Lily mati akibat kanker usus setelah hidupnya habis hanya untuk bekerja. Begitu membuka mata, ia telah menjadi Luvya Vounwad, gadis 12 tahun yang nantinya ditakdirkan menjadi antagonis tragis dalam novel yang pernah dibacanya. Ia bertekad mengubah alur agar tidak berakhir mati mengenaskan seperti nasib asli Luvya.
Namun, saat Luvya mulai bergerak mengubah nasibnya, Kael muncul sebagai anomali. Bukannya menjadi kakak angkat yang mewarisi gelar ayahnya, ia justru hadir sebagai Duke Grandwick yang berkuasa dan sangat terobsesi pada Luvya. Naskah yang ia tahu kini hancur total. Di tengah jalan cerita yang berantakan, bagaimanakah cara Luvya merubah segalanya demi mendapatkan kehidupan yang lebih baik?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rembulan Pagi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4. Penyiksaan Terakhir Kalinya
Suasana di dalam ruang kerja itu begitu menyesakkan, hanya diterangi oleh lampu minyak yang meremang di sudut ruangan. Begitu pintu tertutup, Duke Vounwad tidak membuang waktu. Pria dengan zirah pirang dan mata emas itu menyambar cambuk kulit pendek yang tergeletak di atas meja jati.
Plakk!
Rasa panas yang menyengat seketika menjalar dari bahu hingga ke punggung Luvya, seolah kulitnya sedang disetrika. Gaun tidurnya robek, memperlihatkan kulit pucat yang kini terhias garis merah baru di atas bekas luka lama yang belum sembuh. Luvya tersungkur ke lantai marmer yang dingin, napasnya memburu menahan rasa sakit yang luar biasa.
Rasa perih itu membawa jiwanya melintasi ruang dan waktu, menyeretnya kembali ke masa lalu.
Lily berdiri di dekat jendela koridor sekolah SMP yang ramai, memeluk buku pelajarannya dengan erat. Di seberang lapangan, sebuah mobil mewah berhenti dan seorang pria paruh baya turun dengan senyuman lebar.
"Papa!" teriak seorang gadis teman sekelas Lily sambil berlari menghampiri pria itu.
Lily terpaku. Pria itu adalah ayahnya. Ayah yang meninggalkan ibunya tanpa alasan saat Lily masih kecil. Pria itu menoleh dan sedetik mata mereka bertemu, namun dia langsung membuang muka dengan dingin. Dia pura-pura tidak kenal pada Lily dan lebih memilih merangkul anak perempuannya yang lain, lalu pergi begitu saja.
Hati Lily rasanya hancur. Tak lama setelah itu, ayahnya dikabarkan meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ibunya sudah tiada, dan kini ayahnya pun pergi tanpa pernah menganggapnya ada. Lily resmi menjadi yatim piatu. Sejak saat itu, cemoohan di sekolah semakin parah karena statusnya yang miskin dan tidak punya orang tua.
"Heh, yatim piatu miskin! Jangan menghalangi jalan!" Seorang anak tukang bully di kelasnya mendorong Lily hingga jatuh tersungkur.
Anak-anak lain tertawa. Lily sangat ingin membalas, tapi dia teringat neneknya. Nenek adalah satu-satunya orang yang dia punya. Lily tahu jika dia melawan, neneknya yang sudah tua akan dipanggil ke sekolah dan dipaksa meminta maaf kepada orang tua si pembully sambil menahan malu. Demi nenek, Lily memilih diam dan menelan semua rasa sakit itu sendirian.
"Bangun! Jangan berani-berani kau berakting pingsan di depanku!" Suara Duke Vounwad menggelegar, menghancurkan bayangan masa lalu dan mengembalikan Luvya ke ruang kerja yang dingin.
Luvya perlahan bangkit, tangannya menumpu pada lantai marmer untuk menahan tubuhnya yang gemetar. Rambut pirangnya berantakan menutupi sebagian wajahnya. Ia merasakan denyut perih di bahunya, namun ada rasa sakit lain yang lebih besar di dadanya.
Ia ingin tertawa. Rasanya konyol sekali. Takdir ternyata benar-benar senang mempermainkannya. Lily maupun Luvya, keduanya hanyalah dua gadis malang yang dikutuk oleh orang tua mereka sendiri.
