"Jika dunia menginginkanku mati, maka aku akan memastikan dunia hancur bersamaku!"
Terlahir dengan energi sihir yang disegel, Han-Seol dibuang dan dianggap sebagai aib keluarga. Demi bertahan hidup, ia kabur bersama Seol-Ah, seorang pemindah jiwa yang menjadi buronan paling dicari.
Di bawah bimbingan Master Lee yang legendaris, segel kekuatan kuno dalam tubuh Han-Seol mulai bangkit. Satu per satu rahasia kejam sang ayah terungkap, memicu perang besar yang akan melanda Cheon-gi Won.
Di tengah kepungan bahaya dan takdir yang rumit, mampukah Han-Seol melindungi wanita yang dicintainya dan menghancurkan mereka yang telah mengkhianatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16. Sisa Abu dan Dinginnya Pagi
Han-Seol tertegun. Kata-kata itu terasa lebih menyengat daripada cambukan energi tadi. "Apa maksudmu? Aku melakukan ini karena aku tidak ingin kehilanganmu..."
"Keinginanmu tidak ada gunanya bagiku!" potong Seol-Ah tajam. "Aku adalah Pembasmi yang ditakuti, dan aku terperangkap dalam raga yang lemah ini. Aku butuh pelindung yang kuat, bukan pria yang bahkan tidak bisa berdiri untuk dirinya sendiri setelah menerima beberapa cambukan."
Nara (Seol-Ah) merogoh sakunya. Jemarinya menyentuh Lencana Perak milik Han-Seol. Ia sempat ingin melemparkan benda itu ke wajah Han-Seol dan mengakhiri semuanya. Namun, ingatan tentang suara Ji-Hoon tadi—tentang keluarga Lee Seol-Ran yang dibantai—membuat tangannya bergetar.
Ia menyadari bahwa jika ia pergi sekarang, Han-Seol adalah satu-satunya orang yang memegang "kunci" ke masa lalunya melalui hubungan keluarga penyihir. Dengan gerakan cepat, ia mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangannya yang kosong. Ia harus membuat Han-Seol menjadi "monster" agar mereka bisa bertahan hidup.
"Aku akan kembali ke Rumah Mawar," bohong Seol-Ah, sebuah taktik untuk memancing reaksi Han-Seol.
"Berada di sisimu hanya membuatku merasa tercekik oleh ketidakberdayaanmu. Aku tidak butuh pelayan pria yang sekarat setiap kali ada masalah."
"Seol-Ah... apa yang kau katakan?" Han-Seol mencoba bangkit, namun punggungnya yang hancur memaksanya kembali terjatuh.
"Jangan mencariku jika kau belum bisa menjadi seseorang yang layak untuk berdiri di sampingku," ucap Seol-Ah sembari berbalik badan.
"Jadilah kuat, atau matilah sebagai sampah keluarga Han. Selamat tinggal, Han-Seol."
"SEOL-AH! TUNGGU!" Han-Seol berteriak, menggapai udara dengan tangan yang gemetar.
Namun Seol-Ah terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun.
Di balik kegelapan koridor, Nara menyeka satu tetes air mata yang jatuh.
'Maafkan aku, Han-Seol. Jika aku tidak menghancurkan hatimu malam ini, kau tidak akan pernah punya keberanian untuk menghancurkan segel itu.'
Han-Seol terkapar diam, menatap punggung itu menghilang ditelan kabut malam. Kesedihan dan rasa hina menghujam jantungnya. Untuk pertama kalinya, ia tidak membenci ayahnya. Ia membenci dirinya sendiri karena terlalu lemah untuk menggenggam tangan wanita yang ia cintai.
****
Sinar matahari pagi yang masuk melalui celah jendela Paviliun Jatmika terasa menusuk mata Han-Seol. Namun, yang jauh lebih menyakitkan adalah suara langkah kaki yang terburu-buru dan derit pintu yang dibuka dengan kasar.
Oh Myung-Ja melangkah masuk dengan wajah tegang. Ia telah mengabdi pada keluarga Han selama puluhan tahun; baginya, Han-Seol bukan sekadar tuan muda, melainkan putra yang ia besarkan dengan tangannya sendiri.
"Tuan Muda!" jerit Myung-Ja saat melihat Han-Seol terbaring telungkup dengan punggung yang dibalut kain kasa yang kini mulai merembes darah.
"Astaga... apa yang mereka lakukan padamu? Kenapa Do-Kwang begitu tega memberikan hukuman seberat ini pada manusia yang tidak punya sihir?!"
Myung-Ja duduk di sisi tempat tidur, tangannya gemetar saat menyentuh dahi Han-Seol yang panas karena demam pasca-hukuman.
"Bibi Oh..." bisik Han-Seol parau, mencoba berbalik namun segera mengerang hebat.
"Bagaimana dengan... Jinyowon? Apa keluarga Jin akan menuntut kita?"
"Sudah beres. Semuanya sudah hamba selesaikan secara damai," jawab Myung-Ja sambil menyeka air matanya dengan ujung lengan baju.
"Hamba harus memberikan kompensasi besar dan memohon berkali-kali pada Nyonya Jin agar tidak memperpanjang urusan porselen itu. Tapi itu tidak penting! Yang penting adalah nyawamu, Tuan Muda!"
