NovelToon NovelToon
Delusional Revenge

Delusional Revenge

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Misteri
Popularitas:639
Nilai: 5
Nama Author: ashbabyblue

Dalam gelap kematian, Nayla menemukan cahaya—bukan menuju surga, tapi kembali ke awal. Terlahir sebagai bayi dengan ingatan utuh akan pengkhianatan yang merenggut nyawanya, Nayla bersumpah: sejarah tidak akan terulang.

Andre, suami yang menusuk dari belakang. Vania, sahabat yang racun manis di bibir. Rio, dalang di balik semua fitnah. Mereka semua juga kembali—dan mereka sudah memulai lebih dulu.

Tapi takdir mempertemukan Nayla dengan Rasya. Cowok misterius dengan mata yang terlalu tua untuk usianya. Dia sopir Nayla di kehidupan sebelumnya. Dia pengagum diam-diam yang tidak pernah berani bicara. Dan dia membawa bukti—bukti yang bisa menyelamatkan Nayla jika tidak terlambat satu menit.

Sekarang, di kehidupan kedua ini, Rasya tidak akan membiarkan apapun menghalangi. Bukan kematian. Bukan takut. Bukan perbedaan kelas.

Kali ini, dia akan menjadi pahlawan dalam cerita Nayla—bukan lagi bayangan di kaca spion.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ashbabyblue, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persidangan — Hari Pertama

Senin pagi, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Aku tidak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di gedung pengadilan sebelum usia 17 tahun. Tapi di kehidupan ini, takdir berkata lain.

"Nay, kamu gugup?" tanya Sasha. Dia memegang tanganku—tangannya dingin dan sedikit basah oleh keringat.

"Gugup? Aku ketakutan setengah mati."

"Tapi kamu kelihatan tenang."

"Aku aktris ulung."

Rasya yang berjalan di sampingku menyeringai kecil. "Itu bener. Di kehidupan sebelumnya, dia bisa pura-pura bahagia padahal hatinya hancur."

"Rasya, kamu nggak membantu," desisku.

"Maaf. Aku coba lebih serius."

Kami masuk ke ruang sidang. Suasana di dalam tegang—seperti tali yang ditarik sampai hampir putus. Jenderal Purnomo sudah duduk di kursi pesakitan, dengan dua pengacara di sampingnya. Wajahnya tua, keriput, tapi matanya... matanya masih tajam. Seperti elang yang sedang mengincar mangsa.

Dan mangsa itu adalah kami.

"Itu dia," bisik Sasha, suaranya bergetar.

"Aku lihat."

"Dia lihat kita."

"Aku tahu."

Pak Bambang duduk di bangku belakang bersama Om Anton dan beberapa mantan polisi lain. Dia mengangguk ke arahku—isyarat agar aku tenang.

Aku menarik napas panjang.

Kamu bisa, Nayla. Kamu sudah melewati lebih buruk dari ini.

---

Pukul 10.00 — Sidang Dimulai

Ketua majelis hakim—seorang perempuan tegas dengan rambut disanggul rapi—memukul palu. "Sidang dengan terdakwa Jenderal (Purn) Purnomo resmi dibuka."

Jenderal Purnomo duduk dengan tenang. Sesekali dia tersenyum—senyum yang membuat bulu kudukku berdiri.

Kenapa dia tersenyum? Apa yang dia rencanakan?

Jaksa penuntut umum mulai membacakan dakwaan. Panjang sekali—setidaknya 50 halaman. Aku tidak mendengar semuanya, tapi potongan-potongan kalimat seperti "pencucian uang", "penyuapan", "penghilangan nyawa", "penyalahgunaan wewenang" terus berulang.

Setelah dakwaan selesai, giliran terdakwa memberikan keterangan.

Jenderal Purnomo berdiri. Suaranya berat, dalam, dan tenang—terlalu tenang untuk seseorang yang terancam hukuman mati.

"Saya tidak bersalah."