Ternyata memang benar. Di dunia ini atau di dunia sana, aku tetaplah noda yang ingin dihapus oleh ayahku sendiri, pikir Luvya sambil menatap Duke Vounwad yang berdiri dengan napas memburu karena amarah.
Ia menatap Duke tanpa rasa takut lagi. Rasa sakit cambukan itu tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit di hatinya yang sudah hancur berkeping-keping selama dua kehidupan.
"Ternyata rasanya memang tetap sakit, meskipun aku sudah pernah merasakannya berkali-kali," ucap Luvya dengan tawa kecil yang terdengar sangat getir. "Ayah, apakah cambukan ini membuat dosamu berkurang? Atau apakah ini caramu merayakan kepulanganmu setelah membawa 'pahlawan' baru itu?"
Mata emas Duke Vounwad berkilat penuh murka mendengar jawaban Luvya. Rahangnya mengeras, dan tangan yang memegang cambuk itu gemetar karena emosi yang meluap.
"Ayah, katamu?" Duke mendesis, suaranya rendah namun mematikan. "Kau berani menyebutku ayah dengan mulut kotormu itu?!"
Plakk!
Cambukan kedua mendarat lebih keras di punggung Luvya, membuatnya kembali tersungkur. Namun, alih-alih merintih atau memohon ampun seperti biasanya, Luvya justru mendongak. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang terlihat sangat menyakitkan di wajah pucatnya.
"Benar, kan?" bisik Luvya, menatap lurus ke arah pria kekar di depannya. "Aku lahir karena kau menyentuh ibuku. Aku adalah bukti nyata dari perbuatanmu sendiri. Jadi, apakah aku salah menyebutmu ayah?"
Pertanyaan itu seolah menjadi bensin yang menyiram api amarah sang Duke. Bagi pria itu, Luvya adalah aib yang ingin ia kubur dalam-dalam, dan diingatkan akan asal-usul gadis itu adalah penghinaan terbesar baginya.
Plakk! Plakk! Plakk!
Duke Vounwad mengayunkan cambuknya berkali-kali, meluapkan seluruh kekesalannya sampai ia merasa puas. Suara cambukan yang bertemu dengan kulit dan lantai marmer bergema mengerikan di dalam ruangan tertutup itu. Luvya hanya diam, tubuhnya bergetar hebat menahan perih yang seperti membakar seluruh syarafnya, namun matanya tetap terbuka lebar.
Setelah beberapa saat yang terasa seperti keabadian, Duke berhenti. Ia mengatur napasnya yang memburu, menatap sosok putrinya yang kini tergeletak tak berdaya dengan pakaian yang sudah koyak dan berdarah. Tanpa sepatah kata pun, ia melemparkan cambuknya ke atas meja dan berbalik, meninggalkan Luvya begitu saja dalam kehinaan.
Luvya terengah-engah, merasakan darah hangat merembes di punggungnya. Namun, di tengah rasa sakit yang luar biasa itu, sorot matanya justru berkilat tajam.
Cukup, batin Luvya, mencengkeram lantai marmer dengan kuku-kukunya yang memutih.
Aku berjanji, ini adalah terakhir kalinya aku membiarkan diriku terluka seperti ini. Ini adalah harga terakhir yang kubayar untuk darah yang mengalir di tubuhku.
Luvya memejamkan matanya sejenak, menguatkan tekadnya. Mulai besok, ia tidak akan lagi menjadi samsat amarah ayahnya. Jika dunia ini ingin ia menjadi antagonis, maka ia akan menjadi lawan yang paling tangguh. Ia akan melawan, dengan cara apa pun.
Dengan sisa tenaga yang ada, Luvya menyeret tubuhnya bangkit. Setiap gerakan terasa seperti ribuan jarum menusuk punggungnya, namun ia menolak untuk mati di ruang kerja itu. Ia membuka pintu dengan tangan gemetar, lalu melangkah keluar menuju koridor yang remang.
Luvya baru saja berjalan beberapa langkah ketika langkahnya terhenti. Di balik bayangan pilar, sesosok tubuh jangkung melangkah maju menghampirinya.
Itu Kael.
