Ailen Gavril bukanlah gadis biasa. Ia cantik, lincah, dan memiliki kemampuan bela diri yang bisa membuat atlet olimpiade menangis di pojok ruangan. Namun, otaknya punya setelan "konsleting" yang permanen. Ailen bisa saja menghajar sepuluh preman sendirian, lalu semenit kemudian menangis karena es krimnya jatuh ke aspal.
Di sisi lain dunia yang gelap, Leon Vancort, sang "Iblis Tak Berperasaan", memimpin sindikat mafia terbesar dengan tangan besi. Hidupnya penuh dengan perhitungan matang, kesunyian, dan kemewahan yang dingin. Sampai suatu malam, rencana pembunuhan berencana yang disusun Leon selama berbulan-bulan hancur total karena Ailen tiba-tiba jatuh dari atap gudang tepat di atas targetnya, hanya karena ia sedang mengejar kucing yang mencuri sandal jepitnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Para Bos Mafia yang Canggung
Dunia bawah tanah biasanya memiliki satu hukum tak tertulis: jika para bos besar berkumpul, maka udara harus terasa seberat timah, aroma cerutu harus mencekik paru-paru, dan setiap tatapan mata harus mengandung ancaman pembunuhan. Namun, hukum itu seolah-olah menguap begitu saja ketika Leon Vancort melangkah masuk ke dalam aula Grand Ballroom Hotel Metropole dengan Ailen yang bergelayut di lengannya.
Pertemuan ini disebut "Konsorsium Tinggi", sebuah konferensi darurat yang dihadiri oleh tujuh kepala keluarga mafia terbesar untuk membahas kebocoran dokumen yang dilakukan Leon di Pelabuhan Barat. Semua orang di sana duduk di meja bundar raksasa, mengenakan setelan jas seharga rumah mewah, dengan wajah yang lebih kaku daripada semen kering.
Lalu, masuklah Ailen.
Ia mengenakan gaun sutra berwarna zamrud yang cantik, tapi di lehernya, ia melingkarkan sebuah syal rajutan tangan berwarna kuning mencolok dengan motif gambar wortel.
"Mas Leon, ini AC-nya dingin bener ya? Kayak di dalem freezer bakso," bisik Ailen dengan suara yang—sayangnya—bergema di ruangan yang sunyi itu.
Leon hanya bisa mengeratkan pegangannya pada tangan Ailen. "Tetap di sampingku, Ailen. Dan tolong, untuk satu jam saja, bersikaplah seperti manusia normal yang tidak memiliki obsesi pada makanan beku."
"Siap, Mas Bos. Saya bakal se-normal mungkin. Normal versi saya, ya?" Ailen nyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapi namun penuh dengan niat nakal.
Mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Di sebelah kiri Leon, duduk Don Salieri, seorang pria tua yang dikenal sebagai "Penjagal dari Sisilia". Di sebelah kanannya, ada Madam Fang, wanita paruh baya yang menguasai perdagangan senjata di Asia Timur dan dikenal tidak pernah tersenyum sejak tahun 1998.
Suasana sangat canggung. Semua orang menatap Leon, lalu beralih menatap Ailen yang sekarang sedang sibuk mencoba membetulkan posisi syal wortelnya.
"Vancort," Don Salieri membuka suara, suaranya parau seperti gesekan amplas. "Kami di sini untuk membahas pengkhianatanmu terhadap kerahasiaan dokumen klan. Tapi... siapa gadis yang membawa sayuran di lehernya ini?"
Leon berdeham, mencoba mempertahankan wibawanya yang mulai terkikis di pinggiran. "Ini Alexandra, tunanganku. Dia... dia sedang menderita alergi udara dingin yang sangat spesifik, sehingga membutuhkan syal ini sebagai proteksi."
Madam Fang menyipitkan mata. "Alergi yang unik. Dan apakah dia juga menderita alergi untuk diam? Sejak tadi dia terus-menerus mengetuk meja dengan irama lagu anak-anak."
Ailen yang merasa ditegur, langsung menatap Madam Fang dengan mata bulatnya yang polos. "Eh, Tante Fang ya? Maaf Tante, ini bukan lagu anak-anak. Ini kode morse buatan saya sendiri. Artinya: 'Kapan ya snack-nya keluar? Perut saya sudah mulai konser orkestra'."
Madam Fang tertegun. Belum pernah ada orang yang memanggilnya "Tante" dan membicarakan camilan di tengah rapat yang bisa menentukan nasib ekonomi gelap dunia. "Camilan? Kita di sini untuk menentukan apakah Leon Vancort harus dieksekusi atau tidak!"
"Duh, Tante... jangan galak-galak. Nanti keriputnya nambah lho. Mending kita makan dulu supaya otaknya encer," Ailen merogoh tas tangan mungilnya yang mahal. Semua penjaga di ruangan itu langsung mencabut pistol mereka, mengira Ailen akan mengeluarkan senjata.
