Amelia Cameron nekad mendatangi kantor Best Idea Design milik seorang arsitek terkemuka, Caelan Harrison, untuk menuntut hak keponakannya, Emi. Amelia percaya bahwa Caelan merupakan ayah biologis dari Emi, putri kecil dari adiknya, Olivia yang sudah meninggal. Namun, seperti sebelumnya ketika Olivia menuntut hal yang sama, Caelan menolak untuk bertanggung jawab. Caelan berkata dirinya bukan ayah Emi, bahkan belum pernah bertemu Olivia sebelumnya.
Amelia berkeras, karena memiliki bukti hubungan Olivia dan Caelan. Akan tetapi, Caelan sama kerasnya dan meminta bukti tes DNA. Sebelum tes DNA yang dijadwalkan dilakukan, Caelan muncul di pintu rumah Amelia, berkata ingin bertanggung jawab membesarkan Emi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 15
Dan benar saja, keesokannya Caelan tidak datang. Hanya Simon dan Ana yang mampir untuk berpamitan sebelum pulang ke Kota Amber. Dari kedua orangtua Caelan, Amelia tahu kalau Caelan kembali ke Kota Amber tadi malam karena ada urusan pekerjaan mendesak.
Dia tidak mengabariku.
Dalam kepala Amelia mengulang kalimat itu berkali-kali. Ia kecewa dan sakit hati karena Caelan tidak mengabarinya sama sekali. Makin berusaha berpikir positif bahwa Caelan memang sedang sibuk dan sengaja memberi ruang berpikir bagi Amelian, makin membuat Amelia kecewa.
Hati Amelia sakit, tapi ia tidak bisa mengatakannya. Di depan orangtua Caelan, Amelia berusaha menyembunyikan kegelisahannya. Namun, Ana tipe orang yang peka dan berkali-kali bertanya apakah Amelia baik-baik saja.
“Datanglah ke rumah kami akhir pekan depan untuk makan malam.”
Undangan itu tidak bisa Amelia tolak. Jadi, ia berjanji pada Ana untuk datang pada Sabtu malam.
“Caelan akan menjemput kalian,” kata Simon. “Kalau dia tidak bisa, akan kuatur sopir untuk menjemputmu.”
“Tidak perlu serepot itu, aku dan Emi bisa berkendara ke sana atau naik kereta.” Amelia menolak dengan halus.
Ana melarang. “Jangan, Sayang. Jangan lakukan itu, kau akan kelelahan.”
“Tidak masalah, Tante. Aku sudah pernah melakukannya, tidak terlalu melelahkan. Emi juga senang diajak jalan-jalan.” Amelia berusaha menenangkan Ana, tapi justru membuat ibu Caelan itu panik.
“Kapan kau melakukannya? Kenapa Caelan membiarkanmu bepergian sejauh itu dengan menyetir?”
“Aku yang memutuskan pergi sendiri.” Amelia dengan cepat menyahut. “Lagi pula, tidak ada masalah. Aku dan Emi bepergian dan kembali dengan aman.”
“Meski begitu-“
“Tenanglah, Ana. Amelia bilang bisa melakukannya, maka dia bisa melakukannya. Tidak perlu terlalu khawatir.” Simon menengahi. Ana mengangguk, tapi masih terlihat tidak rela. “Begini saja, kau harus mengabari kami saat akan berangkat nanti. Jika keadaan tidak memungkinkan menyetir sendiri, gunakan sopir sewaan, atau naik kereta saja.”
Amelia mengangguk mengiyakan. Kemudian Simon dan Ana pergi meninggalkan rumah yang hari ini terasa sepi. Emi sedang tidur dan tidak ada pekerjaan yang perlu Amelia selesaikan hari ini. Jadi, Amelia hanya duduk memandangi Emi dengan pikiran yang sibuk memikirkan tentang Caelan.
Minggu itu jadi minggu yang sibuk bagi Caelan. Saking sibuknya, pria itu tidak menghubungi Amelia sama sekali. Padahal sebelumnya Caelan tidak pernah absen mengirimkan pesan, menelepon, dan melakukan video call. Namun, hingga Jumat sore tidak ada kabar sedikit pun dari pria itu.
Setiap hari, Amelia menunggu kabar dari Caelan. Alih-alih mendapatkan pesan atau atau telepon dari Caelan, Amelia justru mendapatkannya dari Ana. Wanita itu menelepon setiap hari, mengirimkan pesan, dan meminta Amelia mengirimkan video Emi. Amelia dengan senang hati membalas pesan, menerima telepon maupun panggilan video, juga mengirimkan video Emi pada Ana.
Ana sangat senang saat mendapatkan video Emi yang sudah mulai berjalan. Wanita itu langsung melakukan panggilan video. Sayangnya, Emi sedang tidak mau melangkah saat itu, hanya bermain di atas playmat dengan mainan-mainan yang dikirimkan Ana.
Seminggu terakhir Amelia terus mendapatkan paket, sebagian besar dari Ana untuk Emi. Kebanyakan isinya adalah mainan dan pakaian. Wanita itu sangat antusias memberikan benda-benda lucu untuk sang cucu. Amelia tidak berani menolak, tapi tidak semua kiriman dari Ana sudah Amelia buka. Beberapa paket serta surat-surat yang datang belum Amelia buka. Ia hanya menumpuk kardus dan surat-surat di sudut ruang tamu.