Tepuk tangan kecil dari beberapa pendukungnya di ruang sidang. Hakim memukul palu. "Tertib!"

"Saya tidak bersalah," ulang Jenderal Purnomo. "Semua tuduhan ini adalah konspirasi. Saya difitnah oleh mantan anak buah saya yang iri."

"Mana buktinya?" tanya jaksa.

"Saya tidak butuh bukti. Saya sudah 40 tahun mengabdi pada negara. Reputasi saya berbicara sendiri."

Hakim menatapnya dingin. "Kami akan memanggil saksi pertama."

---

Saksi Pertama — Kayla

Kayla berjalan ke depan ruang sidang. Wajahnya pucat, langkahnya gemetar—tapi matanya tegas.

Dia bersumpah di atas Alkitab.

"Nama lengkap?"

"Kayla Maharani."

"Hubungan dengan terdakwa?"

"Terdakwa adalah... bos ayah saya. Dan kakak saya. Dan saya."

Bisik-bisik di ruang sidang.

"Apa yang Anda ketahui tentang kejahatan terdakwa?"

Kayla menarik napas. Lalu, dengan suara yang semakin mantap, dia mulai bercerita.

Tentang perintah pembunuhan. Tentang suap untuk polisi dan politisi. Tentang pencucian uang melalui perusahaan fiktif. Tentang ayahnya yang dihabisi setelah tidak lagi berguna.

"Ayah saya tewas dalam 'kecelakaan mobil' setelah dia tahu terlalu banyak," kata Kayla. "Saya yakin—seratus persen yakin—itu perintah terdakwa."

Jenderal Purnomo tertawa kecil. "Omong kosong."

"Terdakwa, diam!" perintah hakim.

Kayla melanjutkan. "Saya punya bukti. USB berisi rekaman, foto, dokumen. Semua kejahatan terdakwa ada di sana."

"USB itu sudah diserahkan ke pengadilan," ucap jaksa. "Kami sedang memverifikasi keasliannya."

"Saya siap sumpah itu asli," tegas Kayla.

Jenderal Purnomo menatap Kayla—tatapan yang dulu pasti membuatnya gemetar. Tapi kali ini, Kayla tidak bergeming.

"Akhirnya," bisik Rasya di sampingku.

"Ya. Akhirnya."

---

Istirahat — Ruang Khusus Saksi

Kami diberi ruang kecil untuk beristirahat. Kayla duduk di sudut, memeluk lututnya.

"Kamu hebat," kata Sasha, memberinya segelas air.

"Terima kasih."

"Aku... aku kagum sama keberanian kamu."

Kayla tersenyum tipis. "Aku nggak seberani itu sebenarnya. Aku gemeteran dari tadi."

"Tapi kamu tetep jalan."

"Iya. Karena... aku nggak punya pilihan lain. Di luar sana, anak buah Jenderal masih berkeliaran. Mereka akan memburu aku kalau Jenderal bebas."

"Jadi kamu nggak benar-benar berubah?" tanyaku, sedikit sinis.

Kayla menatapku. "Aku berubah, Nayla. Tapi butuh waktu. Dan butuh alasan." Dia menunduk. "Kakakku... Rio... dia jahat. Tapi dia juga korban. Dibentuk oleh Jenderal sejak kecil. Aku nggak mau jadi kayak dia."

"Terus kenapa kamu musuhin aku di awal?"

"Karena aku pikir kamu musuh. Ternyata..." Kayla menghela napas. "Ternyata musuh kita sama."

Aku tidak tahu harus percaya atau tidak. Tapi di ruang sidang tadi, Kayla benar-benar berani.

Mungkin perubahan itu nyata.

Mungkin.

---

Saksi Kedua — Rasya

Jam menunjukkan pukul 14.00. Sidang dilanjutkan.

"Nama lengkap?"

"Rasya Aldebaran."

"Usia?"

"15 tahun."

Bisik-bisik lagi. Seorang saksi berusia 15 tahun di kasus sebesar ini—jarang terjadi.