Leon refleks berdiri untuk melindungi Ailen. "Turunkan senjata kalian!"
Ailen justru mengeluarkan sebuah kantong plastik bening berisi... kuaci.
"Santai, Mas-mas ganteng. Cuma kuaci. Mau nggak? Ini rasa susu, enak banget buat nemenin nunggu keputusan hukuman mati," Ailen menyodorkan kantong itu ke arah Don Salieri.
Don Salieri menatap kuaci itu seolah-olah itu adalah butiran uranium. Keheningan yang terjadi sangat menyakitkan. Seorang bos mafia paling ditakuti di Eropa kini sedang ditawari camilan biji bunga matahari oleh seorang gadis yang memakai syal wortel.
"Vancort... kau benar-benar telah kehilangan akal sehatmu," bisik Salieri, namun tangannya entah kenapa justru mengambil satu butir kuaci.
Canggung. Benar-benar canggung.
Selama tiga puluh menit berikutnya, rapat yang seharusnya penuh dengan intrik berdarah berubah menjadi sesi "makan kuaci bersama". Suara tek-tek-tek dari kulit kuaci yang pecah memenuhi ruangan. Madam Fang, yang awalnya sangat membenci kehadiran Ailen, tanpa sadar mulai ikut mengupas kuaci sambil mendengarkan Ailen bercerita tentang cara memilih daster yang nyaman untuk dipakai saat santai di rumah.
"Jadi gitu Tante Fang, daster itu kuncinya di karet pinggang. Kalau terlalu kencang, pas kita makan nasi padang dua porsi, rasanya mau meledak," jelas Ailen dengan semangat.
Madam Fang mengangguk pelan. "Aku... aku akan mempertimbangkan untuk membeli satu."
Leon hanya bisa duduk bersandar, menatap langit-langit aula. Ia tidak tahu harus merasa bangga atau malu. Di satu sisi, Ailen berhasil meredam tensi tinggi yang tadinya bisa berakhir dengan pertumpahan darah. Di sisi lain, harga diri Konsorsium Tinggi ini baru saja diinjak-injak oleh camilan rakyat jelata.
"Baiklah!" Don Salieri tiba-tiba menggebrak meja, membuat kulit kuaci beterbangan. "Mari kembali ke topik! Leon, kau membocorkan rahasia Moretti dan Black Cobra. Apa pembelaanmu?"
Leon menatap tajam ke arah Salieri. "Moretti berencana mengkhianati Konsorsium dengan menjual rute kita kepada pihak otoritas demi perlindungan pribadinya. Aku hanya membuang sampah sebelum bau busuknya menyebar ke rumah kita semua."
"Apa buktinya?" tanya seorang bos lain dari ujung meja.
Ailen langsung berdiri. "Buktinya ada di balik kumis Om Moretti! Eh, maksud saya, ada di rekaman suara yang saya ambil di kapal pesiar kemarin. Mas Leon, kasih liat dong yang bagian Moretti bilang kalau Om Salieri itu 'si tua bangka yang bau minyak tanah'."
Wajah Don Salieri langsung berubah menjadi merah padam. "Dia bilang apa?!"
Leon memutar rekaman suara melalui speaker di tengah meja. Suara Moretti terdengar jelas sedang merencanakan kudeta terhadap anggota Konsorsium lainnya dan mengejek mereka satu per satu dengan julukan yang sangat menghina.
Suasana ruangan yang tadinya canggung karena kuaci, kini berubah menjadi dingin karena amarah. Para bos mafia itu saling pandang. Mereka menyadari bahwa Leon bukan pengkhianat; dialah yang menyelamatkan mereka dari pisau Moretti yang sudah berada di leher mereka.
"Moretti harus dieliminasi," kata Madam Fang dengan suara yang tajam seperti belati. "Dan Vancort... kau bebas dari segala tuduhan."
Ailen bersorak kecil sambil bertepuk tangan. "Hore! Mas Leon nggak jadi mati! Berarti kita bisa mampir beli bakso bakar kan habis ini?"
Leon tersenyum, kali ini dengan rasa lega yang nyata. Ia menggenggam tangan Ailen di atas meja, tidak peduli lagi dengan pandangan bos-bos lainnya. "Ya, Ailen. Kita beli satu gerobaknya sekalian."
Namun, pertemuan itu belum benar-benar berakhir. Saat mereka hendak berdiri, pintu aula meledak. BOOM!
Pasukan Moretti yang tersisa melakukan serangan bunuh diri. Asap memenuhi ruangan, dan peluru mulai berterbangan. Para bos mafia langsung berlindung di bawah meja mewah mereka.
"Ailen, di bawah meja!" teriak Leon sambil mencabut pistolnya.
"Nggak bisa, Mas! Syal wortel saya nyangkut di kursi!" Ailen malah sibuk menarik-narik syalnya sementara peluru berseliweran di atas kepalanya.
