Amel adalah seorang mahasiswi jurusan seni yang akan melakukan penelitian di sebuah pulau. hingga sebuah tragedi besar tragedi, Amel yang berniat menolong sahabatnya yang mengalami kram saat sedang bermain air justru tenggelam.
ketika dia membuka matanya lagi, yang mengejutkan dia sudah berada di sebuah tempat aneh dan kuno.
Amel ternyata melakukan transmigrasi dan memasuki tubuh seorang ratu yang terkenal kejam, di benci rakyat dan berdarah dingin. dunia ini dipimpin oleh seorang wanita, dan seorang pria hanya boleh menyenangkan wanita, memasak, anggun dan menawan.
tidak boleh belajar, berbicara kasar pada wanita, dan hanya boleh diam di rumah dan merawat anak-anak mereka. sedangkan wanita mencari nafkah, ikut perang, menjabat di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hz. ceria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaelia, Satu-satunya Suara Lugas
Pagi hari di Istana Mobelle tidak dimulai dengan kicau burung atau sinar matahari yang lembut. Ia dimulai dengan dentuman sepatu bot besi dan teriakan perintah yang menggema di halaman latihan.
Floren duduk di balkon pribadinya, memegang cangkir teh hangat yang uapnya mengepul tipis. Ia mengenakan gaun kerja sederhana berwarna abu-abu gelap—bukan gaun pesta yang rumit dan berat seperti yang sering dikenakan Ratu sebelumnya. Gaun ini praktis, memungkinkan gerak bebas, dan yang paling penting, tidak menarik perhatian berlebihan.
Dari ketinggian ini, ia bisa melihat Jenderal Kaelia sedang memarahi sekelompok rekrut baru. Postur Kaelia tegak sempurna, bahunya lebar, dan suaranya memiliki otoritas alami yang membuat bahkan angin seolah berhenti berhembus saat ia berbicara.
"Kalian disebut tentara?" teriak Kaelia, melempar sebuah tombak kayu ke tanah. "Tombak itu adalah perpanjangan tangan kalian! Jika kalian gemetar, musuh akan menusuk jantung kalian sebelum kalian sempat berkedip! Ulangi! Seratus kali!"
Para rekrut, sebagian besar wanita muda dengan wajah pucat karena kelelahan, segera bangkit dan mulai berlatih lagi. Tidak ada yang berani mengeluh. Di Mobelle, militer adalah tulang punggung negara, dan Kaelia adalah sumsum tulangnya.
Floren meneguk tehnya. Rasanya pahit, tanpa gula. Seperti kenyataan yang ia hadapi.
Sejak dekrit "Dua Meter" diumumkan semalam, istana telah berubah menjadi sarang lebah yang diganggu. Bisikan-bisikan menyebar lebih cepat daripada api. Para pelayan pria menghindari pandangan Floren, berjalan membungkuk ekstrem untuk memastikan mereka tidak secara tidak sengaja melanggar jarak sakral itu. Para selir di harem dikabarkan mengamuk, menangis, atau merencanakan sesuatu—Floren tidak peduli mana yang benar, selama mereka tetap di dalam sayap timur.
Dan para menteri? Mereka sudah mengirim tiga surat protes pagi ini. Semua tentang "tradisi", "kelangsungan dinasti", dan "kesehatan mental Ratu". Floren belum membalas satu pun. Ia membiarkan kertas-kertas itu menumpuk di mejanya sebagai bukti ketidakefektifan birokrasi lama.
"Yang Mulia."
Suara itu datang dari belakang, rendah dan serak. Bukan suara pelayan yang gemetar, melainkan suara seseorang yang terbiasa memberi perintah.
Floren tidak menoleh. Ia tahu siapa itu. Hanya satu orang yang berani mendekati balkonnya tanpa mengetuk, dan hanya satu orang yang suaranya tidak bergetar karena takut.
"Jenderal Kaelia," sapa Floren, matanya tetap tertuju pada halaman latihan di bawah. "Apakah Anda datang untuk melaporkan kemajuan latihan, atau untuk mengajukan pengunduran diri karena dekret saya terlalu 'gila' untuk ditoleransi?"
Kaelia melangkah maju. Ia berhenti tepat di ambang pintu balkon, menjaga jarak sekitar tiga meter dari kursi Floren. Ia tidak membungkuk. Ia berdiri dengan tangan disilangkan di dada, menatap profil Ratu mudanya.
