NovelToon NovelToon
SENIOR,I LOVE YOU!

SENIOR,I LOVE YOU!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Danisa Danish

Di usianya yang menginjak 30 tahun, Arini hanya ingin fokus pada kariernya sebagai Manajer Pemasaran dan menghindari drama kehidupan. Namun, ketenangannya terusik sejak kedatangan Rian (24 tahun), staf baru dari generasi Gen Z di timnya.

Berbeda dengan anak muda lain, Rian adalah cowok yang efisien: kerjanya selalu satset, santai, hasilnya rapi, tapi sikapnya super dingin dan kaku kepada Arini. Rian bahkan secara terang-terangan menunjukkan prinsip hidupnya yang kaku: "Not love at work"—baginya, mencampuradukkan pekerjaan dan perasaan adalah hal konyol.

Sikap dingin dan misterius Rian justru membuat Arini penasaran setengah mati. Arini tidak tahu bahwa di balik wajah datarnya, Rian sengaja membangun benteng tinggi demi menutupi debaran jantungnya setiap kali berdekatan dengan sang manajer. Rian tahu risiko profesional di kantor mereka, namun pesona dewasa Arini perlahan meruntuhkan logikanya.

Akankah Rian melanggar prinsipnya demi Arini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danisa Danish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Usia dan Hormat yang Salah Tempat

"Kakak-adik? Kakak perempuan?! Sialan si Rian, dia pikir gue setua itu apa?!"

Arini mondar-mandir di ruang tengah apartemennya seperti singa lapar yang kehabisan mangsa. Napasnya memburu, memicu detak jantung yang berdegup kencang karena emosi yang tertahan. Piyama satin bermotif kartun kelinci yang dipakainya—yang tadi sempat membuatnya terlihat imut dan santai di depan Rian—kini malah membuat dirinya makin naik pitam. Rasanya piyama itu sama sekali tidak membantu wibawanya yang baru saja runtuh ke titik nadir.

Ia menyambar bantal sofa berbulu yang tadi sempat dilemparkannya ke arah Rian saat mengusir cowok itu, lalu memukul-mukulnya ke sandaran sofa dengan gemas. Plak! Plak! Plak!

Sebagai wanita milenial yang baru saja menginjak usia kepala tiga awal, Arini sangat sensitif jika disinggung soal umur. Setiap bulan, ia rela merogoh kocek dalam-dalam demi rangkaian skincare anti-aging, suplemen kolagen premium, hingga perawatan klinik estetika agar kerutan halus enggan mampir ke wajahnya. Dan sekarang? Dipanggil "kakak perempuan" oleh cowok yang sudah sukses membuatnya salah tingkah setengah mati selama berminggu-minggu adalah sebuah penolakan paling sadis dan hantaman telak bagi harga dirinya. Gengsi Arini terluka parah, hancur berkeping-keping di lantai apartemennya sendiri.

"Lagian gue juga yang bodoh! Ngapain juga pake berharap dia mau ngomong kalimat yang lain? Sadar, Rin, sadar! Dia itu cuma staf bawahan lu yang masih piyik, bocah Gen Z yang isi kepalanya cuma kerjaan, game, sama kopi susu literan!" umpat Arini pada dirinya sendiri, merutuki ekspektasinya yang sempat melambung tinggi saat makan sup ayam bersama tadi.

Dengan langkah kesal, Arini menghentakkan kakinya menuju dapur. Ia menatap sisa sup ayam hangat yang tadi dibawa Rian di atas meja konter. Saking dongkolnya, ia langsung meraih mangkuk itu dan berjalan menuju tempat sampah, berniat membuang semua sisa makanan itu untuk membuang sial. Namun, tepat saat penutup tempat sampah terbuka, tangannya mendadak kaku. Aroma kaldu ayam yang gurih dan wangi bawang putih goreng kembali menusuk indra penciumannya. Kenangan instan saat Rian dengan telaten menyendokkan sup untuknya mendadak berputar di otak.

Arini mengembuskan napas panjang, bahunya merosot lesu. "Sialan... kenapa gue gak tega juga, sih?" gumamnya frustrasi. Dengan perasaan campur aduk antara gengsi dan sayang, ia akhirnya menutup kembali tempat sampah, berbalik arah, dan memasukkan mangkuk sup itu ke dalam kulkas dengan hentakan kasar.

Sementara itu, di belahan kota lain, di atas motor matic-nya, Rian berkendara membelah jalanan Jakarta dengan pikiran yang luar biasa ruwet. Hembusan Angin yang menerpa jaket kargonya sama sekali tidak mampu mendinginkan isi kepalanya yang mendidih akibat kebingungan. Sepanjang jalan dari apartemen mewah Arini di kawasan pusat sampai ke arah kostannya di daerah Jakarta Selatan, otaknya terus berputar memikirkan perubahan sikap sang Kepala Staf yang secepat kilat bak wahana roller coaster.

