NovelToon NovelToon
Lagu Yang Tenggelam

Lagu Yang Tenggelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Cinta Seiring Waktu / Dark Romance
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Keivanya Huang

Selama sepuluh tahun, Nana tumbuh sebagai manusia di desa nelayan — tanpa tahu bahwa dirinya adalah putri mahkota kerajaan Siren Aequoria. Setiap malam, ia mendengar lagu misterius dari dasar laut, memanggilnya dengan nama.

Jeno, Siren penjaga perairan selatan, telah mengawasinya sejak bayi. Tugasnya sederhana: lindungi Nana sampai waktunya kembali. Tapi sepuluh tahun mengamati dari kejauhan membuatnya jatuh cinta pada lagu dalam darah Nana — dan pada Nana sendiri.

Ketika Nana berubah menjadi Siren untuk pertama kalinya, tak ada jalan kembali. Ia harus belajar mengendalikan kekuatannya, menghadapi bibinya yang merebut takhta, dan memilih antara dunia yang ia kenal — atau cinta yang selama ini menunggu di dasar laut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keivanya Huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Kembalinya Pasukan Bayangan

Dua minggu berlalu sejak serangan terakhir. Aequoria mulai tenang.

Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama.

Zara datang ke ruang singgasana dengan wajah pucat.

"Yang Mulia, pasukan bayangan kembali."

Nana mengerjap. "Yang mana? Bukannya mereka sudah kita sembuhkan?"

"Bukan yang lama, Yang Mulia. Yang baru."

Nana berdiri. Jantung Aequoria di dadanya berdenyut lebih cepat.

"Bawa aku ke sana."

 

Di gerbang timur Aequoria, sekelompok Siren berdiri dengan kaku.

Mereka tidak berwarna hitam seperti pasukan Aramis dulu. Warna sisik mereka abu-abu — abu-abu seperti debu, seperti abu, seperti kematian.

Mata mereka tidak merah. Mata mereka putih — putih pucat, tanpa pupil, tanpa emosi.

"Apa yang terjadi pada mereka?" bisik Nana.

Zara menggeleng. "Aku tidak tahu, Yang Mulia. Mereka muncul dari arah Palung Hitam sekitar satu jam yang lalu. Mereka tidak menyerang. Hanya berdiri di sana."

Jeno berenang mendekat, trisula di tangan.

"Aku akan bicara dengan mereka."

"Hati-hati," kata Nana.

Jeno berenang mendekati Siren abu-abu yang paling depan. Seorang laki-laki dengan tubuh besar, bekas luka di sekujur tubuh.

"Siapa kau?" tanya Jeno. "Apa maumu di Aequoria?"

Siren abu-abu itu tidak menjawab. Mulutnya terbuka — tapi yang keluar bukan kata-kata.

Suara.

Bukan suara Siren. Bukan suara manusia. Tapi suara banyak orang sekaligus — seperti ribuan suara yang bergema di ruang kosong.

"Kami... datang... untuk... memperingatkan..."

Jeno mengernyit. "Memperingatkan apa?"

"Palung... Hitam... bangun..."

"Apa maksudnya bangun?"

"Dewa... laut... marah..."

Siren abu-abu itu jatuh. Tubuhnya limbung, matanya yang putih pucat berkedip — lalu berubah menjadi hitam normal. Pupilnya kembali.

"Di... di mana aku?" bisik Siren itu, suaranya sekarang normal — hanya satu orang, bukan ribuan.

Jeno berenang mundur. "Kau di Aequoria. Kau ingat apa yang terjadi?"

Siren itu menggeleng. "Aku... aku hanya ingat tidur. Lalu... ada suara. Suara memanggil. Lalu... gelap."

Di belakangnya, para Siren abu-abu lainnya mulai jatuh satu per satu — sadar, bingung, tidak ingat apa-apa.

 

Nana menghela napas lega. Tidak ada pertempuran. Tidak ada yang terluka.

Tapi dadanya masih sesak.

"Dewa laut marah," ulangnya, mengingat kata-kata Siren abu-abu itu. "Apa maksudnya?"

Jeno menggeleng. "Aku tidak tahu. Tapi ada sesuatu yang terjadi di Palung Hitam. Sesuatu yang lebih besar dari Kael."

Zara mendekat. "Yang Mulia, aku bisa menyusup ke Palung Hitam. Mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi."

"Terlalu berbahaya," kata Nana.

"Aku sudah pernah ke sana. Aku tahu jalannya."

"Tapi—"

"Aku tidak akan sendirian. Aku akan bawa dua orang."

Nana menatap Zara lama. Lalu ia mengangguk.

"Baik. Tapi hati-hati. Jika ada tanda-tanda bahaya, kau langsung kembali."

Zara tersenyum. "Baik, Yang Mulia."

 

Malam harinya, Zara berangkat ke Palung Hitam.

Nana berdiri di gerbang Aequoria, menatap ke arah selatan — tempat gelap di mana Palung Hitam berada.

"Kau khawatir?" tanya Jeno.

"Ya."

"Zara bisa menjaga dirinya sendiri."

"Aku tahu. Tapi... ada firasat buruk."

Jeno meraih tangannya. "Apa pun yang terjadi, kita hadapi bersama."

Nana menatap Jeno. Mata biru pucat itu — tenang, pasti, pulang.

"Kau tahu," kata Nana, "dulu aku tidak percaya pada firasat. Tapi sejak menjadi ratu... aku jadi percaya."

"Karena kau punya lebih banyak hal yang bisa hilang."

"Ya."

Mereka berdua terdiam. Menatap gelapnya laut selatan.

 

Tiga hari kemudian, Zara belum kembali.

Nana mulai gelisah.

"Aku akan menyusul," kata Jeno.

"Tidak. Aku yang akan pergi."

"Nana—"

"Aku ratu. Aku yang memutuskan."

Jeno menggertakkan gigi. "Kalau kau pergi, aku ikut."

"Kau tidak bisa. Aequoria butuh pemimpin sementara kalau aku tidak kembali."

"Maka Lira yang pegang."

"Lira belum siap."

"Maka Zara— oh, Zara sedang di Palung Hitam."

Nana tersenyum tipis. "Kau lihat? Kita butuh lebih banyak pemimpin."

Jeno menghela napas. "Aku tidak suka ini."

"Aku juga tidak. Tapi tidak ada pilihan lain."

1
hrarou
seruuu!! Lanjut yaaa 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!