. Mereka bisa mengambil alih."

Bambang mengusap air matanya dengan punggung tangan. "Aku hampir menjawab, Ucok. Aku hampir bilang 'Bu, aku di sini'."

"Aku tahu. Tapi kamu tidak jadi. Itu yang penting."

"Tapi kenapa mereka pakai wajah ibu saya? Kenapa mereka tahu seperti apa ibu saya?"

Karena mereka sudah ada di pikiran kamu sejak lama. Sejak pertama kamu menyalakan monitor itu. Sejak pertama kamu menatap mereka. Mereka sudah mengintip. Mereka sudah mempelajari. Mereka tahu semua ketakutan kamu. Semua kelemahan kamu. Semua orang yang kamu cintai.

Bambang merasakan dadanya sesak. Jadi makhluk-makhluk itu tahu tentang Ibu. Tahu tentang Bapak. Tahu tentang rumah kontrakannya. Tahu tentang Mamat. Tahu tentang semua yang dia sayang dan takutkan.

"Tidak ada yang bisa kita lakukan tentang itu sekarang," kata Ucok. "Yang bisa kita lakukan hanya bertahan. Jangan biarkan mereka menang."

Mereka berdua terdiam lagi. Malam semakin larut. Dingin semakin menusuk. Tapi tidak ada yang tidur. Tidak ada yang berani tidur.

Sekitar pukul tiga pagi, suara-suara di bawah mulai berkurang. Makhluk-makhluk itu mungkin kembali ke pabrik. Atau mungkin mereka hanya pindah ke tempat lain. Bambang tidak tahu. Yang dia tahu, kegelapan mulai berubah warna. Dari hitam pekat menjadi abu-abu gelap. Kemudian abu-abu terang. Kemudian sedikit kebiruan di ufuk timur.

Subuh akan segera tiba.

"Kita turun," kata Ucok. "Kita harus terus jalan sebelum matahari terlalu panas. Kita buang waktu semalaman di pohon."

Mereka turun perlahan. Tubuh Bambang kaku karena terlalu lama duduk di posisi yang sama. Kakinya kesemutan. Tangannya lecet memegang kulit pohon yang kasar. Tapi dia berhasil mendarat di tanah tanpa cedera serius.

Tanah hutan masih basah karena embun. Telapak kaki Bambang yang telanjang langsung terasa dingin. Dia menggigil. Tapi tidak ada waktu untuk mengeluh.

Mereka berjalan lagi. Kaki Bambang kini tidak hanya sakit karena luka, tapi juga dingin yang menusuk tulang. Setiap langkah terasa seperti menginjak paku.

"Ucok, kita tidak bisa terus begini," kata Bambang. "Kakiku... aku tidak kuat."

"Kamu harus kuat."

"Aku tidak bisa. Coba pikir. Kita masih punya satu setengah hari perjalanan. Dengan kaki begini, aku tidak akan sampai."

Ucok berhenti. Dia menatap Bambang lama. Wajahnya tegang. Matanya gelisah. Dia tahu Bambang benar. Dengan kaki luka dan telanjang, Bambang tidak akan bisa berjalan sejauh itu.

"Aku akan gendong kamu," kata Ucok.

"Apa? Tidak. Kamu juga lelah."

"Aku lebih kuat dari kamu. Aku bisa. Kita buang waktu kalau debat."

Sebelum Bambang sempat menolak, Ucok sudah membungkuk dan mengangkat Bambang ke punggungnya. Tubuh Ucok besar dan hangat. Bambang memeluk leher Ucok dari belakang. Tas ransel ada di depan dada Ucok, sedikit menghalangi, tapi tidak terlalu mengganggu.

Ucok berjalan dengan langkah mantap. Bambang bisa merasakan setiap gerakan otot di punggung Ucok. Pria ini luar biasa kuat. Setelah semalaman tidak tidur, setelah berhari-hari tidak makan enak, setelah berlari dan berjalan tanpa henti, dia masih bisa menggendong orang dewasa di punggungnya.

"Ucok," panggil Bambang pelan.

"Iya."

"Kenapa kamu mau bantu aku? Kita tidak kenal sebelumnya. Kita cuma bertemu di pabrik itu beberapa minggu lalu."

Ucok tidak menjawab segera. Dia terus berjalan. Napasnya berat. Tapi langkahnya tidak melambat.

"Karena kamu masih punya orang tua yang menunggu," kata Ucok akhirnya. "Aku sudah tidak punya siapa-siapa. Istriku meninggal saat melahirkan Laras. Orang tuaku sudah tiada. Hanya Laras yang aku punya. Dan Laras ada di kampung halamanku, dijaga adik perempuanku. Aku tidak bisa mati sebelum melihat Laras lagi. Tapi aku juga tidak tega melihat orang lain mati padahal masih punya orang tua."