“Gue salah ngomong di mana, ya? Perasaan tadi bicaranya udah sopan banget, pemilihan katanya juga udah gue filter biar gak nyinggung posisi dia sebagai bos,” batin Rian bingung setengah mati. Ia bahkan nyaris melewatkan lampu merah di perempatan besar dan hampir diserempet angkot saking tidak fokusnya menatap jalanan.

Begitu sampai di kostan, Rian membuka pintu kamar dengan lunglai. Ia bahkan tidak sempat melepas sepatu dengan benar, apalagi melepas jaket kargonya yang masih berbau jalanan. Rian langsung membanting tubuhnya ke atas kasur busa tipis tanpa seprai di sudut ruangan, menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.

Bagas yang sejak tadi sedang asyik bermain game di ponsel sambil selonjoran di lantai dengan punggung bersandar ke lemari plastik, langsung menoleh. Ia menurunkan sedikit posisi ponselnya, mengamati tampang sahabatnya yang sudah mirip seperti domba tersesat.

"Lah, udah balik lu? Cepet amat, baru juga dua jam. Gimana? Sukses gak misi penyelamatan Ibu Bos dari kelaparan?" tanya Bagas jahil, menyenggol kaki Rian dengan ujung jempol kakinya. "Dapet bonus apa lu? Minimal naik gaji atau dapet lampu hijau, kan?"

Rian tidak langsung menjawab. Ia menghela napas berat, sekujur tubuhnya terasa lemas. Matanya menatap satu titik noda jamur berbentuk pulau di langit-langit kamar kost mereka. "Gas... menurut lu, cewek itu emang makhluk paling misterius dan gak bisa ditebak di alam semesta ini ya?"

Bagas langsung mematikan layar ponselnya. Insting berburu gosipnya seketika menyala terang benderang. Ia mengubah posisinya dari bersandar menjadi duduk tegap menghadap kasur Rian. "Wah, wah, bau-baunya ada aroma gosong kegagalan total nih. Cerita sini, lu diapain sama Bu Arini di apartemennya? Lu diusir karena ketahuan mau maling ya?"

Rian mengubah posisinya menjadi duduk, melipat kakinya, lalu mengacak rambutnya sendiri dengan frustrasi sampai berantakan. "Tadi tuh awalnya udah enak banget, Gas! Sumpah, suasananya udah cair banget. Kita makan sup ayam bareng di ruang tengahnya, ngobrol santai, ketawa-ketawa, pokoknya gak kaku kayak pas di kubikel kantor. Terus, karena gue ngerasa suasananya udah pas, gue bilang lah ke dia..."

"Bilang apa lu?" potong Bagas penasaran, matanya menyipit.

"Gue bilang, kalau di luar jam kantor, kita gak usah formal-formal banget pakai embel-embel 'Bu'. Gue bilang, gue ngerasa kita lebih cocok dan nyaman kalau kayak kakak-adik. Maksud gue kan baik, biar kalau dia lagi stres atau pusing sama beban kerjaan divisi, dia bisa bagi beban atau cerita ke gue kayak ke adiknya sendiri. Biar dia gak merasa sendirian."

Bagas langsung melongo sempurna. Mulutnya terbuka lebar, dan ponsel di tangan kanannya nyaris saja meluncur bebas ke lantai lantai semen kalau dia tidak cepat-cepat menangkapnya. "Lu... lu beneran ngomong begitu ke Bu Arini, Yan? Di depan muka dia langsung?!"

"Iya. Kenapa emang? Kalimat gue bener dan bijaksana banget, kan?" sahut Rian dengan wajah polos tanpa dosa, merasa argumennya sangat logis.

Bagas menepuk jidatnya sendiri dengan telapak tangan kanan dengan sangat keras sampai menimbulkan suara PLAK! yang menggema di dalam kamar kost. Ia menggeleng-gelengkan kepala dengan ekspresi tidak percaya sekaligus ngeri. "Goblok! Rian goblok! Lu beneran mentally sekuriti perumahan ya, polosnya kebangetan sampai bikin gue pengen nangis! Terus respons Bu Arini gimana setelah denger khotbah maut lu itu?"

"Ya itu dia yang bikin gue bingung sampai sekarang!" seru Rian, tangannya bergerak heboh di udara. "Mukanya yang tadi manis langsung berubah drastis jadi dingin banget, lebih dingin daripada es batu di tukang jus! Matanya melotot tajam, terus gue langsung diusir pulang malam itu juga. Dan yang paling parah, pas gue mau keluar pintu, dia teriak kalau hari Senin nanti semua laporan anggaran gue harus udah ada di mejanya jam delapan teng! Kalau telat, gue diancam SP-1. Gue salahnya di mana coba, Gas? Kan gue cuma menghormati dia!" bela Rian dengan nada tinggi, tidak terima niat baiknya dianggap sebuah kesalahan.

"Menghormati gimana maksud pikiran sempit lu itu, hah?" ketus Bagas.

