Andra dan Diana sudah menikah selama lima tahun. Namun selama itu pula Diana memilih untuk menunda kehamilannya. Dengan alasan jika saat ini sedang berada di puncak karir yang selama ini dia impikan.
Selain karena tekanan dari kedua orang tua Andra yang ingin segera punya cucu. Dalam hati kecilnya, Andra juga ingin segera punya anak. Hingga akhirnya dia bertemu sahabat lamanya bernama Nadhira.
Entah ada pikiran dari mana hingga tiba-tiba Andra meminta Nadhira hamil anaknya. Jelas Nadhira menolak apalagi Andra sudah menikah.
Apakah rencana Andra aka berhasil untuk mendapatkan anak dari keturunannya sendiri. Apakah Nadhira akhirnya akan setuju? Lalu bagaimana dengan Diana dan keluarga Andra?
Konflik apa lagi yang akan terjadi setelah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
rahim Untuk Sahabat 22
Mendengar suara isak tangis Nadhira yang kian pecah di balik sekat lemari medis, Mama Viona Antanagara kehilangan kesabarannya. Dengan langkah kaki yang anggun namun tegas, dia melangkah mendekat, lalu menyibak tirai pembatas ruangan dengan sentakan pelan.
Mata tajam Viona beralih dari wajah Andra yang tampak terguncang, menuju wajah Nadhira yang bersimbah air mata. Keheningan sempat tercipta sebelum Mama Viona melipat kedua tangannya di dada, menatap menantu sirinya itu dengan pandangan kalkulatif yang dingin.
"Sudah cukup dramanya, Andra, Nadhira," ucap Viona, suaranya memotong perdebatan mereka seperti pisau yang tajam.
"Tempat ini adalah rumah sakit bersalin swasta paling bergengsi di Jakarta. Dinding-dinding di sini punya telinga. Saya tidak mau reputasi nama besar Antanagara tercoreng hanya karena kalian berdua membuat keributan di ruang praktik Dokter Haryo."
Viona kemudian berbalik, menatap Dokter Haryo yang sejak tadi duduk canggung di balik meja kerjanya.
"Dokter Haryo, terima kasih atas penjelasan medis Anda mengenai kondisi rahim Nadhira yang masih suci dan prima. Kami butuh waktu untuk mendiskusikan metode alami yang Anda sarankan. Hari ini tidak akan ada tindakan medis apa pun."
"Baik, Ibu Viona. Saya mengerti," jawab Dokter Haryo dengan anggukan patuh.
Mama Viona kembali menatap Andra dan Nadhira dengan tatapan yang tidak menerima penolakan.
"Baskoro baru saja menyerahkan dokumen pernikahan siri kalian yang baru ditandatangani di lobi bawah. Kalian sudah sah secara agama, bukan? Kalau begitu, kita pulang sekarang. Kita bicarakan masalah ini di rumah Antanagara bersama dengan Papa. Tempat yang jauh lebih aman dari jangkauan publik dan media."
Mendengar kata "pulang ke rumah Antanagara," tubuh Nadhira mendadak kaku. Ketakutan lima tahun lalu kembali menyergap dadanya. Rumah mewah itu, di mata Nadhira, tak lebih dari sebuah istana es yang dipenuhi oleh orang-orang tanpa nurani.
"Saya tidak mau ke rumah Anda, Ibu Viona," bisik Nadhira dengan sisa keberaniannya. Dia mundur satu langkah, mencoba melepaskan diri dari jangkauan keluarga tersebut.
"Urusan saya hanya di rumah sakit ini. Saya ingin kembali ke RSUD untuk menjaga ibu saya."
"Kamu tidak punya pilihan untuk menolak, Nadhira," sahut Viona dingin, senyuman tipis yang meremehkan kembali terukir di bibirnya.
"Statusmu saat ini bukan lagi sekadar wanita bayaran yang menyewakan rahimnya lewat tabung reaksi. Kamu adalah istri siri anak saya. Dan dengan fakta bahwa kamu masih perawan, metode alami yang disarankan dokter mengharuskan kamu berada di bawah pengawasan saya secara langsung. Supir sudah menyiapkan mobil di bawah. Andra, bawa dia."
Andra menatap Nadhira yang tampak begitu rapuh dan ketakutan. Ada rasa ingin melindungi yang membuncah di dalam dadanya, namun dia juga tahu bahwa menentang ibunya di rumah sakit ini hanya akan memperkeruh suasana.
"Ikut aku, Dhira. Aku jamin tidak akan ada yang menyakitimu di sana," bisik Andra pelan, suaranya terdengar memohon.
Perlahan, dia menggenggam jemari Nadhira yang sedingin es dan menuntunnya keluar dari ruangan dokter, mengikuti langkah Mama Viona yang berjalan di depan dengan keangkuhan seorang penguasa.
Satu jam kemudian, mobil Rolls-Royce hitam milik keluarga Antanagara memasuki gerbang besi menjulang tinggi di kawasan elit Menteng. Rumah megah bergaya Eropa klasik itu tampak sepi namun memancarkan aura intimidasi yang kuat.