Bambang tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya memeluk leher Ucok lebih erat.

Mereka berjalan seperti itu selama berjam-jam. Sesekali Ucok berhenti untuk minum air atau sekadar mengatur napas. Tapi tidak lama. Setelah itu dia lanjut lagi.

Matahari semakin tinggi. Panas mulai terasa. Hutan yang dingin berganti dengan hutan yang pengap. Keringat bercucuran dari dahi Ucok. Punggungnya basah. Bambang merasa bersalab. Tapi setiap kali dia minta turun, Ucok selalu bilang, "Diam. Aku kuat."

Sekitar pukul dua siang, mereka sampai di sebuah sungai. Lebar. Airnya mengalir deras. Tidak seperti sungai semalam yang kecil dan tenang. Sungai ini besar. Mungkin anak sungai dari sungai utama.

"Kita istirahat di sini," kata Ucok sambil menurunkan Bambang perlahan.

Bambang duduk di tepian sungai. Airnya dingin. Dia membasuh mukanya. Membasuh kakinya yang luka-luka. Rasa perih menyengat, tapi setelah itu terasa sedikit lega.

"Kita ikuti sungai ini," kata Ucok sambil minum dari telapak tangannya. "Sungai selalu bermuara ke sungai yang lebih besar. Sungai yang lebih besar biasanya dekat dengan pemukiman."

"Kamu yakin?"

"Tidak. Tapi ini lebih baik daripada berjalan tanpa arah."

Mereka beristirahat sekitar satu jam. Makan kerupuk yang tersisa. Minum air sungai sampai kenyang. Ucok mengisi ulang botol-botol mereka. Bambang membalut kakinya dengan potongan kain dari baju dalamnya yang sudah tidak terpakai.

Sore hari, mereka melanjutkan perjalanan menyusuri sungai. Kali ini Bambang berjalan sendiri. Kakinya masih sakit, tapi tidak separah kemarin. Air sungai yang dingin sedikit membantu mengurangi bengkak.

Mereka berjalan sampai matahari mulai condong ke barat. Langit berwarna jingga. Awan-awan tipis bergulung di atas mereka. Indah. Tapi Bambang tidak punya waktu untuk menikmati keindahan. Karena dia tahu, sebentar lagi malam tiba. Dan saat malam tiba, makhluk-makhluk itu akan datang lagi.

"Ucok, kita harus cari tempat berlindung," kata Bambang.

"Aku lihat sesuatu di depan sana."

Ucok menunjuk ke arah sebuah bangunan kecil di tepi sungai. Pondok. Terbuat dari kayu. Atapnya rumbia. Mungkin pondok untuk istirahat para nelayan atau petani yang bekerja di sekitar sungai.

Mereka mendekati pondok itu. Pintunya tidak terkunci. Di dalam, hanya ada satu ruangan kosong dengan lantai tanah. Tidak ada jendela. Hanya pintu. Gelap. Tapi cukup untuk melindungi mereka dari pandangan langsung makhluk-makhluk itu.

"Ini cukup," kata Ucok. "Kita tutup pintu rapat-rapat. Jangan nyalakan api. Jangan buat suara. Semoga mereka tidak menemukan kita."

Mereka masuk ke dalam pondok. Ucok menutup pintu dan mengganjalnya dengan sebatang kayu. Bambang duduk di sudut ruangan, memeluk lututnya. Dingin mulai merayap masuk.

Malam tiba.

Di luar, suara-suara mulai terdengar. Jangkrik. Burung hantu. Dan sesekali, suara seperti karet diregangkan.

Bambang memejamkan mata. Dia berdoa dalam hati. Doa agar malam ini cepat berlalu. Doa agar makhluk-makhluk itu tidak menemukan mereka. Doa agar dia bisa pulang.

Di sampingnya, Ucok bergumam pelan. "Laras... Bapak pulang, Nak. Bapak pulang."

Bambang tidak tahu apakah doanya akan dijawab. Tapi satu yang dia tahu. Malam ini, mereka masih hidup. Masih manusia. Masih bisa berharap.

Dan selama masih ada harapan, selama itu mereka tidak akan menyerah.

1
Mega Arum
semoga segare terpecahkan misteri apa sbnrnya yg ada di pabrik karet,
Mega Arum
lanjut kak...
Astuti Puspitasari
jangan lupa sholat nak 👍
Astuti Puspitasari
Hati2 mbang, kamu hanyalah anak yang ingin berbakti/Whimper/
Mega Arum
sereem
Mega Arum
mampir thor.. semoga cerita nya bagus
Ma Vin
seru,,,, bikin deg_deg'n tpi pnasaran
Seindah Senja
lanjut Thor,ceritanya seruu bangeet,😍ikut deg² kan bacanya😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!