NovelToon NovelToon
KEMBANG DESA SANG CEO

KEMBANG DESA SANG CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Persaingan Mafia / Menjual Anak Perempuan untuk Melunasi Hutang / Rumah Tangga
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Lada Jingga

Kemuning selalu tahu hidupnya murah di mata keluarga sendiri. Sejak kedua orang tuanya meninggal, ia hanya dianggap beban—dipaksa menjadi pembantu di rumah bibinya, tidur di lantai dingin, dan menahan sakit demi membesarkan adik kecilnya seorang diri.

Suatu malam, bibinya menyerahkan Kemuning kepada seorang tuan tanah untuk melunasi hutang judi. Tanpa persetujuan. Tanpa belas kasihan.

Semua orang mengira nasib Kemuning selesai saat mobil hitam itu membawanya pergi dari desa. Tapi mereka salah, karena pria yang menunggunya di kota jauh lebih berbahaya daripada kemiskinan; dingin, kaya, tampan, dan memandang Kemuning seolah gadis desa itu adalah miliknya.

Kemuning membenci cara pria itu mendekat terlalu dekat, cara tatapannya selalu membuat napasnya kacau… dan cara tubuhnya gemetar setiap kali pria itu menyentuhnya hanya untuk hal-hal kecil yang seharusnya biasa saja.

Namun yang paling menakutkan bukanlah ketertarikan itu.
Melainkan rahasia besar tentang alasan Kemuning sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lada Jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11 - Jangan Dekati Dia

Arkana masih memegang pinggang Kemuning di parkiran basement yang dingin dan lembap. Suara hujan deras menggema samar dari luar gedung tinggi Mahendra Group. Tatapan pria itu terlalu dekat dan terlalu intens untuk ditahan Kemuning. Apalagi setelah kalimat rendah itu keluar dari bibirnya.

“Berapa kali lagi aku harus menangkapmu, hm?” Nada suara Arkana terdengar pelan tetapi membuat tubuh Kemuning melemas seketika. Napas pria itu menyapu wajahnya hangat di tengah udara dingin basement. Dan jantung Kemuning langsung kacau tanpa ampun.

Kemuning buru-buru menjauh dari pelukan Arkana sambil menunduk panik. “Maaf...” Refleks itu keluar begitu saja dari bibirnya. Padahal dirinya sendiri mulai lelah terus meminta maaf.

Namun Arkana justru langsung mengerutkan dahi kesal. Lagi. Kata itu lagi yang keluar dari mulut Kemuning. Dan entah kenapa, Arkana mulai membencinya. Pria itu perlahan melepaskan pinggang Kemuning. Namun sebelum benar-benar menjauh, ibu jarinya sempat mengusap pinggang gadis itu pelan tanpa sadar. Seolah memastikan Kemuning baik-baik saja dan tidak terluka.

Sentuhan kecil itu justru membuat Kemuning makin salah tingkah. Tubuhnya langsung menegang malu.

Ia terlalu sadar pada telapak tangan hangat Arkana di tubuhnya. Bahkan setelah pria itu menjauh, bekas sentuhan tersebut masih terasa jelas. Dan itu membuat pipinya kembali panas.

Dari kejauhan, Selvina Adriani memperhatikan semuanya dalam diam. Wanita itu berdiri di dekat mobilnya sambil menggenggam tas kerja lebih erat.

Tatapan matanya tidak lepas dari Arkana dan Kemuning sedari tadi. Dan dadanya perlahan dipenuhi rasa tidak nyaman. Selama bertahun-tahun mengenal Arkana, pria itu selalu dingin pada semua perempuan. Tidak pernah peduli. Tidak pernah memberi perhatian kecil yang berarti. Namun sekarang semuanya berubah hanya karena satu gadis desa.

Arkana refleks menangkap Kemuning sebelum jatuh.

Memegang pinggangnya terlalu lama. Bahkan menatap Kemuning dengan cara yang belum pernah Selvina lihat sebelumnya. Tatapan yang terlalu lembut untuk seseorang seperti Arkana Mahendra. Dan untuk pertama kalinya, Selvina merasa terancam. Kemuning harus dijauhkan sebelum semuanya berubah lebih jauh. Karena jika Arkana benar-benar jatuh hati, tidak akan ada perempuan lain yang bisa masuk lagi ke hidup pria itu. Kesadaran itu membuat dada Selvina terasa panas.

