Dihina mandor, ditagih hutang, dan ditinggalkan pacar membuat hidup Fais berada di titik terendah.
Sampai sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
[Peluang keberhasilan pengguna meningkat menjadi 100%]
Dari taruhan, bisnis, hingga misi berbahaya; semua yang dilakukan Fais selalu berhasil. Hidupnya berubah drastis dari kuli miskin menjadi sosok yang membuat banyak orang iri dan takut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UrLeonard, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Negosiasi dengan Bos Para Penagih
Gelas kristal di atas meja kaca itu memantulkan cahaya temaram ruangan. Cairan amber di dalamnya bergetar sangat halus. Beriak konstan.
Bukan karena gempa bumi. Bukan karena mesin pendingin ruangan.
Getaran itu berasal dari ujung sepatu bersol karet di belakang punggung Sri. Ketukan sepatu bot laras panjang milik belasan anjing penjaga berwajah maut.
Fais duduk bersandar santai. Punggungnya tenggelam perlahan di lekukan sofa kulit Italia itu. Ia menyatu dengan suasana ruangan.
Di sebelahnya, Sri menempelkan punggung tegak lurus. Lutut wanita itu terkunci rapat menahan getar. Ujung jarinya seputih mayat kurang darah.
Di seberang meja, Wawan menyilangkan jari-jarinya yang tebal di atas perut.
Ada jeda yang ditarik paksa. Sepi keparat yang bikin telinga berdenging. Bau oli senjata dan cerutu mahal bercampur menjadi aroma kematian.
Udara di lantai teratas ini menguarkan nuansa melankolis yang ganjil. Seolah semua uang, semua pistol, dan semua otot yang ada di ruangan ini pada akhirnya hanya bermuara pada satu liang lahat yang sama. Fana. Kosong.
Di dinding persis di belakang Wawan, ada sebuah bingkai kayu oak raksasa. Menampilkan cetakan foto seorang pria berseragam militer. Lencana perwira tinggi menempel arogan di dadanya.
Itu Wawan muda. Tersenyum sinis menantang lensa kamera. Tanda bahwa ia bukan sekadar preman yang memungut retribusi dari aspal jalanan. Ia adalah produk dari barak tentara. Ia paham cara membunuh manusia.
Tapi malam ini, versi tua dari perwira itu sedang menatap Fais. Menatapnya lekat seperti sedang mengawasi hantu yang masuk tanpa permisi.
"Kau punya nyali besar juga rupanya." Wawan memecah kesunyian. Suaranya serak. Berparut bagai aspal yang dikeruk.
Fais tidak merespons.
Ia hanya menatap lurus. Bola matanya kosong tanpa percikan emosi.
Di kedalaman retina Fais, layar neon biru berkedip liar. Menumpuk deretan angka dan variabel. Mengiris pandangannya dari sisa dunia fana.
Sistem sedang beroperasi. Sistem menghitung. Sistem menelanjangi setiap inci probabilitas di ruangan ini.
[Probabilitas Negosiasi Stabil: 71%]
Teks itu mengambang stabil di depan hidung Wawan. Membaca irama jantung sang mantan perwira.
[Peluang menang lawan semua tentara: 67%]
Kalkulasi itu mengevaluasi belasan laras baja yang siap memuntahkan peluru. Mengevaluasi rute pelarian terpendek. Menakar sudut pantul keramik jika tembakan meletus.
[Saran: Tetap diam.]
Satu baris perintah final.
Maka Fais patuh. Ia bungkam. Bibirnya terkunci rapat tanpa celah.
Bagi Wawan, durasi keheningan ini terasa cacat. Menyalahi kodrat manusia yang biasanya akan bergetar dan membela diri jika dikepung moncong senapan.
Wawan mencondongkan tubuhnya ke depan. Bobot tubuhnya membuat kulit sofa mencicit. "Aku bisa saja menyuruh mereka membolongi tempurung kepalamu sekarang. Anda sadar itu?"
Layar di mata Fais bereaksi. Angka berubah.
[Probabilitas Stabil turun: 63%]
Angka itu memerah sesaat. Menunjukkan lonjakan ego dari pihak lawan. Wawan sedang mengetes batas teritori.
[Saran: Tatap lehernya. Jangan merespons.]
Fais menurunkan pandangannya lima sentimeter ke bawah. Tepat mengunci jakun Wawan yang menonjol. Ia menatap titik vital itu tanpa berkedip. Menatapnya layaknya sepotong daging beku.
[Probabilitas Stabil naik: 78%]
Di sampingnya, Sri merasa ingin mengunyah lidahnya sendiri sampai putus. Otaknya menjerit histeris. Kenapa pria ini diam? Kenapa Fais bertingkah layaknya batu nisan di saat ia sedang dikepung malaikat pencabut nyawa?
Sri mengutuk dalam hati. Ia mengutuk nasibnya. Ia merasa hidupnya akan berakhir konyol malam ini karena kebodohan satu manusia cacat logika bernama Fais.
Tapi Sri salah membaca situasi. Dan Wawan pun tersesat jauh dalam interpretasinya sendiri.
Di balik bola mata Wawan yang menua, kebisuan Fais adalah teror mutlak.
Bagi mantan prajurit itu, setiap detik tanpa suara dari mulut Fais adalah tekanan psikologis tingkat tinggi. Fais tidak sedang ketakutan. Fais sedang mendominasi.
Wawan melihat kalkulasi maut di mata pemuda itu.
Ia membatin gila. Pemuda ini masuk ke sarangnya. Mematikan radar. Menembus lapis demi lapis pasukan. Dan sekarang ia duduk bersandar seolah ia adalah pemilik sah gedung ini.