"Saya bukan tipe orang yang mengundurkan diri karena ketidaknyamanan, Yang Mulia," jawab Kaelia lugas. "Saya prajurit. Saya terbiasa dengan medan yang tidak nyaman. Lumpur, darah, dingin... dan sekarang, aturan sosial yang aneh."
Floren akhirnya menoleh. Wajah Kaelia keras, tanpa ekspresi. Bekas luka di pipi kirinya tampak lebih jelas di bawah sinar matahari pagi. Mata cokelatnya tajam, menyelidik, seolah-olah sedang membedah jiwa Floren layer demi layer.
"Anda menyebutnya aneh," kata Floren tenang. "Banyak orang menyebutnya gila. Atau impoten. Atau tanda bahwa saya telah kehilangan akal sehat akibat darah keluarga saya sendiri."
Kaelia mendengus pelan, sebuah suara singkat yang hampir seperti tawa sinis. "Gosip adalah senjata orang lemah. Saya tidak tertarik pada gosip. Saya tertarik pada hasil."
Kaelia melangkah sedikit lebih dekat, tapi masih dalam batas aman. Ia meletakkan sebuah gulungan perkamen di atas meja kecil di samping Floren.
"Laporan awal dari Delta-7," kata Kaelia. "Unit gerilya Komandan Vane berhasil memancing pasukan Zenthoria ke rawa. Artileri kita menghancurkan barisan depan mereka. Kerugian musuh: dua ratus kavaleri. Kerugian kita: nol."
Floren merasakan beban berat di dadanya sedikit terangkat. Strategi itu berhasil. Itu berarti logikanya valid. Itu berarti ia tidak sepenuhnya asing di dunia ini.
"Bagus," kata Floren singkat.
"Tapi," lanjut Kaelia, suaranya menjadi lebih serius, "ada masalah."
Floren mengangkat alis. "Masalah?"
"Komandan Vane," kata Kaelia. "Dia kembali dengan laporan yang... mencurigakan. Dia mengklaim bahwa pasukan Zenthoria sudah mengetahui rencana kita sejak awal, tapi tetap terjebak karena 'kesalahan koordinasi' mereka. Dia meminta promosi untuk pasukannya dan hukuman bagi intelijen yang allegedly (diduga) gagal."
Floren menyipitkan mata. Vane. Ibu Julian. Perdana Menteri wanita yang tersenyum manis tapi matanya licik, salah satu sisa kekuasaan terbesar dari rezim lama yang masih bertahan.
"Dia mencoba mengalihkan perhatian," gumam Floren. "Jika dia mengaku tahu rencana musuh, dia terlihat kompeten. Jika dia menyalahkan intelijen, dia membersihkan jalur untuk anak buahnya sendiri."
"Teori yang masuk akal," kata Kaelia. "Tapi Vane adalah ibu dari Julian. Dan Julian adalah favorit lama istana. Menyerang Vane secara langsung bisa dianggap sebagai serangan pribadi terhadap keluarga bangsawan tertua di Mobelle. Dewan Menteri akan ribut."
Floren berdiri. Ia berjalan ke tepi balkon, memandang jauh ke arah kota ibukota yang mulai ramai. Asap dapur naik dari rumah-rumah rakyat. Rakyat biasa yang tidak peduli dengan intrik harem, tapi sangat peduli apakah mereka punya roti untuk dimakan besok.
"Saya tidak takut pada dewan menteri, Kaelia," kata Floren. "Saya takut pada inefficiency. Jika Vane korup atau kompeten, dia harus pergi. Tidak peduli siapa anaknya, usianya dan jenis kelaminnya."
Kaelia menatap punggung Floren. Ada jeda panjang. Kemudian, ia berbicara, suaranya lebih lembut dari biasanya, namun tetap tajam.
"Anda berbeda," kata Kaelia tiba-tiba.
Floren menoleh. "Maksud Anda?"