Ternyata remaja itu benar-benar menunggu di sana. Saat berdiri berhadapan, Luvya baru menyadari betapa tingginya Kael. Kepala Luvya bahkan hanya mencapai bahu remaja laki-laki itu. Kael hanya terdiam, wajahnya yang kaku tidak menunjukkan ekspresi apa pun, namun mata biru tuanya menatap tajam ke arah pakaian Luvya yang koyak dan berdarah.
Luvya mendongak, menatap mata sang 'anak emas' yang baru saja merebut posisinya. Alih-alih menunjukkan kebencian atau rasa sakit, Luvya justru memaksakan sebuah senyuman tipis, senyuman yang terlihat begitu rapuh namun misterius di bawah cahaya lampu koridor.
"Halo, Kael..." bisik Luvya lirih.
Kael tidak menjawab. Ia hanya terus menatap Luvya dengan pandangan yang sulit diartikan. Keheningan menyelimuti mereka selama beberapa detik yang terasa sangat panjang. Kael tampak seperti ingin mengatakan sesuatu, namun lidahnya terasa kelu melihat kondisi gadis di depannya.
Detik berikutnya, pandangan Luvya mendadak berputar. Dunia di sekitarnya terasa gelap. Kekuatan yang sedari tadi ia paksakan akhirnya mencapai batasnya. Tubuh mungil Luvya ambruk ke arah depan.
Namun, sebelum tubuhnya sempat menghantam lantai marmer yang dingin, Luvya merasakan sepasang lengan yang kuat dengan cepat menangkapnya. Kael, dengan refleknya yang tajam, bergerak menahan tubuh Luvya agar tidak terjatuh.
Kael terpaku saat merasakan betapa ringan dan ringkihnya tubuh gadis di pelukannya. Dari jarak sedekat ini, ia bisa melihat dengan jelas noda darah basah yang merembes di punggung gaun Luvya. Ada tatapan kaget dan kebingungan yang mendalam di mata biru tua Kael saat ia menatap wajah Luvya yang sudah tidak sadarkan diri.
Luvya pingsan di pelukan remaja yang baru saja tiba di mansion ini, membiarkan kegelapan menelan rasa perihnya untuk sementara waktu, tanpa tahu bahwa Kael sedang menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
......................
Luvya perlahan membuka matanya. Hal pertama yang ia rasakan adalah bau aromatik obat herbal yang menyengat dan rasa perih yang luar biasa di punggungnya. Ia meringis, mencoba menggerakkan bahunya namun langsung mengerang tertahan.
"Sshhh... akh..."
"Nona! Jangan banyak bergerak dulu," suara parau Willy terdengar di samping tempat tidur. Wajah wanita tua itu tampak sembab, matanya merah karena terlalu banyak menangis.
Luvya menoleh dengan susah payah. "Willy..."
"Saya sudah mengoleskan obat saat Nona tidak sadarkan diri tadi," ucap Willy sambil menyeka air matanya dengan ujung apron. Suaranya bergetar hebat. "Maafkan saya, Nona... Saya tidak bisa memanggil tabib. Tuan Duke... beliau tidak mengizinkan siapa pun memanggil tabib ke kediaman ini untuk Anda."
Luvya tertegun. Sebuah tawa hambar hampir saja lolos dari bibirnya yang pecah.
Pria itu benar-benar sudah gila, maki Luvya dalam hati. Bagaimana bisa seseorang mencambuk anak kecil berusia dua belas tahun sampai berdarah-darah, lalu dengan sengaja membiarkannya membusuk tanpa pengobatan medis? Dia benar-benar ingin aku mati perlahan.
Luvya mencoba mengingat kembali detik-detik sebelum dunianya menjadi gelap. Wajah jangkung dengan rambut hitam yang berantakan dan sepasang lengan yang menangkapnya tepat sebelum tubuhnya menghantam lantai marmer.
"Willy... siapa yang membawaku ke sini?" tanya Luvya pelan. "Apakah... Kael?"
Willy mengangguk cepat. "Benar, Nona. Tuan Muda Kael yang menangkap Anda. Dia terlihat sangat panik saat memanggil saya. Dia bahkan terus berdiri di depan pintu kamar ini cukup lama sebelum akhirnya pergi."
Willy tiba-tiba menggenggam tangan mungil Luvya yang dingin, pundaknya terguncang hebat. "Nona... saya sudah tidak kuat. Saya tidak sanggup lagi melihat Anda terus-menerus disiksa seperti ini. Hati saya hancur setiap kali melihat luka baru di tubuh Anda."