"Rasya, apa hubungan Anda dengan terdakwa?"

"Terdakwa adalah orang yang memerintahkan pembunuhan terhadap saya."

"Ceritakan."

Rasya menceritakan semuanya. Tentang ancaman di karyawisata. Tentang racun dalam jus jeruk. Tentang Rio yang menjadi pelaksana.

"Siapa yang memberi tahu Anda tentang rencana pembunuhan ini?"

"Rio sendiri. Saat dia mengancam Andre."

"Dan Andre bersedia menjadi saksi?"

"Andre sudah memberikan kesaksiannya minggu lalu."

Jaksa mengangguk. "Tidak ada pertanyaan lagi, Yang Mulia."

Pengacara Jenderal Purnomo berdiri. "Saya akan mengajukan interogasi."

Silang. Hari yang melelahkan.

"Rasya, apa Anda tidak pernah bertemu dengan klien saya sebelumnya?"

"Tidak pernah."

"Jadi, tidak ada hubungan apa pun antara Anda dan klien saya?"

"Tidak ada."

"Lalu kenapa klien saya mau membunuh Anda? Apa motifnya?"

Rasya diam sejenak. "Karena saya tahu terlalu banyak."

"Tahu apa?"

"Tahu tentang kejahatannya. Tentang ayah kandung Nayla. Tentang jaringan korupsinya."

Pengacara itu tersenyum—senyum licik. "Anda tahu? Atau Anda mengaku tahu? Mana buktinya?"

Rasya tidak terpancing. "Buktinya ada di USB."

"USB yang belum diverifikasi?"

"Itu bukan urusan saya."

Pengacara terdiam. Hakim memukul palu. "Interogasi selesai."

Rasya turun dari kursi saksi. Saat melewati Jenderal Purnomo, dia berhenti sejenak.

Dia menatap mata Jenderal.

Jenderal menatap balik.

Dan dalam keheningan itu, Rasya berbisik, "Aku tidak takut padamu. Di kehidupan sebelumnya, aku mati karena orang sepertimu. Tapi di kehidupan ini, aku akan memastikan kamu dihukum."

Jenderal Purnomo tersenyum.

"Awas saja, bocah."

---

Pulang

Aku naik motor bersama Rasya. Di belakang helm, air mataku jatuh tanpa suara.

Rasya tidak bertanya. Dia hanya menggenggam tanganku yang melingkar di pinggangnya—satu tangan di setir, satu tangan menekan tanganku erat.

"Kita bisa melewati ini," katanya.

"Aku tahu."

"Kita sudah melewati yang lebih sulit."

"Aku tahu."

"Jangan nangis."

"Maaf. Aku nggak bisa nahan."

"Ya sudah." Dia menghela napas. "Nangis saja. Aku bawa kamu pulang."

---

Malam Itu — Chat Log

Sasha (21.00): "Hari ini melelahkan."

Nayla (21.01): "Iya. Rasya hebat."

Sasha (21.01): "Kamu juga hebat, Nay. Kamu nggak jadi saksi tapi kamu di sana."

Nayla (21.02): "Aku cuma nonton."

Sasha (21.02): "Nonton juga butuh keberanian. Apalagi Jenderal itu galaknya minta ampun."

Rasya (21.03): "Besok sidang lagi. Kayla akan memberikan kesaksian tambahan."

Nayla (21.04): "Kamu yakin dia bisa dipercaya?"

Rasya (21.04): "Untuk sekarang, iya. Tapi kita tetap jaga jarak."

Sasha (21.05): "Setuju. Pokoknya kita waspada."

Nayla (21.05): "Oke. Besok kita kumpul lagi di pengadilan."

Rasya (21.06): "Istirahat yang cukup."

Nayla (21.06): "Kamu juga."

Sasha (21.07): "Selamat malam, pasangan kekasih. Aku matiin notifikasi. Capek."

Nayla (21.07): "Selamat malam, Sha. Mimpi indah."

Rasya (21.08): "Selamat malam."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!