Fais seakan mengirimkan sinyal radio tanpa suara: Perintahkan anjing-anjingmu menembak, dan mari kita lihat siapa yang mati membusuk lebih dulu.
Keringat dingin membasahi punggung jas Wawan. Kulit lehernya meremang. Asumsinya meroket ke arah satu kesimpulan liar. Ada faksi tak kasat mata yang menjadi punggung bagi Fais malam ini. Entitas yang bisa meratakan gedung ini dalam satu jentikan jari.
Fais menggerakkan tangan kanannya perlahan. Sangat perlahan.
Harmoni logam serentak mengisi ruang. Lima tentara langsung menaikkan senapan mesin sejajar dada. Siap menarik pelatuk baja.
Wawan refleks mengangkat telapak kirinya. Menghentikan anak buahnya dengan lambaian tajam.
Napas sang bos tertahan.
Tangan Fais merogoh balik jas gelapnya. Jemarinya menarik keluar sebuah benda pipih hitam.
Hanya ponsel layar sentuh standar.
Fais meletakkan benda itu di atas meja kaca. Layarnya menyala terang. Menampilkan angka-angka dari aplikasi perbankan berlapis sekuritas tingkat tinggi. Ia menggeser layar itu dua kali dengan jempolnya.
"Kita bereskan hutang lamanya," suara Fais akhirnya mengalun.
Datar. Sepi. Kosong dari beban moral manusia.
"Tiga ratus juta. Ditambah bunga berbunga harian. Durasi tunggakan empat bulan. Total akumulasi enam ratus empat puluh juta."
Wawan menganga kecil. Rahangnya turun beberapa milimeter.
Ponsel mewah milik Wawan yang tergeletak di samping asbak tiba-tiba menyala. Bergetar panjang.
Sebuah deret notifikasi bank luar negeri muncul. Mengonfirmasi injeksi dana ratusan juta yang mendarat utuh, bersih, dan tak bisa dilacak sumber rutenya. Dalam pecahan mata uang asing.
"Semuanya lunas." Fais menambahkan kalimatnya.
Tidak ada negosiasi. Tidak ada rengekan minta diskon utang. Tidak ada drama air mata dan sumpah palsu seperti yang biasa Wawan lihat dari pengusaha bangkrut lainnya.
Hanya aliran angka mutlak. Dibayar lunas. Tuntas tanpa emosi.
Sri menahan napas sampai dadanya perih. Jantungnya berdetak liar. Darahnya mendidih menyadari fakta brutal yang baru saja terhampar di depannya.
Ia menoleh ke arah profil samping wajah Fais. Garis wajah pria itu sedingin pualam.
Kewarasan Sri dihantam realita. Ia akhirnya paham. Ia mengerti sepenuhnya.
Bukan nominal enam ratus juta itu yang mengerikan. Uang sebanyak itu hanyalah debu kotor bagi para predator malam di distrik ini.
Yang mengerikan adalah cara otak pria di sebelahnya ini bekerja.
Fais menggerakkan uang itu tanpa beban. Menembus sarang serigala bersenjata lengkap di tengah malam, hanya untuk melempar lembaran hutang tepat ke wajah sang rentenir. Seolah pria ini baru saja mampir membeli sebatang rokok. Pria ini menjadikan urusan nyawa dan uang sebagai rumus matematika belaka.
Sikap itulah yang sedang menguliti nyali semua orang di ruangan ini.
Kekakuan di bahu Wawan mendadak runtuh. Ototnya mengendur. Sorot matanya yang tadi sarat kecurigaan, kini memudar. Berganti menjadi tatapan kewaspadaan murni. Waspada yang dibalut rasa segan mendalam.
Ini bukan bocah ingusan. Ini adalah pemain papan atas yang memakai topeng kroco jalanan.
"Hanya itu?" tanya Wawan. Suaranya kehilangan bisa tawonnya. "Anda datang ke mari, melumpuhkan mata-mataku di bawah... hanya untuk melunasi hal ini?"
"Saya membenci tunggakan," jawab Fais lugas.
Pria itu berdiri. Gesturnya ringkas.
Sri ikut melesat bangun, kakinya masih terasa seperti karet cair, tapi ia memaksa tubuhnya mengikuti setiap langkah Fais.
Fais membalikkan tubuh. Berjalan membelah formasi tentara yang mematung dengan ujung senjata yang mendadak terasa tumpul oleh wibawa.
Tepat saat Fais melangkah melewati bingkai pintu baja ganda, antarmuka sistem kembali berkedip merobek visualnya. Menyala diam-diam layaknya hantu neon.
[Misi Passive Income meningkat.]
[Progress: 70%]
Langkah Fais tertahan nol koma dua detik di udara.
Teks itu memicu pencerahan baru di otak dinginnya. Kesadaran itu menghantamnya layaknya palu godam. Menghancurkan persepsi lamanya tentang cara dunia ini mengalirkan kekayaan.
Sistem tidak menuntutnya berdarah-darah mengumpulkan recehan dari selokan.
Reputasi. Dominasi diam. Ketakutan psikologis. Mitos yang baru saja ia tanam di kepala seorang penguasa distrik malam ini.
Semua persepsi dan kebohongan organik itu akan menjadi mesin pencetak uang yang sebenarnya. Reputasi akan mempercepat pertumbuhan bisnisnya jauh melampaui kemampuan uang kas mana pun di dunia ini.
Fais melangkah maju. Sepatunya menginjak karpet lorong.
Pintu baja ganda di belakangnya bergeser menutup rapat. Menyisakan Wawan yang masih mematung menatap kursi kosong di ruangannya.