Han-Seol menarik napas panjang yang terasa sesak di dadanya. "Lalu... bagaimana dengan Seol-Ah? Di mana dia? Apakah dia terluka?"
Wajah Myung-Ja seketika berubah. Rasa sedihnya lenyap, berganti dengan amarah yang berkilat tajam. Ia meletakkan baskom air dengan denting yang sangat keras di atas meja jati.
"Bisa-bisanya dalam kondisi sekarat seperti ini, orang pertama yang kau tanyakan adalah gadis itu?!" bentak Myung-Ja.
"Tuan Muda, sadarlah! Gadis bernama Seol-Ah itu adalah pembawa sial! Gara-gara melindunginya, kau merusak pintu rahasia. Gara-gara menyelamatkannya, kau menghancurkan artefak suci dan dicambuk hingga lemas!"
"Dia tidak bersalah, Madam Oh. Aku yang memilih melindunginya," bela Han-Seol dengan suara yang nyaris hilang.
"Tidak bersalah?" Myung-Ja berdiri, suaranya meninggi. "Hamba melihatnya tadi pagi. Dia pergi meninggalkan Cheon-gi Won tanpa menoleh sedikit pun ke paviliun ini! Dia tidak peduli apakah kau hidup atau mati, Tuan Muda. Dia adalah penyebab semua penderitaanmu."
Myung-Ja menatap Han-Seol dengan tatapan penuh peringatan. "Jika hamba melihatnya lagi di sekitar sini, hamba sendiri yang akan memastikan dia tidak akan pernah mendekatimu lagi. Fokuslah pada kesembuhanmu dan lupakan pelayan tidak tahu diri itu. Dia sudah pergi, Han-Seol. Dia meninggalkanmu."
Han-Seol terdiam, memejamkan matanya rapat-rapat. Kata-kata Madam Oh terasa lebih menyayat daripada cambuk energi di punggungnya. Bayangan punggung Seol-Ah yang menjauh di balik kabut semalam kini terasa seperti hukuman mati yang sesungguhnya.
****
Di aula utama Istana Niskala yang megah, aroma kemenyan membumbung tinggi, menciptakan atmosfer yang mencekam. Di atas singgasana emas, Raja Go Haneul duduk dengan wajah yang sulit ditebak, sementara di sampingnya, Putra Mahkota Go Si Woo mengamati dengan tatapan tajam dan dingin.
Jin Wu melangkah maju ke tengah ruangan. Ia membungkuk rendah, namun sebuah seringai tipis menghiasi wajahnya yang licik.
"Baginda yang mulia," suara Jin Wu bergema, penuh dengan nada kemenangan. "Berkat restu Anda, hamba telah berhasil 'mengamankan' jasad Nara dan pedang pusakanya dari kekacauan semalam. Sungguh memalukan, Cheon-gi Won yang agung kini telah menjadi sarang tikus yang begitu mudah ditembus oleh penyusup rendahan."
Raja Go Haneul mengangguk perlahan, matanya yang cekung beralih ke arah Penyihir Do-Kwang dan Master Baek Si-On yang berdiri dengan tubuh kaku. "Kau telah melakukan tugas besar, Jin Wu. Tampaknya benteng yang dulu dibanggakan Han-Gyeol kini mulai rapuh."
"Benar, Baginda," sahut Jin Wu, melirik sinis ke arah Do-Kwang. "Ketidakhadiran Han-Gyeol selama bertahun-tahun telah meninggalkan lubang besar. Cheon-gi Won butuh pemimpin yang masih memiliki 'taring', bukan sekadar penjaga yang membiarkan harta negara dijarah di bawah hidungnya sendiri. Jika Anda mengizinkan, hamba bersedia mengambil tanggung jawab penuh untuk memimpin Cheon-gi Won demi kestabilan Niskala."
Mendengar itu, Penyihir Do-Kwang melangkah maju dengan hentakan kaki yang keras. Amarahnya memuncak.
"Lancang sekali kau, Jin Wu!" bentak Do-Kwang, suaranya menggelegar. "Han-Gyeol adalah pimpinan sah yang dipilih oleh aliran energi leluhur. Kau hanyalah orang luar yang mencoba mencuri panggung di tengah musibah! Beraninya kau meminta posisi yang bahkan belum dinyatakan kosong?"
Jin Wu terkekeh rendah, suara tawanya terdengar seperti desisan ular. "Penyihir Do, kesetiaanmu patut dipuji, tapi rakyat tidak butuh kesetiaan pada bayangan. Mereka butuh perlindungan nyata. Apa kau akan terus menunggu Han-Gyeol sampai rambutmu menyentuh tanah, sementara keamanan istana terancam?"
"Cukup!" Do-Kwang menatap tajam ke arah Raja. "Baginda, Cheon-gi Won memiliki aturannya sendiri. Selama darah keturunan Han masih mengalir, posisi itu tidak bisa diberikan kepada siapa pun!"
Putra Mahkota Go Si Woo tiba-tiba angkat bicara, suaranya dingin dan memotong perdebatan. "Darah keturunan Han? Maksudmu pemuda cacat sihir yang semalam baru saja menghancurkan artefak suci Jinyowon? Jika itu harapanmu, Do-Kwang, maka masa depan Niskala benar-benar dalam bahaya."