Leon segera menarik Ailen dengan kasar hingga gadis itu terjatuh di pangkuannya di bawah meja kayu jati yang tebal. Di bawah meja yang sempit itu, mereka berdua berhimpitan. Leon memeluk tubuh Ailen erat, melindunginya dari serpihan kayu yang beterbangan.
"Mas... sempit bener," bisik Ailen, wajahnya hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajah Leon.
"Diamlah, Ailen. Kita sedang di tengah baku tembak," desis Leon, meski ia sendiri merasa detak jantungnya lebih kencang karena kedekatan mereka daripada karena peluru musuh.
"Mas Leon... dalam keadaan begini, Mas kelihatan makin ganteng deh. Kayak pahlawan di komik yang sering saya baca," Ailen justru sempat-sempatnya menggoda Leon di tengah suara ledakan.
Leon menatap mata Ailen. Di tengah kekacauan, ketakutan, dan bau mesiu, mata Ailen tetap memancarkan cahaya yang sama—cahaya kehidupan yang sembrono namun hangat. Leon tidak bisa menahannya lagi. Di bawah meja Konsorsium Tinggi, dikelilingi oleh para bos mafia yang ketakutan, Leon menunduk dan mencium bibir Ailen dengan lembut namun penuh penekanan.
Ailen membelalak, tapi kemudian ia memejamkan mata dan membalas ciuman itu dengan kikuk. Ciuman itu terasa manis, seperti rasa susu dari kuaci yang mereka makan tadi.
Setelah beberapa detik yang terasa seperti selamanya, Leon melepaskan tautan bibir mereka. "Itu untuk... menyuruhmu diam."
"Kalau gitu, suruh saya diem terus aja tiap hari, Mas," sahut Ailen dengan wajah memerah yang lebih cerah daripada motif wortel di syalnya.
Baku tembak di luar akhirnya diredam oleh tim Alpha pimpinan Marco yang datang tepat waktu. Satu per satu anggota Moretti dilumpuhkan. Ruangan itu kini berantakan, penuh lubang peluru dan debu.
Leon dan Ailen keluar dari kolong meja. Para bos mafia lainnya juga mulai keluar dengan pakaian yang kotor dan wajah yang syok. Madam Fang merapikan rambutnya yang berantakan, lalu menatap Ailen.
"Gadis... siapa namamu yang sebenarnya?" tanya Madam Fang.
"Ailen Gavril, Tante. Tapi panggil Alexandra juga boleh kalau lagi pengen kelihatan keren," jawab Ailen sambil nyengir.
Madam Fang mengambil tas tangannya, lalu mengeluarkan sebuah kartu nama emas. "Ailen, jika Leon suatu saat membuatmu bosan dengan kekakuannya, datanglah padaku. Aku butuh orang yang bisa mengajariku cara memilih daster yang benar."
Leon segera menarik Ailen mendekat ke arahnya. "Maaf Madam, dia sudah punya kontrak eksklusif denganku seumur hidup."
Ailen tertawa renyah, memeluk lengan Leon erat-erat. "Tuh denger kan Tante? Saya udah dibooking! Tapi kalau soal daster, nanti saya WA aja ya!"
Mereka berjalan keluar dari hotel, meninggalkan kekacauan di belakang mereka. Di dalam mobil limousine, Ailen langsung menyandarkan kepalanya di bahu Leon.
"Mas... tadi ciumannya enak. Lebih enak daripada bakso bakar kayaknya," celetuk Ailen tiba-tiba.
Leon terbatuk, wajahnya memerah. "Ailen, tolong. Marco bisa dengar."
Marco yang sedang menyetir hanya bisa tersenyum lebar melihat dari spion tengah. "Saya tidak dengar apa-apa, Tuan. Saya cuma dengar suara burung berkicau."
"Tuh kan, Mas Marco aja dukung! Ayo Mas, sekali lagi! Buat nambah stamina sebelum makan bakso!" desak Ailen sambil memajukan bibirnya.
Leon menghela napas panjang, menatap ke arah jendela yang menampilkan lampu-lampu kota. Ia menyadari bahwa hidupnya tidak akan pernah kembali tenang. Akan selalu ada kekacauan, akan selalu ada bahaya, dan akan selalu ada gadis semprul ini yang menghancurkan wibawanya di depan bos mafia dunia.
Tapi, saat Leon menarik Ailen ke dalam pelukannya dan mengecup keningnya, ia tahu satu hal.
Pertemuan yang paling canggung ini adalah awal dari masa depan yang paling indah dalam hidupnya.
"Mas?"
"Apa lagi, Ailen?"
"Baksonya jangan lupa pake tetelan ya!"
"Iya, Ailen. Iya."
Dan mobil itu pun meluncur membelah malam, membawa sepasang kekasih paling aneh dalam sejarah dunia bawah tanah menuju warung bakso pinggir jalan.
kya martabak komplit👍👍👍
tampa ada sehelai rambut yg brani membangkang"😄🤣😄🤣😄🤭👍