Surat-surat itu bukan datang dari Ana, melainkan surat-surat tagihan yang enggan Amelia buka. Karena semua tagihan dan angsuran bulan ini sudah ia bayar, jadi surat-surat itu hanya digeletakkan begitu saja. Amelia agak malas mengurusi benda-benar itu sekarang. Ia berusaha menyibukkan diri dengan Emi dan pekerjaan, tujuannya agar tidak terpikirkan mengenai Caelan.
Namun, percuma. Setiap ada bunyi telepon, Amelia selalu berharap Caelan lah yang menghubunginya. Sayangnya, Caelan tidak pernah melakukan itu sampai Jumat sore ada pesan dari Caelan. “Aku sudah mengatur asistenku, David, untuk mengantarmu dan Emi ke rumah orangtuaku. Besok pagi dia akan ke rumahmu.”
Satu pesan setelah enam hari tanpa kabar dan isinya hanya itu. Caelan sama sekali tidak menanyakan kabar Amelia, atau paling tidak pria itu bisa menanyakan kabar Emi, bukan?
Rasanya Amelia ingin membanting ponsel setelah membaca pesan dari Caelan.
Keesokan harinya, David muncul di pintu rumah Amelia setelah sebelumnya menghubungi Amelia untuk mengatur jadwal berangkat. Mereka sepakat berangkat pukul sepuluh, jadi bisa sampai di Kota Amber jam makan siang. Meskipun Amelia dan Emi diundang untuk makan malam, tapi Amelia ingin sampai lebih awal agar bisa bertemu dengan Caelan.
Amelia perlu bicara dengan Caelan.
“Aku ingin bicara.”
Amelia mengirimkan pesan pada Caelan semenjak pagi. Namun, tidak mendapatkan balasan hingga siang. Balasan yang Amelia terima juga tidak seperti harapannya.
“Maaf, Amelia. Aku agak sibuk sekarang. Pergilah ke rumah orangtuaku, nanti kita bicara.”
Namun, Amelia tidak mengikuti perkataan Caelan. Amelia meminta David mengantarnya ke sebuah restoran keluarga untuk makan siang dan berlama-lama di sana. Ia hanya tidak ingin menuruti kata-kata Caelan. Kesal karena pria itu masih mengabaikannya hingga hari ini. Sepertinya, Caelan sudah tidak menginginkan jawaban dari Amelia. Caelan berubah pikiran.
Pukul dua, Amelia baru meminta David mengantarkannya dan Emi ke rumah orangtua Caelan. Ana dan Simon menyambut Amelia dan Emi dengan suka cita, terutama menyambut kedatangan Emi. Gadis kecil itu langsung merebut perhatian orangtua Caelan, Amelia terabaikan. Namun, Amelia sama sekali tidak keberatan dengan keadaan itu. Sebab membutuhkan waktu sendiri untuk meredakan emosinya. Jadi, ia meminta izin untuk beristirahat dan langsung disetujui oleh Ana.
Amelia diantarkan ke sebuah kamar oleh asisten rumah tangga keluarga Harrison. Kamar yang akan menjadi tempatnya menginap malam ini.
Setelah ditinggal sendiri, Amelia pergi mencuci muka lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Berusaha menata emosinya.
Caelan benar-benar membuat Amelia kesal, kecewa, dan sakit hati.
Jadi, saat ada panggilan masuk di ponselnya dari Caelan, Amelia mengabaikannya. ”Jika kau bisa mengabaikanku, aku pun sama.”
Amelia membiarkan panggilan itu hingga berhenti sendiri. Sedikit berharap Caelan akan melakukan panggilan lagi. Namun, Caelan tidak melakukannya, dan Amelia semakin kesal pada pria itu.
Rasa kesal membuat Amelia mematikan telepon. Lalu kembali merebahkan diri di kasur. Karena kelelahan ia tertidur, begitu pulas hingga beberapa jam berlalu dengan cepat.
Ketukan pintu yang hampir berupa gedoran membuat Amelia terbangun dengan kaget. Untuk beberapa detik, ia memandangi sekitar, terkejut karena tidak mengenali ruangan yang temaram itu. Setelahnya, barulah Amelia ingat sedang berada di rumah keluarga Harrison. Saat melihat jam dinding menunjukkan pukul enam lewat, Amelia segera melompat dari tempat tidur. Ia bergegas ke pintu dan membuka kuncinya.
“Amelia, kau tidak apa-apa, Sayang?” tanya Ana setelah Amelia membuka pintu. Wanita itu masuk ke kamar dan menyalakan lampu.
“Maaf, Tante. Aku ketiduran,” jawab Amelia jujur.
“Oh, syukurlah. Kupikir terjadi sesuatu padamu. Ternyata kau hanya tertidur karena kelelahan,” ujar Ana lega.
“Maaf, aku jadi merepotkanmu. Emi?”
Setelah menanyakan itu, Amelia baru menyadari kalau di luar kamar ada Emi yang sedang digendong oleh asisten rumah tangga. Anak itu sepertinya habis menangis karena matanya sembab dan wajahnya kemerahan.
“Emi benar-benar tidak bisa tanpamu,” kata Ana.
Amelia segera menggendong Emi dan menenangkan bayi yang langsung memeluknya erat itu. Ia merasa bersalah karena sudah mengabaikan Emi.