"Ya kan dari segi usia, Bu Arini emang lebih tua dari gue! Selisih kita kan lumayan, Gas. Dia itu Kepala Staf, mandiri, wanita matang, makanya gue sangat menghormati posisi jabatan dan usianya. Gue ngerasa gak sopan kalau langsung sok akrab atau nganggep dia seumuran kayak temen nongkrong di warkop. Makanya gue pakai istilah kakak-adik biar posisi gue tetep sopan, ada batasan hormat, tapi tetep bisa akrab. Logis dan beretika banget, kan?" Rian menjelaskan dengan berapi-api, mencari pembenaran atas logika cowoknya.

Bagas menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu menatap sahabat sekamarnya itu dengan tatapan kasihan yang amat sangat dalam—tatapan yang biasa diberikan orang-orang kepada korban kecelakaan beruntun. Ia merangkak mendekati kasur, lalu mencembungkan tangannya di kedua pundak Rian, mencengkeramnya kuat-kuat.

"Rian, dengerin gue baik-baik, catat ini di otak lu kalau perlu laminating," kata Bagas dengan nada seserius seorang dosen pembimbing. "Pantangan nomor satu di dunia perkopian, pergaulan, dan percintaan: JANGAN PERNAH mengingatkan cewek mapan soal umur mereka, apalagi dengan label 'kakak' atau 'ibu' di luar konteks formal! Lu tahu gak apa yang bunyi di kuping Bu Arini pas lu ngomong kata 'kakak perempuan'?"

Rian mengerjap-ngerjap, mendadak ciut. "M-memangnya bunyi apa?"

"Di telinga Bu Arini, kalimat lu itu bunyinya bukan lu hormat, Yan! Tapi bunyinya: 'Ibu udah tua, keriputnya udah mau muncul, jadi saya anggap tante sendiri aja ya, jangan ngarep lebih'. Paham gak lu?!" sentak Bagas gemas. "Lu itu secara gak langsung udah nge-friendzone atasan lu sendiri pake label keluarga! Mana ada cewek yang lagi dandan rapi, wangi, nungguin lu dateng, tapi malah dibilang cocok jadi kakak! Itu namanya lu bunuh diri sebelum perang dimulai, Rian!"

Rian tertegun. Matanya mengerjap panik, dan kesadaran baru mulai perlahan merayap ke otaknya. Bayangan wajah Arini yang memerah menahan amarah tadi semalam langsung masuk akal sekarang. "M-masa sih, Gas? Tapi kan... sumpah, maksud gue bukan mau ngatain dia tua..."

"Maksud lu emang mulia, tapi cara eksekusi lu itu setara dengan masuk ke kandang singa sambil bawa pecut!" Bagas melepaskan cengkeramannya di pundak Rian, lalu kembali merebahkan dirinya di lantai. Ia tertawa terbahak-bahak sampai perutnya kaku, sangat puas melihat penderitaan sahabatnya.

"Hari Senin nanti, siap-siap aja lu ya, Yan. Gak usah mimpi dapet senyuman manis lagi. Siap-siap aja meja kerja lu dipindah ke samping toilet, atau gak lu disuruh fotokopi berkas setinggi Monas jam delapan pagi! Rasain lu akibat kepolosan yang hakiki!" ledek Bagas di sela-sela tawanya.

Rian kembali terduduk lemas, wajahnya yang tadi segar sehabis motoran mendadak berubah pucat pasi. Bulu kuduknya merinding ngeri membayangkan bagaimana atmosfer mencekam di lantai lima kantornya pada hari Senin nanti. Jangankan melarikan diri ke Tiara, menghadapi dampak dari "zona kakak-adik" ini saja rasanya sudah cukup untuk membuat kariernya tamat sebelum berkembang.

1
Anisa Nurlatifah
hai juga,siap kak😍😍👍👍💪
Aya Ansyar
nice, setujuu bagas 👍🏻
Aya Ansyar
mantap 👍🏻 lanjutkan karya kerenmu ini, thor. semangat terus berkarya 💪🏻
Anisa Nurlatifah: siap kak,thangkyuuuuuu😍💪👍👍👍💪
total 1 replies
Aya Ansyar
hai thor, aku hadir kembali membawa boomlike untukmu. jika berkenan, mampir juga ya ke karyaku. semangat terus berkarya thor 💪
Aya Ansyar
that's "tampang kurang piknik". ya ampun, ian 😭😭
Anisa Nurlatifah: 🤭🤭👍👍👍😍
total 1 replies
Aya Ansyar
thor, ma'af koreksi sedikit. ada tertinggal hurufnya. disini tulisannya "menggelengkan kepanya." ketinggalan "la".
Anisa Nurlatifah: waaahh siah Kaka,makasih koreksinya😍😍😍👍👍👍💪💪
total 1 replies
Aya Ansyar
wih keren deh, kalau ada cara kerjanya gen Z yg seperti ini 👍
Aya Ansyar
hai thor, aku mampir. nyicil baca yaa. semangat thor 💪
Anisa Nurlatifah: siap makasih Kaka,di tunggu kritik dan saranya😍😍😍👍👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!