Perjalanan pulang berlangsung sangat sunyi setelahnya. Kemuning duduk kaku sambil menatap keluar jendela mobil. Pipinya masih terasa panas mengingat kejadian di basement tadi. Sedangkan Arkana beberapa kali meliriknya diam-diam. Tidak ada percakapan di antara mereka. Namun justru keheningan itu terasa semakin berat sekarang. Masing-masing sibuk dengan pikiran sendiri yang mulai berbahaya. Dan tidak ada yang tahu harus bicara apa.

Saat mobil berhenti di lampu merah, Arkana tanpa sadar kembali melirik ke arah Kemuning. Gadis itu sedang menggigit bibir bawahnya pelan karena gugup. Kebiasaan kecil yang mulai terlalu sering diperhatikan Arkana akhir-akhir ini. Dan itu membuat napas pria itu sedikit tertahan. Tatapan Arkana berhenti terlalu lama di bibir Kemuning. Lalu pria itu buru-buru memalingkan wajah dengan rahang menegang kesal. Apa sebenarnya yang sedang terjadi pada dirinya? Kenapa Kemuning terus mengganggu pikirannya seperti ini?

Kemuning sendiri sama sekali tidak sadar sedang diperhatikan. Ia hanya sibuk mencoba menenangkan jantungnya sendiri. Semakin dekat dengan Arkana, semakin sulit dirinya menjaga perasaan. Dan itu membuatnya takut setengah mati.

Malam mulai turun saat mereka tiba di mansion Mahendra. Begitu masuk ke ruang tengah, Mahardika langsung memanggil Arkana ke ruang kerja. “Ada beberapa dokumen yang harus kita bahas malam ini.”

Arkana mengangguk singkat sebelum pergi.

Kemuning akhirnya sendirian di ruang tengah mansion yang luas dan elegan itu. Ia duduk pelan di sofa sambil memeluk dirinya sendiri. Pikirannya terus berputar tentang semua yang terjadi hari ini. Dan semuanya selalu berakhir pada Arkana.

Tidak lama kemudian, suara langkah heels terdengar dari arah pintu utama. Kemuning menoleh pelan dan melihat Selvina masuk sambil membawa map dokumen. Wanita itu masih terlihat elegan sempurna bahkan di malam hari. Dan tiba-tiba Kemuning merasa makin kecil di depannya.

“Dokumen untuk Pak Mahardika.” Selvina tersenyum tipis sambil mengangkat map di tangannya. Namun tatapannya langsung tertuju pada Kemuning beberapa detik lebih lama. Tatapan yang sulit dijelaskan.

Kemuning buru-buru berdiri sopan. “Aku panggilkan Pak Mahardika...”

Namun Selvina menggeleng pelan sambil tersenyum lembut. “Tidak perlu. Aku bisa menunggu.”

Suasana ruang tengah langsung terasa canggung setelah itu. Selvina duduk dengan anggun di sofa seberang Kemuning. Sedangkan Kemuning hanya menunduk sambil meremas jemarinya sendiri gugup. Ia merasa sedang dinilai tanpa ampun sekarang.

“Kamu gadis yang beruntung.” Selvina akhirnya bicara pelan sambil tersenyum tipis. “Tidak semua perempuan bisa sedekat itu dengan Arkana.” Kalimat itu langsung membuat Kemuning membeku.

“Aku... tidak seperti itu...” Kemuning buru-buru menyangkal dengan wajah memerah malu. “Tidak ada apa-apa antara aku dan Tuan Arkana...” Namun suaranya justru terdengar makin tidak yakin.

Selvina memperhatikan reaksi Kemuning diam-diam.

Lalu tersenyum lagi dengan tenang. “Dunia Arkana terlalu tinggi untuk gadis seperti kamu.” Nada suaranya lembut tetapi menusuk. “Perempuan di sekitar Kana biasanya model, pengusaha, atau sosialita.”

Nama panggilan itu terdengar begitu akrab di telinga Kemuning. Membuat dadanya terasa aneh tanpa alasan jelas. Selvina sengaja menyebutnya seperti itu.