Luvya hanya bisa menatap langit-langit kamarnya yang mewah namun terasa seperti penjara. Pikirannya melayang pada sosok penulis novel A Healer for the Crown yang dulu ia baca di kehidupannya sebagai Lily.
Sialan kau, penulis, umpat Luvya dalam batin dengan penuh dendam. Kau membuat cerita ini dengan begitu indahnya untuk sang protagonis, tapi kau memberikan neraka yang sedalam ini untuk pemeran antagonis? Kenapa kau harus membuat masa kecil Luvya semengerikan ini? Ini bukan lagi sekadar bumbu cerita, ini adalah kekejaman murni.
Luvya memejamkan matanya, merasakan air mata yang akhirnya jatuh membasahi bantalnya. Rasa sakit fisik ini mungkin bisa sembuh dengan obat Willy, tapi kebenciannya pada takdir ini baru saja dimulai.
Luvya terdiam sejenak, membiarkan pikirannya berkelana jauh ke bab-bab selanjutnya dalam novel yang pernah ia baca.
Kalau dipikir-pikir kembali, batin Luvya sambil menatap kosong ke arah tirai jendela yang tertiup angin. Di dalam novel, Kael sebenarnya selalu merasa bersalah setiap kali melihat Luvya. Bahkan setelah pengasingan itu, saat mereka bertemu kembali setelah dewasa, Kael menawarkan bantuan kepadanya karena merasa tidak sengaja telah merampas seluruh perhatian Duke dari Luvya.
Luvya menghela napas panjang, merasa gemas dengan kebodohan karakter asli yang ia tempati sekarang.
Tapi Luvya yang asli memang bodoh. Dia yang sudah tergila-gila dengan Putra Mahkota Arken malah memanfaatkan bantuan tulus Kael untuk hal yang picik. Dia menyuruh Kael menculik Sellia, sang protagonis wanita, hanya karena rasa cemburu yang buta.
Luvya kemudian teringat pada sosok remaja yang baru saja menangkapnya tadi. Kael yang sekarang masih terlihat kurus dan berantakan, jauh dari kesan pahlawan besar kekaisaran.
Ah, aku jadi penasaran. Bagaimana mungkin remaja seperti dia bisa mendapatkan julukan 'Hantu Pedang' yang melegenda seperti di novel? Apakah didikan Duke Vounwad memang sekejam itu? Apakah pria monster itu yang membentuk Kael hingga mampu membabat habis medan peperangan dengan begitu cepat dan selalu membawa kemenangan?
Luvya meringis saat merasakan denyut di punggungnya kembali menyerang. Jika Duke bisa menyiksa anak kandungnya sendiri sampai seperti ini, ia tidak bisa membayangkan latihan neraka macam apa yang akan diberikan pria itu kepada Kael untuk menjadikannya sebuah senjata perang yang sempurna.
"Willy, keluarlah. Aku ingin istirahat sebentar," ucap Luvya pelan, suaranya terdengar lelah.
Willy sempat ragu, namun melihat tatapan nonanya yang butuh ketenangan, ia akhirnya membungkuk dalam dan melangkah keluar perlahan, menutup pintu kamar dengan sangat hati-hati.
Setelah suara langkah kaki Willy menghilang di koridor, Luvya menatap langit-langit kamarnya yang tinggi. Ia bergumam pelan pada kesunyian, "Sebelum aku pergi ke pengasingan nanti... aku harus menemui Kael."
Ia menarik napas panjang, menahan perih yang masih berdenyut di punggungnya.
"Aku harus berterima kasih karena dia sudah menangkapku tadi. Dan aku harus mengatakan padanya agar jangan merasa bersalah." Luvya tersenyum getir. "Meskipun aku tahu kedatangannya adalah alasan kenapa aku akan diusir, tapi itu jauh lebih baik. Diusir dan hidup di panti asuhan jauh lebih baik daripada harus terus-menerus disiksa oleh monster seperti Duke Vounwad di mansion ini."
Bagi Luvya, pengasingan bukan lagi hukuman, melainkan sebuah pintu keluar menuju kebebasan yang sudah lama ia dambakan. Dengan tekad yang sudah bulat, ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya beristirahat untuk terakhir kalinya sebagai putri dari Duke Vounwad yang terabaikan.