Mama Viona melangkah masuk terlebih dahulu menuju ruang keluarga utama yang luas, diikuti oleh Andra yang masih setia menuntun Nadhira yang berjalan dengan kepala tertunduk. Begitu pintu ganda ruang keluarga ditutup rapat oleh pelayan, Mama Viona langsung berbalik dan duduk di kursi kebesarannya. Di sana sudah ada Papa Ardi menunggu.
"Duduk kalian berdua," perintah Mama Viona.
Andra dan Nadhira duduk di sofa panjang yang berseberangan dengan Mama Viona dan Papa Ardi. Jarak di antara mereka berdua sengaja dikosongkan oleh Nadhira, yang terus meremas ujung blusnya untuk menahan gemetar.
Papa Ardi menatap mereka bergantian, lalu mengembuskan napas panjang. Membaca dokumen di tangannya. Dokumen yang lebih dahulu di berikan Pak Baskoro padanya sebelum mereka tiba.
"Pernikahan siri! Andra, kamu benar-benar nekat melakukan ini tanpa persetujuan Mama dan Papa terlebih dahulu. Apa maksud kamu Andra?" Tanya pria itu dengan nada penuh penr-kanan.
"Maafkan aku Pah, aku tak punya pilihan karena Diana tetap pada pendiriannya tak mau hamil anakku. Aku terpaksa melakukan hal ini untuk mendapatkan keturunanku sendiri! Tapi ..." jawab Andra menunduk.
"Tapi, setelah mendengar penjelasan Dokter Haryo bahwa wanita ini masih suci, Mama bersedia mengabaikan kelancanganmu. Lagi pula mama sudah muak dengan Diana! Usianya sudah tak muda lagi! Dia pikir dia masih anak ABG?"
"Ma!" tukas Andra.
"Apa? Itu kenyataan Andra! Kamu menikah dengan wanita yang lebih tua! Tapi dia tak tahu diri dan malah memilih karirnya. Bahkan mengabaikan kewajibannya sebagai istri untuk mengurus kamu! Apa kamu tak curiga kepada dia? Dia lebih banyak menghabiskan waktu di luar di banding denganmu! Kamu selalu tak percaya dengan ucapan kedua orang tuamu dan lebih percaya pada wanita itu! Jangan menyesal suatu hari nanti saat kamu sadar!" Kesal Mami Viona membuat Andra me dengus tak percaya.
"Baiklah! beralih padamu, Nadhira! Harus Mama akui, status perawanmu mengubah segalanya, Nadhira. Benih murni Antanagara tidak boleh disia-siakan dengan tingkat kegagalan metode bayi tabung yang tinggi. Jadi, Mama memutuskan untuk menyetujui saran Dokter Haryo. Proses ini harus dilakukan secara alami. Kamu dan Andra harus berhu-bu-ngan ba-/dan sebagai suami istri yang sah di mata agama."
"Ibu Viona!" Nadhira tersentak, air matanya kembali meleleh.
"Saya menikah siri hanya demi status anak itu kelak! Tapi menyerahkan tubuh saya secara langsung, saya tidak bisa! Andra sudah berjanji tidak akan ada kontak fisik!"
"Janji itu dibuat saat Andra mengira kamu adalah seorang janda, Nadhira!" potong Viona tajam.
"Sekarang situasinya berbeda. Tubuhmu sehat, rahimmu suci, dan waktu kita hanya tiga bulan sebelum kamu mengeksekusi surat perceraian dengan Diana. Kita tidak punya waktu untuk bermain-main dengan jarum suntik hormon yang belum tentu berhasil!"
Viona kemudian menatap anaknya yang sejak tadi terdiam dengan rahang yang mengeras.
"Andra, bagaimana denganmu? Kamu adalah seorang pria. Kamu sudah mengikat wanita ini dalam pernikahan siri. Apakah kamu akan membiarkan egomu menghancurkan pernikahanmu dengan Diana, atau kamu akan mengambil hakmu sebagai suaminya secara agama demi melahirkan ahli waris kita?"
Andra mengepalkan kedua tangannya di atas lutut. Pergulatan batin di dalam kepalanya kini berada di titik paling seru dan menyiksa. Di satu sisi, ada Diana, wanita yang selama ini dia puja namun baru saja pergi meninggalkannya demi pemotretan di Anyer. Di sisi lain, ada Nadhira, sahabat masa lalu yang ternyata telah berkorban banyak untuknya, yang kini berstatus sebagai istri sirinya dan masih menjaga kesuciannya dengan utuh.
Andra menoleh ke samping, menatap wajah samping Nadhira yang dipenuhi air mata keputusasaan. Menyentuh Nadhira secara alami berarti dia akan menghancurkan kesucian sahabatnya, namun itu juga satu-satunya jalan paling aman untuk menyelamatkan semua orang dari kehancuran finansial dan sosial.
"Andra... tolong katakan sesuatu..." bisik Nadhira parau.
Dia menatap Andra dengan pandangan memohon yang teramat sangat, berharap pria itu masih memiliki sisa-sisa hati nurani sebagai sahabat masa lalunya. Rasa bimbang kini menyelimuti atmosfer ruang keluarga Antanagara, menunggu keputusan apa yang akan diambil oleh Andra.
percuma kaya raya tp ga punya penerus atau keturunan mh