“Aku sudah mengenalnya bertahun-tahun.” Selvina melanjutkan sambil menyilangkan kaki elegan. “Kana bukan pria yang mudah tertarik pada seseorang.”

Tatapannya kembali jatuh pada Kemuning. “Tapi hubungan seperti itu tidak akan pernah bertahan.”

Kalimat terakhir Selvina terdengar lebih tajam dari sebelumnya. Dan perlahan rasa percaya diri Kemuning mulai runtuh lagi. Mungkin memang benar dirinya tidak pantas berada dekat Arkana.

Kemuning menunduk makin dalam. Jemarinya saling meremas kecil di atas pangkuan. Semakin ia berada di dunia Arkana, semakin jelas perbedaan mereka. Dan itu menyakitkan lebih dari yang ia kira.

Tepat saat suasana mulai menyesakkan, suara langkah kaki terdengar dari tangga mansion. Arkana turun dengan wajah dingin sambil melonggarkan dasinya sedikit. Tatapan matanya langsung berhenti pada Kemuning yang terlihat murung. Lalu beralih pada Selvina. Suasana mendadak berubah dingin dalam hitungan detik. Arkana cukup pintar membaca situasi tanpa perlu banyak penjelasan. Dan ekspresi Kemuning sekarang langsung membuat suasana hatinya memburuk lagi.

Tatapan pria itu berubah tajam. “Selvina.” Suara Arkana rendah dan dingin memenuhi ruang tengah.

“Kalau tidak ada urusan pekerjaan, kau bisa pulang.”

Kemuning langsung mengangkat kepala kaget.

Selvina sendiri terlihat sedikit terkejut. Selama ini Arkana tidak pernah mengusirnya sejelas itu. Namun wanita itu tetap mempertahankan senyum tipis di wajahnya. Meski matanya mulai terlihat terluka dan cemburu.

“Tentu.” Selvina berdiri perlahan sambil mengambil tasnya. Sebelum pergi, ia menatap Kemuning beberapa detik terlalu lama. Tatapan yang membuat bulu kuduk Kemuning meremang samar.

“Hati-hati.” Suara Selvina terdengar lembut saat berdiri di dekat pintu. “Dunia Arkana tidak sehangat yang kamu kira.” Kalimat itu terasa seperti ancaman samar sebelum ia pergi. Pintu mansion akhirnya tertutup kembali dan suasana jadi sunyi.

Kemuning langsung merasa makin bersalah sekarang. Ia menunduk sambil menggenggam ujung dressnya erat. “Aku minta maaf...” Kalimat itu akhirnya keluar lagi.

Dan kali ini, Arkana benar-benar kehilangan kesabaran. Pria itu langsung melangkah mendekat dengan wajah gelap. Membuat Kemuning refleks mundur sedikit.

“Aku sudah bilang berhenti meminta maaf.” Nada suara Arkana terdengar rendah dan tegas.

Kemuning langsung membeku di tempat. Jantungnya mulai berdetak kacau lagi. Lalu untuk pertama kalinya, Arkana memegang wajah Kemuning dengan kedua tangannya langsung. Telapak tangannya terasa hangat di pipi gadis itu yang dingin karena gugup. Sentuhan itu terlalu lembut sekaligus terlalu intens bagi Kemuning. Sampai napasnya tercekat sendiri.

Tatapan mata Arkana begitu dekat sekarang. Pria itu menatap Kemuning lama tanpa bicara. Seolah sedang mencoba memahami sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak mengerti. Dan itu membuat lutut Kemuning hampir lemas.

Arkana mengusap pelan pipi Kemuning dengan ibu jarinya. Gerakan kecil itu membuat tubuh gadis tersebut langsung gemetar halus. Tidak pernah ada yang menyentuhnya sepelan ini sebelumnya. Apalagi seseorang seperti Arkana Mahendra. Lalu pria itu akhirnya bicara pelan dengan suara rendah penuh tekanan. “Kenapa kau begitu takut padaku...” Tatapan Arkana turun perlahan ke mata Kemuning yang gemetar gugup. Dan kalimat berikutnya membuat jantung Kemuning nyaris berhenti berdetak. “Padahal yang paling berbahaya sekarang justru dirimu sendiri.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!