"Ratu sebelumnya... ibunda anda... dia menggunakan kekuasaan untuk kesenangan. Dia membunuh karena amarah. Dia memanipulasi karena bosan. Mencari kesenangan bersama pria-pria tampan, nenek anda terdahulu, memimpin dengan baik hanya saja terlalu lembut pada menteri-menteri. terperangkap oleh cinta," Kaelia melangkah selangkah lebih dekat, matanya terkunci pada Floren. "Anda... Anda menggunakan kekuasaan seperti alat. Dingin. Presisi. Anda tidak menikmati pembunuhan tadi malam. Saya melihat mata Anda. Anda jijik."
Jantung Floren berdetak kencang. Apakah Kaelia tahu? Apakah ia menyadari bahwa jiwa di dalam tubuh ini bukan jiwa Floren yang asli?
"Saya tidak menikmati kekerasan," jawab Floren hati-hati. "Tapi saya mengerti kebutuhannya. Seperti pisau bedah. Menyakitkan, tapi diperlukan untuk membuang jaringan busuk."
Kaelia mengangguk perlahan. Sebuah tanda persetujuan langka.
"Pisau bedah," ulangnya. "Metafora yang menarik. Tapi ingat, Yang Mulia. Pisau bedah harus tajam. Dan tangan yang memegangnya harus stabil. Jika Anda ragu, jika Anda terlalu banyak berpikir tentang 'moralitas' atau 'perasaan', pisau itu akan berbalik menusuk Anda."
Floren menelan ludah. Peringatan itu nyata. Kaelia bukan sekadar bawahan; ia adalah penjaga gerbang. Jika Kaelia memutuskan Floren terlalu lemah atau terlalu berbahaya, ia bisa saja "kecelakaan" terjadi.
"Saya tidak ragu, Jenderal," kata Floren, suaranya baja. "Saya hanya selektif."
Kaelia tersenyum tipis. Senyuman itu tidak mencapai matanya, tapi itu adalah senyuman pertama yang pernah Floren lihat darinya.
"Baiklah. Kita akan lihat seberapa selektif Anda ketika Vane datang menuntut audiensi siang ini. Dia pasti akan membawa Julian bersamanya. Anak itu... dia punya cara untuk membuat orang lunak."
Mendengar nama Julian, Floren merasa sedikit tidak nyaman. Julian, putra Perdana Menteri Vane, pria yang konon jatuh cinta pada Floren sejak kecil. Pria yang masuk harem sukarela. Dalam memori Floren, Julian adalah sosok yang menyedihkan—cantik, lembut, tapi terperangkap dalam politik ibunya yang ambisius.
"Saya tidak akan lunak," kata Floren dingin. "Julian adalah subjek kerajaan, sama seperti yang lain. Dia tunduk pada hukum yang sama. Termasuk Dekrit Dua Meter."
Kaelia mengangkat alis, tampaknya (terhibur). "Kita lihat saja. Vane akan mencoba menggunakan anaknya sebagai leverage. Sebagai 'hadiah' emosional untuk melunakkan Anda. Itu permainan lama para orang tua itu."
"Biarkan dia mencoba," kata Floren, kembali duduk dan mengambil cangkir tehnya yang sudah dingin. "Saya kebal terhadap rayuan. Dan saya kebal terhadap air mata."
Kaelia membungkuk singkat. "Saya akan menyiapkan ruang audiensi. Pastikan Anda siap, Yang Mulia. Badai politik sedang datang, dan kali ini, badainya memakai wajah tampan dan kata-kata manis dari seorang ibu yang licik dan putra yang terlalu setia."
Kaelia berbalik dan pergi, langkah kakinya tegas dan ritmis di lantai batu.
Floren menatap cangkir tehnya. Refleksi wajahnya sendiri terpantul di permukaan cairan hitam itu. Wajah cantik, pucat, dengan mata yang terlalu tua untuk usianya.
Julian, batinnya. Ibumu mungkin licik. Tapi kamu... kamu adalah variabel yang tidak bisa aku prediksi, bahkan oleh Floren asli.
Ia menghembuskan napas. Pertempuran pertama di medan perang sudah dimenangkan. Tapi pertempuran di ruang takhta, melawan kata-kata dan manipulasi, baru saja dimulai. Dan Floren tahu, di sana, ia tidak bisa mengandalkan pedang Kaelia. Ia harus mengandalkan lidahnya sendiri.
Dan otaknya.
Ia berdiri, merapikan gaun abunya, dan berjalan menuju pintu. Waktu untuk bertemu sang Perdana Menteri dan putranya yang "terlalu mencintai".
Floren siap.